Mulai Dibully

1059 Kata
Aletha kembali bekerja, dia segera membereskan pecahan-pecahan kaca itu. Namun, saat dirinya memungutnya, tangannya tidak sengaja tergores oleh pinggiran kaca itu. Kini kedua jari telunjuknya terluka, satu karena dia tidak sengaja melukainya saat memotong daging, satu lagi karena pecahan kaca itu. Sekarang gadis itu langsung mencari kotak P3K dan segera mengobatinya. Selesai membersihkannya dan membalutnya, kini Aletha kembali mengerjakan pekerjaannya. Dirinya memang tidak bisa memasak, tetapi bukan berarti gadis itu bodoh. Aletha segera mengeluarkan ponselnya dan segera mencari resep dan tutorial untuk membuat masakan tersebut. Selesai dalam waktu belasan menit, kini Aletha langsung menyajikannya di meja makan. Gadis itu langsung melayani majikannya dengan menyajikan makanannya di piring kosong mereka. Mila dengan satu putranya langsung melahap masakan gadis yang tengah berdiri mematung di samping wanita itu. Saat dia mencoba masakan Aletha, wanita itu langsung melepehkannya. “Puihh! Masakan macam apa ini, hah? Kamu bisa masak gak, sih? Masa jadi pembantu gak bisa masak?” Mila segera memarahi Aletha di depan putrnya. Dia bahkan memarahinya habis-habisan. Habis sudah muka gadis itu. Sekarang harga dirinya seperti diinjak-injak. “Ma, udah dong. Jangan begitu di depan makanan, pamali.” Pria itu berusaha untuk membela Aletha karena kasihan melihatnya. Dia tidak tega gadis itu dimarahi habis-habisan seperti itu. “Berani kamu, ya, belain cewek ini? Udah, mama mau berangkat kerja sekarang. Males banget makan masakan kamu, gak ada yang enak.” Mila langsung beranjak dari duduknya. Dia langsung berjalan ke lantai atas untuk mengambil tasnya dan berangkat kerja. Saat dirinya sedang menuruni anak tangga, dia melihat Aletha yang sudah berdiri menunggu dirinya di bawah sana. Gadis itu tengah gugup dengan menyatukan kedua tangannya dan sedikit berkeringat. Dari tadi dia hanya memainkan kedua tangannya dan tertunduk. “Ngapain kamu masih di sini? Bolos sekolah kamu?” tanya Mila yang sedikit risih dengan kehadiran gadis itu. Jika sekarang adalah waktu dirinya berangkat kerja, maka sekarang juga waktunya Aletha pergi ke sekolah. Gadis yang sudah berseragam lengkap dengan tas di punggungnya itu pun masih diam mematung saat ditanya seperti itu. “Enggak, Bu. Aletha mau sekolah, kok. Ini mau berangkat,” jawabnya pelan. “Ya, terus? Ngapain masih di sini? Pergi sana!” Mila mengusir Aletha dengan sedikit kejam. Namun, gadis itu tetap berdiri di sana sampai dia mengutarakan isi pikirannya. “Hmm, Bu, bisa minta gaji Aletha untuk hari ini? Aletha mau berangkat ke sekolah tapi gak ada uang untuk ongkos.” Gadis yang suka berfoya-foya kini benar-benar hidup kesusahan. Dirinya kini bahkan tidak punya uang untuk ongkos pergi ke sekolah. “Gak, enak aja. Kamu aja udah mecahin piring saya yang mahal. Harusnya kamu yang bayar ke saya.” Mila langsung menolak permintaan Aletha. Memang salah dirinya tidak sengaja tentang kejadian tadi, tapi dirinya sekarang benar-benar membutuhkannya. “Tapi, Bu–” “Sudah sana pergi. Jangan menghalangi saya.” Mila langsung menyingkirkan Aletha yang menghalangi jalannya. Kini wanita itu pergi meninggalkan Aletha tanpa memberi uang sepeser pun untuk gadis itu. “Gimana ini, masa gue harus jalan kaki?” Aletha masih memikirkan bagaimana caranya agar dirinya kini bisa pergi ke sekolah. Jarak dari rumahnya ke sekolah terbilang cukup jauh. Dia harus menggunakan kendaraan agar bisa cepat sampai. Entah itu bus, taksi, atau bahkan ojek, tapi masalahnya Aletha kehabisan uang untuk membayar ongkosnya. “Sini bareng gue aja,” tawar Rakka memberikan tumpangan. Pria itu adalah anak dari Mila. Dia tadi yang terus menerus membela gadis itu di depan ibunya. Kini dirinya dengan sukarela memberikan tumpangan untuk Aletha agar cepat sampai di sekolah menggunakan motor merahnya. “Rakka? Gak usah, Rak, makasih. Lo pergi duluan aja,” tolaknya halus. “Udah, gak papa. Lagian kita satu sekolah. Masa gue mau biarin lo gitu aja?” “Tapi–“ “Gak ada tapi-tapian. Mulai sekarang lo berangkat sekolah bareng gue. Lumayan kan, bisa ngurangin pengeluaran lo?” Rakka langsung bertindak tegas dengan mengatakannya. Dia tidak akan membiarkan orang yang disukainya hidup kesusahan seperti itu. Sebisa mungkin dirinya akan membantu Aletha. Suka? Ya. Rakka sudah menyukai Aletha sedari kecil. Mereka adalah teman bahkan bisa dibilang sahabat. Namun, saat mereka mulai beranjak ke SMA, perilaku Aletha mulai berubah. Sifatnya yang humble kini jadi sombong. Orangnya ceria dan suka berteman dengan siapa aja, kini malah milih-milih teman. Sampai akhirnya semua itu melawan balik dirinya membuat gadis itu seperti ini sekarang. Walaupun gadis itu berubah, tetapi Rakka masih diam-diam melindungi Aletha bahkan sering melihat gadis itu pulang bersama pacarnya di depan rumahnya. Rakka tidak pernah mengungkap kebohongan Aletha, dia bahkan membiarkan gadis itu mengakui jika rumahnya sebagai rumah gadis itu di depan teman-temannya. -oOo- Setelah Rakka dan Aletha sampai di sekolah dan selesai memarkirkan motornya, kini kedua orang itu langsung pergi ke kelas masing-masing. Aletha berjalan ke kelas 12 IPA 4, sedangkan Rakka berjalan dan masuk ke kelas 12 IPA 2. Sekarang keduanya sudah masuk ke kelas masing-masing. Saat Aletha sudah berada di kelasnya, dia mendapati mejanya sudah kotor dan acak-acakan, ada banyak coretan dimana-mana. Jika bukan karena dia masih ingin bersekolah, gadis itu pasti sudah membalas perbuatan orang yang melakukannya yang tak lain dan tak bukan adalah Shiella. Pagi-pagi sekali Shiella dan Nessie masuk ke kelas Aletha dan mencorat-coret meja gadis itu. Mereka bahkan mematahkan salah satu kaki kursi yang membuat Aletha terjatuh saat hendak duduk. “Hahaha! Rasain tuh orang miskin. Sekolah ini gak nerima orang-orang kayak lo.” Semua orang di dalam kelas itu menertawakannya. Dia dianggap seperti sebuah lelucon. Bahkan sekarag guru yang mengajar pun tidak membelanya karena memang dulu Aletha sering membuat masalah dengan guru tersebut. “Aletha, kamu bagaimana, sih? Rusakin barang sekolah sembarangan. Memangnya kamu bisa menggantinya?” ucap guru wanita itu sedikit menghina Aletha dengan kata-katanya. “Maaf, Bu. Saya tidak sengaja.” Aletha menundukkan kepalanya. Dia tidak mau mendapat lebih banyak masalah dengan menjawab perkataan guru itu. “Sudah sana pergi, hormati bendera sampai jam pelajaran ibu selesai.” “Tapi, Bu–“ “Tidak ada tapi-tapian. Cepat pergi sana!” Guru itu langsung memberikan hukuman pada Aletha. Biasanya gadis itu selalu senang mendapat hukumana karena bisa keluar kelas lebih dulu dan langsung pergi ke kantin. Namun, kali ini dia benar-benar menjalankan hukumannya dan langsung pergi ke lapangan untuk menghormati bendera. Kini dirinya menjadi pusat perhatian. Siswa-siswa yang lewat dan melihat dirinya langsung berbisik sana-sini dan menyebarkan gossip. Aletha tidak memperdulikannya sekarang. Dia hanya fokus untuk menopang tubuhnya karena sebentar lagi dirinya akan tumbang karena kelelahan dan juga dehidrasi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN