Sore Hari – Rumah Aletha
“Ahh, akhirnya gue bisa rebahan juga. Sial banget gue hari ini.”
Aletha langsung masuk ke kamarnya. Dia segera membantingkan tas sekolahnya dan kini langsung membuang sepatunya secara sembarang.
Gadis itu kini membaringkan diri di kasur yang bisa dibilang sedikit empuk. Dia mengambil sebuah bantal lalu menutupi wajahnya dengan bantal itu.
Gadis berusia 18 tahun itu mengutuk dirinya sendiri. Dia sudah bad mood sejak dari sekolah tadi. Ditambah dengan datangnya masalah yang bertubi-tubi membuat dirinya stres sendiri.
“Gue harus nyari duit dimana coba? Gue aja selama ini dibiayai sama bapak. Aghhh! Pak, Aletha gak sanggup.”
Aletha kini merubah posisinya menjadi tengkurap. Dia meletakkan bantal tadi di atas kasur. Gadis yang masih menggunakan seragam sekolah itu kini menenggelamkan wajahnya di sana dan mulai menangis.
Gadis itu mulai menangis sejadi-jadinya. Bagaimana pun Aletha adalah seorang anak dengan masalah yang bisa dibilang cukup berat bagi gadis seusianya.
“Hiks hiks hiks!” terdengar suara tangisan Aletha dari balik bantal itu. Gadis itu sudah menangis sejak tadi sampai dia sesegukan sendiri.
Terlalu lama dirinya menangis, kini Aletha tidur karena kelelahan. Tubuhnya ingin beristirahat sejenak. Dia butuh waktu untuk menenangkan diri.
Satu Jam Kemudian
“Tok tok tok!” terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah Aletha.
Kini setelah gadis itu sadar sepenuhnya, Aletha langsung beranjak dari tempat tidurnya dan segera berjalan menuju pintu depan. Dia langsung mendapati Bu Ratih dengan sepirin nasi dan juga sepiring lauk. Wanita itu membawakan makanan untuk Aletha karena tahu jika gadis itu belum makan.
“Bu Ratih? Silakan bu masuk ke dalam. Maaf lama buka pintunya, Aletha ketiduran tadi.”
Aletha langsung mempersilakan Bu Ratih untuk masuk ke dalam. Dia juga mempersilakannya untuk duduk dan berusaha bersikap sesopan mungkin karena di antara semua tetangganya, hanya Bu Ratih yang masih memperdulikannya.
“Iya gak papa. Ini makanan untuk kamu. Pasti kamu belum makan, kan?”
Bu Ratih langsung meletakkan kedua piring itu di atas meja, Aletha yang melihatnya jadi tidak enak sendiri.
“Gak usah, Bu. Aletha bisa masak sendiri, kok.”
“Sudah, makan saja. Kalau kamu butuh apa-apa, kamu bisa minta bantuan sama ibu. Jangan sungkan, kita kan tetangga.”
Semakin Bu Ratih berbicara seperti itu, semakin tak enak hati Aletha dibuatnya. Dia tidak akan memperlakukan kasar Bu Ratih jika tahu dia sebaik ini.
“Terima kasih, Bu.”
“Ya sudah, ibu pulang dulu, ya. Jangan lupa dimakan makanannya.”
Bu Rataih langsung beranjak dari duduknya, dia hendak pulang sekarang. Namun, saat dirinya melihat ada yang tidak beres dengan raut wajah Aletha, wanita itu kini duduk kembali dan menanyakannya.
“Kenapa kamu, Leth. Sakit?” tanyanya lembut.
“Enggak kok, Bu Ratih. Aletha baik-baik aja.”
“Jangan bohong. Coba cerita sama ibu, siapa tau ibu bisa bantu.”
“Sebenarnya Bu Ratih, Aletha butuh pekerjaan. Aletha harus bayar uang sekolah dan juga untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi Aletha gak tau harus nyari pekerjaan dimana.”
Gadis itu akhirnya mengeluarkan semua unek-uneknya. Dia sudah berpikir bodo amat jika dirinya dianggap nyari perhatian atau bahkan lebih dari itu, yang dia pikirkan hanya masalahnya itu.
“Kamu benar. Bagaimana pun kamu masih harus sekolah. Ya udah, gimana kalau gini? Kamu bekerja jadi ART di rumah depan sana. Katanya sih lagi nyari pembantu. Gimana, kamu mau gak?”
Bu Ratih memberikan sebuah pekerjaan untuk Aletha. Kebetulan memang rumah besar di depan rumahnya itu sedang membutuhkan pembantu. Gadis itu bisa mendapatkan penghasilan dari sana. Itu juga kalau dirinya mau.
“Oyah? Beneran, Bu?” tanya Aletha sumringah.
Dia langsung mengangkat kepalanya dan melebarkan senyuman. Akhirnya dirinya menemukan sebuah pekerjaa. Walau hanya seorang pembantu, setidaknya dirinya bisa mendapatkan penghasilan dan bisa membayar biaya sekolahnya.
“Iya, bener. Kamu mau? Emangnya gak malu?”
Bu Ratih teringat dengan sifat Aletha dulu yang suka foya-foya dan tidak suka bekerja keras. Namun, sekarang saat mendengarnya Bu Ratih terkejut dan bertanya untuk memastikan.
“Enggak, Bu. Letha bahkan seneng banget.”
“Ya sudah kalau begitu, besok kita ke sana, ya? Nanti ibu yang bicara sama pemilik rumah.”
“Iya, Bu. Terima kasih.”
“Iya, sama-sama. Udah cepetan makan gih, keburu dingin.”
“Iya, Bu, Letha makan sekarang.”
Saking senangnya gadis itu langsung memakan makanan yang ada di hadapannya. Sekarang Aletha tidak perlu lagi pusing mencari pekerjaan.
Setelah percakapan yang membuahkan hasil itu, Bu Ratih langsung pergi dan kembali ke rumahnya. Sekarang Aletha juga kembali ke kamarnya dan langsung mengambil handuk, dia akan segera mandi untuk membersihkan dirinya.
-oOo-
“Kamu yakin mau kerja di sini? Gak bakalan males-malesan?” tanya sinis pemilik rumah.
Wanita yang seumuran Bu Ratih itu langsung bertanya serius. Dia tidak mau jika dirinya mempunyai pembantu yang pemalas, apalagi dia sudah mengetahui seluk beluk Aletha karena memang rumah mereka berdekatan.
“Iya, Bu. Aletha butuh pekerjaan.”
“Ya sudah, kerja sana!” perintahnya kasar.
Wanita itu langsung menunjuk sapu dan pel dengan dagunya, dia langsung menyuruh Aletha untuk membersihkan rumahnya.
“Ya sudah, ibu pergi dulu, ya. Semangat kerjanya.”
Bu Ratih langsung meninggalkan Aletha dengan wanita itu, sekarang Aletha langsung mengambil sapu yang sudah ditunjukkan dan mulai menyapu semua lantai termasuk lantai atas.
“Yang bener kerjanya, harus bersih. Saya gak suka kotor.”
“Baik, Bu.”
Setelah menyapu semua lantai dan juga membersihkannya dengan pel, Aletha langsung pergi ke dapur untuk memasak. Dia mencari bahan-bahan yang akan dia gunakan untuk memasak.
Ada daging dan sayuran, Aletha berniat untuk memasak keduanya. Belum saja dirinya memotong semua bagian daging itu, tangannya sudah teriris dan berdarah.
Aletha memang tidak pandai dalam hal dapur. Namun, dia dituntut untuk bisa karena itu adalah salah satu dari pekerjaannya.
Prangg!
Baru saja dirinya masuk ke dapur 10 menit yang lalu, sekarang dirinya sudah memecahkan sebuah piring kaca yang terlihat sedikit mahal.
Sifatnya yang sedikit ceroboh membuat dirinya mendapat masalah baru.
“Aletha, kamu ini bagaimana, sih? Baru hari pertama udah mecahin piring saja, mana mahal lagi. Gaji kamu saya potong.”
Wanita bernama Mila itu langsung memberi Aletha hukuman, dia langsung memotong gaji gadis itu padahal dia baru saja bekerja.
“Maafin Aletha, Bu Mila. Aletha salah. Aletha janji gak bakalan ngulangin hal ini lagi. Tolong jangan potong gaji saya, ya, Bu? Aletha butuh banget uangnya.”
Gadis itu langsung memohon agar gajinya tidak dipotong. Dia benar-benar membutuhkannya dan dia tidak mau usahanya sia-sia.
“Kalau gitu kerjanya yang bener. Jangan bisanya cuma ngerusakin barang orang,” jelasnya marah.
“Baik, Bu. Mulai sekarang Aletha bakal lebih hati-hati.”