Disti Hamil

1044 Kata
"Ini tidak mungkin!!???" jerit Disti syok. Ia berada di toilet kamarnya. Memegang benda pipih kecil dengan garis dua terpampang di depan mata. Melipat bibirnya rapat, memukul keningnya berulang kali. "Bodoh, bodoh, bodoh!!!" ujarnya mengutuk diri sendiri. "Kenapa harus sekarang???" sesalnya lagi. Disti bergegas mandi, lanjut mematut di depan cermin setinggi dua meter. "Apakah terlihat gemuk?? " menyerongkan badan ke kanan dan kiri, juga mendekatkan wajah di depan kaca, mencubit pipi lalu mengurut ke belakang. "Aku harus memastikan. Sudah berapa bulan...." gumam Dist. Mengenakan Hoodie besar, masker, dan kaca mata hitam, langkahnya mengayun cepat, menuruni lift kemudian naik taksi yang sempat ia pesan lima menit sebelumnya. "Lebih cepat Pak!!! " titahnya tidak sabar. Pak sopir menuruti keinginannya. Sampainya di rumah sakit, ia menuju resepsionis. Disti diarahkan pada ruangan yang berada di poli belakang. Setelah mengantri beberapa saat, kini giliran dia untuk diperiksa. "Selamat, anda mengandung delapan minggu!" ucap dokter itu, Disti terkesiap. Mimpi buruk dalam hidupnya telah dimulai. Usai melakukan pemeriksaan, dokter memberinya vitamin, juga tablet asam folat. Berjalan lemah, kakinya gontai menelusuri lorong rumah sakit sendirian. "Apakah Kenzo bersedia bertanggung jawab? lalu bagaimana misi kita? jika dia memutuskan hubungannya dengan Via secara tiba-tiba, maka aku dan Ken tak akan mendapat apapun. Ya Tuhan, kenapa bisa terjadi, padahal aku dan Ken selalu hati-hati." Pikirannya sibuk dengan banyak pertanyaan. Tanpa sengaja menabrak seseorang, Bugh____ "Maaf Dokter! " ucap Disti gelagapan. Ternyata seseorang yang bersenggolan dengannya adalah seorang dokter wanita. "Anda baik-baik saja?? wajahmu terlihat pucat??" sapa perempuan cantik dengan pakaian serba putih. "Ini__ tidak ada Dokter, maaf sekali lagi," Disti buru-buru pergi. Amplop berisi keterangan hamil miliknya jatuh, diambil oleh dokter Arsya. "Disti Mahisa, nama ini tidak asing? " dokter cantik itu, berusaha memanggil-manggil Disti, namun sedetikpun sang sekretaris enggan menoleh. Arsya lalu menyimpan laporan itu ke dalam sakunya. Mengingat-ingat, Disti seperti seseorang yang dia kenal. Ketika memasuki ruangan, barulah memorinya ingat. Selama Via mengalami koma, dia juga andil dalam memberi perawatan, hubungannya cukup dekat dengan keluarga pak Anggoro. Ia berinisiatif menghubungi Via, terkait hal ini. "Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu Dok?" tanya Via melalui sambungan telepon. "Hai Vi, apa kabar? saya harap baik yah. Saya ingat teman mu yang beberapa kali datang ke rumah sakit, waktu kamu belum sadar. Seorang gadis, cantik, tingginya kurang lebih 160 cm, tampilannya modis, dan cantik." "Temanku banyak Dok. Tapi kalau sahabat ya cuma Disti. Kenapa dokter?" "Apa dia sudah menikah?" "Belum, kenapa Dok? kamu membuatku penasaran?!" "Eeeum__ saya menemukan sesuatu, miliknya. Bisakah kamu kemari? sepertinya sahabatmu sedang dalam masalah. Dan mungkin kamu bisa membantunya." "Oh baiklah, saya akan mampir sebelum ke kantor," "Oke, saya tunggu! " Panggilan selesai. [ ] Duduk berdiam dalam kamar apartemen, Disti ingin izin untuk tidak masuk hari ini, namun tanggung jawabnya besar di perusahaan Indo Jaya Grup. Meski ini sudah agak siang, ia putuskan tetap berangkat. Mengganti pakaian dengan yang biasa ia kenakan. Bergegas meninggalkan lokasi, tak lupa mengoles lipstik merah agar wajahnya terlihat segar. Mengendara mobil mengkilap abu miliknya. Kenzo sudah tiba lebih dulu. CEO itu tidak menemukan Disti sejak tadi, ia menjadi penasaran. Menunggu kekasihnya di dalam ruang sekretaris. Kreekk.... Disti baru saja datang. Kenzo menoleh ke arahnya. "Tumben kesiangan? macet atau kenapa?" sapa Kenzo. Meletakkan map warna biru di tempat semula. Mendekati Disti untuk memperoleh jawaban pasti. "Kebetulan kamu di sini!" ujar Disti, melempar tas ke atas sofa secara kasar. "Kenapa? ada masalah? kamu nampak gelisah?" Ken menarik dagunya, praktis wajah keduanya beradu sangat dekat. Bibir Ken siap menyambut, namun detik berikutnya Disti mengungkap pengakuan mengejutkan. "Aku hamil____" ucapnya dingin. "Whaaat?????!" "Kenapa kaget??? ini resiko hubungan kita selama ini. Lupakan tentang menguasai harta Via. Menikahlah denganku!" pinta Disti. "Nggak bisa sekarang Dis!!!! posisi CEO yang aku banggakan, aku nggak bisa meninggalkan begitu saja! kalau tiba-tiba kita menikah, aku pasti akan ditendang ke jalanan. No!!! membayangkan saja sulit," Kenzo melangkah mundur, terlihat jelas CEO itu menjadi gusar. "Lalu bagaimana denganku??!" "Gugurkan saja!!!!! " "APAAAA? enteng banget kamu bicara begitu. Kamu kira mudah? dari yang aku tahu, rasa sakitnya luar biasa. Bertaruh dengan nyawa. Kejam sekali kamu Ken," perlahan suara Disti melemah, matanya menghangat, bulir bening lolos begitu saja. "Atau gini aja, kamu sembunyi di suatu tempat, hingga melahirkan, setelah itu kamu bisa kembali lagi kemari!!" usul Kenzo. Disti tak mau menanggapi, ia duduk dengan kepala tertunduk. Kenzo mendekat, berjongkok di depannya berupaya membujuk. "Sayang sabarlah, tinggal sedikit lagi. Emang kamu mau anak kita lahir tanpa memiliki apapun?? aku mohon pikirkan dengan benar!" bujuk Ken, mengusap kepala Disti penuh kasih sayang. Disti mengangkat wajahnya. Kenzo menyeka air mata yang membasahi wajah kekasihnya itu. "Kita pasti menikah, percaya padaku!" rayu Ken. "Cepat selesaikan misi kita Ken, bayi ini sudah dua bulan. Semakin lama perutku semakin buncit. Aku tak mau menjadi bahan cibiran," desak Disti. "Aku paham Sayang, sabar, oke?" Kenzo mengecup mesra keningnya, senyum palsunya terlihat tegar padahal hatinya was-was luar biasa. ### Sementara itu, Via dan Reynand berada di area parkir perusahaan. Via menyimpan hasil pemeriksaan kehamilan milik Disti di dalam tasnya. Keduanya berpikir untuk mengambil langkah selanjutnya. "Sebelumnya saya telah memeriksa informasi dari ibu Sinta. Tanpa sepengetahuan pak Anggoro, Kenzo memasukkan minuman beralkohol dalam kegiatan distribusi, baru berjalan di bulan ini, " ungkap Rey. "Bagus! ini bisa menjadi senjata pelengkap. Berani sekali dia melakukan hal itu. Jelas-jelas ini bertentangan dengan prinsip papa," cibir Via. "Kita baru mengantongi dua bukti. Lembaran milik Disti, tak cukup kuat membantu kita. Ini hanya menyatakan dia hamil. Namun tidak membuktikan bahwa Kenzo adalah ayah biologis calon bayi," "Aku akan membuat dia mengaku," balas Via. "Pada saat ini terungkap, ini bisa kita masukkan dalam daftar pelanggaran yang ia buat. Setelah itu kita tinggal mengadakan rapat anggota dewan, mengundang semua pemegang saham. Meminta melakukan pemungutan suara. Merekalah yang berhak menentukan, untuk menggulingkan posisi CEO yang melekat pada Kenzo," Via mengangguk paham. "Oke mari kita masuk," ajak Via kemudian. Kedua orang itu berjalan berdampingan, tampak serasi dengan chemistry terpancar dari aura wajah mereka. Melewati lantai utama perusahaan, seorang office girl menatap Via dengan tatapan aneh. Kedua tangannya memegang gagang pel, menunduk sejenak ketika Presiden Komisaris beserta penasehat hukum melintas di depannya. "Ada yang tidak beres. Tapi apa?" batin Via. Keduanya lanjut menaiki lift, menuju lantai paling atas, di sanalah ruangannya berada. "Kenapa?" tanya Rey, memperhatikan Via yang sedikit melamun. Menoleh pada keberadaan Rey, Via hanya menggeleng tanpa suara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN