Bertekad Untuk Berubah

1041 Kata
Sekarang Aletha mengetahui alasan dibalik terbongkarnya semua kebohongan yang ia lakukan. Dia tidak pernah tau jika ayahnya bekerja untuk keluarga Nessie. Namun, semua itu bukanlah masalah utama. Masalah utama yang harus segera ia selesaikan adalah bagaimana caranya agar dia bisa menutup mulut orang-orang itu dan berhenti membicarakannya bahkan sampai melemparinya sampah seperti tadi. Aletha yang sudah kesal pun langsung berjalan mendekat pada Shiella dan mendorongnya balik. Tidak hanya gadis itu, tapi Nessie pun mendapatkan hal yang sama. Aletha mulai mendorong mereka berdua membuat satu sekolah bergema karena keributan yang mereka buat. Tidak hanya adu mulut, mereka juga bahkan sampai menjambak rambut satu sama lain yang membuat ketiganya semakin marah dan pertengkaran mereka semakin menjadi-jadi. Aletha tidak tau, tapi sekarang perbuatannya sedang diperhatikan oleh dua orang pria dewasa yang tidak sengaja sedang lewat ke arah sana. Mereka berniat untuk pergi ke ruangan kepala sekolah namun langkah mereka terhenti karena keributan yang sedang terjadi. “Cihh, ternyata ada juga yang berani melawan Shiella.” Dua orang pria dengan balutan jas yang rapi membuat semua orang yang melihat jadi tertarik. Selain itu, perawakan yang jangkung dan wajah yang tampan juga menjadi daya Tarik kedua pria itu. Sayangnya, karena keributan yang sedang terjadi membuat sebagian siswa tak menyadari kedatangan mereka dan hanya fokus pada pertengkaran Aletha dan Shiella. Pria itu adalah Edgar Hatta Allaric. Seorang pengusaha sukses berusia 28 tahun yang disegani banyak orang. Dia memiliki bisnis di berbagai bidang, salah satunya adalah SMA yang sedang Aletha pijak ini, SMA Garuda Bhakti. Salah satu SMA terfavorit di Jakarta yang menjadi incaran banyak siswa. Sebenarnya sekolah ini adalah bisnis keluarganya, Keluarga Allaric. Sebagai satu-satunya penerus di keluarga, Edgar mengemban tanggung jawab untuk mengurus semua bisnis keluarganya. Namun, saat dipikir-pikir nama Allaric tidaklah asing. Ya, Allaric juga adalah nama keluarga Shiella. Edgar adalah kakak kandung Shiella, karena itulah Shiella sangat berani jika di sekolah. Edgar bersama Tomi—sekretarisnya itu langsung pergi ke ruangan kepala sekolah karena dia tidak punya banyak waktu untuk mengurusi hal yang tidak berguna itu. Sekarang di sana hanya ada siswa yang sedang asik melihat pertengkaran yang sedang terjadi. Pertengkaran itu tak berjalan lama karena sekarang Bu Susi—guru BK di sana datang dang memarahi ketiga gadis itu. Dia segera memanggil ketiganya untuk segera pergi ke ruangannya. “Kalian bertiga, pergi sekarang juga ke ruangan ibu!” Kemarahan Bu Susi berhasil membuat para siswa di sana jadi ketakutan. Mereka langsung masuk ke kelas masing-masing karena tidak ingin mendapatkan masalah. “Baik, Bu.” Aletha, Shiella, dan Nessie sekarang berjalan bersamaan masuk ke ruangan Bu Susi. Mereka saling menggeser satu sama lain agar bisa duduk di sofa yang bahkan sangat luas. “Berhenti bertengkar!” Melihat tingkah muridnya itu pun Bu Susi semakin marah. Dia langsung duduk berhadapan dengan ketiga gadis itu dan membuat mereka harus bersusah payah untuk menelan salivanya. Sekarang yang pertama dimarahi adalah Shiella. Mentang-mentang keluarganya pemilik sekolah dia jadi bisa seenaknya. Namun, karena kepribadian Bu Susi tegas maka Shiella tetap dimarahi. Hanya sampai situ saja Shiella dimarahi dan begitu juga Nessie, mereka sekarang sudah keluar dari ruangan Bu Susi meninggalkan Aletha sendiri dengan guru BK itu. “Aletha, sampai kapan kamu mau membuat masalah? Ini udah yang ke sekian kalinya loh kamu masuk ruangan saya. Kamu sudah mendapatkan dua surat peringatan. Jangan sampai kamu mendapatkan yang ketiga kalinya, karena kamu akan lansung dikeluarkan.” Bu Susi merubah nada bicaranya, dia sedikit lembut terhadap Aletha. Sebenarnya dia sangat kasihan dengan Aletha apalagi setelah dirinya tau jika gadis itu bukan anak orang kaya dan bahkan ayahnya sudah meninggal sekarang. Dia tidak ingin Aletha menyia-nyiakan perjuangan ayahnya yang sudah menyekolahkannya. Dia tau Aletha anak yang baik dan pintar jika mau berubah. Maka dari itu Bu Susi akan sedikit demi sedikit untuk membimbing Aletha. “Maaf, Bu. Aletha salah.” Gadis itu menunduk menyesal, tidak biasanya dia melakukan hal itu karena biasanya Aletha bahkan tidak akan mendengarkan perkataan Bu Susi. Sekarang dia tidak ingin melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya. “Kamu harus berubah Aletha. Sekarang kamu sudah kelas 12 dan sebentar lagi lulus. Kamu tidak boleh menyia-nyiakan perjuangan ayah kamu yang sudah menyekolahkanmu.” Bu Susi menatap tulus mata gadis itu, terlihat ada sebuah penyesalan mendalam di dalamnya. “Baik, Bu. Aletha mengerti.” Setelah mendengar penjelasan Bu Susi, Aletha langsung berdiri dan hendak pergi dari sana, dia sudah harus masuk ke kelas. “Tunggu, Aletha! Ibu belum selesai bicara.” Saat mendengar perkataan Bu Susi, Aletha langsung berhenti. Dia segera berbalik dan menatap Bu Susi untuk mengetahui hal apa yang akan wanita itu katakan kepadanya kali ini. “Uang SPP kamu sudah nunggak bebera bulan. Jika kamu tidak membayarnya dalam satu bulan, kamu akan dikeluarkan oleh sekolah.” Tidak berhenti masalah Aletha sampai situ, sekarang dia mendengar lagi masalah baru. Ya, uang yang seharusnya ia bayar untuk SPP malah ia gunakan untuk bersenang-senang. Sekarang saat tagihannya sudah membeludak, Aletha baru memikirkannya. Dari mana dia mendapatkan uang itu sedangkan dia saja dulu selalu dibayari oleh ayahnya. Sekarang Aletha menunduk mengerti, dia melanjutkan langkahnya lagi untuk keluar dari sana. “Pak, apa yang harus Aletha lakukan sekarang? Aletha benar-benar bingung sekarang.” Gadis itu kembali menunduk, dia tidak memperhatikan langkahnya sampai dirinya menabrak Edgar yang baru saja keluar dari ruangan kepala sekolah. “Aww!” pekiknya kesakitan karena menabrak d**a bidang Edgar. “Minggir! Menghalangi saja.” Bukannya minta maaf, sekarang Edgar malah berkata dingin dan setelah itu langsung pergi dari sana. Aletha yang melihat kelakuan pria itu pun menggerutu sendiri. “Cihh, apaan sih tu orang? So’ dingin banget.” Tidak cukup dirinya apes hari ini, dia sekarang jatuh terpeleset karena ada genangan air di hadapannya dan karena tidak hati-hati makanya dia terjatuh. “Ahh, apes banget sih gue!” Aletha berteriak keras. Sekarang dirinya mulai berpikir jika kehidupannya tidak adil. “Hahaha! Rasain tuh anak miskin!” beberapa siswa langsung keluar dari persembunyiaanya dan mengguyur Aletha dengan seember air. Genangan yang ada di lantai itu adalah perbuatan mereka. Aletha tidak mau melawan kali ini, dia teringat dengan perkataan Bu Susi yang tidak boleh membuat masalah lagi. Dia harus bersekolah yang rajin kali ini, apalagi sekarang dirinya sudah kelas 12. “Aletha, lo harus sabar. Kali ini jangan buat masalah lagi.” Aletha meneguhkan hatinya, dia benar-benar sudah bertekad untuk berubah sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN