“Ya udah kalau gitu, yang penting kamu gak kenapa-kenapa dan pulang dengan selamat,” seru Bu Vivian yang mengelus rambut halus Gesya.
“Iya, Mi. Itu yang paling terpenting,” balas Gesya.
“Kamu langsung bersih-bersih diri ya, seharian di luar rumah nanti bawa bakter-bakteri berbahaya …” pinta Bu Vivian.
“Oke, Mi. Oh ya, gue mau izin nih nanti malam mau keluar lagi, boleh ya?” izin Gesya seperti biasa ketika ingin keluar rumah, dan bukan dengan Alana.
“Sama Alana? Ya elah kalau keluar sama Alana, gak perlu izin sama Mami, kali. Kan Mami anggap kamu dan Alana itu sebagai anak Mami sendiri,” tukas Bu Vivian.
Gesya menggeleng pelan, di bibirnya sudah tertaut senyuman yang melebar. “Bukan sama Alana, Mi,” ucap Gesya.
“Jadi sapa siapa?!” Pak Niko langsung menimpali.
“Hmm, sama temen,” jawab Gesya seraya menundukan kepalanya.
“Perempuan atau laki-laki?” tanya Pak Niko lagi yang begitu protektif pada Gesya, jika ia keluar malam-malam.
Gesya masih terdiam, ia tidak langsung menjawab pertanyaan Papinya itu. Gesya menggaruk pelipisnya yang sedikit gatal, mungkin karena ia kurang persiapan untuk membuat alasan. “Em …”
“Sya, kamu nanti malam mau keluar sama siapa? Temen perempuan atau laki-laki?” Bu Vivian mengulang pertanyaan Pak Niko.
“Emm … sama laki-laki, sih,” ujar Gesya dengan nada pelan.
Raut wajahnya yang tadi kesemsem, berubah seketika menjadi gelisah. Kedua bola mata Gesya melirik ke segala arah, tampak tidak ada tujuan. Dan yang ada di dalam kepalanya saat ini hanyalah cara agar dirinya bisa keluar malam untuk memenuhi janjinya bersama Tom.
“Kamu mau keluar sama laki-laki?! Hanya berdua?!” timpal Pak Niko ketika Gesya sudah menjawab pertanyaannya.
Gesya ingin mengangguk, namun kepalanya seperti tertahan. Ia menatap wajah Pak Niko yang sedang dilumuti api ketidaksenangan. “Kalau misalnya keluar sama laki-laki, dibolehin apa engak?” tanya Gesya yang padahal sudah tau jawabannya.
“Jelas gak boleh lah! Kamu ini perempuan, Sya, kamu harusnya bisa jaga diri kamu, buat apa coba malam-malam mau keluar? Berdua sama laki-laki, lagi!?” jawab Pak Niko yang begitu mencerca Gesya.
“Sekali aja, boleh gak Pi? Kan jarang-jarang juga gue jalan sama laki-laki,” Gesya masih berusaha meminta izin dari papinya itu.
Pak Niko menggeleng cepat, “Kamu kan sudah tau bagaimana aturan di rumah ini untuk anak perempuan. Apalagi kamu anak perempuan Papi yang paling bungsu! Jadi—”
“Jadi gak boleh ya, Pi?” Gesya menyela.
“Iya jelas enggak boleh! Sekarang kamu masuk ke dalam, dan tidak boleh keluar lagi malam nanti,” seru Pak Niko.
Gesya menghela napas panjang. Tampak jelas diraut wajahnya itu ada secercah kekecewaan untuk Pak Niko. Sementara itu Bu Vivian, berusaha menenangkan Gesya dengan mengelus pundak Gesya.
“Gesya kan sudah besar juga, Pi. Masa iya beneran gak boleh jalan nanti malam?” keinginan Gesya itu terus berlanjut.
“Gesya … kamu gak boleh ya ngelawan sama orang tua demi memenuhi ego kamu itu. Papi itu gak mau kamu kenapa-kenapa, karena di luar sana banyak sekali anak yang jahat, yang hanya ingin mencelakai orang lain,” tegas Pak Niko yang terus menerus juga memberi penolakan ke Gesya.
“Tapi yakin deh kalau gue itu bisa jaga diri, Pi,” Gesya makin memelas.
“Enggak! Sekali enggak ya enggak! Papi gak mau kamu nawar-nawar lagi!” pungkas Pak Niko.
Ungkapan pamungkas Pak Niko itu membuat Gesya gerah. Pak Niko sebagai orang tua yang terlalu mengekang Gesya untuk bertemu dengan orang asing, apalagi laki-laki. Gesya pun pergi meninggalkan Pak Niko dan Bu Vivian dengan wajahnya yang tidak bersemangat, berbeda seratus delapan puluh derajat ketika ia datang ke rumah.
Gesya langsung masuk ke kamarnya dan melempar tas yang sehari-hari ia bawa ke butik. Tas itu terlempar jatuh ke bawah sofa. Gesya yang ingat kalau lupa mengambil ponselnya di dalam, cepat-cepat ia meraih kembali tas yang sempat ia buang itu.
“Huh! Nanti ponsel gue pecah, retak, repot lagi gantinya,” Gesya membuka resleting tasnya dan menyelamatkan ponselnya. Tas itu kembal dilemparnya, dan kali ini ditaruh di atas sofa dengan halus.
Gesya membuka kunci ponselnya, ia melihat tidak ada masalah dengan layar ponselnya. Artinya, tas yang tadi dilemparkannya itu tidak membuat ponselnya celaka. Wallpaper yang tertera di layar ponselnya itu adalah foto dirinya bersama rekan bisnisnya, Alana. Seketika saja Gesya mendapatkan ide ketika melihat wajah Alana.
“Apa gue minta bantuan Alana aja, ya? Kali aja dia mau diajak kerjasama buat kencan gue hari ini,” seru Gesya.
Tanpa menunggu basa-basi lagi, Gesya langsung menuliskan pesan untuk Alana.
Alana, gue minta bantuan lo, dong. Ini berhubungan dengan rencana gue nanti malam buat dinner bareng Tom. Semoga juga lo bisa bantu gue.
SENT. Pesan itu langsung masuk dengan tanda centang dua berwarna abu-abu tepat di bawah pesan tersebut. Gesya yang saat itu juga merasa badannya lengket dan gerah, langsung mengambil handuk yang terpampang di belakang pintu kamarnya.
“Hmm, pasti Alana lagi mandi nih makanya lama banget ngebales pesan gue. Jangankan dibalas, dibaca saja belum. Ya udah lah daripada buang-buang waktu, mending gue mandi aja dulu sambil nunggu balesan dari Alana,” tutur Gesya.
Gesya pun masuk ke dalam kamar mandi yang berada di kamarnya. Namanya terlahir dari keluarga crazy rich, jadi setiap kamar yang ada di rumahnya pasti tersedia kamar mandi. Kamar mandinya pun no kaleng-kaleng bosku. Ada bathup, shower, dan lain-lain.
***
“Jadi gimana? lo menikmati acara reuni sekola lo?” tanya Richard pada Marsha.
Marsha bingung, ia mengerutkan dahinya sambil menatap Richard yang mengeluarkan pertanyaan seperti itu.
“Maaf, maksud lo gimana ya, Chad?” balas Marsha dengan nada lemah. Ia juga berusaha mencerna pertanyaan dari Richard itu, namun tidak berhasil.
“Loh, lo kok malah gak ngerti sama pertanyaan gue, sih?” timpal Richard.
“Bentar deh, bentar …” Marsha memundurkan badannya ke sofa. Ia memegangi kedua pelipisnya dengan kedua tangannya.
Terlihat Richard yang cengengesan menatap Marsha yang kebingungan seperti itu. "Seriusan nih lo bingung? Tadi itu gue datang ke apartement, tepat saat gue pulang dari kantor. Terus, gue datang kok gak ada lo di sini. Nyokap lo bilang kalau lo lagi ngumpul sama teman-teman sekolah lo. Lo keluar dan gak sempat ngabarin gue," jelas Richard yang mengulang kejadian beberapa jam yang lalu.
Awalnya Marsha tersentak, ia yakin sekali kalau ini alasan yang dilontarkan oleh Bu Alin, mamanya. Dalam hatinya, Marsha merasa lega karena Bu Alin sudah memberikan alasan yang masuk akal. Namun, Marsha juga merasa khawatir dengan gelagatnya saat ini yang cengo ketika ditanya Richard soal reuni sekolah.
"Astaga ... Mama ini kok gak pakai acara briefing sih ke gue. Kalau gini caranya kan si Richard bisa aja curiga, dan tau kalau gue berbohong ..."
"Jadi gimana, Sayang ... lo beneran reuni sama temen sekolah, kan?" tanya Richard sambil melihat Marsha.
"OH IYA! GUE BENERAN REUNI SEKOLAH KOK, BENER BANGET SERATUS PERSEN!!" seru Marsha yang tiba-tiba mengubah wajahnya menjadi ceria tanpa masalah.
Namun, hal itu membuat Richard mengerutkan keningnya.