Raina mendapati Maira yang sedang duduk termenung di atas tempat tidur. Begitu banyak yang ada di dalam benaknya sekarang. Maira tahu kalau seharusnya dia sadar diri untuk memposisikan dirinya di hati Arsa. Bagaimana pun Arsa lelaki yang tampan, seharusnya dia bisa mendapatkan gadis yang lebih dari dirinya. Tadi, saat menyisir rambut, Maira mendapati banyak rambutnya yang rontok. Bagaimana kalau hal itu yang membuat Arsa meninggalkannya? Meski pun Arsa mengatakan bahwa dia tidak akan pernah meninggalkannya dalam kondisi apa pun. Tapi tetap saja Maira merasa takut. "Sayang, kamu mikirin apa?" Maira mengembuskan napas pelan "Menurut bunda, apa aku pantas terima cinta Arsa dan mencintai dia balik?" "Kenapa enggak? Apa alasannya sampai kamu harus berpikir kalau kamu nggak pantas buat A

