Pelayan Baru

1094 Kata
“Wahh, ada pelayan baru rupanya di bar ini. Sini cantik, main sama om.” Seorang pria tua yang melihat Aletha membawa beberapa minuman di atas nampan yang dibawanya pun langsung menggodanya. Dia menarik Aletha ke arahnya dan ingin gadis itu duduk di pangkuannya. Pria tua itu memperlihatkan tatapan singa kelaparan yang seperti ingin melahap Aletha hidup-hidup. “Maaf Tuan, tolong Anda lebih sopan.” Aletha menolak sesopan mungkin. Dia berjalan mundur untuk menghindari kontak fisik lainnya. Sebisa mungkin gadis itu menolak dengan sopan karena dia tidak mau menyinggung pria itu dan membuatnya dalam masalah. Jika berurusan dengan pria-pria kaya seperti itu akan sangat susah urusannya karena mereka akan menyusahkan hidup kita dengan mudah karena kekuasaan mereka. “Ehh, gadis polos, toh. Sini sini lebih deket, om suka loh sama gadis kayak kamu.” Setelah pria itu mendapat penolakan dari Aletha, pria itu malah menjadi-jadi. Sekarang Aletha sekali lagi ditarik ke arahnya hendak didudukkan di pangkuannya. “Tolong tuan, lepaskan saya.” Perasaan gadis itu benar-benar risih sekarang. Tangan yang sudah melingkar di pinggangnya membuat dirinya ingin menampar pria itu menggunakan nampan yang dia bawa. Alhasil, karena Aletha sudah benar-benar marah, gadis itu benar-benar menampar wajah pria menjijikkan itu menggunakan nampan yang ia bawa. Dia tidak peduli lagi dengan masalah apa yang akan datang menghadapi dirinya nanti, yang jelas sekarang dia ingin lepas dari genggaman pria itu karena ini semua sangat menjijikkan. Plakk! Satu kali Aletha menampar pria itu. Plakk! Sekarang gadis itu menampar untuk yang kedua kalinya. Pria berkemeja putih dengan kancing yang hampir semuanya terbuka itu pun langsung bangkit dari duduknya. Dengan keadaan marah dia mencoba menangkap Aletha dan berusaha untuk melecehkannya. “Tutup pintunya, jangan biarkan dia lolos!” teriak pria itu pada dua wanita yang sedari tadi menemaninya. Pria itu melihat Aletha ingin kabur, tetapi dengan cepatnya salah satu dari wanita seksi itu langsung menutup pintunya dan menguncinya, wanita yang satu laginya memegangi gadis itu agar tidak bisa kabur. Sekarang, perlahan tapi pasti, pria itu mulai mendekari Aletha dengan sempoyongan karena pengaruh alkohol yang sedang ia konsumsi. “Tuan, bukankah itu gadis yang ribut dengan Nona Shiella di sekolah waktu itu?” tanya Rion yang tidak sengaja melihat Aletha di dalam ruangan yang dia lewati bersama tuannya itu. “Benarkah?” tanya Edgar sedikit tidak peduli. Pria itu hanya menatap lurus ke depan dan sama sekali tidak menengok ke arah ruangan itu. Menurutnya, apapun itu entah benda atau bahkan orang, jika tidak ada hubungannya dengan dirinya ataupun keluarganya, maka dia tidak akan peduli mau semenarik apapun itu karena itu hanya membuang waktunya saja. “Iya. Tapi sepertinya gadis itu bekerja di sini, dilihat dari pakaian seksinya. Tapi sepertinya dia sedang mencoba untuk kabur dari pria tua itu yang ingin—” “Rion, kamu terlalu ikut campur dengan urusan orang lain. Kamu terlalu banyak bicara hari ini.” “Maaf, Tuan. Saya salah.” Rion kini menutup mulutnya, dia tidak lagi membahas gadis itu. Namun, entah kenapa sekarang tuannya berhenti tiba-tiba membuat dirinya yang sedang tidak fokus menabrak pria di depannya itu. Brakk. “Kenapa kamu sangat ceroboh hari ini?” tanya Edgar dengan tampang kesal. “Ahh, maaf, Tuan. Saya tidak fokus berjalan.” “Cari tahu tentang gadis itu. Aku ingin datanya malam ini juga!” perintah Edgar pada bawahannya itu. “Baik, Tuan. Tapi—” “Karena kamu sangat ingin menolong gadis itu, maka tolonglah dia sebelum semua bajunya dirobek habis oleh pria tua itu.” “B-baik, Tuan.” Mendengar perkataan Edgar, kini Rion dengan sigapnya langsung berlari kembali ke ruangan yang sudah ia lewati itu. Dia membuka pintu ruangan itu dengan sangat keras membuat semua orang yang ada di dalam sana terkejut. Brakk! “Hei, lepaskan gadis itu!” perintah Rion tegas. “Cih, siapa kamu berani memerintah saya?” “Saya asistennya Tuan Edgar, dengan perintahnya saya perintahkan Anda untuk melepaskan gadis itu.” “T-tuan Edgar? Baik, saya lepaskan gadis ini.” Pria itu langsung melepaskan Aletha yang sudah dalam genggamannya. Kondisi gadis itu sangat memprihatinkan dengan baju yang sudah robek di beberapa bagian dan rambut yang sudah acak-acakan. Ada sedikit luka lebam di beberapa bagian tubuh gadis itu sebagai akibat dari perlawanan yang dia lakukan. “Pakai jas ini terlebih dahulu.” Sebelum Rion pergi menyelamatkan Aletha, Edgar sudah terlebih dahulu membuka jasnya dan memberikannya pada asistennya itu agar dia bisa menutupi tubuh Aletha. Sekarang setelah pria tua itu kabur, Rion langsung membawa Aletha keluar bertemu Edgar. Tampangnya yang acak-acakan dan wajahnya yang sudah kusut serta air mata yang merusak make up-nya, Edgar sedikit merasa jijik pada gadis itu dan langsung memerintahkan Rion agar memesankan sebuah taksi. “Pesankan sebuah taksi!” perintah pria itu yang sudah duduk di jok belakang mobilnya. “Hmm, pesan taksi, Tuan? Apa itu aman?” Rion memberikan isyarat dengan menatap seluruh tubuh Aletha dari atas sampai bawah. Dia mencoba mengatakan jika apa yang barusan Edgar katakan sepertinya sedikit berbahaya mengingat ini sudah terlalu malam dan keadaan gadis itu pun sudah tak karuan. “Kau benar-benar menyebalkan. Masukkan sana, aku akan duduk di depan.” Pria dengan hanya jas putih yang menjadi atasannya langsung keluar dari dalam mobilnya. Dia berjalan menuju pintu depan dan langsung duduk. Dia tidak ingin duduk berdampingan dengan gadis itu. “Masuklah, kami akan mengantarmu.” Rion yang bersikap lembut berbanding terbalik dengan Edgar. Pria itu merasa salah dengan keputusannya itu untuk menyelamatkan Aletha. -oOo- Puluhan menit telah berlalu dan sekarang Rion sudah sampai di pinggir jalan dekat rumah Aletha. Pria itu membukakan kembali pintu mobilnya dan mempersilakan Aletha keluar. Gadis yang masih menangis tersedu-sedu itu pun langsung mengucapkan terima kasih dan berbalik. “Terima kasih,” ucapnya menunduk karena tidak punya keberanian untuk menunjukkan penampilannya yang sudah kusut. “Iya.” Tanpa berpikir panjang Aletha langsung berbalik. Dia berniat untuk langsung pergi ke rumahnya dan segera membersihkan diri. Namun, dia teringat akan satu hal sekarang. Jas yang ia kenakan lupa ia berikan kembali. Saat dirinya mencoba untuk melepas jas itu, dia langsung mendengar hal tidak mengenakan keluar dari mulut pedas Edgar. “Jasnya gak usah dikembalikan. Aku gak sudi memakai jas yang sudah dikotori oleh tubuhmu itu. Buang saja, aku tidak membutuhkannya.” Dengan sangat arogan Edgar keluar dari mobilnya. Dia berjalan kembali ke pintu belakang untuk berpindah tempat. Namun, posisinya yang selalu duduk di kiri, sekarang langsung berubah menjadi di kanan. Dia tidak ingin duduk di tempat bekas Aletha. “Rion, masuk cepat. Aku buru-buru.” Dengan tidak menghargai perasaan Aletha, pria itu langsung meninggalkan Aletha sendirian dengan mood yang sudah benar-benar hancur. Apalagi ditambah dengan sikap dingin pria itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN