SATU MALAM DENGAN PRIA ASING
"Tolong ... panas, rasanya panas sekali! Sentuh aku, Tuan!"
Seorang wanita bernama Helena tampak memohon dengan merapatkan tubuhnya pada pria yang ada di depannya.
Namun, pria tampan yang juga sudah setengah mabuk itu malah mencekal tangan Helena dan melepaskan diri dari sentuhan wanita muda yang terlihat sudah begitu liar di matanya.
“Jangan menjebakku! Aku tahu wanita jalang sepertimu hanya ingin menjerat laki-laki untuk tidur denganmu dan nanti kau akan meminta pertanggungjawabanku!”
Bukannya menjauh, dengan berani Helena menyambar bibir pria itu dan menciumnya rakus. Pria bernama Mike itu bahkan sampai terkejut dibuatnya. Meskipun ingin menolak. Namun, ia tidak munafik. Mike juga sudah mulai terbuai dengan apa yang dilakukan Helena.
Mike Beaumont adalah seorang Billionaire muda asal Bali yang memiliki wajah tampan dan gagah. Usianya baru 30 tahun. Namun, karirnya sudah begitu cemerlang hingga bisnisnya bisa begitu maju berkat tangan dinginnya dalam memimpin perusahaan. Namun, pesona fisiknya tak mampu menutupi sifat arogan yang melekat pada dirinya.
Di sisa kesadarannya, pria itu mendorong tubuh Helena sampai ciuman mereka akhirnya terlepas, Helena menatap kecewa.
"Jangan gila! Apa yang kau lakukan? Pergilah!”
“Tolong aku, Tuan! Tolong jangan menolaknya!” Helena ingin kembali mencium pria itu. Namun, pria itu kembali menjauhkan tubuhnya. Helena pun tak menyerah, ia meraih tangan besar pria itu dan menggenggamnya.
Helena menatapnya dengan sayu, wanita itu berkata dengan memohon, "Sentuh aku, Tuan! Tadi itu sangat geli, aku ingin lagi."
Pria itu menggeram. Tentu saja ia kesal dengan sikap Helena. Maksud hati ingin sekadar melepas kejenuhan dengan sekedar minum sampai mabuk, Mike malah bertemu dengan wanita nekat entah dari mana.
"Damn! Aku bisa saja berbuat lebih jika kau memancingku!"
Helena mengangguk. "Tidak masalah, Tuan. Aku mohon, tubuhku rasanya sangat panas!” Helena mengarahkan telapak tangan pria itu pada miliknya.
Entah kenapa setelah meminum satu minuman yang diambilnya dari sebuah nampan yang tengah dibawa oleh seorang pelayan, wanita itu merasakan tubuhnya berubah menjadi panas seperti orang yang ingin disentuh.
Rasanya begitu tak tertahankan. Sulit dijelaskan hingga yang ada di benaknya adalah bagaimana cara melampiaskan hawa panas itu. Dengan tatapan memohon, Helena meminta kembali dengan lirih, "Aku mohon, Tuan!”
"s**t! Jalang ini, kau benar-benar membuatku gila. Kau yang menggodaku, jangan salahkan aku jika aku sampai melakukan lebih!" Pria itu akhirnya menggendong tubuh Helena seperti karung. Ia menyeringai dan membawa Helena ke sebuah kamar hotel yang berada di lantai atas club itu.
Mike memang sengaja memesan kamar di sana untuk dirinya sendiri setelah melakukan pertemuan bisnis dengan salah satu relasinya di club itu. Meski sudah menikah, Mike malas sekali untuk pulang. Hal yang wajar karena memang pernikahannya hanya sebuah perjodohan tanpa ada ikatan cinta satu sama lain.
Namun, meski begitu, Mike selalu setia dan tak pernah tergoda dengan wanita lain. Itulah kenapa, ia merasa heran karena tak bisa menampik godaan Helena hingga membawa wanita yang menurutnya cantik itu sampai ke kamar hotel.
Setibanya di kamar, Mike langsung menghempaskan tubuh Helena ke atas ranjang. Melucuti seluruh pakaian Helena dengan cepat dan juga melepas pakaiannya. Kini keduanya sama-sama polos tanpa sehelai benang pun.
"Panggil aku, Mike!"
Pria itu mengungkung tubuh Helena. Memagut bibir Helena dengan buas. Tangannya pun mulai menyentuh setiap inci tubuh mulus Helena dengan lembut. Sentuhan yang membuat wanita itu kian menggeliat hingga suara desahan kecil lolos dari bibir Helena, terlebih saat Mike meninggalkan bekas kissmark pada leher jenjangnya.
Setelahnya, Mike bergerak menjelajahi bagian bawah tubuh Helena. Pria itu menahan diri untuk melakukan penyatuan. Memilih bermain-main sejenak dengan memberi sentuhan demi sentuhan hingga wanita itu semakin menggeliat.
"Mike," gumam Helene. Kedua matanya memejam sebentar. Tangannya meremas sprei dengan kuat. Saat ia merasakan permainan Mike di bawah sana.
“Yes, Love!”
Gila, Mike sangat gila. Bagaimana bisa dia mengucapkan kata-kata seperti itu pada wanita asing yang baru ia temui.
Helena menggeliat resah ketika rasa panas semakin membakar gairahnya, ia meminta dengan memohon, "Bisa kau melakukannya sekarang? Rasanya sangat tidak nyaman di bawah sana, sungguh aku mohon,"
Mike tersenyum lebar, pria itu mengecup lembut bibir Helena. Entah ada apa dengan Mike, pria itu seperti tak bisa menahan pesona Helena yang membuatnya semakin b*******h.
"Aku akan mulai, aku akan memuaskanmu! Malam ini kau akan menjadi milikku." Mike memberikan usapan lembut pada sudut bibir Helena.
“Ayo lakukan! Lakukan sekarang juga, Mike!”
Sebelum mulai melakukan penyatuan, Mike menatap Helena sejenak. Ia mengagumi segala hal yang ada pada Helena.
Jika biasanya ia tidak akan tertarik dengan wanita asing, entah kenapa ia sangat tertarik pada Helena, bahkan sampai kehilangan akal. Pria itu seolah lupa statusnya yang sudah beristri dan komitmen selama ini yang selalu menjaga kesetiaannya. “Wanita ini benar-benar membuatku gila ….”
Tak ingin berlama-lama, Mike pun memulai permainan intinya. Awalnya, pria itu mengalami kesulitan saat akan melakukan penyatuan. Membuatnya yakin jika ia adalah pria pertama yang merenggut keperawanan Helena.
Malam panas itu berlangsung selama beberapa jam. Tak hanya sekali, keduanya mencapai puncak kenikmatan berkali-kali, bahkan melakukan itu hingga dini hari sampai mereka lelah dan tertidur dengan saling memeluk. Sebelum terpejam, Helena sempat menatap wajah pria itu. Wajah yang dimatanya cukup tampan hingga membuatnya kagum.
“Siapa pun kau, terima kasih karena telah memuaskanku.” Napas memburu itu berangsur mereda. Helena pun terlelap dengan tubuh polosnya yang masih dipenuhi keringat.
***
Keesokan paginya, Helena mulai menggeliat. Wanita itu membuka kedua matanya. Merasakan sakit dan nyeri pada sekujur tubuhnya. Ia pun mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Menatap sekeliling dengan heran.
"Aduh, badanku sakit semua!” Helena terbangun tiba-tiba, ia meringis saat merasakan sakit pada bagian inti tubuhnya. “Di mana ini?” Helena coba mengingat apa yang sudah dilakukannya semalam. Namun, memori yang terekam dalam ingatannya masih begitu samar.
Meski begitu, wajah pria yang terakhir dilihatnya sebelum terpejam masih tampak jelas seolah pesonanya sulit dilupakan.
"Sial! Kau gila, Helena. Bagaimana bisa kau melakukan itu dengan pria yang tidak kau kenal? Bodoh, bodoh!” Helena merutuki dirinya sendiri saat kedua matanya mendapati tubuh kekar itu masih terlelap tepat di sampingnya.
Tak ingin menunggu pria itu terjaga lebih dulu, Helena pun beranjak turun dari ranjang sambil menahan rasa sakit dengan perasaan campur aduk. Ia pun segera memunguti pakaiannya dari lantai dan langsung mengenakannya sebelum pergi dari kamar hotel itu. “Semoga aku tidak akan bertemu lagi dengan laki-laki itu.” Helena melihat sejenak wajah Mike sekali lagi sebelum kedua kakinya melangkah pergi setelah membuka pintu kamar dengan sangat perlahan.
Bersambung