57.

1999 Kata

Rafael pun menerima koper Asya, lalu melihat dua cewek itu kembali bertukar cerita dan terlarut dalam obrolannya. Sudah dapat di tebak, Asya dan Silfa jika bertemu pasti ramai. Apapun di bicarakannya, sampai lupa segalanya. Dan kasihannya pada Rafael yang di anggurin, serta membawa bawa koper milik Asya. Ya meski memang Rafael yang meminta sih, dan ia juga tidak keberatan. Justru ia merasa lebih tenang karena Asya tidak lagi kerepotan seperti tadi, setelah ia gemas melihat Asya dengan barang bawaan yang membuatnya kesulitan itu. Ia tidak mengerti mengapa Asya harus membawa koper sebesar itu padahal kan barang barang Asya juga pasti banyak di Jakarta, ia memang tidak pernah mengerti pola pikir cewek dengan perentelannya. Rafael berjalan di belakang Asya dan Silfa, mengikuti langkah mereka.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN