Bab 37: Jalan Menuju Sore
Langit beranjak jingga. Elira berdiri di depan jendela, memandangi langit yang sedang menulis puisi senjanya dengan awan-awan tipis. Cahaya tembaga menyusup perlahan ke dalam rumah, menyorot wajahnya yang tampak tenang, tapi tidak dingin. Ia bukan perempuan yang sedang menunggu jawaban dari siapa pun. Ia hanya menanti waktunya sendiri.
Langkah-langkah di teras terdengar. Tidak tergesa. Tidak pelan. Tapi cukup dikenali. Aldian.
Ia membuka pintu tanpa ketukan, karena Elira sudah tahu kedatangannya. Karena rumah itu, entah bagaimana, sudah menyimpan ritme langkah Aldian seperti napasnya sendiri.
“Aku bawa sesuatu,” kata Aldian, mengangkat sekotak kecil kue dari toko yang mereka sukai sejak zaman kuliah. “Ingat rasa ini?”
Elira tersenyum. “Itu rasa kenangan.”
Mereka duduk berdua di ruang tengah. Tak ada musik, hanya suara waktu yang lewat lewat dari jendela yang terbuka. Elira mengambil potongan kue pertama, lalu menggigitnya pelan. Rasa cokelat dan kayu manis meledak dalam lidahnya, seperti membuka memori lama.
“Dulu kita sering ke toko itu setiap Senin sore,” katanya pelan. “Waktu kamu selalu punya alasan untuk nungguin aku selesai kelas.”
“Aku nggak pernah butuh alasan. Aku hanya butuh kamu.”
Elira memandang Aldian sejenak. Kata-kata itu, meski sederhana, menyelinap hangat ke hatinya. Ia tidak lagi bertanya apakah Aldian datang karena masa lalu atau karena masa depan. Yang ia tahu, Aldian hadir dalam saat ini—dan itu lebih dari cukup.
“Kenapa kamu nggak pernah berubah?” tanya Elira tiba-tiba.
Aldian mengangkat alis. “Dalam hal apa?”
“Dalam hal... cara kamu memperlakukan perasaan. Kamu tetap jadi orang yang penuh, bahkan saat seisi dunia sedang kosong.”
Aldian menunduk, lalu menatap Elira dengan senyum yang tidak dibuat-buat. “Karena aku tidak pernah berjuang untuk dicintai. Aku hanya berjuang agar aku pantas mencintai dengan baik.”
Kata-kata itu membuat Elira menunduk. Ada getaran yang pelan tapi jelas. Bukan getar karena ragu, tapi karena sadar: pria di depannya bukan hanya datang membawa kenangan, tapi juga membawa ketenangan.
Matahari mulai turun sepenuhnya. Ruangan menggelap perlahan, dan Elira menyalakan lampu kecil di pojok ruangan. Cahayanya tidak terang, tapi cukup untuk membuat sorot mata mereka saling menyala.
Aldian berdiri. Ia berjalan ke dekat jendela dan membuka tirai sedikit lebih lebar. Dari sana, langit sore terlihat seperti lukisan yang hampir selesai, tapi tak pernah benar-benar ditandatangani.
“Langitnya seperti lukisan yang kita lihat di galeri dulu,” ucap Aldian.
“Kamu ingat itu?”
“Aku ingat semua yang membuatmu diam lebih lama dari biasanya.”
Elira tersenyum. “Kamu tahu kenapa aku suka lukisan itu?”
“Karena warnanya tidak seragam?”
“Karena dia jujur. Dia tidak mencoba menyenangkan siapa pun. Dia hanya menumpahkan apa yang ia rasakan.”
Aldian mengangguk pelan. Ia paham. Ia tidak pernah mencoba menjadi lukisan yang sempurna. Ia hanya ingin menjadi tempat di mana Elira bisa merasa aman untuk melepaskan semua warna hatinya.
“Kita ini aneh, ya,” kata Elira akhirnya. “Berdua, tapi seperti tak terburu-buru. Dekat, tapi tidak saling menekan. Nyaman, tapi tidak menuntut.”
Aldian duduk kembali. “Itu bukan aneh, Ra. Itu namanya dewasa.”
Elira memejamkan mata. Kata ‘dewasa’ yang diucapkan Aldian tidak terdengar seperti beban. Justru terdengar seperti rumah. Dan malam itu, dalam kesederhanaan, mereka sadar bahwa cinta bukan tentang seberapa keras kau mengejar. Tapi seberapa lembut kau tinggal.
---
Kutipan Bab 37:
> "Cinta yang dewasa tidak mengikat dengan tali, tapi mengikat dengan kepercayaan dan tenang yang saling tumbuh."
Bab 38: Warna yang Tidak Kita Pilih
Pagi itu, Elira bangun lebih awal. Bukan karena suara alarm, bukan karena panggilan apa pun, tetapi karena udara di pagi itu terasa berbeda. Ada semacam ketenangan yang tidak ia temukan di pagi-pagi sebelumnya—seperti dunia sedang memberi ruang untuknya bernapas sedikit lebih dalam.
Ia berjalan keluar, ke taman kecil di samping rumah, membawa secangkir teh hangat. Aroma melati mengambang pelan dari uapnya, bersatu dengan embun dan tanah basah yang baru saja tersentuh embun.
Aldian belum datang. Tapi Elira tahu, pagi ini ia akan datang.
Karena sejak mereka bertemu kembali, Aldian tak pernah absen muncul di saat yang paling tak terduga—namun paling tepat.
Tiba-tiba suara langkah terdengar di belakang. Tanpa menoleh, Elira tersenyum. “Tehnya belum cukup pahit. Mungkin kamu bisa tambahkan cerita.”
Aldian tertawa kecil, duduk di bangku kayu yang mulai lapuk oleh waktu. “Aku suka aroma pagi di rumahmu. Seperti ingatan yang belum pernah selesai.”
“Elira,” katanya pelan setelah hening sejenak, “kau percaya takdir bisa diubah?”
Elira menoleh. “Takdir? Mungkin bukan soal diubah. Tapi soal bagaimana kita menyambutnya.”
Aldian menggigit bibir bawahnya pelan. “Aku sempat berpikir kalau pertemuan kita kemarin adalah kejutan. Tapi makin aku dekat denganmu, makin aku sadar… aku memang selalu menuju ke arahmu.”
“Arah bisa berubah, Al.”
“Bisa. Tapi tujuannya tetap sama.”
Elira terdiam. Di dalam dadanya, kata-kata Aldian tidak terdengar seperti rayuan. Ia bukan lelaki yang bermain kata. Ia hanya berkata apa adanya, dan itulah yang membuatnya sulit untuk tidak percaya.
“Dulu aku pernah melukis,” ucap Elira tiba-tiba.
Aldian menoleh, heran. “Kamu? Melukis?”
“Iya. Tapi cuma waktu SMA. Sembunyi-sembunyi. Ayahku bilang seni tidak bisa memberi makan. Jadi aku diam-diam melukis setiap kali dia pergi.”
“Lalu?”
“Aku berhenti. Karena aku percaya omongannya.”
Aldian terdiam. Lalu ia berkata lirih, “Lucu ya. Kita sering berhenti bukan karena tidak mampu, tapi karena kita percaya pada suara yang bahkan bukan dari hati kita sendiri.”
Elira menatap Aldian. “Kalau kamu, pernah berhenti karena suara itu?”
Aldian mengangguk. “Aku berhenti nulis puisi karena seseorang bilang lelaki sepertiku lebih cocok di lapangan, bukan di kertas.”
“Siapa yang bilang?”
“Pelatih basket.”
Elira tertawa kecil. “Jadi kamu dulu penyair yang tersembunyi di balik ring?”
“Ya, dan sekarang aku hanya mencoba jadi lelaki yang tak menyembunyikan apa-apa lagi.”
Hening kembali turun. Tapi kali ini bukan hening yang canggung. Ini hening yang menyelipkan pemahaman bahwa mereka berdua pernah jadi seseorang yang harus menyembunyikan sisi lembutnya karena dunia terlalu gaduh menuntut ‘kewajaran’.
Tapi sekarang?
Sekarang mereka hanya ingin hidup dalam warna yang mereka pilih sendiri. Bukan warna yang ditentukan oleh suara luar.
“Aku ingin lihat kamu melukis lagi,” kata Aldian.
Elira tersenyum. “Aku ingin baca puisimu.”
Aldian bangkit, lalu berjalan ke arah jalan setapak yang menuju gerbang depan.
“Ke mana?” tanya Elira.
“Membelikanmu cat dan kuas. Aku tahu toko kecil yang masih jual alat melukis di ujung jalan.”
“Elian…” panggil Elira sebelum ia sempat melangkah lebih jauh.
“Ya?”
“Aku tidak tahu kita ini akan ke mana. Tapi kalau kamu adalah warna yang tidak pernah kupilih tapi selalu kurindukan… mungkin aku akan mulai melukis denganmu di dalamnya.”
Aldian tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Lalu pergi.
Tapi dalam diamnya, ia tahu—ia tidak hanya sedang membelikan kuas. Ia sedang menyiapkan kanvas baru untuk hidup yang tak lagi ditentukan oleh siapa pun kecuali dua orang yang duduk di taman pagi itu.
---
Kutipan Bab 38:
> “Terkadang, cinta bukan tentang siapa yang kau pilih, tapi
tentang siapa yang tak pernah pergi meski kau sempat menutup pintu berkali-kali.”