Setelah berdebat dengan sang bunda akhirnya Maira masuk ke dalam kamar dalam keadaan menangis. Puas karena sudah mengeluarkan semua beban yang selama ini ada di hatinya. Dia hanya ingin Raina tahu betapa sakit hatinya dia saat dulu. Maira hanya mengabaikan panggilan Raina di balik pintu. Berkali-kali kali ucapaan maaf terlontar dari mulutnya. Tapi Maira sama sekali tidak mau menggubrisnya. Raina yang berada di luar memegang dadanya yang sesak. Tidak menyangka bahwa ternyata Maira membencinya sejuah ini. Maira mengatakan bahwa dia tidak menemukan kenyamanan saat bersamanya. Hati ibu mana yang tidak pedih saat tahu anaknya tidak tenang saat bersamanya. Padahal di sisi lain seorang ibu dan anak pasti akan memiliki ikatan hati yang kuat. "Maira, bunda minta maaf." Suara Raina terdengar pe

