Surat tertinggal dan pesan yangtak pernah mati

466 Kata
Bab 16: Surat Tertinggal dan Pesan yang Tak Pernah Mati ±1.700 kata Hari Minggu pagi itu langit kota cerah tak seperti biasanya. Elira sedang membersihkan laci tua yang mereka bawa dari rumah nenek. Laci itu—lusuh, penuh goresan, dan aroma kayunya khas sekali—menyimpan banyak kenangan. Ia tak mengira bahwa pagi itu, dari dalam celah buku catatan tua, sebuah amplop jatuh ke lantai. Kertasnya menguning, bagian sudutnya melengkung karena waktu. Elira menatapnya lama sebelum membukanya. Di atasnya tertulis: “Untuk Elira — jika aku pernah terlalu diam.” Tulisan tangan itu… bukan miliknya. Tapi ia mengenalinya. --- Aldian sedang membeli sarapan di warung dekat apartemen saat ia menerima pesan singkat dari Elira: "Aku menemukan sesuatu. Pulang cepat ya." Setibanya di rumah, ia melihat Elira duduk diam di lantai, surat terbuka di tangan. Matanya teduh tapi tidak berkaca. Aldian langsung tahu, itu surat yang ditulisnya… bertahun lalu. Saat ia masih menjadi lelaki yang belum berani berbicara tentang cinta dengan suara penuh. “Kenapa kau tak pernah kasih ini padaku?” tanya Elira pelan. Aldian tersenyum kecil. Ia duduk di sampingnya, merengkuh bahu kekasih lamanya yang kini menjadi bagian dari hidup yang utuh. “Aku takut. Dulu. Takut kau akan tahu aku mencintaimu jauh sebelum aku mampu menyatakan.” Elira membuka kembali surat itu dan membacanya dalam hati—perlahan, hingga setiap kata bergema seperti suara masa lalu yang tak pernah selesai. --- Isi Surat Tua Itu: "Elira, jika suatu hari kau membaca ini, maka itu artinya aku pernah takut. Bukan karena aku tak yakin, tapi karena rasa ini terlalu dalam untuk diucap ringan. Aku mencintaimu sebelum aku tahu bagaimana cara mencintai dengan benar. Aku mencintaimu di diamku, di tatapanku yang kau mungkin anggap biasa. Jika nanti kita bertemu kembali—aku ingin menjemputmu, bukan hanya sebagai teman, tapi sebagai takdir yang sempat tertunda." --- Setelah membaca itu, Elira tak banyak bicara. Ia hanya menyandarkan kepalanya di bahu Aldian. Detik itu, kata tak lagi diperlukan. Yang tinggal hanyalah pemahaman—bahwa rasa yang benar, meski ditunda, tak akan pernah mati. Hari itu mereka habiskan dengan membicarakan banyak hal yang dulu tak pernah sempat. Tentang rasa diam-diam. Tentang malam-malam sunyi ketika hanya nama satu sama lain yang menemani pikiran. Tentang bagaimana semesta memang menyimpan waktunya sendiri untuk mempertemukan kembali. --- Malamnya, Elira menulis sebuah catatan kecil dan menempelkannya di kulkas dengan magnet bergambar bintang: "Untuk Aldian—yang tak pernah benar-benar pergi dari hatiku, bahkan sebelum kau menyadarinya." Aldian tertawa pelan ketika membacanya, lalu membalas dengan pena: "Dan untuk Elira—yang kini tak akan pernah kulepaskan lagi, karena hidup bukan tentang banyak kata… tapi tentang keberanian untuk mencintai dengan tenang." --- Kutipan Bab 16: "Beberapa rasa tak perlu dijelaskan saat itu juga, karena cinta sejati tahu b agaimana caranya menunggu dengan tenang di balik waktu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN