Nico POV
“Saya pun juga kehilangan Angelica, putri saya sendiri di atas kapal tersebut.”
Aku sangat terkejut dengan pemberitaan itu.
Tidak, mereka tidak boleh mengatakan hal itu. Dia masih hidup! Aku harus mencari cara agar Angelica diterima kembali di dalam keluarganya dengan segera.
Saat aku akan beranjak dari tempatku, seorang wanita yang kuperkirakan usianya tidak jauh dariku dengan berambut merah sebahu dan pakaian dokternya telah berdiri di sebelahnya. Wanita itu menatap layar kaca lalu berdecak dan kata-katanya sungguh sepaham denganku.
“Kecelakaan ini masih baru saja terjadi dan mengapa mereka cepat sekali menyimpulkan bahwa putrinya sudah meninggal? Apakah mereka sudah mencari di semua lokasi terdekat dengan kejadian? Jika tubuhnya menghilang bukan berarti korban itu tewas bukan? Bisa saja dia terdampar di kota lain atau di pesisir pantai mungkin?
Konferensi pers ini terkesan seolah mereka ingin menghentikan investigasi dan mengumumkan kesimpulan secepat itu. Seolah mereka ingin mendapatkan keuntungan dari kematian wanita itu.”
“Bukankah begitu?” Ia bertanya padaku yang sedang memandangnya heran. Aku tidak bisa mengatakan apapun karena aku tidak mengenalnya. Tidak mungkin aku mengutarakan apa yang terjadi pada orang yang belum aku kenal. Tapi aku merasa semua ucapannya masuk akal. Sangat masuk akal. Bagaimana bisa seorang ayah dengan gegabah menutup semua kemungkinan bahwa putrinya hidup di saat seharusnya masih bisa dilakukan pencarian lebih dalam?
“Clara Hopes. Tim kesehatan jiwa dari Global Health University yang ditempatkan di sini,” ucapnya memperkenalkan diri. Wanita itu terlihat sangat menawan di usianya yang mungkin sekitar 30 tahun. Senyuman dan guratan wajahnya menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang ramah dan terbuka pada siapa saja. Aku rasa tidak perlu mencurigainya. Aku pun menyambut uluran tangannya.
“Nicolas Johnson, bedah syaraf,” sahutku memperkenalkan diri.
“Kupikir kita akan lebih sering bertemu di sini. Senang berkenalan dengan Anda, Dokter Johnsons,” lanjut wanita itu dengan rasa percaya dirinya.
“Nice to meet you too,” balasku dengan beramah tamah. Ada baiknya kita memupuk persahabatan dengan para kolega kita bukan? Dan semua dokter di sini adalah kolega. Aku hanya berharap bisa bekerja sama dengan mereka. Aku rasa berteman dengan Clara juga pasti menyenangkan.
Author POV
Dari arah belakang, pundak Nico dirangkul seseorang yang kini sudah menyurungkan tangannya di hadapan Clara.
“Harrington Adams. Just call me Harris!” Harris ternyata datang tanpa diundang dan seperti biasa matanya berbinar ketika melihat wanita cantik seperti Clara. Clara tersenyum sinis lalu meninggalkan kedua orang itu dengan acuh.
“Sial, dia mengacuhkan aku!” racau Harris yang merasa dianggap angin lalu. Lagi-lagi para wanita hanya mempedulikan Nico tapi tidak padanya. Katakanlah dia kalah pamor dibanding Nico dan itu memang faktanya.
“Kau mencariku?” tanya Nico karena merasa Harris mencarinya.
“Ah… tidak, aku hanya lewat. Kebetulan aku tidak ada pasien jadi kupikir aku ingin pulang lebih awal,” ucap Harris sambil melepaskan tangannya dari bahu Nico.
“Baguslah kalau begitu. Pulang sana daripada jadi pengacau dan perayu di sini,” usir Nico lalu pergi begitu saja meninggalkan sahabatnya yang terlihat sebal kali ini. Ada hal yang lebih penting daripada meladeni Harris yang makin hari makin tidak penting.
Nico berjalan terus hingga ke dalam ruang prakteknya. Tidak ada pasien hari ini dan ini membuatnya memiliki waktu lebih banyak untuk mengurus masalah Angelica.
Ia harus mencari cara agar keluarga Angelica percaya bahwa putrinya masih hidup. Ia tidak akan membiarkan orang-orang jahat menggunakan kabar ini untuk keuntungannya. Angelica harus kembali ke keluarganya. Tapi ia tidak bisa mengembalikan Angelica tanpa bukti otentik. Hanya ada satu cara. Tes DNA.
Ia berpikir sejenak lalu menghubungi seseorang di seberang sana dengan ponselnya. Beberapa saat kemudian panggilan itu tersambung. Nico menghubungi Steward yang sekarang menjabat sebagai Kepala Tim Riset Badan Kesehatan Dunia.
“Halo...”
“Pa, apa aku mengganggu?”
“Tumben kau menghubungi Papa. Apa ada yang mengganggumu?”
“Tidak. Bukan itu. Papa tahu berita kapal yang meledak di perairan Inggris belakangan ini?”
“Ya, Papa melihatnya di televisi semalam. Ada apa?”
“Aku mengenali salah seorang korban yang diberitakan. Pihak televisi menyiarkan kabar bahwa korban itu meninggal tapi aku menemukannya dalam kondisi yang sehat dan sedang dirawat di rumah sakitku.”
“Bagaimana mungkin?”
“Ceritanya panjang, tapi apakah Papa bisa membantuku untuk mencari sampel DNA untuk pasien itu? Aku ingin memberitakan pada keluarganya bahwa putrinya masih hidup dan aku tidak begitu yakin jika tidak memberikan mereka bukti otentiknya.”
“Sampel DNA? Itu pekerjaan yang sulit Nic. Kau tahu ada begitu banyak data di Badan Kesehatan Dunia dan untuk mencari satu di antara milyaran data itu pasti membutuhkan waktu yang tidak singkat.” Badan Kesehatan Dunia memang menyimpan seluruh data kesehatan penduduk dunia. Mereka menyimpannya sebagai arsip yang akan digunakan dalam dunia medis jika dalam kondisi darurat. Oleh karena itu Nico membutuhkan bantuan Steward untuk mengakses data itu karena ia yakin Steward memiliki wewenang di sana.
“Aku tahu. Tapi kumohon, Pa dan orang ini sangat penting artinya bagiku dan bagi keluarganya. Apalagi keluarganya termasuk sebagai orang-orang berpengaruh di dunia. Kumohon bantulah kali ini, Pa,” ucap Nico dengan nada memohon.
Baru kali ini Steward menerima permohonan seperti ini dari Nico. Dan ini pasti seseorang yang penting baginya. Steward terlihat berpikir sejenak.
“Baiklah. Papa akan coba. Sebutkan namanya.”
“Angelica Roberts.”
Steward berhenti mencatat. Ia terkejut mendengar nama itu. Ia mengenali keluarga Roberts dan itu menjadi masa lalu yang kelam bagi Steward. Ia segera menyadarkan dirinya dan menuliskan nama itu pada agendanya. Bagaimanapun ia tidak ingin mengecewakan putranya.
“Papa akan mencobanya.”
-Hong Kong-
Seorang wanita dengan rambut pendek hitam bergelombang keluar dari mobil sedan yang dinaikinya. Seorang penjaga pintu membukakan pintu itu dan wanita itu keluar dengan anggunnya. Di dalam balutan Cheong Sam berwarna hitam dan mantel bulu putihnya, ia berjalan anggun ke dalam gedung bertingkat itu.
Wanita itu mengangguk pada anak buahnya yang sudah membungkuk di hadapannya. Dan, dengan langkah angkuh masuk ke dalam gedung. Gedung itu adalah gedung kesenian termewah di Hong Kong milik konglomerat sekaligus pria terkaya di Hong Kong, Mr Charlie Chen. Dan wanita itu adalah Margareth Chen, putri sulung sekaligus penerus Chen’s Perfect Gallery milik Charlie Chen.
Kaki jenjang wanita paruh baya itu sampai di dalam ruangannya. Ruangan yang luas dengan dinding kaca. Beberapa lukisan, ukiran, pahatan dan benda-benda berseni lainnya terpajang rapi di sudut-sudut dinding.
“Bagaimana persiapan pameran tunggalku, Betty?” tanyanya pada asisten wanitanya sambil melepas mantel bulu putihnya lalu mengambil apron bermotif bunga dan di atasnya terdapat coretan-coretan tinta. Ia memasangnya melalui leher lalu mengikat tali belakangnya dengan sempurna.
“Semua persiapan tinggal 90%, Bu. Tinggal menunggu masterpiece terakhir Anda untuk dipasang di etalase sentral.”
Margareth tersenyum puas lalu menyuruh Betty meninggalkan ruangannya. Ia menghampiri meja kayu miliknya. Di atasnya terbentang selembar kertas putih yang di dalamnya sudah terdapat sebuah lukisan yang dibuat dengan kuas khusus bergambar danau dengan dua ekor angsa di atasnya. Lukisan itu dibuat dengan teknik Gong Bi. Sebuah teknik melukis tradisional China menggunakan kuas khusus serta membutuhkan ketelitian serta kesabaran.
Margareth mengambil salah satu kuas yang ujungnya telah diberikan tinta berwarna hitam. Tangannya dengan cekatan menggoreskan kuas-kuas itu membentuk garis-garis melengkung lalu dengan cepat ia menyelesaikan dua buah perbukitan yang menghias bagian belakang gambar danau.
Ia mengambil kuas yang lain lagi dan membuat sebuah goresan lain hingga membentuk sebuah pohon sakura. Ia tersenyum puas melihat lukisannya itu.
Margareth menutup matanya sejenak untuk berpikir. Ia ingin membuat lukisan itu lebih bernilai dan bukan hanya sekedar sebuah lukisan biasa. Untuk masterpiece pameran tunggalnya tentu saja ia harus membuat karya seni yang istimewa. Ia mengumpulkan segala kemampuannya untuk memikirkan sebuah puisi.
Begitu menemukannya, ia mengambil kuasnya dan beraksi dengan indahnya membuat kaligrafi. Ia pun menuliskan beberapa bait puisi dengan huruf Mandarin di sisi lukisan itu. Seusai menyelesaikan tulisan kaligrafinya. Ia memberikan tanda bahwa itu adalah hasil karyanya. Ia menghela nafasnya dan mengamati lukisan terakhir yang ia buat.
Kini pandangannya beralih pada poci teh di atas mejanya. Poci yang terbuat dari keramik dengan ukiran Cina yang cantik sudah terpajang di sana. Asapnya yang mengepul dari lubang poci membuatnya ingin segera menyesap cairan di dalamnya.
Ia mengambil cawan kecil di atas nampan, di samping poci. Lalu menuangkan isi poci itu ke dalam cawan. Ia mengambil cawan kecil itu lalu menghirup aromanya dalam-dalam.
Ia menempatkan pantatnya ke atas kursi kebesarannya. Ia beristirahat. Membuat sebuah karya seni ternyata begitu menyita tenaga dan pikirannya. Tapi ia sangat puas karena ia menghasilkan karya seni yang bernilai tinggi lainnya. Hingga kini karya seni yang dihasilkannya selalu dinantikan di setiap pelelangan. Pameran tunggalnya juga menjadi rebutan bagi banyak curator yang ingin membeli setiap karya seninya. Tak heran jika setiap karya seninya terjual dengan harga yang fantastis. Semua orang di Hong Kong menghargainya dan bahkan menjulukinya sebagai “Dewi Kesenian”.
Ia menyalakan televisinya untuk melepas penat sambil menyeruput teh Oolong favorit dari cawannya. Tayangan TV kabel yang ia tonton sungguh membosankan. Ia mengganti salurannya hingga ia berhenti saat melihat wajah Greg muncul di layar kaca. Sebuah tulisan berjalan di bawahnya menyebutkan sebuah berita yang mencengangkan.
“Gregory Roberts mengumumkan kematian putrinya.”
Mata Margareth terbelalak. Hatinya terasa sedih dan kini ia berkaca-kaca. Tubuhnya terasa begitu lemas membaca kabar itu.
“Bagaimana bisa ini terjadi? Angelica… putriku…” Air matanya menetes tak terbendung. Ia menumpahkan tangisannya ke atas lukisannya yang belum sepenuhnya mengering. Membuat beberapa bagian menjadi luntur akibat air matanya.
Betty yang hendak memberikan laporan merasa terkejut dengan apa yang terjadi pada bosnya. Apalagi dengan karya seni terakhir yang dibuatnya. Ia merasa begitu panik.
“Bu… Bu… ada apa ini?” tanyanya dengan panik sambil berusaha menenangkan Margareth yang menangis.
“Betty… putriku… putriku… hiks…” ucapnya sambil menunjuk layar televisi. Mata Betty ikut terbelalak.
“Apakah saya harus menghubungi mereka?”
“Tidak. Siapkan pesawat. Aku akan berangkat malam ini juga.”
***
-New York-
Beberapa orang bodyguard berdiri mengiringi langkah kaki Greg. Di belakang Greg, Cody dan Lewis mengikuti langkah kaki pria itu masuk ke dalam Cybertech. Sebuah mobil magnetic sudah berhenti di depan mereka dan rombongan itu mempersilakan Greg untuk masuk terlebih dulu baru anak buahnya yang lain.
“Sudah kau persiapkan semuanya, Lewis?”
“Sudah, Sir! Undangan sudah disebar dan sudah kupastikan mereka semua akan datang.”
“Bagus. Jangan sampai ada kesalahan.”
“Lalu bagaimana dengan keamanannya, Cody?”
“Setiap pintu akan dijaga oleh dua orang. Dan bagian atas akan dijaga oleh setidaknya sepuluh orang.”
Greg tersenyum senang. Tiba-tiba ponsel Lewis dihubungi seseorang.
“Halo… ya… Baik, akan kusampaikan.” Lewis menutup panggilan itu lalu melaporkan informasi yang ia dapat pada Greg.
“Pak, Anda kedatangan tamu.” Lewis kemudian berbisik di telinga Greg. Greg mendengus sebal mendengar ucapan Lewis.
“Ada apa wanita sialan itu kemari?”
“Beliau memaksa untuk bertemu dengan Anda, Pak,” lanjut Lewis. Greg menghela nafas panjang dan mau tidak mau ia harus meladeni kehadiran tamu spesialnya hari ini.
Rombongan Greg sudah sampai di gedung utama Cybertech. Mereka melangkah cepat masuk ke dalam lift dan langsung menuju ke ruangan Greg. Begitu dibuka, seluruh rombongan bodyguard Greg masuk ke dalam dan mengambil posisi, seolah tamu Greg kali ini adalah ancaman bagi bos besar mereka.
Wanita itu terkejut dengan kehadiran seluruh pria berjas itu di sekelilingnya. Ia bagaikan musuh bebuyutan yang bisa mencelakakan Greg.
Tak berapa lama Greg pun masuk ke dalam ruangan. Ia menatap malas kea rah tamu wanitanya lalu berjalan memutar menuju ke meja kerjanya.
“Untuk apa kau kemari?” tanya Greg dengan malas meladeni mantan istrinya itu dan memilih duduk pada kursi kebesarannya dan menatap Margareth bengis.
Tangan wanita itu mengepal. Ia menatap Greg dengan matanya yang memerah karena menahan amarah, kesedihan dan seluruh perasaan negatif lainnya. Semuanya karena Angelica.
“Apa yang kau lakukan pada putri kita?” tanyanya dengan emosional. Air matanya sudah jatuh dan bibirnya bergetar. Ia merasakan kepedihan yang mendalam saat mendengar Angelica dikabarkan tewas dalam kapal itu.
Tapi reaksi Greg sungguh di luar dugaan. Ia malah tertawa.
“Aku sudah menduganya. Kau pasti akan menanyakan kondisinya.”
Margareth maju hingga ke depan meja Greg. Ia menggebrak meja Greg dengan tangannya dan menatap Greg dengan penuh amarah sekaligus kesedihan yang amat dalam.
“Bagaimana bisa kau tidak melindunginya seperti yang kau janjikan waktu itu padaku? Bagaimana bisa seorang ayah tega membiarkan putrinya sendiri tewas dengan konyolnya di atas kapal itu? JAWAB!” Margareth meluapkan semuanya. Ia menyerahkan putri semata wayangnya itu pada Greg di hari perceraian mereka. Greg yang memenangkan hak asuh Angelica dua puluh tahun yang lalu. Dan bisa-bisanya Greg membiarkan kecelakaan itu terjadi dan menimpa Angelica. Ibu mana yang tidak merasakan sedih ketika mendengar putrinya tewas.
“Bukan aku yang menyebabkannya jadi seperti itu. Semua karena kesalahannya sendiri yang terlalu banyak membangkang dan tidak mau menurut. Ia hanya menjalani konsekuensinya,” jawab Greg dengan tatapan datarnya. Seolah menganggap Margareth hanyalah pengganggu.
“Apa katamu? PUTRI KITA TEWAS DI ATAS KAPAL ITU DAN KAU BERKATA ITU KARENA KESALAHANNYA?? KAU b******n! KAU PRIA KOTOR, KEJAM DAN JAHAT!” teriak Margareth memaki Greg dalam tangisan dan amarahnya.
Merasa geram dengan semua makian yang diumpatkan Margareth padanya, Greg menggebrak mejanya.
BRAAKKK!!! Margareth tersentak.
“DENGAR, MARGARETH! Pertama, Angelica bukan putriku tapi PUTRIMU! Kau tahu benar tentang itu. Kedua, bukan aku yang memulai kejadian ini. Ini semua karena pilihan putrimu sendiri. Aku hanya melakukan bagianku. Menyingkirkan apa yang salah.”
“Apa katamu?”
“Angelica telah melakukan kesalahan dan ia harus menerima konsekuensinya.”
“A-apa?”
“Sudahlah, Margareth. Terima saja apa yang sudah terjadi dan jangan ganggu aku lagi! Gadis tengil itu sudah memberikan begitu banyak masalah dan sekarang kau datang untuk membuat masalahku jadi berlipat-lipat.”
Greg memberi tanda pada bodyguard’nya untuk membawa pergi Margareth yang sudah tidak bisa dibendung lagi. Ia sudah tidak tahan menghadapi amarah dan makian Margareth. Tapi belum sempat anak buah Cody beraksi, Lewis yang mengajukan diri untuk mengajak Margareth pergi.
“Ma’am, mari kita pergi,” ucap Lewis dengan sopan.
“KAU PRIA j*****m, GREG! TERKUTUKLAH KAU! KAU LEBIH JAHAT DARIPADA IBLIS!” makinya sambil Lewis menahan tubuh Margareth dan membawanya pergi dari ruangan Greg.
Greg menghela nafas panjang lalu memutar kursinya menghadap jalanan.
“Mengapa kucing nakal itu membawa masalah yang tidak kunjung berakhir bahkan hingga kepergiannya pun ia masih memberiku masalah.”
***
Di luar ruangan, Lewis terus menyeret tangan Margareth hingga ke ruangan tangga darurat. Lewis memperhatikan CCTV yang terpasang lalu mencari titik buta kamera itu tanpa mempedulikan Margareth yang masih memaki-maki Greg dan dirinya dengan bahasa Kanton yang tidak bisa ia pahami.
“LEWIS, APA YANG KAU LAKUKAN?” teriak Margareth sambil menghempaskan lengannya yang diseret oleh pria itu. Lewis memberi tanda dengan jarinya agar Margareth tidak mengeluarkan suara yang keras karena setiap ruangan di Cybertech selalu memiliki penyadap dan CCTV di mana-mana.
“Sssttt… jangan berteriak. Seluruh ruangan di gedung ini dilengkapi dengan penyadap dan kamera pengawas di mana-mana. Sekali kita membuat gelagat yang mencurigakan, seluruh tim keamanan akan datang menghadang,” bisik Lewis di telinga Margareth. Nyali wanita itu langsung ciut. Ia tahu betul seperti apa Greg itu. Pria bengis yang akan menghancurkan siapapun yang menghalangi jalannya atau membocorkan rahasianya.
“Dengarkan aku, Margareth. Aku tahu kau terpukul karena kematian Angelica. Tapi seperti yang kau tahu berita yang kau lihat di televisi itu semuanya palsu,” ucap Lewis dengan serius dengan suara sedikit berbisik agar tidak terekam oleh peredam. Mata Margareth terlihat membola mendengarkan ucapan Lewis.
“Serangan pada kapal itu bukanlah serangan dari teroris, tapi itu perintah Greg sendiri untuk menghabisi Angelica.”
Margareth tidak bisa lagi menutupi wajah terkejutnya. Ia menutup mulutnya karena terkejut. Apa yang sebenarnya terjadi hingga Greg berani menghabisi nyawa Angelica?
“Jangan katakan apapun dan pada siapapun. Kami akan memberitahumu bahkan memberitahu pada dunia apa yang sudah Greg lakukan. Tapi tunggulah hingga waktunya tiba.”