Asya baru menyadari, ada yang beda dari Rafael hari ini. Mengapa cowok itu tidak ngotot seperti biasanya? Rafael tampak diam, kalem, dan menurut saja dengan jawaban Asya. Biasanya jika Asya menolak pasti Rafael akan heboh dan bertekad akan kembali lagi tanpa tahu malu. Tapi tadi Rafael tidak mengatakan apa pun saat Asya menolak, dan hanya mengucapkan terima kasih, aneh sekali bukan?
Enggan memikirkan lebih lanjut, Asya hanya berjalan terus meninggalkan kedai makan itu untuk kembali ke kampusnya. Sambil menenteng beberapa bawaannya yang tidak masuk ke dalam totebag yang dibawanya.
Sesekali Asya tersenyum pada beberapa teman kampus yang ia kenal di sepanjang jalan. Tujuannya kini benar benar ke perustakaan, untuk mendinginkan kepalanya mungkin, tidak mungkin sekali Asya membaca buku buku yang ada di sana. Sedikit informasi saja, Asya tidak suka baca. Baca buku pelajaran, buku novel, buku biografi, atau apa pun deh. Yang Asya suka itu baca berita. Berita dari akun gosip di sosial media maksudnya.
Jam masuk kelas berikutnya masih sekitar satu jam lagi, jadi Asya akan berada di perpustakaan selama satu jam. Kira kira apa yang akan di lakukan Asya di sana? Apakah sebaiknya cewek itu tertidur saja di bangku pojokan?
Ia mendengus saat menyadari satu satunya teman akrab yang ia miliki di kampus ini, hari ini sedang tidak masuk karena ada urusan yang entah apalah itu. Karena meskipun tergolong dekat, Asya tidak terlalu mengetahui urusan temannya itu. Mungkin Asya harus mulai belajar peduli dengan orang lain. Asya juga tidak mengerti mengapa sifatnya seperti ini. Mungkin semacam turunan juga kali ya, Mama Papa nya terlihat ramah sekarang sekarang aja karena sudah berumur, kemungkinan besar mereka berdua sewaktu masih muda juga tak jauh berbeda dengan Asya.
Buktinya, Veya, adiknya yang masih SMA itu juga memiliki sifat yang tak jauh berbeda darinya. Veya sulit bersosialisasi dan tergolong sangat amat diam. Veya tipikal siswa yang memilih duduk paling depan karena tidak ada yang mau menempati kursi di belakang untuknya. Tapi Asya tidak bohong, Veya benar benar duduk di baris paling depan di sekolahnya, hal itu diketahui Asya saat ikut mengambil rapot milik Veya.
Dan Veya benar benar parah. Tidak memiliki teman sama sekali di sekolahnya, bukan hanya itu, Veya tidak memiliki teman sama sekali di luar sekolah juga. Jadi masih mending Asya kemana mana kan, sseenggkanya di kampus ia punya satu teman. Di rumah ia memiliki Silfa yang rela menemaninya hingga ke ujung dunia sekali pun. Serta Asya juga masih memiliki dua teman kecilnya, tapi satu orang lagi tidak berhubungan dengannya.
Asya masih sering berhubungan dengan Kirel yang kini tinggal di Bandung, tapi Franda tidak memiliki kabar atau apa pun sejak kepindahannya. Asya sudah berkali kali mencari Franda melalui media sosial namun tak kunjung ia temukan. Franda seolah hilang dan lenyap bagaikan ditelan bumi.
Namun di mana pun Franda berada, Asya berharap temannya itu selalu baik baik saja. Ia juga berharap Franda menepati janjinya untuk bertemu di ulang tahun Kirel nanti untuk membuka kenangan mereka. Beruntung mereka membuat perjanjian itu, yang semoga saja ditepati.
Liburan semester kemarin Asya juga sempat bertemu Kirel, lantaran cewek itu yang berkunjung ke Jakarta bahkan sampai menginap di rumah Asya. Awalnya Silfa kesal karena merasa di abaikan selagi Asya main dengan Kirel, hingga akhirnya Asya memperkrnalkan Silfa yang berkahir mereka berdua bisa akrab dan saling berteman. Mengingat hal itu Asya merasa lega bukan main, ketika kedua sahabat terdekatnya bisa saling akrab.
Tak tanggung, bahkan Silfa dan Kirel berteman nyaris di semua sosial media yang mereka miliki. Asya sampai heran. Terlebih di twitter katanya, Asya yang tidak main twitter hanya menyimak saat mereka berdua membahas hal hal yang sering ramai di twitter.
Akhirnya Asya sampai juga di perpustakaan yang berada di gedung selatan kampusnya, tepatnya berada di lantai tiga, di sebelah ruang kesehatan. Asya melihat suasana perpustakaan yang sepi dan senyap, sangat cocok sekali untuk tidur siang. Beberapa mahasiswa di sana ke perpustakaan untuk memanfaatkan jaringan internet yang cukup kencang saat di sana, tapi Asya tidak berminat untuk streaming atau apa pun yang membutuhkan internet. Ia juga tidak memiliki tugas yang belum dikerjakan, meski tidak suka membaca, Asya tergolong rajin dalam menegrjakan tugasnya, seumur hiudup selama kuliah, Asya belum pernah tidak mengerjakan tugas dan selalu mengumpulkannya tepat waktu.
Asya berjalan menuju meja yang berada di sudut ruangan ini, ia menyuka design meja meja di perpustakaan yang menyerupai meja kerja alias memiliki sekat berupa kubikel kubikel. Mahasiswa yang berada di sebelahnya jadi tidak tau apa yang dilakukan Asya, yang hanya menjatuhkan kepalanya ke atas meja untuk terlelap dan menunggu hingga kelasnya di mulai.
Ahh, nyaman sekali berada di sini. Harusnya Asya sering sering tidur siang di perpustakaan, meski gaya tidur sambil duduk akan membuat punggungnya pegal, tapi setidaknya Asya bisa menyandarkan kepalanya sejenak serta mendinginkan kepalanya dari segala masalah yang menerjangnya belakang ini.
Sialan! Perkara Rafael aja mengapa bisa serumit ini sih? Padahal negara punya masalah yang lebih besar, sebaiknya Asya memikirkan hal itu saja kan yang lebih berguna bagi nusa dan bangsa. Siapa tau kelak ia akan jadi seperti Najwa Sihab. Baiklah, pikiran Asya semakin ngelantur beriringan dengan angin sepoy sepoy yang yang menerpanya dari penyejuk ruangan.
“Kak!” sebuah suara menyadarkan Asya dari tidurnya, dan membuat cewek itu seketika duduk menegak.
Asya menoleh dengan mata setengah mengerjap, menatap seorang mahasiswa yang kini tengah berdiri di sampingnya. “Kenapa ya?” tanya Asya seraya mengumpulkan separuh nyawanya yang masih berceceran.
Seorang mahasiswa dengan kacamata berbingkai kotak yang Asya tebak masih semester awal, menatap Asya dengan takut, “Maaf, Kak. Boleh tukeran meja gak? Komputer yang sebelah sini rusak, kakak gak pake komputernya kan?” tanya mahasiswa tersebut yang rupanya hendak meminjam komputer yang tersedia di meja Asya.
Asya mendengus pelan. Mentang mentang ia hanya tertidur jadi tersisih oleh mahasiswa lain yang memiliki kebutuhan lebih penting darinya.
Namun, Asya tidak mengomel pada mahasiswa juniornya itu. Cewek itu hanya tersenyum pelan seraya berdiri. “Oh, Silahkan.” Kata Asya yang sudah bangkit dari duduknya lalu berjalan untuk keluar dari perpustakaan.
Memang yaa kebahagiaannya tidak bisa bertahan lama. Ada saja yang mengusik.
Asya melirik jam tangannya, sudah pukul satu, setengah jam lagi jam masuk kelasnya. Berarti pintu kelas sudah dibuka. Hal itu membuat Asya bergerak untuk berjalan ke kelasnya dan menunggu saja di dalam sana sampai dosen yang mengajar datang. Dari pada Asya seperti anak hilang kayak sekarang, yang tak punya arah dan tujuan.
Beruntung kelas kali ini, Asya tidak sekelas dengan Rafael, sehingga ia tidak perlu mencari tempat duduk yang tersisa satu di antara kerumunan yang sudah ditempati. Dengan harapan agar Rafael tidak bisa duduk di sebelahnya. Asya tidak menyangka selama ini ia kuat sekali dalam menghadapi Rafael. Apakah nanti kira kira Asya kehilangan jika Rafael mundur dengan teratur dan tidak akan mengganggunya lagi? Entahlah, Asya belum kepikiran sampai sana. Ia juga tidak tahu kapan hari ini akan datang.
Yang jelas, jika hari itu datang, Asya tidak tahu ia harus bersyukur atau bersedih. Asya bahkan tidak mengerti dengan jalan pikiran serta perasaannya sendiri saat ini. Segalanya menjadi tak terdefinisikan.
***