"Naura..." "Iya?" "Menurut kamu, aku ini masih pantas nggak untuk Arsa?" "Kenapa kamu nanya kayak gitu?" Maira tersenyum tipis. "Aku ngerasa kalau aku udah nggak pantas aja sama Arsa. kamu lihat kondisi ku sekarang, aku nggak sama kayak perempuan lain. Aku nggak bisa ngasih waktu sama Arsa yang banyak, aku cuma habisin waktu aku di rumah sakit." Naura mengembuskan napas pelan. "Arsa terima kamu apa adanya. Harusnya kamu beruntung karena kamu punya Arsa yang begitu sayang sama kamu." Maira terdiam, dia memang merasa beruntung karena memiliki Arsa, tapi di sisi lain dia juga tidak mau terus menerus menjadi beban bagi Arsa. Apa itu salah? "Aku tau. Tapi..." "Aku udah berkali-kali bilang hal ini sama kamu, Maira. Arsa mencintai kamu, dan kamu tidak akan bisa melarang dia untuk meningg

