8.

1101 Kata
Setelah pada saat datang ke kampus tadi Asya menghindari Rafael, pada akhirnya saat jam makan siang yang Asya kembali bertemu dengan Rafael. Padahal sebisa mungkin Asya sudah makan siang jauh dari kampus tetapi Rafael berhasil menemukannya dan duduk di hadapan cewek itu. Suasana sebuah kedai makan yang letaknya lumayan jauh dari kampus, sekitar 15 menit jika berjalan kaki terbilang cukup ramai dan digemari oleh para mahasiswa. Asya memutuskan makan di sana demi menghindari Rafael agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ia sudah tidak tahan mendengar segala curhatan siapa apabila ia malah berakhir dengan menghianati sahabatnya itu. ASI akan memastikan hal itu tidak akan terjadi. Namun melihat Rafael sudah duduk di hadapannya, mau tak mau Asya harus menghadapinya. Ia menatap lurus kearah Rafael, sambil menikmati hidangan makan siangnya. Asya membenci fakta bahwa ternyata dalam satu meja itu duduk sendirian. Hal itu membuatnya saat ini hanya duduk berdua dengan Rafael dan tidak bisa mengalihkan perhatiannya atau mencari alasan apapun, sehingga Asya harus fokus untuk menghadapi Rafael saja. Justru itulah hal terberat baginya. " ngapain sih? Gue males bacot sama lu. Nggak usah bahas yang nggak deh Raf. " kata Asya yang sudah mencegah Rafael untuk membahas hal-hal yang tidak diinginkan nya. Rafael tidak langsung menjawab, cowok itu sendiri sudah membawa makanannya sehingga ia berada di sana tidak hanya untuk berbicara dengan Asya. Melainkan juga untuk makan siang, agar di depan Asya ia tidak terlalu canggung sekali. Namun mendengar jawaban Asya, kali ini Rafael terdiam. Tidak seperti biasanya yang ia lakukan langsung menyambar dan nyerocos di hadapan Asya untuk mengungkapkan isi hatinya secara terang-terangan. Kali ini Rafael seolah mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain perihal Asya yang terus menolaknya. Untuk itu, siang ini Rafael perlu memastikan sesuatu . sekali lagi ia akan mengkonfirmasi hal ini dengan Asya. " Syiah, sedikit aja lu nggak ada peeling atau benih-benih rasa yang tumbuh gitu sedikit aja sia. " tanya Rafael sebagai ungkapan terakhirnya untuk mengonfirmasi terkait perasaan Asya padanya. Ia benar-benar menggantungkan harapannya pada ada perkataan terakhir ini, jika saja Asya menjawab ia memiliki perasaan barang sedikit Rafael akan mempertimbangkan keputusan berikutnya. Ia akan kembali berusaha lebih keras untuk menumbuhkan perasaan Asya menjadi banyak jika memang itu sudah ada sedikit. Asya terdiam untuk beberapa saat, ia meremas 10 jarinya sampai ia menghentikan aktivitas makannya sejenak saat mendengar pertanyaan Rafael. Asya menunduk berusaha agar Rafael tidak dapat melihat wajahnya, karena jika sampai Rafael melihat air mukanya bisa-bisa cowok itu mengetahui perasaannya yang sebenarnya sudah luluh. Namun Asya tetap harus menahan nya. Iya tidak bisa seperti ini, ya tidak bisa menjatuhkan diri terhadap sama Rafael. Untuk itu, sekali lagi ASI akan menolak cowok itu dengan tegas agar tidak lagi mengganggu ketentraman hidupnya dengan sebuah pernyataan-pernyataan yang tiada henti. " nggak ada sedikitpun nggak ada Raf." Kata Asya yakin dan tegas, seolah hal itu sudah terpatri di kepalanya sebagai jawaban atas setiap pernyataan Rafael. Rafael terdiam mendengar ucapan Asya. Ia tidak sanggup mengatakan apa pun lagi. Jika biasanya saat ditolak, Rafael tak pernah gentar untuk terus mendenkat dan mengejar Asya, kali ini sungguh beda. Rafael telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa kali ini merupakan yang terakhir. Sebab Rafael telah memiliki rencana berikutnya apabila jawaban Asya memang berupa penolakan lagi. Meski separuh hatinya terluka, Rafael tetap tersenyum pada Asya. Senyum yang meyakinkan bahwa suatu saat cowok itu akan tetap datang lagi dan meminta Asya kembali. Namun yang sebenearnya terjadi adalah senyuman itu merupakan senyuman perpisahan. Senyuman itu pertanda keikhlasan dan kerelaan hati Rafael, yang tidak mampu menggapai Asya. Jika bisa dibuat hiperbolis, saat ini Rafael seolah tengah mengibarkan bendera putih yang pertanda sebagai menyerah. Menyerah akan perjuangannya dalam menggapai Asya. "Oke siap Thank you ya." Kata Rafael yang kembali diiringi senyuman meski dalam hatinya cowok itu Tengah berduka karena harus mengikatkan Asya. Asya mengangguk pelan, untuk menyembunyikan perasaannya yang saat ini tidak karuan cewek itu kembali menyuapkan nasi dengan lauk pauk yang memenuhi piringnya. Asya berusaha makan dengan terlihat Lahab agar Rafael tidak menyadari perubahan sikapnya. "Tapi gue tetep boleh lanjut makan di sini kan ya?" Tanya Rafael sambil menunjuk makanannya yang terlihat masih banyak. Tanpa perlu menunggu jawaban Asya cowok itu sudah menyebabkan sendok ke dalam mulutnya pertanda ia memilih untuk tetap makan di meja yang sama dengan Asya. Asya tak langsung menjawab, ia tampak kebingungan . Mengapa Rafael harus selalu bertanya perihal izin seperti ini . Mengapa harus menunggu persetujuan aja padahal ini merupakan tempat umum bebas untuk makan di manapun dan duduk di manapun . Memangnya Asya yang punya rumah makan ini. "Ya Boleh dong. Kan ini bukan tempat gue . "Jawab Asya seadanya. Sambil terus melanjutkan makannya, Asya berharap nasi di piringnya segera cepat habis agar cewek itu bisa kembali ke kampus, untuk duduk di manapun . di perpustakaan pun tidak masalah asal ia tidak berhadapan dengan Rafael. Asya hanya ingin menghindari Rafael tidak lebih, mengapa hal itu sulit sekali. Asya tiba-tiba teringat akan ajakan Silfa, untuk mengajak Rafael turut serta dalam kegiatan jalan-jalannya. Untuk menjalankan amanah itu akhirnya Asya berkata, " Raf kapan-kapan main yuk sama gue Dan Silfa. " ajak Asya demi melancarkan misinya sebagai agent PDKT Silfa dan Rafael. Bahkan menyebutnya saja Asya merasa muak. Rafael kembali terdiam untuk beberapa saat. Asya membahas hal ini. Dugaannya ternyata benar, alasan Asya menahan perasaannya selama ini. Rafael kemudian tersenyum untuk menanggapi ajakan Asya. “Yuk, kapan? Nanti lo infoin gue aja ya?” jawab Rafael diiringi senyumannya yang teduh. Asya tidak sengaja melihat itu, hingga cewek itu segera mengalihkan perhatiannya agar tidak terpengaruh dengan senyuman Rafael. Cewek itu kembali menunduk, berpura pura memisahkan daging ayam dengan tulangnya, upaya apa pun ditempuh Asya agar tidak bersitatap dengan Rafael. “Sip. Nanti deh gue kabarin.” Asya menyahut tenang, lalu kemudian cewek itu segera berdiri karena makanannya yang sudah habis. Ia tidak ada lagi urusan di tempat ini, ia harus menghindar dengan Rafael sejauh jauhnya. Urusan main bareng itu, ia akan melakukan hal lain. Yang tentu saja agar dirinya tidak perlu ikut, akan dibiarkannya Silfa dan Rafael jalan berdua, nanti Asya akan pura pura sakit perut atau sakit apalah itu. Bisa gila jika Asya terjebak bersama Silfa yang jalan dengan Rafael, nanti kalo sampe Rafael bericara yang tidak tidak, yang ada Asya sukses mati di usia muda karena serangan jantung mendadak. Sepertinya Asya mulai mempertimbangkan untuk pindah kampus jika seperti ini jadinya, ia tidak kuat bertemu Rafael terus menerus. Sejak mengetahui Rafa yang dimaksud Silfa adalah Rafael yang itu, rasanya hidup Asya berubah menjadi mimpi buruk. “Gue duluan ya, Raf.” Kata Asya sambil memasukan barang barang miliknya ke dalam totebag yang digunakan cewek itu. Rafael mengangguk. “Oke, Sya. Thanks ya.” Kata Rafael lagi, terdengar pasrah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN