Mencari Bukti

1024 Kata
Duduk dalam kendaraan yang sama, kini kemana Via melangkah, Reynand berada di sampingnya. Mobil hitam mengkilap mengurangi kecepatan ketika sampai di area parkir. Langkah keduanya mantap, memasuki perusahaan yang terdiri dari 30 lantai tersebut. Via menuju ruangan milik pak Anggoro, yang selama ini belum dijamah oleh siapapun. Letaknya berada paling atas, membuktikan bahwa kepemilikan itu amat berpengaruh. Melintas di depan ruangan CEO, hells setinggi 10 cm yang ia kenakan berhenti sejenak. Melalui celah jendela, ia melihat siluet seorang wanita berpakaian ketat, dengan rok di bawah lutut, berada dalam ruangan CEO, bersama tunangannya. Kakinya berbelok untuk menghampiri Kenzo Aditama. Memegang gagang pintu, tanpa mengetuk terlebih dahulu, kedua tangan mendorong sekuat tenaga. Siitthh___ Benar dugaannya, Disti tengah berada di atas pangkuan sang tunangan. Keduanya menjadi gelagapan tak tentu arah. Disti si sekretaris buru-buru merapatkan kancing bajunya. Sedangkan Kenzo mengibaskan bajunya karena salah tingkah. "Vi, kamu datang sepagi ini? " sapa Disti. "Nampaknya sedang ada rapat berdua? aku mengagetkan kaliankah? " Via pura-pura tidak tahu, sembari melempar senyum polosnya. "Ini tadi Kenzo sedang pusing, jadi aku membantu untuk memijitnya, " kilah Disti. Via mengangguk, "Begini Disti, aku harap selama ada di kantor kita semua bisa bersikap formal. Rasanya tidak etis jika kamu memanggilku hanya nama, bagitu juga pak Kenzo," tegur Via. "Iya, kamu benar, bu Via, " balas Disti. Via memilih berbalik, meninggalkan ruangan sang CEO, senyumnya yang menghiasi bibir kini telah sirna berganti rasa kecewa. [ ] "Kamu apaan sih sayang! sudah ku bilang, kita harus menjaga jarak. Jangan sampai Via tau segalanya," sesal Disti, mimik mukanya sebal, gegas merapikan berkas di atas meja. "Maaf Sayang, aku nggak nyangka gadis itu muncul tiba-tiba, kira-kira dia tadi curiga nggak ya?" kening Kenzo berkerut. Disti memperbaiki tampilan rambutnya, lalu mengedik kedua bahu, "Entahlah," komentarnya singkat, buru-buru berlalu. Di ruangan Presdir. Via duduk berhadapan dengan Reynand. "Tadi itu hampir saja," celetuk Rey. "Apa kita harus membawa kamera untuk menangkap basah kedua curut itu?" balas Via sinis. "Mereka pasti mulai waspada. Aku akan cari cara lain, " "Usahakan kamu mendapat bukti yang akurat! " "Tentu saja, sebenarnya ini tugas tim detektif, bukan saya," kata Rey lagi. Via meliriknya sesaat. Kedua tangannya masih mengerucut di atas meja kekuasaannya. "Tidak masalah, akan ku lakukan apapun. Setelah misi selesai, aku akan mendapat bonus kan?" gurau Rey, sembari tersenyum manis. "Apa kamu berusaha membuat saya terpikat?? Lupakan!!" Via mengubah postur tubuhnya. Kini menyerong, jemarinya sibuk menekan pada keyboard komputer di depannya. Reynand tersenyum kecil. "Tapi sebenarnya saya yang terpikat padamu," tutur Rey pelan. "Apaa?? " Via memastikan. Ia tidak mendengar dengan jelas. "Tidak ada Bu. Baiklah saya harus mengunjungi suatu tempat. Kamu harus tetap di sini! mempelajari banyak hal. Oke?! " "Pergilah!! saya tahu yang harus saya lakukan," Pria itu melenggang pergi, sempat berpapasan dengan Kenzo, yang berniat menghampiri Via di ruangan miliknya. Tok.... Tok.... Tok.... Kenzo membuka pintu dengan pelan, Via yang tadi rautnya serius, kini membuat lebih santai, agar tak terlihat tegang. Menghindari rasa curiga yang mungkin saja muncul di dalam benak Kenzo. "Masuk pak Ken, silakan duduk!! " Via mempersilakan. "Sayang, kamu tidak mengabariku dulu, ku pikir setidaknya sebulan kamu baru bergabung. Tubuhmu juga perlu penyesuaian, setelah koma beberapa hari. Jangan bekerja terlalu keras, serahkan semua kepadaku! " Kenzo pura-pura peduli. Tangannya hendak meraih telapak tangan Via yang tergeletak di atas meja. Si perempuan buru-buru menarik. Jauh dalam hatinya merasa jijik kepada kekasih yang selama ini sudah tega mengkhianati dirinya. "Tangan itu, entah berapa ribu kali menyentuh area pribadi milik Disti. Beraninya!!! ingin dekat denganku. Dia bilang aku membosankan, juga tidak menarik, " batin Via penuh kesal. "Kenapa Sayang? apa aku membuat kesalahan? biasanya kamu senang, bahkan tak jarang kamu memulai lebih dulu? " selidik Kenzo. Matanya menyisir seluruh wajah Via, merasa ada kejanggalan. "Kita-- di kantor. Jadi harus profesional. Panggil aku Bu! atau jika itu kamu rasa berat, cukup sebut namaku saja! " Kenzo tertawa kecil. "Kamu serius? aku curiga____" Glekk____ Via menjadi gugup. "Cu-ri-ga kenapa? " "Jangan-jangan jiwa kamu tertukar dengan seseorang saat berada di rumah sakit, Hahaha," kata Kenzo, diiringi gelak tawa. Via merasa lega, membuang nafas pendek. "Aku harus belajar Ken, jika tidak para staf juga tidak akan menaruh hormat padaku. Di sini aku memikul nama besar papaku. " Kenzo berhenti tertawa. "Ehm. Kamu benar Vi, agak canggung sebenarnya, tapi dengan ini aku ucapkan selamat datang. Jika butuh bantuan apa pun. Aku siap." Via mengangguk paham. "Sekarang tinggalkan ruanganku!! Aku harus fokus," pungkas Via. "Baiklah, aku pergi, selamat bekerja Say__ , emh maksudku, Via." Kenzo kemudian berlalu. "Sepertinya dia tidak curiga, masih sama seperti dulu. Ia menganggap aku dan Disti sebatas rekan kerja, " gumam Kenzo percaya diri. [ ] Reynand berada di apartemen milik Disti. Berjalan dengan gagah, posturnya yang tinggi, dengan setelan jas hitam, ia sudah mirip dengan orang yang muncul dalam film box office luar negeri. Ia membujuk pihak keamanan untuk memeriksa kamera CCTV, ia ditemani dua orang bertubuh kekar berada di samping kanan dan kiri. Awalnya pihak keamanan menolak, sebab ini adalah hak dan privasi dari setiap penghuni unit. "Salah seorang penghuni di sini terindikasi melakukan kejahatan, jika bapak tidak mau bekerja sama! maka bapak juga akan dijerat sebagai seseorang yang telah membantu kejahatan! " ancam Rey, memperlihatkan kartu nama miliknya. "Ta--pi pak, saya butuh surat pemberitahuan, atau keterangan terkait izin yang anda bertiga lakukan! " tolak penjaga keamanan. Rey menatap dua orang pengawalnya, kedua pria berotot itu kemudian maju beberapa langkah. Menghimpit tubuh penjaga sehingga membuat laki-laki paruh baya merasa terpojok. "Apa saya harus memberitahu istri anda?? jika anda sering menginap di kamar salah seorang penghuni tempat ini? seorang gadis malam bernama Vina? " pengawal itu memperlihatkan cuplikan video yang mereka ambil beberapa hari sebelumnya. Si pria penjaga keamanan terkejut setengah mati. Matanya membelalak sempurna. "A--mpun Tuan!!! silakan lakukan yang kalian butuhkan. Saya tidak akan memberitahu kepada siapa pun, " pria itu memohon, ketakutan jelas terpancar pada wajah keriputnya. Kedua bodyguard tersenyum sinis. Menepuk pundak si penjaga. "Bapak sudah tua, harus ingat umur!!! jika tidak takut kepada istri, setidaknya takutlah kepada Tuhan!! " ucap salah seorang. Rey segera melancarkan niatnya. Memasang flashdisk untuk menyalin rekaman video, itu memperlihatkan lokasi tempat parkir, lorong bawah tanah, juga area depan kamar kontrakan Disti Mahisa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN