Saat Pak RT mengatakan kata-kata itu Aletha seketika langsung lemas. Ia kira tadi dirinya salah mengecek dan ternyata dugaannya benar. Sekarang dirinya harus merelakan satu-satunya anggota keluarga setelah Arum ibunya yang juga meninggal saat dirinya berusia empat tahun. Hanya ada sedikit kesan dirinya terhadap sang ibu.
Sekarang saat Aletha mulai tak terkendali karena kepergian Hasan, Bu Ratih langsung membawanya dan menenangkannya. Dia menjauhkannya karena sekarang hampir semua warga datang untuk mengurusi jenazah Hasan.
Sampai saat proses penguburan selesai, Aletha tak pernah istirahat bahkan sampai matahari terbit dirinya masih setia di sana.
Dalam dua hari ini Aletha tidak pergi ke sekolah. Dia sudah meminta izin pada pihak sekolah namun dirinya meminta agar kabar ini tidak disebar karena semua kebohongannya akan terbongkar.
“Sudah mau sekolah Aletha?” tanya Bu Ratih yang sedang berbelanja sayuran bersama ibu-ibu yang lain.
Hari ini Aletha harus masuk sekolah. Kali ini dia bertekad untuk memperbaiki studinya karena dia sadar jika untuk sisa kehidupannya nanti dia hanya bisa mengandalkan diri sendiri, dia tidak ingin menyia-nyiakan pengorbanan sang ayah yang sudah membiayai sekolahnya selama bertahun-tahun.
“Iya Bu Ratih, Aletha mau berangkat sekolah.”
“Masih berani sekolah, dari mana kamu bisa membiayai sekolah kamu ke depannya? Pakai uang kita lagi?” seseorang yang memang sudah tak suka pada Aletha pun tiba-tiba berkata tak sopan. Wanita itu mulai berbica yang tidak-tidak tentang Aletha yang membuat langkah gadis itu terhenti seketika.
Saat mendengar hal itu tiba-tiba semuanya bertanya-tanya tentang maskud dari perkataan itu. Namun disaat itulah orang yang suka memanas-manasin keadaan pun beraksi dan berkata, “Iya, pasti pakai uang sumbangan dari kita. Liat aja gayanya selangit tapi gak pernah liat dia bawa Pak Hasan ke rumah sakit sampai meninggalnya.”
Saat orang itu berkata seperti itu maka semua orang yang disana langsung mengangguk mengerti dan mereka mulai setuju dan sekarang menyalahkan Aletha bahkan sekarang gadis itu adi cibiran orang sekitar.
“Wahh, iya iya. Pasti kamu pakai semua uangnya. Sini balikin uang kita!” semua orang disana langsung marah dan menagih uang mereka, namun untunglah ada Bu Ratih yang meleraikan semuanya.
“Ehh ibu-ibu, jangan seperti itu. Aletha kan sedang tertimpa musibah, seharusnya kita bersimpati. Lagian kalau uang yang sudah disedekahkan itu tidak boleh diungkit-ungkit apalagi sampai dipinta lagi, itu artinya kalian tidak ikhlas dalam memberi.” Saat Bu Ratih memberi pembelaan ibu-ibu lain yang mendengarnya pun langsung kesal, mereka semua sudah terlanjur membenci Aletha.
Aletha yang mendengarnya hanya menunduk menyesal, dia tau kesalahannya dan sekarang saat semua orang itu memperlakukannya seperti itu pun Aletha akan menerimanya karena dia memang pantas untuk mendepatkannya.
“Sudah Aletha, lebih baik kamu berangkat sekarang. Takutnya kamu terlambat masuk sekolah.”
“Iya Bu Ratih, terima kasih.” Aletha mulai melanjutkan langkahnya, sekarang dia mulai menuju ke sekolah.
Masalah yang Aletha alami sekarang tak sampai di situ saja, sekarang saat dirinya menginjakkan kaki di sekolah semua siswa langsung melemparinya sampah dan berkata, “Dasar pembohong, lagaknya aja kaya taunya miskin.”
Semua siswa bahkan sampai lantai atas pun melempari Aletha dengan sampah. Sekarang satu sekolah sudah tau tentang kebohongan Aletha dan mereka sekarang bahkan tau kondisi ekonomi Aletha yang sebenarnya.
Dia tidak tau bagaimana semua orang mengetahui tentang hal itu, yang terpenting sekarang dirinya harus mencari perlindungan. Matanya mulai melebar mencari sosok pacarnya kesana-kemari untuk dimintai bantuan. Saat gadis itu mendapati Regan yang tengah melihat dirinya pun langsung mendekatinya.
Dia datang ke hadapan Regan dengan tatapan berharapnya. Dia berharap bisa mendapatkan perlindungan dari pacarnya itu karena secara satu sekolah tak ada yang berani melawan cowok badboy sepertinya.
“Regan?” ucapnya sumringah karena berpikir jika pria itu akan membantunya.
“Ngapain lo kesini? Sana huh hus, orang miskin mah gak diterima disini.” Sikap Regan yang dulu manis semanis es krim pun sekarang berubah jadi sedingin es balok. Pria itu merasa jika wanita seperti Aletha sudah tak ada gunanya lagi karena itulah dia berkata, “Mulai saat ini kita putus. Gue gak butuh lo lagi sekarang.”
Kata-kata kejam yang dilontarkan Regan sekarang berhasil masuk menusuk hatinya. Sekarang hatinya benar-benar sakit karena mendengarkan kata-kata itu. Regan yang ia pikir mencintainya dengan tulus ternyata malah mengkhianatinya saat dirinya sudah tak mempunyai apapun. Bahkan Cindi yang ia anggap sebagai sahabat pun sekarang menertawainya dengan mempelihatnya senyuman sinisnya. Gadis itu senang melihat penderitaan yang mulai berdatangan pada Aletha.
“Cihh, mau aja dimanfaatin. Dasar bego!” Setelah mengatakan kata-kata kejam itu sekarang Cindi mulai pergi dari sana. Dia tidak ingin lagi memperdulikan gadis menyedihkan itu.
“Ahh, kasian banget sih nasib lo, Leth. Makanya jangan berlaga sok kaya, traktir sana sini. Ehh, taunya mah miskin semiskin miskinnya.” Sesaat setelah Cindi pergi, datanglah dua orang gadis dengan sombongnya datang mendekati Aletha. Senyuman puas yang ia kembangkan dikedua sudut bibirnya pun mulai membuat Aletha marah.
Salah satu nama gadis itu adalah Shiella Allaric, anak dari pemilik sekolah yang sedang ia pijak itu. Berjalan dengan langkah sombongnya, Shiella datang untuk mempermalukan Aletha. Gadis itu adalah musuh bebuyutan Aletha sejak masih di bangku Sekolah Dasar. Ia tak pernah sekali pun bisa mengalahan Aletha dan sekarang saat reputasi gadis itu mulai turun barulah dia beraksi.
Berjalan mengelilingi Aletha dan bahkan mendorongya, Shiella sangat senang melakukannya. Tidak hanya dirinya, bahkan sekarang teman yang ada di sampingnya pun ikut mendorong Aletha. Kebenciannya terhadap Aletha sama besarnya dengan Shiella. Gadis itu bernama Nessie, anak dari majikan tempat ayah Aletha bekerja. Ya, selama ini ternyata Aletha bergaya menggunakan baju dan barang-barang yang diberi oleh Nessie kepada ayanya.
“Pantes aja setiap gue liat lo gonta-ganti baju gue sering ngerasa kenal sama bajunya, ternyata pemberian gue.” Nessie berkata begitu keras sampai semua orang disana mendengarnya. Sekarang kebohongannya sudah benar-benar terbongkar.
“Hahahaha! Bergaya tuh sesuai duit, kalo gak mampu gak usah berlagak sok.” Sekarang semua orang yang mendengarnya langsung menertawakan Aletha, gadis itu hanya mengepalkan tangannya dan berusaha kabur dari situasi mengerikan itu.
“Hadehh, kalau bukan karena Pak Hasan baik dan gue mau datang ke pemakamannya, kayaknya gue gak bakalan tau deh ya sampai sekarang.” Nessie menghentikan langkah Aletha dengan perkataanya. Jadi karena itulah kedoknya terbongkar.
Saat mendengar kabar tentang kematian Hasan, Nessie beserta keluarganya berniat untuk melayat karena bagaimanapun Hasan sudah mereka anggap sebagai keluarga sendiri. Namun hal yang tidak terduga terjadi. Di sana Nessie melihat Aletha yang sedang menangis meratapi jasad sang ayah dan karena itulah dia memutuskan untuk tidak masuk dan berpura-pura ada urusan mendadak. Sebenarnya saat dia mengetahui hal itu, dia langsung membuat rencana. Dia berpikir untuk mempermalukan Aletha di sekolah.