Pukul lima sore, Rafael terdiam di atas motornya yang sudah ia standarkan. Saat ini dirinya tengah berada di dekat warung yang tepat berada di depan rumah Silfa. Ia sedang sibuk menimang perihal keputusannya. Beberapa minggu ini ia menjauh dari Asya, karena berusaha untuk menjernihkan pikiran. Ia tidak mampu lagi melihat Asya tanpa bayang-bayang Silfa. Tanpa bayang-bayang mereka berdua sahabatan dan Silfa yang memiliki perasaan untuknya. Jadi, Asya menolaknya karena itu? Asya tidak mau menghancurkan persahabatannya dengan Silfa? Asya tahu setiap detail perasaan Silfa untuknya karena memang Silfa menceritakannya? Jadi, Asya menginginkan Rafael bersama SIlfa? Begitu kah? Rafael sudah menghabiskan batang ke tiga rokoknya selagi memikirkan hal itu. Ia terpikirkan ide gila sebagai jalan kel

