Rakka yang sadar ada yang tidak beres dengan gadis itu pun langsung keluar untuk mengecek keadaan. Namun nahas, dia tidak mendapati Aletha di sana.
Dia hanya mendapati selang yang Aletha gunakan untuk menyiram tanaman dengan keadaan masih hidup karena tidak sempat dimatikan.
“Aletha! Aletha!” teriak pria itu keras.
Rakka terus berteriak untuk mencari keberadaan Aletha. Dia sadar jika usahanya itu sia-sia, sekarang pria itu langsung masuk kembali ke rumahnya.
Dia segera berlari ke ruangan CCTV yang dimana ada banyak sekali monitor yang memperlihatkan rekaman yang direkam oleh CCTV.
Rakka terus mengotak-atiknya sampai dia menemukan rekaman tentang kejadian yang menimpa Aletha. Pria itu terkejut karena dia melihat Aletha dibawa paksa dengan ditutup matanya dan disumpal mulutnya.
Dia segera mengetahui siapa orang yang telah menculik gadis itu. Ingin sekali dirinya menelpon polisi untuk meminta bantuan, tetapi dia sadar jika dirinya melakukan itu maka yang ada Aletha akan mendapat masalah yang lebih besar lagi.
“Maafin gue, Leth. Bukannya gue gak mau nolongin lo, gue cuma gak mau lo dapet masalah lain. Gue harap lo baik-baik aja.”
Rakka langsung keluar dari ruangan itu. Dia kembali ke kamarnya dan hanya bisa berharap agar wanita itu tidak menyakiti Aletha.
-oOo-
“Hmpp hmpp,” Aletha terus berontak sana-sini. Gadis itu tidak bisa diam sampai membuat wanita yang ada di sampingnya itu akhirnya membuka kain yang menutup matanya dan juga membuka sumpalan di mulutnya itu.
“Diam. Jangan buat saya lebih marah,” ucap wanita itu memperlihatkan bola matanya yang besar.
“Bu Mira?” ucap Aletha terkejut kala dia mengetahui siapa orang yang sudah menculiknya itu.
“Kenapa? Kamu kaget? Kamu kira kamu bisa lolos dari saya? Sini, balikin uang saya. Utang kamu sudah banyak. Jangan bilang kamu gak bisa bayar, ya.”
Wanita bernama Mira dengan profesi sebagai lintah darat itu langsung menagih hutang yang dimiliki Aletha terhadapnya.
Sudah lama sekali dirinya terus menagih, tetapi Aletha selalu punya banyak alasan. Namun, kali ini gadis itu tidak bisa lagi kabur karena dia sudah berada di tangan wanita itu.
“Maaf Bu, maaf. Bukannya Aletha gak mau bayar, tapi Aletha beneran gak punya uang untuk bayar utangnya. Tolong kasih Aletha waktu, ya. Aletha janji bakal bayar, kok.”
Gadis itu berusaha untuk meminta waktu kembali. Jika dirinya dulu meminta agar diberi waktu karena memang dia tidak mau membayar hutang itu, tapi sekarang dia meminta waktu lebih karena memang benar-benar tidak punya uang untuk membayarnya.
Dia merasa sudah capek jika terus-menerus kabur, jadi sekarang dia memutuskan untuk membayar hutangnya. Namun, karena memang dirinya sekarang tidak punya uang, jadi dia terpaksa menunda.
“Halahh, bapak kamu kan baru meninggal. Pasti kamu dapat warisan banyak, kan? Mana anak tunggal lagi. Udah buruan sini uangnya, jangan sampai saya laporin kamu ke kantor polisi, ya.”
Mira langsung mengancam Aletha dengan berbagai cara. Dia menggunakan cara apapun agar orang-orang yang mempunyai hutang terhadapnya bisa membayar hutangnya.
“Tapi bapak cuma ninggalin rumah aja, Bu.”
“Ya udah kalau gitu kasih aja rumah kamu sama saya. Beres, kan?”
“Tapi utang Aletha kan gak sebanyak itu, Bu. Masa sampai harus kasih rumah buat bayar utang? Utang Aletha kan cuma 2 juta.”
“Heh heh heh, enak aja kamu, ya. Utang cuma 2 juta. Utang kamu tuh 20 juta tau.”
“Hah, kok bisa 20 juta sih, Bu. Aletha kan jelas-jelas cuma pinjem 2 juta.”
Aletha tidak terima saat mendengar jumlah nominal uang yang disebutkan wanita itu. Dia jelas-jelas meminjam uang hanya 2 juta dan itu juga untuk dirinya berfoya-foya, tapi kenapa sekarang jadi 20 juta. Bukankah itu terlalu jauh nominalnya?
“Utang kamu emang 2 juta, tapi kan kamu udah nunggak beberapa bulan dan gak mau bayar. Jadi utang kamu semuanya jadi 20 juta termasuk bunga dan denda. Udah buruan sini bayar!”
“T-tapi, Bu.”
“Kalau kamu gak mau bayar, kamu harus mau kerja untuk saya.”
“Hah, kerja apaan, Bu? Aletha gak mau. Aletha punya pekerjaan sendiri.”
Gadis itu langsung menolak. Dia berusaha untuk keluar dari dalam mobil itu. Namun nahas, usahanya sia-sia karena pintu mobilnya sudah dikunci dan Aletha tidak bisa keluar mau bagaimanapun caranya.
“Sini kamu, jangan lelet. Masih muda kok lelet banget. Nih, pakai bajunya.”
Mira membawa Aletha ke suatu tempat. Sebuah tempat yang ramai, sangat ramai.
Banyak orang mabuk keluar masuk dengan bebas di tempat itu. Aletha sangat mengenalnya karena memang itu adalah salah satu tempat yang sering dia kunjungi dulu.
Prukk!
“Pakai bajunya cepat!”
Mira langsung melemparkan sebuah baju yang cukup seksi bahkan bisa dibilang sangat seksi untuk ukuran remaja seperti Aletha.
Wanita itu memaksa Aletha memakai bajunya dan setelahnya dia akan memaksa Aletha untuk bekerja di tempat itu yang tak lain dan tak bukan adalah sebuah bar dengan banyak ruangan dengan kelas VIP.
“Gak, Aletha gak mau. Aletha gak mau kerja di sini.”
Gadis itu melempar kembali baju yang diberikan kepadanya. Dia langsung berusaha kabur setelahnya dengan berlari sekencang-kencangnya.
Namun nahas, langkahnya yang kecil bisa dengan mudah didahului oleh para pria berbaju hitam di samping Mira. Sekarang gadis itu dibawa kembali ke hadapan Mira.
“Mau kabur kamu? Sudah saya bilang kamu tidak bisa kabur dari saya dan kamu harus melunasi semua hutang kamu. Karena kamu tidak bisa membayarnya jadi kamu harus bekerja di sini, atau kalau tetep gak mau sertifikat rumah kamu saya sita.”
Mira kembali mengancam Aletha dengan rumahnya. Dia tidak bisa membiarkan wanita jahat itu untuk mengambil rumahnya karena itu adalah satu-satunya peninggalan dari sang ayah.
“Tapi Aletha masih sekolah, Bu. Nanti kalau ada yang liat terus laporin ke pihah sekolah gimana? Aletha bisa-bisa dikeluarin.”
“Ya bodo, lah. Salah kamu pinjem uang sama saya. Udah sana kerja yang bener. Sebelum utangnya lunas kamu harus terus kerja di sini.”
Mira langsung meninggalkan Aletha di sana sendirian. Wajahnya yang kusut sudah tampak sejak dirinya kembali dilempari baju seksi yang harus dikenakannya selagi melayani para tamu yang datang.
Ingin sekali gadis itu kabur dari sana. Namun, di setiap dirinya melihat ke segela arah, di sana sudah terdapat orang-orang kepercayaan Mira yang sedang mengawasinya. Wanita itu tau jika Aletha akan berusaha kabur setelah dirinya pergi jadi dia melakukannya.
“Akhhh, sial banget sih gue.”
Aletha berteriak keras. Untunglah dirinya kini sedang berada di bagian belakang dari tempat itu, jadi tidak banyak orang di sana yang melihat tingkah anehnya.