Pembalasan Dimulai

1013 Kata
Gadis cantik dengan hidung mancung duduk termenung sambil melipat lututnya. Duduk lesehan seorang diri dalam kesunyian. Kamar yang dominan berwarna pink semakin menonjolkan feminim dan sifat manja yang Via miliki. Memorinya kembali pada kejadian yang telah lama berlalu. Ia menyebut itu adalah hari terindah dimana dia menemukan sahabat sejati. [ ] Awal masuk SMP, pada suatu hari. Gadis imut nan lugu datang ke sekolah diantar sang papa. "Papa temui ibu guru dulu gimana? supaya kamu dicarikan teman?" tawar pak Anggoro saat itu. "Jangan Paaa, malu lah. Aku kan udah gede," tolak Via sambil mengerutkan keningnya. Poni lengkung sepanjang alis, dengan bando putih bertengger di atas kepala. "Oke-oke, putri Papa sudah besar. Silakan memulai hari ini dengan semangat, pokoknya kalau ada yang nakal, langsung sebut nama Papa. Oke?!" pak Anggoro memupuk semangat putri semata wayang. Sedang Via memanyunkan kedua bibir, kesal sebab papa terus menganggap ia sebagai anak kecil. Keluar dari mobil hitam mengkilap, sang papa membuka kaca sembari melambaikan tangan. Di antara anak seusianya kala itu, sikap Via memang sedikit kekanakan. "Lihat!! kenapa nggak diantar masuk kelas sekalian?" celetuk salah satu murid. "Eh, dia mungkin baru keluar dari tempat persembunyian, jadi belum bisa mandiri," yang lain ikut bersuara. "Tapi papanya tajir ooii, terlihat, dari pakaian juga mobilnya." "The real putri salju kayaknya," Suara-suara sumbang kawan yang bahkan tidak mengenal Via, gadis itu terus berjalan, sembari menunduk sebab kurang percaya diri. Memasuki ruang kelas, semua siswa sudah duduk berpasangan dengan teman sebangku mereka. Via menatap ke setiap sisi. Ia tampak kebingungan, harus duduk di sebelah mana. Beberapa murid lelaki saling berbisik. Memuji kecantikan si gadis yang berdiri di depan kelas itu. Namun Via salah sangka, ia mengira ada yang aneh dengan tampilannya. Nyali Via menciut seketika, hendak berbalik, keinginannya sekolah di tempat itu telah sirna. Baru memutar badan, ia berpapasan dengan Disti Mahisa. "Hei mau kemana? bel sebentar lagi berbunyi loh! " tegur Disti. "Hemmm tapi, aku nggak ada teman duduk," balas Via, masih menekuk wajah oriental miliknya. "Oh begitu, ayok duduk sama aku! " Disti menarik tangannya, dia adalah gadis ceria, ramah dan pandai bergaul. Via belajar banyak darinya, mengenai cara berucap, senyum, dan lain-lain, sehingga hal itu membantu Via beradaptasi dengan baik. Sejak hari itu keduanya berteman akrab, sampai pada suatu titik, ketika keduanya mengucap janji, akan tetap menjadi sahabat sampai tua. Kedua gadis itu, selalu menghabiskan waktu bersama. Belajar, berbelanja, menonton bioskop. Dengan senang hati Via mengeluarkan uang, tanpa merasa berat sedikitpun. Hubungan keduanya terus berlanjut. Pada saat memasuki tingkat SMA, Via sampai membelikan ponsel baru, sebagai hadiah ulang tahun Disti Mahisa. Sang sahabat menerima dengan bahagia. Keluarga yang ekonomi pas-pasan tidak sanggup membelikan baju baru, apalagi sebuah alat elektronik yang harganya kisaran satu juta, pada masa itu. Lulus SMA keduanya kuliah di fakultas yang sama, namun memilih jurusan yang berbeda. Disti dan Via menjadi jarang bertemu, namun komunikasi keduanya masih terbilang lancar. Via amat kesepian, usai keduanya lulus, ia memaksa Disti agar mau masuk ke dalam perusahaan pak Anggoro, yaitu Indo Jaya Grup. Disti mengiyakan permintaan sahabatnya, gaji yang ia terima sangat besar, menempati posisi sekretaris. Via dan Disti bisa bertemu secara intens seperti jaman dulu kala. Via belum kehilangan sifat polosnya, menganggap Disti masih tulus berteman dengan dirinya. Disti yang berwawasan luas, semakin hari keinginannya bertambah banyak, keserakahan menguasai jiwanya. Hingga suatu ketika, ia membuat rencana licik, memanipulasi Via, menjerat gadis lugu itu dalam cinta Kenzo. [ ] Masa Kini....... Tes... tes.... tes.... Butiran bening mengalir dari sudut mata Via Paramita. Merenungi kisah indah berujung bencana. Kenzo memiliki banyak pesona, membuat gadis itu dimabuk kepayang. Selembar tisu disodorkan tepat di depan wajahnya. Via mendongak ke atas, melihat seseorang berdiri dekat dirinya. Via menerima kertas tipis, mengusap pipi dengan lembut. "Kapan kamu masuk? aku nggak mendengar ketukan pintu tadi?" tanyanya kemudian. Reynand duduk di tepi ranjang. "Kamu terlalu sibuk meratapi nasib, sampai tidak mendengar langkah kakiku," ucap santai. "Bagaimana lagi, Disti dan Kenzo keduanya sangat berarti bagiku," "Kalau kamu ingin berhenti, aku tidak akan menghalangi. Memaafkan itu adalah hal mulia. Katakan saja pada kedua curut itu, kamu sudah tau segalanya. Kemudian mempersilahkan mereka melanjutkan kisah cinta. Selesai." "Tidak!!! " sela Via emosional. Reynand menghembus nafas pendek. "Aku yang membawa Disti masuk ke dalam perusahaan, lalu dia membawa Kenzo ke dalam hidupku, aku ingin menjauhkan mereka dari hadapanku. Disti sudah menghina ketulusan yang aku berikan. Maka aku harus menghancurkan hinaan itu, baru lah aku bisa tenang," netranya mengkilap, ada amarah yang berkobar di dal hatinya. "Kita harus bergegas, kapan kamu akan mengambil alih? kita juga harus berada dekat dengan kedua manusia itu. Untuk mencari bukti kedekatan mereka. Saat kita mendapatkan yang kita butuhkan, lanjut menggunakan itu sebagai senjata. Untuk menjatuhkan Kenzo terlebih dahulu, posisinya sebagai CEO tidak mudah untuk dilengserkan. Harus ada alasan jelas. Apalagi jika menelisik kinerjanya yang bagus, meski pak Anggoro sebagai pemilik, jika para dewan direksi menyukai Kenzo. Maka kita tidak bisa menggunakan keinginan pribadi untuk menjatuhkan seorang CEO," terang Reynand. Lelaki lulusan luar negeri itu memiliki banyak pengalaman di bidang hukum. Tampan, pandai berinteraksi dengan klien, adalah keunggulan seorang Reynand Gazali. Via bangkit. "Kamu silakan menunggu di luar! aku akan bersiap," pinta Via. Pria itu pun setuju. Gadis yang merupakan pewaris tahta kekayaan Anggoro Seodardjo, menata emosi juga pakaiannya. "Aku harus bersikap anggun dan tenang. Tidak boleh terlihat konyol, apalagi lemah di hadapan kedua curut itu, " ucap Via seorang diri. Ia segera mandi, menyiapkan pakaian terbaik, membuang image imut dan manja yang melekat pada dirinya. Sementara Reynand asik mengobrol dengan pak Anggoro di lantai bawah. Via membuat rambutnya hitam lurus tergerai, mengoles lipstik warna brown sugar di tambah orange di bagian tengah. Ini hal baru baginya, wajahnya terlihat dewasa saat ini. Berjalan menuruni anak tangga, langkahnya anggun. Pak Anggoro mengedip beberapa kali, memastikan yang ia lihat memanglah Via. Reynand juga dibuat ternganga. Kedua netra menelusuri dari hells hitam, naik sampai ujung rambut Via yang indah. Kedua pria sama-sama kagum atas perubahan yang terjadi. "Luar biasa," celetuk Reynand tiba-tiba. Pak Anggoro sampai tak bisa berkata-kata. "Kita berangkat?" tanya Via membuyarkan angan kedua lelaki. "Ayo, pertempuran baru dimulai." Reynand menyambut niat Via, senyum simpul terlukis mengiringi langkah keduanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN