Arsa berjalan gontai di koridor rumah sakit. kenyataan yang baru saja dia dengar mulut Arman, sangat membuat hatinya hancur. disaat dia benar-benar jatuh cinta dan ingin membahagiakan perempuan yang berharga dalam hidupnya, kenapa Tuhan malah mengujinya seperti ini? dada Arsa terasa sesak, sempit seakan tak ada udara lagi yang dia hirup. Sungguh, demi Tuhan dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Maira pergi selamanya. Ya, Arsa tahu bahwa dokter memang bukan penentu hidup dan mati seseorang. Tapi tetap saja, seorang dokter lebih tahu bagaimana bahaya dan ancaman penyakit itu pada tubuh seorang pasiennya. Kenapa Harus Maira yang menderita penyakit itu? bukankah selama ini Maira sudah menderita? lantas kenapa disisa hidupnya dia tidak bisa merasakan kebahagiaan? Dia sejak kecil sud

