Memecat Sang CEO

1260 Kata
Di apartemen yang telah menjadi hunian Disti selama beberapa tahun terakhir, Kenzo berupaya membujuk kekasihnya untuk melanjutkan rencana mereka yang sempat tertunda. Disti kesal, duduk di sofa dengan melipat kedua lutut di depan da-da. "Katakan sayang, jika sesuatu yang buruk terjadi, kamu udah janji, akan setuju dengan solusi yang aku siapkan!!" tuntutnya mengingatkan. Mengusap punggungnya lembut, namun Disti tak kunjung luluh. "Tapi Ken, dia itu Dion??? aku sama sekali nggak tertarik dengannya. Aku penginnya nikah sama kamu. Kita menjalin hubungan sudah lama, kan," rengek Disti penuh penolakan. "Harus ada yang kita korbankan demi mencapai cita-cita kita Sayang, ini semua di luar rencanaku. Kerja sama antara aku dan pak Doni mulai tercium oleh pak Anggoro. Pasti ada mata-mata di sekitar kita. Maka dari itu sayang, aku menyimpulkan bahwa tak lama lagi hubungan kita cepat atau lambat akan terungkap," jelas Kenzo. "Ini sulit Ken, mana bisa aku dan Dion_____" "Percaya padaku Sayang, selama kamu mengikuti rencanaku, kedepannya kamu tak akan kesulitan apa pun. Terutama masalah finansial. Aku harus membalikkan keadaan. Kamu harus mendukungku. Oke??!!" Alih-alih bertanggung jawab atas kehamilan Disti, Kenzo justru melibatkan Dion agar mau menikahi pacarnya yang tengah hamil muda. Keputusan penting ini diambil secara spontan. Sebelumnya, Ken meminta Disti menggugurkan kandungannya, namun hal itu terlalu menakutkan, Distipun menentang keras. Dan kini, mau tak mau ia harus menerima keinginan Kenzo, dengan berat hati, Disti menyetujui untuk menerima Dion sebagai calon suaminya. [ ] Di Ruangan Via, 3 Jam Yang Lalu. Tok.... tok.... tok.... Pintu ruangan milik bos baru Indo Jaya Grup diketuk pelan. "Masuklah!!!" seru Via, masih duduk dalam ruangan seorang diri. Mengamati laporan yang ia terima dari beberapa staf kantor. "Permisi Bu, " ucap Mimi dengan suara pelan, ada raut gelisah terbaca dari wajahnya, dia seoarang office girl yang mengamati Via sejak beberapa hari lalu. "Iya? ada masalah apa? katakan!" tanya Via. Mimi sedikit ragu, wajahnya terus menunduk. "Ada yang mengganggumu?" ulang si bos. Gadis dengan pakaian serba biru, mengeluarkan ponsel dari sakunya. "Maaf Bu, saya lancang mengambil video tentang tunangan Ibu, " "Saya masih belum paham. Bisa bicara lebih jelas??!" Mimi menceritakan kejadian beberapa hari sebelumnya. Sore itu ia usai membersihkan ruang pantry, keadaan sudah sepi. Ia baru mengambil tas untuk segera pulang. Di luar dugaan, Disti datang, tak lama Kenzo juga menyusulnya. Mimi tidak berniat menguping sebetulnya, ia sembunyi dari balik meja, ia jongkok tanpa bersuara. Mendengar keduanya semakin intens, suara-suara yang ia dengar sore itu membuat ia yakin. Bahwa ada yang tidak beres. Seperti yang dia tahu, CEO tampan itu merupakan tunangan Presiden Komisaris, yaitu Via Paramita. Mimi memutuskan membuat rekaman video melalui ponsel miliknya, keadaan sore yang sepi, menambah romantisme di depan matanya. Kedua sejoli tengah memadu kasih di ruang pantry perusahaan. "Apa kamu menyimpan salinan video ini?" tanya Via, usai beberapa saat lalu dia begitu tercengang, dengan keberanian kedua curut itu. "Mana berani Bu. Saya menyimpan ini rapat-rapat. Hanya bu Via yang tau, " "Baiklah, lepaskan memori dari ponselmu, sebagai gantinya, akan ku transfer dua kali lipat dari gajimu saat ini juga, tapi ingat!! jangan sampai hal ini bocor!!" "Siap Bu. Terima kasih banyak," office girl itu melakukan sesuai titah si bos, selesai urusannya, Mimi segera berlalu. ## Masa Kini. Kriiing___ Dering telepon genggam menyadarkan Via dari lamunan panjang. "Iya Rey, kenapa?" "Hanya memastikan, apakah kamu sudah lelap?" "Belum, masih memikirkan beberapa hal, kamu sendiri?" "Aku memikirkan kamu," goda Reynand sambil bercanda. Via tersenyum ringan. "Sudah malam, jangan menggombal terus!! takutnya aku terbawa mimpi," Situasi keduanya berangsur santai, tidak ada kekakuan lagi. "Tak masalah, mimpikan aku sepuasmu! aku akan lakukan hal yang sama. Bagaimana?" "Stop it!! jangan coba-coba menipuku!!" cela Via, sejujurnya dia senang mendengar rayuan manis dari pengacara kondang itu. "Aku penasehat hukum-mu. Bukan penipu," tawa Reynand mengisyaratkan niatnya, untuk menjalin hubungan lebih jauh. "Jadi apa tujuanmu sekarang? mmm___ maksudku, setelah misi kita menggulingkan Kenzo selesai?" "Bagaimana kalau kita menikah? punya anak yang banyak, kemudian menjalani pernikahan sempurna. Maukah kamu menjadi pengantinku? Via Paramita?" "Hmmm____ nggak romantis. Harusnya ngelamar tuh di tempat yang bagus, diiringi musik, juga cincin mahal. Bukan melalui telepon," gerutu Via tersipu. Jemarinya memutar-mutar pada permukaan kasur. "Oke-oke, akan aku siapkan sesuai keinginanmu tuan putri," ucap Rey patuh. Via melipat bibirnya rapat, sebisa mungkin menahan tawa yang hampir meledak. "Aku tutup, lelah, ingin istirahat," pamit Via. "Sampai jumpa esok hari," timpal Rey. Kesamaan visi misi akhirnya membuat hubungan keduanya keluar jalur. Di kantor mereka adalah bos dan penasehat, akan tetapi, kedekatan mereka selangkah lebih maju, ada benih ketertarikan yang mulai tumbuh di hati masing-masing. ~~~ Pagi berikutnya. Sebagai langkah lanjutan, Via mengadakan rapat seluruh anggota dewan direksi, ia dan Rey telah menyiapkan beberapa kejutan untuk hari ini. Semua orang berkumpul, para pemegang saham perusahaan. Tak ketinggalan Disti juga Kenzo. Kedua pengkhianat saling menatap, namun tak mendapat jawaban yang diinginkan. "Oke, hari ini saya akan menyampaikan keluhan kepada yang terhormat Kenzo Aditama, CEO Indo Jaya Grup sekaligus tunangan saya," Via mengawali pertemuan. Semua yang hadir merasa heran, selama ini hubungan CEO dan putri pemilik perusahaan baik-baik saja. Bahkan keduanya sedang merancang pernikahan. "Pak Ken, menurut laporan yang saya terima, anda sudah memasukkan minuman beralkohol dalam usaha kontribusi kita. Hal itu tentu bertentangan dengan prinsip perusahaan yang telah kita jalani puluhan tahun. Lancang sekali anda mencuri peluang ketika pak Anggoro sedang tidak aktif dalam perusahaan selama beberapa pekan kemarin??" serangan pertama Via sukses membungkam Kenzo. Namun dari mimik mukanya pria itu masih bisa bersikap tenang. "Saya akui, memang itu salah saya yang kurang teliti Bu. Saya mohon maaf untuk itu," Via tersenyum miring. "Ada lagi pak Ken, anda juga melakukan pelanggaran etika, dengan sengaja menjalin hubungan dengan seorang sekretaris, tak lain sahabat saya, Disti Mahisa. Anda telah mengkhianati tunangan anda dengan kesadaran penuh. Parahnya anda dan Disti sudah melanggar peraturan bahwa setiap karyawan dilarang memiliki hubungan dengan rekan dalam satu perusahaan. Ini sudah menjadi kebijakan selama puluhan tahun, kalian melakukan tiga kesalahan sekaligus," telunjuk Via mengarah pada perempuan yang tengah hamil muda. "Itu tuduhan yang keji Bu. Apa anda punya bukti?" sanggah Kenzo. Via yang geram, mengeluarkan telepon genggam, menyambungkan dengan laptop melalui kabel usb. "Saya masih punya rasa kemanusiaan, jadi saya akan memutar sebuah video intim antara dua sejoli, yang saya blur gambarnya. Saya tak tega harus memperlihatkan wajah penuh gairah antara sahabat serta tunangan saya, namun kalian bisa mendengar jerit suara, yang meracau melalui bibir kedua insan itu," Via menahan sesak di dalam d**a, dengan berat hati, memutar video tanpa gambar. Di hadapan para dewan direksi yang hadir. Semua orang yang mendengar saling berbisik. Disti sangat malu, ia menutup wajah dengan kedua tangannya kini. "Disti, akui saja , ini dirimu dengan kekasihmu bukan? " desak Via. Sang sekretaris mengangguk, derai air mata mengalir cepat. "Selain itu juga pak Ken, saya menganggap bahwa anda dan prinsip yang anda miliki sudah tidak sejalan dengan visi dari Indo Jaya Grup," imbuh Via. "Ini bukan hanya tentang masalah pribadi saya. Tapi sikap seorang CEO Kenzo Aditama patut dipertanyakan. Menurut kalian semua yang hadir, apakah kesalahannya bisa ditolerir?? Bayangkan saja, saya yang merupakan putri tunggal pak Anggoro, bisa dia khianati. Jadi besar kemungkinan ke depannya, kalian atau perusahaan ini juga akan dia khianati sedemikian rupa, demi keuntungannya sendiri," Semua orang yang hadir saling bertukar pendapat. Kebanyakan mereka menyayangkan sikap pria itu, menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Pada titik terakhir, semua anggota sepakat mengambil tindakan. Melepas jabatan CEO Indo Jaya Grup dari Kenzo Aditama. Dan selanjutnya itu akan diresmikan pada pernyataan tertulis. Anggota dewan direksi akan mengangkat seorang yang layak dengan posisi itu di pertemuan berikutnya. Via dan Rey merasa lega. Kenzo tidak banyak bicara, ia membawa Disti pergi dari ruangan itu, setelah keduanya sukses dipermalukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN