Gubrakk!
Terdegar suara yang sedikit keras dari arah lapangan. Suara yang mengagetkan semua orang kini membuat mereka mendekati sumber suara untuk mengetahui apa yang telah terjadi.
Terlihat ada seorang gadis yang sudah jatuh tersungkur di atas lapangan itu. Kini seseorang langsung mendekati gadis itu dan berusaha membangunkannya.
“Aletha, bangun Aletha. Aletha bangun.”
Rakka sejak tadi berusaha untuk membangun gadis itu. Namun nihil, gadis dengan nametag Aletha itu tidak kunjung bangun yang membuatnya terpaksa harus menggendongnya dan membawanya ke UKS.
Rakka langsung menaruh Aletha di atas tempat tidur pasien. Seorang guru yang memang ditempatkan di UKS langsung memeriksa gadis itu.
Setelah semuanya dicek, kini guru itu memberitahu keadaan Aletha pada orang yang telah membawanya ke sana.
“Tenang aja. Dia gak kenapa-napa, cuma terlalu lama di bawah sinar matahari. Nanti kalau sudah bangun suruh makan vitamin yang sudah ibu siapkan ini.”
Guru tersebut memberikan sebuah vitamin pada Rakka. Sekarang setelah guru itu pergi meninggalkan Aletha untuk istirahat, gadis itu akhirnya bangun tidak lama dari itu.
Rakka yang masih setia menunggu langsung membangunkan Aletha dari posisinya dan langsung memberikan segelas air putih dan menyuruh Aletha untuk meminumnya.
Tak lupa dengan vitamin yang sudah diberikan oleh guru tadi, Rakka langsung memberikannya pada Aletha dan gadis itu segera memakannya.
-oOo-
Beberapa menit telah berlalu. Suasana canggung di ruangan itu sangat terasa. Aletha dan Rakka saling diam sampai akhirnya pria itu membuka pembicaraan lebih dulu.
“Udah baikan?”
“Hmm, udah,” jawan Aletha mengangguk.
“Kenapa bisa dihukum?”
“Hmm, udah waktunya masuk kelas. Gue duluan, ya.”
Alteha mengakhiri suasana canggung itu dengan pergi lebih dulu dari sana. Dia meninggalkan Rakka seorang diri yang menghembuskan nafas beratnya.
“Haaah. Apa harus, ya, ngehindar kayak gitu?”
Pria itu langsung pergi dari sana. Dia juga langsung kembali ke kelasnya karena sudah waktunya untuk masuk.
-oOo-
Saat Rakka hendak pergi ke kelasnya, dia tidak sengaja melewati kelas Aletha dan berhasil curi-curi pandang untuk melihat keadaan wanita itu.
Baru saja dirinya berhasil mencari keberadaan gadis itu, Rakka sudah mendapati Aletha ang sedang dirundung oleh banyak siswa termasuk Shiella dan Nessie. Gadis itu dikatai sana-sini yang membuat Rakka geram sendiri.
“Shiella, cukup! Lo jangan keterlaluan!” tegas Rakka yang langsung menyingkirkan para siswa itu.
“Cih, mau jadi pahlawan kesiangan lo?” sinis Nessie yang berada di samping Shiella.
“Tau, nih. Yuk kita cabut. Males, cowoknya dateng.”
Shiella dan Nessie langsung keluar dari kelas itu. Mereka segera menuju ke kelas mereka sendiri, kelas 12 IPA 1.
Walau Rakka terkenal hangat dan senang bergaul, setidaknya para siswa sedikit segan terhadapnya.
Dia dikenal sebagai mantan ketua OSIS yang tegas dan juga dengan status sang kakek yang menjadi kepala sekolah di sana yang membuat para siswa berpikir dua kali untuk menyinggung Rakka.
-oOo-
Sekarang setelah Shiella dan Nessie keluar, Rakka langsung menarik tangan Aletha dan membawa gadis itu keluar. Dia membawanya ke taman yang ada di depan kelas itu.
“Lo gak papa, Leth?” tanya Rakka lembut sembari memeriksa keadaan Aletha yang takut dijahati sampai terluka.
“Gak papa, kok. Tenang aja,” jawabnya menenangkan.
“Tenang? Leth, gue gak pernah tenang selama ini. Gue takut lo diapa-apain sama mereka, apalagi sama Shiella. gue takut lo terluka, Leth. Gue takut–”
“Apa? Lo takut gue apa?”
Belum saja Rakka menyelesaikan perkataannya, sekarang kalimatnya sudah dipotong oleh gadis di hadapannya itu. Semakin Aletha mendengarnya semakin dia kesal.
Dia merasa jika Rakka menganggapnya sebagai wanita lemah yang tidak bisa menjaga diri sendiri. Dia merasa jika Rakka menganggap dirinya tidak bisa membela diri sendiri.
“Gue takut lo kenapa-napa, Leth. Lo butuh seseorang yang bisa jagain lo.”
“Siapa? Lo? Lo pikir lo siapa sampai bisa bilang kayak gitu, hah? Lo pikir gue gak bisa jaga diri gue sendiri? Oke, kalo lo emang berpikir kayak gitu, gue mau nanya, gue sekarang harus gimana? Jadi pacara lo gitu?”
“Iya, lo harus jadi pacar gue. Gue bisa jagain lo, Leth. Lo mau, kan, jadi pacar gue?”
Tanpa berpikir panjang Rakka langsung mengatakan semuanya. Dia bahkan tidak sadar dengan ucapannya itu. Selama ini dia tidak punya keberanian untuk mengatakan kata-kata itu. Namun, kali ini entah mengapa mulutnya bisa mengatakan hal itu dengan sangat lancar.
“Hah? Jadi maksud lo, gue harus ngandelin orang lain buat ngejaga diri gue sendiri? Sorry, Rak. Gue bisa jaga diri gue sendiri.”
Setelah mengatakan semua perkataannya dengan nada tegas dan penuh penekanan, Aletha langsung pergi meninggalkan Rakka yang mematung. Dia sedikit kecewa dengan kata-kata yang ia dengar dari mulut pria itu.
Maksud hati ini melindungi, tapi sepertinya Rakka malah tidak sengaja menggoreskan sebuah luka di hati gadis itu. Sekarang dirinya menunduk menyesal. Jika bukan karena bel tanda masuk berbunyi, sepertinya dia akan tetap berdiri mematung di sana.
-oOo-
“Lo mau pulang sekarang? Bareng sama gue, ya?”
Rakka yang melihat Aletha sedang menunggu bus di depan gerbang sekolah pun langsung mendekati dan menawarkan tumpangan kembali.
Dia yakin jika gadis itu tidak memiliki uang untuk berangkat sekolah, maka dia pun pasti tidak memiliki uang untuk kembali pulang.
“Leth, please, maafin gue, ya? Gue bener-bener gak sadar gue ngomong kayak gitu. Gue tau lo pasti bisa ngendelin diri sendiri. Tapi seenggaknya gue gak mau liat lo menderita. Lo mau, ya, pulang bareng gue?”
Rakka terus membujuk Aletha sampai gadis itu mau memaafkannya. Namun, bukannya dimaafkan, sekarang Aletha malah berjalan menjauh dari sana menjauhi dirinya.
Sekarang saat dia hendak menggenggam tangan Aletha dan menariknya, seseorang sudah lebih dulu menariknya.
“Aletha pulang bareng aku,” ucap seorang gadis manis yang datang dari belakang Aletha.
Gadis yang seumuran dengan Aletha itu sekarang menarik Aletha ke arahnya. Bando pink yang dipakainya itu mencerminkan sifat kefemininannya.
Gadis itu kini melebarkan senyuman manisnya ditambah dengan dimple di kedua pipinya. Dia melebarkannya kala menatap Aletha yang mulai terheran dengan kedatangannya.
“Anna?” ucap Aletha terkejut.
Gadis bernama Anna itu kini menarik Aletha dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di depan sana.
Setelah berhasil membuat Aletha duduk, kini Anna melambaikan tangannya pada Rakka dan setelahnya dia menyuruh supir untuk segera berangkat. Mereka ingin cepat-cepat pergi dari sana khususnya Aletha.
“Kenapa? Ada yang salah sama penampilan aku?” tanya gadis itu kala mendapati Aletha yang masih menatapnya dengan tatapa heran.
Sejak tadi Aletha menatapa gadis itu dengan tatapa yang keheranan.