"Mau. Jadi pacar lo kan? Gue mau.” Asya dapat mendengar jawaban Silfa yang kelewat bersemangat. Mendadak, ia semakin merasa kecil. Berikutnya, Rafael memeluk Silfa, namun pandangannya kini berhasil menemukan dirinya yang bersembunyi di balik pintu. Hanya kepalanya yang terlihat mengintip Rafael dan Silfa. Dan kini Rafael memergoki Asya tengah menangis tanpa sadar. Air mata sudah membasahi pipinya. Asya yang sadar bahwa Rafael melihatnya pun dengan segera menghapus air matanya. Dengan cepat Asya tersenyum, lalu tangannya mengacungkan jempol pada Rafael, matanya seolah mengatakan sesuatu pada Rafael. Bagus, Raf. Ucap Asya pelan, meski tak terdengar oleh Rafael, namun Rafael mengerti dengan pesan non verbal yang Asya tunjukan. *** “ASYAAAAAAA!!!” Asya menutup wajahnya dengan

