Kekhawatiran

1258 Kata
Gesya sudah tiba di depan rumah Alana, tempat di mana Alana ingin diturunkan sore ini. “Terima kasih ya Sya, sudah mau anterin gue sampai ke rumah,” kata Alana sebelum turun dari mobil Gesya. “Iya sama-sama. Lain kali itu motor diperiksa dulu bensinnya. Jangan tiba-tiba habis kayak gitu. Repot kan,” balas Gesya. “Gak repot-repot amat, sih. Kan ada lo yang setia bantuin, hehe,” ujar Alana. “Yee! Ini untung aja gue mau bantuin lo, besok-besok males bingit. Soalnya nih ya jarak rumah lo dan rumah gue itu jauh bangeeeet!” “Hehehe, maaf ya, Sya. Ya udah gue turun ya, hati-hati di jalan gak usah ngebut. Dan, have fun kencan pertamanya! Jangan sampai bikin lo keki,” ungkap Alana. Gesya mengangguk dan tersenyum. Gesya menekan tombol hitam yang ada di samping kanannya, tepat di pintu mobilnya juga. KLEK. Kunci pintu mobil itu sudah terbuka dan Alana segera keluar dari dalam mobil Gesya. “Sampai jumpa, Sya!” seru Alana. Tampak bayang-bayang lambaian tangan Alana pada Gesya, yang terlihat dari jendela mobil. Selanjutnya, Gesya akan balik ke rumahnya untuk bebersih diri karena seharian ini sudah bekerja keras di butik. Jarak rumah Gesya dan Alana yang cukup jauh itu, membuat Gesya harus bersabar menerobos macet yang merusak pemandangan ibukota. Namun, kemacetan kali ini tidak begitu menjengkelkan untuk Gesya. Melainkan, Gesya begitu antusias untuk mengumpulkan keberanian dan persiapan-persiapan sebelum bertemu Tom. “Nanti gue mau pakai baju apa, ya?” pikir Gesya. Sembari mengarahkan stir mobilnya agar berada di jalan yang benar, Gesya juga berpikir apa saja yang akan ia ucapkan ketika berdua sama Tom. “Kalau untuk pertama kalinya kencan sama orang bule, treatment-nya akan sama kayak laki-laki Indonesia gak ya? Gue takut aja gitu gugup ngomong sama orang bule,” ujar Gesya. Ternyata, kemacetan itu benar-benar ada. Berhubung di dalam mobil Gesya tidak ada kaset lagu original atau bajakan, akhirnya ia menyalakan radio. Ssstttt … radio itu mencari sinyal guna mendapatkan saluran radio yang lancar. Ssssttt … dddrtttt … Hallo selamat sore semuanya! Apa kabar nih gengs?! Pastinya hari kalian selalu diselimuti kebahagiaan ya, gengs. Nada cinta fm hari ini akan ngebahas tentang Zodiak! Zodiak ini paling ditunggu-tunggu ya? Apalagi buat kalian yang ingin mencoba memahami DOI. “Lah kok malah zodiak? Ini kan sudah zaman digital, masih percaya aja sama rasi bintang …” decak Gesya yang langsung menekan tombol hijau, guna mencari sinyal radio yang lebih bagus. Kalian semua adalah orang-orang yang diberkahi oleh Tuhan. Kalian semau harus bersyukur karena Tuhan sudah memberi kalian hidup yang berkah. “Ya elah, ini mah patut didenger sama Bang Richard biar gak marah-marah terus. Gak ada kali ya soal fashion, biar gue bisa cari inspirasi untuk program kerja gue di butik.” Sudah lebih dari dua puluh lima menit Gesya terjebak di kemacetan jalan sambil mencari sinyal radio yang sesuai dengan keinginan hatinya. Hasilnya nihil. Gesya malah bolak-balik mencari program acara di radio tanpa menikmatinya. *** Senja sudah mulai menampakan pemandangannya, dan jam dinding mulai berdentang ke titik di mana hari menunjukan bahwa sang malam akan datang. Bu Vivian dan Pak Niko yang sudah mandi sore dan berpakaian rapi, duduk di teras rumahnya. “Papi, kok Gesya belum pulang, ya? Padahal jarak butik ke rumah kan deket,” tanya Bu Vivian yang menyimpan kekhawatiran pada Gesya. Gesya yang tidak biasanya pulang melewati jam lima sore itu, menjadi tanda tanya untuk Bu Vivian. “Mungkin kejebak macet kali ya, Mi,” tebak Pak Niko. “Macet itu kan ada di jalan besar yang agak jauh. Kalau daerah sini mah, macet bisa diatasi hanya dengan sepuluh sampai lima belas menit,” seru Bu Vivian. “Mungkin Gesya masih sibuk di kantornya Mi, banyak tugas-tugas yang harus ia kerjakan sebagai manager operasional,” Pak Niko masih berpikiran positif. Bu Vivian manggut-manggut ragu. “Ya semoga saja Gesya cepat pulang. Mami khawatir banget sama anak perempuan Mami.” “Mi, Gesya itu sudah dewasa, pasti dia gak macem-macem kok. Karena kalau dia macam-macam tuh ya, ya dirinya sendiri yang jadi petaka.” “Ih Papi! Jangan ngomong gitu. Wajar aja dong Mami khawatir sama Gesya. Secara kan Gesya gak pernah pulang lewat dari jam lima sore,” Bu Vivian makin khawatir. “Tenang, Mi, tenang. Jangan negatif gitu pikirannya. Tenang dan santai kayak Papi ini loh,” seru Pak Niko lalu ia mengambil koran yang tersimpan di rak bawah meja. “Membuka lembaran demi lembaran koran, dan menikmati senja sambil memulihkan pikiran-pikiran yang kacau,” ujar Pak Niko yang emang kebiasaan santai kalau mikirin soal anak-anaknya. Tapi berbeda jika Pak Niko mikirin kerjaan, yang ada overthinking plus gak ada istirahatnya.  “Terus si Richard juga kenapa gak pulang, sih?” tanya Bu Vivian lagi. Pak Niko menengok ke arah Bu Vivian. “Duh kalau Richard itu banyak sekali spekulasinya. Kalau mau dijabarin satu-satu, pasti lebih kompleks.” “Papi kok gak pulang bareng sama Richard waktu di kantor?” “Soalnya tadi itu kerjaan Papi lumayan banyak dan sengaja mau selesaikan di kantor hari ini juga. Eh pas kerjaan Papi sudah selesai, Papi lewat ke depan ruangan Richard tapi dianya sudah gak ada. Pintu ruangannya sudah terkunci rapat. Ya udah deh, Papi langsung pulang saja minta dianterin sopir,” terang Pak Niko. “Lain kali itu sebelum jam pulang kantor, janjian sama Richard dulu mau pulang bareng. Biar gak kepisah gini,” pesan Bu Vivian ke suaminya tercinta itu. “Iya Mi, iya. Biasanya Papi janjian juga kok pulang dan pergi sama Richard. Cuma ya hari ini karena disibukan dengan banyak kerjaan, Papi sampai lupa ehehe. Maaf ya istriku,” seru Pak Niko sembari mencolek pipi Bu Vivian. “Kalau udah kayak gini, kita yang nunggu anak-anak kita pulang. Mana dua-duanya belum nunjukin batang hidungnya! Mami kan jadi mikir mereka di mana …” ucap Bu Vivian dengan wajahnya yang lesu. Berkali-kali juga Bu Vivian menatap layar ponselnya, tidak ada nama Richard atau Gesya yang menghubunginya di sana.   TIN … TIN … TIN … tak lama kemudian mobil sedan yang sangat familir di mata Pak Niko dan Bu Vivian itu datang. Mobil itu membunyikan klakson tepat di depan pagar yang tertutup. Pak satpam yang sedang bertugas di pos, langsung membukakan kunci pagar dan membiarkan mobil sedan itu masuk. “Huh! Syukurlah Gesya sudah datang …” hela Bu Vivian yang lega sekali Gesya beneran pulang. “Tuh kan, Mami gak usah berpikir yang aneh-aneh ketika anak-anaknya belum pulang. Pasti mereka pulang, kok!” sahut Pak Niko yang langsung melipat kertas korannya dan disimpan kembali di bawah laci meja. “Iya Papiii, iya …” pungkas Bu Vivian yang langsung berdiri dari duduknya. Bu Vivian pun langsung berdiri di ujung teras rumah sambil tersenyum. Ia menyambut anak bungsunya itu sepulang kerja, setelah seharian sibuk dengan kerjaan lain. “Hello, Mami!!! Selamat senja!” seru Gesya yang keluar dari dalam mobil. Ia pun tak lupa menekan tombol kunci. Gesya menaiki anak tangga menuju tubuh Bu Vivian yang berdiri menghadapnya. “Aduh anak Mami kok baru pulang sih? Mana gak ada ngehubungi Mami kalau mau pulang telat. Tau nggak? Mami khawatir banget kenapa anak cantik Mami belum pulang-pulang,” seru Bu Vivian dan menumpahkan segala kekhawatirannya ke Gesya. “Hehehe maaf ya Mi, baterai ponsel gue mati. Jadi gak bisa ngehubungi siapa-siapa deh. Tadi juga gue kejebak macet habis nganter pulang si Alana. Bensinnya habis, jadinya gue anter pulang deh,” jelas Gesya dengan kejadian yang sebenarnya. "Oh jadi tadi kamu anterin menantu Mama pulang?!" bisik Bu Vivian sembari senyum-senyum. "Iya, Mi ...." balas Gesya yang juga diselimuti senyuman di bibirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN