Reynand Gazali masih sibuk di depan layar komputer. Pintu ruang kerja diketuk dari luar. Ini merupakan ruangan khusus di dalam rumahnya, letaknya berdampingan langsung dengan kamar utama.
Menoleh ke arah pintu, gadis berparas cantik sedang berdiri menunggu untuk diberi izin guna memasuki ruangan luas tersebut.
"Kamu sampai di sini? nggak sabar harus menunggu besok? masuklah Vi!! " sapa Rey.
"Saya dari kantor langsung mampir, gimana? menemukan sesuatu?" Via mendekat, ikut memeriksa video rekaman kamera pengintai yang diperoleh dari apartemen Disti.
Mendengus kesal, sebab tidak ada yang mencurigakan.
"Mereka terlalu rapat selama ini. Kedua curut itu sangat lihai bersandiwara juga. Patut diacungi jempol, " seloroh Reynand kesal.
Via melirik dirinya tajam.
"Apa??? ucapanku benar kan? selama di depan umum tak sekalipun kedua sejoli terlihat mesra. Itu hebat kan?" sambung Rey.
Via setuju dengar pernyataannya.
Gadis itu berfikir keras. Menyandarkan tubuhnya pada sofa empuk warna abu tua.
"Kamu masih mau di sisni? saya ingin mandi dulu!" pamit Rey beranjak bangkit.
"H'em silakan! "
Gadis itu mendongak ke atas, lehernya terasa nyaman mendarat pada benda empuk yang sekaligus menopang dirinya. Tatapannya mengarah pada langit-langit ruangan polos tanpa corak.
"Hubungan mereka sangat dekat, pasti pernah melakukan sentuhan mesra kan? Bagaimana kalau aku jebak Disti, agar mengakui hubungannya dengan Kenzo? "
Gadis itu mendapat sebuah gagasan. Senyumnya menyeringai, ke depannya ia akan membutuhkan bantuan beberapa orang. Tapi tidak masalah baginya. Selama ada uang, siapapun akan membantunya dengan senang hati.
Waktu terus berlalu, rasa lelah menggelayut membuat Via tertidur di ruang kerja Rey. Meringkuk dengan sebelah lengan menjadi bantalan kepala, tidurnya begitu lelap bagaikan anak kecil.
Reynand selesai membersihkan diri, kembali untuk memeriksa tamunya, barangkali merasa bosan atau semacamnya.
Lelaki itu terkesima, mendapati Via tertidur pulas.
Rey berjongkok, menatap wajah cantik lebih dekat. Menyingkap helaian rambut yang menghalangi pesona cantiknya.
Dirinya lalu berjalan untuk mengambil selimut, guna menutup tubuhnya. Tak lupa mengirim pesan kepada pak Anggoro dari ponsel Via, agar ayahnya tidak cemas.
[Pa aku masih ada di rumah pak Reynand, nanti setelah pekerjaan selesai, aku akan segera pulang. Papa jangan khawatir.]
Si papa membalas dengan memberi support untuk sang putri.
[Iya Sayang, papa percaya sama kamu. Semangat kerja kerasnya]
Reynand meninggalkan Via terlelap di sana, ia melanjutkan pekerjaan di kamar sebelah supaya tidak mengganggu istirahat si tamu.
###
Di tempat lain, Disti sedang berjalan ke arah pantry kantor. Berhenti sejenak kemudian menoleh ke belakang. Ia merasakan bulu kuduknya berdiri. Seolah ada yang mengawasi. Tatapannya tidak menemukan siapapun. Perempuan itu lalu meneruskan langkahnya, dengan menggenggam cangkir kosong di tangan kanan.
Sore hari memanglah sepi, semua karyawan sudah pulang, meninggalkan rutinitas di perusahaan Indo Jaya Grup, hanya tersisa dua satpam berjaga di luar.
Baru meletakkan benda kotor pada wastafel, sembari mencunci tangan, tetiba Disti merasa tubuhnya merasakan hangat, ada seseorang mendekap tubuh seksinya dari belakang.
Itu membuatnya terkejut bukan main. Dengan cepat ia berbalik, tenyata tak lain dan tak bukan adalah Kenzo, CEO sekaligus kekasihnya.
Pria itu langsung mendaratkan kecupan mesra pada bibir Disti, membuat gadis itu tertahan.
Mendorong Kenzo pelan, wajah Disti melongok ke belakang sang pria penuh kewaspadaan.
"Kamu gilak ya?? ini masih di kantor!" protes Disti, dia panik juga takut, kalau sampai kepergok berduaan dengan atasannya.
"Ssstttt!! tenang Sayang! semua orang sudah pulang, cctv di ruangan ini sudah rusak sejak tiga hari lalu. Belum sempat diperbaiki," terang Kenzo, kembali mengunci bibir Disti.
Disti berontak untuk yang kedua kalinya.
"Nggak bisa Ken, firasatku rasanya gak enak. Kita pulang saja. Mari lakukan di tempatku!"
"Sayaaang, justru melakukan di tempat tak lazim ini memberikan sensasi yang baru. Sebentaaaar saja, please_____" Kenzo memelas.
Disti menjadi tak tega dengan permintaan sang kekasih, sebetulnya keduanya memang memendam rindu cukup lama.
"Oke, tapi jangan berisik!! Juga nggak perlu melepas semua. Seperlunya saja,"
"Makasih Sayang, "
Keduanya lanjut bermesraan, dengan masih berpakaian lengkap, sesuai permintaan Disti. Kenzo segera menyusuri area yang dia perlukan. Disti memejam, merasakan kehangatan di setiap sentuhan, sesekali melirik pintu, kalau-kalau ada yang datang.
Kenzo melakukan aksinya dengan terampil, dari yang santai, kemudian semakin cepat. Membuat gadis itu kacau tak karuan.
"Cepat selesaikan Sayang____" bisik Disti melenguh kenikmatan.
Mendengar permintaan Disti yang kini menikmati permainannya, semangat Kenzo semakin terbakar.
Tak lama , nafas keduanya memburu, Distu merasakan pelepasan dengan sempurna. Begitu juga Kenzo. Keringatnya sampai bercucuran. Seluruh tubuh yang tadi panas, perlahan memudar seiring puas yang ia rasakan.
Tampilan keduanya menjadi berantakan, Disti segera membenahi baju, juga rambutnya yang acak, kedua tangan terbuka, mengambil air lalu mengusap pada wajah untuk menetralkan debaran jantungnya.
"Buruan Sayang, takut ada yang datang! " Disti menatapnya lekat, memberi isyarat agar Kenzo segera pergi.
"Kamu pulang duluan gih!! biar nggak ada yang curiga," balas Kenzo santai.
"Yakin mau aku tinggalin di sini?"
"Iya Sayang, makasih yah____"
"H'em, aku duluan!!! tak lama lagi satpam pasti berkeliling,"
"Oke Sayang. Hati-hati di jalan!"
Distk akhirnya pulang, meninggalkan Kenzo di ruang pantry perusahaan seorang diri.
Menenteng tas mahal miliknya, langkahnya cepat bagaikan pencuri yang takut tertangkap oleh si tuan rumah.
Buuuughh_____
Bertabrakan dengan pak Hadi, seorang satpam yang mendapat tugas malam. Disti tersungkur dengan posisi duduk, tas mewah lepas dari pundaknya.
"Selamat sore bu Disti, jam segini kok belum pulang?" tanya pak Hadi.
"Bukan urusan kamu!!" ketus Disti. Tangannya segera menepis bantuan yang pak Hadi berikan.
"Oh maaf, saya kurang hati-hati," pak Hadi mengalah. Walau sebenarnya Distilah yang terburu hingga menabrak dirinya.
Tak mau berlama-lama, Disti segera bangkit kemudian melenggang pergi.
##
Di tempat yang telah ia huni selama beberapa tahun, Disti merebahkan tubuhnya pada permukaan tebal nan empuk.
"Badanku rasanya pegal semua, "
Matanya mulai memejam, hendak beristirahat guna mengusir rasa lelah.
Tiba-tiba ia bangun, berubah ke posisi duduk, Disti terlonjak, ingatannya menyadari sesuatu. Ia panik, membuka semua laci miliknya untuk memeriksa sesuatu.
"Gawat!!!" serunya memekik.
Sepasang matanya memperhatikan kalender yang menempel pada dinding kamar.
"Oh my god!!! bagaimana ini??!!!!" jeritnya kemudian.
"Tidak mungkin!!!!?? " gumamnya tak percaya.
Ada rasa takut, namun ia berusaha berpikir positif. Berhubung waktu sudah malam, ia juga sudah kecapekan, Disti memutuskan untuk segera tidur.
Rencananya, ia akan pergi ke apotik esok hari. Disti perlu memastikan, apakah ia hanya terlambat datang bulan seperti biasa, atau jangan-jangan terjadi sesuatu di dalam dirinya kini????