Diculik

1115 Kata
“Lo nyelametin gue?” tanya Aletha yang masih keheranan. “Hmm,” angguknya mengiakan. “Kenapa? Salah?” tanya balik Anna memiringkan kepalanya. “Tunggu, kenapa lo mau nyelametin gue. Gue kan selalu nyakitin lo?” Aletha teringat dengan kelakuaannya dulu. Dia selalu membully Anna, bahkan gadis itu adalah santapan empuknya. Namun, kali ini saat dirinya melihat gadis itu menyelamatkannya dia merasa bingung sendiri. “Hmm, gak tau, mau aja. Mungkin karena aku ngerasa kamu anak yang baik?” “What?” pekik gadis itu tak percaya. Setelah selama ini dia diperlakukan tidak baik oleh Aletha, kenapa Anna masih bilang Aletha adalah anak yang baik? “Kenapa? Kamu lupa, ya? Dulu ada seorang nenek yang sembarangan nyebrang dan hampir mau ketabrak. Terus entah dari mana kamu datang nyelametin nenek itu. Saat nenek cerita, aku jadi tau kalau seenggaknya dalam hati kamu masih ada sifat yang baik.” Anna menceritakan kejadian yang sudah berbulan-bulan lalu itu. Aletha bahkan sampai lupa, tetapi gadis itu malah mengingatnya, “Jadi nenek itu, nenek lo?” tanyanya tak percaya. “Hmm, karena itulah sekarang aku nyelametin kamu karena aku pikir kamu orang yang baik.” “Ck, kayaknya lo salah paham deh, gue–” “Mau gak temenan sama aku?” Belum sempat Aletha menyelesaikan kata-katanya, sekarang gadis di sebelahnya itu memotong perkataannya. Dia bahkan mengeluarkan kata-kata yang berhasil membuat Aletha kembali terkejut. “What?” pekiknya lagi. “Kenapa what what terus, sih? Mau gak?” tanyanya mulai kesal. “Tapi gue–“ “Udah, gak usah banyak tapi-tapian. Mulai sekarang kita bersahabat, oke?” Anna langsung merangkul tangan Aletha. Dia memeluknya dan bahkan bersandar. Gadis dengan seragam sekolah yang sama dengan Aletha itu merasa nyaman dibuatnya. “Hmm, gue mau.” Aletha mengangguk setuju. Sekarang gadis itu menerimanya dan dia berpikir untuk menebus kesalahan-kesalahannya dulu pada Anna. Dia ingin memperlakukan Anna lebih baik karena dia pun diperlakukan seperti itu bahkan setelah perbuatannya yang terbilang kasar. “Makasih, Aletha.” Sekarang gadis manis itu langsung memeluk Aletha dari samping. Dia benar-benar nyaman apalagi saat Aletha mengelus-elus punggungnya dengan tulus. Gadis itu merasa sudah lama sejak terkahir kali dirinya dipeluk oleh seseorang, khususnya bapak dan ibunya yang sudah tiada. -oOo- “Makasih ya udah ngaterin,” ucap Aletha setelah Anna mengantarnya pulang. “Hmm, sampai jumpa besok, ya.” Gadis itu segera menutup pintu mobilnya. Dia segera meminta supir untuk menjalankan mobilnya dan setelah benar-benar pergi dari hadapan Aletha, gadis itu langsung pergi ke rumahnya dan bersiap untuk kembali ke rumah Rakka untuk mengerjakan sisa pekeraannya. -oOo- “Bagus kamu sudah datang. Masak sana, saya sudah lapar!” perintah Mila yang sedang duduk di sofa keluarga dengan majalah di kedua tangannya. Akila yang baru saja datang langsung pergi ke dapur dan mengecek kulkas. Dia segera mengambil bahan-bahan yang dibutuhkan dan langsung mulai memasak. Sudah sejak tadi dia memasak dan dia sudah sadar sepenuhnya jika ada seseorang yang sudah memperhatikannya dari tadi. Namun, karena tidak mau memperdulikannya akhirnya Aletha hanya fokus pada kegiatannya. Dia segera menyajikan makanan yang sudah siap di atas meja makan. “Hmm, bagus. Seenggaknya masakan kamu sudah meningkat walaupun rasanya masih biasa aja.” Sudah satu minggu Aletha bekerja di sana dan sudah satu minggu juga dirinya memasak. Dia mendapat banyak sekali pelajaran dan pengalaman baru selama satu minggu itu. Dia sekarang bisa mengurus semua pekerjaan rumah sendirian tanpa harus mengandalkan bapaknya lagi. “Terima kasih, Bu. Aletha ke dapur sekarang.” Setelah selesai dengan pekerjaannya untuk menghidangkan makanan, sekarang gadis itu berbalik kendak pergi ke dapur. Namun, tiba-tiba Rakka memanggilnya dan menghentikan langkahnya. “Aletha, tunggu. Lo juga pasti belum makan, kan? Makan di sini aja bareng kita.” Rakka dengan niat baiknya langsung mengajak gadis itu untuk bergabung dengan dirinya. Namun, saat dia melihat ke arah Mila dan dia langsung mendapat sebuah pelototan dari wanita itu, akhirnya Aletha langsung menolak dan pergi ke dapur. Saat Rakka hendak mengejar, ibunya langsung menghentikannya dengan berdehem. “Ekhem.” “Hmm–” “Makan, cepat. Jangan perduliin pembantu itu,” jelas wanita itu tegas. Mendengarnya Rakka langsung menundukkan kepalanya. Dia kembali melanjutkan kegiatannya yaitu menghabiskan makanan di piringnya. -oOo- Makan malam telah berlalu. Sekarang setelah Rakka memastikan ibunya naik ke lantai atas, dia langsung membantu Aletha untuk membersihkan sisa makan malamnya tadi. “Sini, biar gue bantu,” ucap lelaki itu mengambil piring yang sudah Aletha tumpuk. “Gak usah, gue bisa sendiri.” Aletha langsung menolak dengan mengambil piring-piring itu. Sekarang dia membawanya ke dapur untuk dibersihkan. “Gak usah sungkan. Sini gue bantu.” Lagi-lagi pria itu membantu Aletha. Sekarang karena terlalu risih, Aletha sedikit marah. “Kalo lo emang mau bantu gue, lebih baik lo diem dan jauhin gue. Kalo ibu lo sampai liat, yang ada gue malah tambah dimarahin dan kerjaan gue bakal tambah banyak.” “Oke, gue minta maaf. Seenggaknya lo harus makan, kan? Nih, gue udah pisahin buat jatah lo makan malam. Kalo lo mau kerjaan lo cepat beres, lo harus punya tenaga. Jadi, lo harus makan ini.” Entah dari mana, tapi sekarang pria itu memberikan sepring nasi dengan lauk yang tadi disajikan di meja makan. Dia langsung meninggalkan Aletha dan pergi ke kamarnya. Benar apa gadis itu, jika dirinya terus-menerus membantu Aletha, yang ada gadis itu malah dipersulit. “Inget, lo harus makan, ya. Setelah itu lo baru bisa pulang.” Setelah memastikan pria itu benar-benar pergi, Aletha langsung memakan makanan yang diberikan padanya. bagaimanapun ucapan pria itu benar, dia harus makan untuk menambah energi, dengan begitu dia baru bisa menyelesaikan pekerjaannya. -oOo- “Aletha, siram tanaman, sana! Saya mau keluar dulu. Yang bener ya kerjanya.” Mila dengan pakaiannya yang sudah rapi dan menenteng sebuah tas di tangannya langsung masuk ke dalam mobil untuk pergi ke suatu tempat. Sekarang di rumah itu hanya ada dirinya dan Rakka yang sedang mengerjakan tugas sekolah di dalam rumah. Sudah sore dan sudah waktunya gadis itu menyiram tanaman. Namun, baru saja menyiram sebagian tanaman yang ada di sana, tiba-tiba dua orang lelaki berbaju hitam bersama seorang wanita yang entah datang dari mana langsung menarik Aletha dan memasukkannya ke dalam mobil hitamnya. Wanita gemuk dengan ekspresi marah itu langsung menutup pintu mobilnya dan segera menguncinya. Dia tidak akan pernah membiarkan Aletha pergi. “Akhh! Lepasin gue. Tolong tolong! Hmpp hmpp–” Aletha berteriak sekeras-kerasnya. Saking kerasnya Rakka yang ada di dalam rumah pun keluar untuk melihat situasi. Namun, tak lama dari itu mulutnya langsung disumpal dan matanya langsung ditutup dengan kain. Gadis itu kini tidak bisa lagi berteriak. Namun, saat dirinya tiba, dia sudah tidak mendapati Aletha di sana. Gadis itu pergi meninggalkan selang yang ia gunakan untuk menyiram tanaman dengan keadaan masih hidup karena tidak sempat mematikannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN