11. Good Bye, Angelica!

2287 Kata
    Pembicaraan keempat pria itu akhirnya berakhir juga. Gregory Roberts menyambut uluran tangan dari agen Hudson dan kedua rekannya yang lain.     “Terima kasih untuk perhatian dan bantuan Anda, Mr Roberts. Saya mewakili Interpol mengucapkan banyak terima kasih,” tutup Finn sambil berjalan keluar dari pintu.     “Francine akan mengirimkan data-datanya pada Anda, Agen Hudson dan anak buahku Cody akan mengirimkan pelakunya pada Interpol. Langkah selanjutnya kami serahkan sepenuhnya pada pihak INTERPOL.”     Ketiga agen INTERPOL itu masuk ke dalam lift yang akan mengantar mereka kembali ke lobby setelah sebelumnya menerima data -data dari pelaku pengeboman yang diberikan oleh wanita, asisten Greg yang tadi mengantarkan mereka masuk. Di dalam lift ketiganya masih memperbincangkan apa yang terjadi di dalam ruangan tadi.     “Aku merasa Cybertech ini memang perusahaan yang hebat! Bayangkan bagaimana mereka menemukan pelakunya hanya dalam hitungan menit,” kata Bill. Ia masih terkagum-kagum saat melihat data kronologis kejadian yang ditunjukkan Greg tadi di dalam ruangan. Mereka memiliki rekam jejak yang sangat rinci bahkan disertai dengan gambar CCTV yang menunjukkan kegiatan pelaku selama kejadian berlangsung.     “Betul, aku juga merasa perusahaan ini layak disebut perusahaan teknologi terbesar dan terhebat di dunia. Lihat saja semua teknologi yang mereka miliki. Bisa mempercepat kerja di semua lini dan semua bidang di masyarakat. Dan kita sebagai Interpol pun juga pasti sangat terbantu dengan teknologi mereka. Pantas saja Interpol selalu membeli peralatan dari perusahaan ini,” imbuh Ernest.     “Oh ya?” tanggap Bill.     “Kau tidak tahu? Semua perlengkapan agen kita berasal dari Cybertech. Mereka memang perusahaan teknologi terbaik dunia!”     “Betul… betul… aku setuju!” Bill menyetujui apa yang dikatakan Ernest. Tapi ketika kedua orang itu mulai terlena dengan semua yang diberikan Cybertech, Finn berpikiran lain. Ia merasa ada yang janggal dengan itu. Memang tidak mudah untuk mengorek informasi dari mereka yang memiliki kuasa dan kekayaan. Bisa jadi ada hal yang ditutupi oleh Greg. Mengapa semua kasus ini terasa terlalu cepat selesai?     “Finn, bagaimana menurutmu? Kita bisa cepat menutup kasus ini kalau begitu dan kita bisa istirahat sekarang,” ujar Bill dengan wajah sumringahnya. Ia ingin meregangkan tubuhnya yang terasa lelah karena bekerja selama itu tanpa istirahat. Finn tidak membiarkannya beristirahat barang sedetikpun tapi tak ia duga bahwa kasus ini lebih cepat selesai dari perkiraan.   “Aku tidak berpikir demikian. Aku memiliki firasat yang aneh. Mengapa kasus ini begitu dengan mudahnya terselesaikan? Seperti ada seseorang yang sudah mengatur rencana dengan sangat rapi untuk menutupi sesuatu di balik kasus ini. Dan lagi, mengapa pria itu tidak mengijinkan INTERPOL untuk menyelidikinya lebih lanjut? Satu hal lagi yang membuatku curiga, mengapa Gregory Roberts seolah tidak merasa kehilangan putrinya padahal putrinya dinyatakan tewas dalam kecelakaan kapal tersebut?”     “Kau merasa seperti itu?” tanya Ernest retoris.     “Sebenarnya aku juga merasa janggal. Mengapa kasus ini begitu mudah selesai? Jika kita bandingkan dengan kasus terorisme lainnya yang pernah terjadi, prosesnya begitu sulit dan memakan waktu hingga berbulan-bulan untuk mengetahui penyebabnya. Tapi, ini begitu mudah.”     “Apapun itu, aku rasa kita tidak bisa buru-buru menghentikan penyelidikan. Kasus ini hanyalah sebuah awal dari kasus yang sesungguhnya.”     Ketiga orang pria itu akhirnya sampai di lobby perusahaan. Mereka berjalan beriringan tapi tiba-tiba ada seorang pria nyaris botak dengan jas laboratoriumnya dengan tergopoh-gopoh tidak sengaja menabrak mereka. Tas berisi dokumen yang dipegang Bill jatuh ke lantai.     “HEY!” sahut Bill yang tidak terima.     Pria itu menoleh ke arah mereka dan terkejut saat melihat isi tas itu sudah bertebaran di lantai.     “Oh, maafkan aku!” ucap pria itu sambil membantu memungut semua dokumen yang tercecer. Saat menatap salah satu lembaran yang tercecer, matanya begitu terkejut saat melihat salah satu data diri anak buahnya di dalam daftar itu. Ia yakin ada sesuatu yang terjadi hingga data itu ada di tangan pria-pria yang tidak dikenalnya itu.     Ia memungut lembaran terakhir lalu memberikan kepada Bill.     “Maafkan aku yang tidak melihat keberadaan kalian. Kalian dari mana? Aku sepertinya tidak pernah melihat kalian di sini,” tanya Bernard, berusaha beramah tamah.     “Kami dari Interpol. Kami menyelidiki kasus kecelakaan kapal Sea Master yang diketahui disewa oleh Cybertech.”     “Oh begitu. Lalu mengapa ada data staff kami di tangan Anda?” tanya Bernard sambil menunjuk pada dokumen yang dibawa oleh Bill.     “Kami hanya mengambil data karena masih melakukan investigasi lebih lanjut. Terima kasih. Permisi.” Finn mengakhiri pembicaraan itu. Kasus ini masih belum berakhir. Mereka masih harus menginterogasi tersangka dalam kasus itu dan mereka jelas tidak boleh membocorkan rahasianya pada siapapun.     Ketiga pria berjas itu akhirnya meninggalkan Cybertech. Sementara di dalam sana, Bernard mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi seseorang.     “Aku ingin bertemu. Temui aku di tempat biasa.”     Benard sudah menunggu orang yang dihubunginya barusan di sebuah ruangan sempit, tempat menyimpan semua peralatan kebersihan. Tak berapa lama seorang pria dengan tubuh tegap dan berjas masuk ke dalam.     “Cepat, katakan! Ada apa? Kita bisa dicurigai jika terlalu lama di sini,” kata pria itu yang adalah Lewis dengan nada penuh kewaspadaan.     “Jelaskan mengapa ada data Mahmed di tangan Interpol? Apa ini karena Greg b******n itu yang mengkambinghitamkannya padahal dia yang memerintahkan semuanya?” tanya Bernard dengan kilatan emosi dalam matanya. Mahmed adalah murid kesayangannya. Otaknya cerdas dan ia punya segudang inovasi di dalam otaknya.     Lewis tidak menjawab apapun tapi ia mengangguk.     BRAK!     Bernard memukul lemari kayu di hadapannya dengan penuh emosi.     “Apa yang sebenarnya pria itu inginkan? Tidak cukupkah ia mengorbankan Angelica? Sekarang ia mengorbankan orang lain yang tidak bersalah untuk dijadikan kambing hitam?” ucap Bernard dengan emosi. Air matanya menetes saat mengingat kapal yang dinaiki Angelica dibumihanguskan dengan alat penemuan terbarunya yang bahkan belum siap diluncurkan. Bernard memang orang yang lembut hati. Ia tidak tahan jika satu per satu anak buah atau orang-orang terdekatnya diperlakukan tidak adil. Terlebih tentang Angelica dan nasib tragis wanita itu.     “Bernard, kau tidak boleh bertindak gegabah atau Greg akan menghabisi kita semua.”     “Bagaimana bisa aku tetap hidup jika semua orang di dekatku menjadi korban kejahatan Greg, Lewis?” ucap Bernard dengan penuh emosi. Lewis segera membekap mulut Bernard agar suaranya tidak didengarkan oleh orang lain yang berlalu lalang di luar ruangan itu.     “Bernard, dengarkan aku! Kita tidak boleh gegabah. Kita masih membutuhkan banyak bukti untuk menggagalkan semua yang Greg akan lakukan. Jadi jangan menunjukkan gelagat mencurigakan di depan Greg. Mengerti? Jika kau terbaca sekali lagi, maka tamatlah sudah riwayat kita semua. Ingat, ini belum berakhir. Bagaimanapun juga kita harus membuat pria itu meringkuk dalam penjara.” Bernard mengangguk dan Lewis melepaskan tangannya yang membekap mulut Bernard. Kemudian keduanya bergantian keluar dari ruangan kecil itu dan berjalan ke arah yang berlainan.     Sesaat kemudian dari arah berlawanan, rombongan Greg dengan para bodyguard-nya berjalan ke arah Lewis. Jantung Lewis berdetak tak karuan tapi ia adalah pria yang pandai menyembunyikan emosinya. Ia berusaha untuk tampil setenang mungkin.     “ There you are, Lewis!” ucap Greg yang baru saja lewat di hadapan Lewis dengan beberapa orang bodyguard serta Cody yang selalu mengekorinya.     “Anda mencari saya, Sir?”     “Persiapkan konferensi pers sore ini. Aku akan mengumumkan tentang kecelakaan kapal itu.” Lewis mengangguk menanggapi permintaan Greg itu dan ia sudah yakin Greg akan melakukan hal itu untuk menutupi dari dunia apa yang sudah dilakukannya. Ia memang serigala berbulu domba.     “Oh, dan jangan lupa aku membutuhkan air mata buatan. Tidak mungkin aku menangis tanpa air mata,” ucap Greg lalu pergi bersama rombongannya meninggalkan Lewis di sana. Jelas Greg tidak dapat menangis karena pria itu sudah membuang jauh-jauh perasaann sentimentilnya. Ia tidak menyesal dengan kehilangan Angelica atau Caleb sekalipun. Ambisi membutakan segalanya.     Dari kejauhan Lewis menatap Greg dengan penuh kebencian. Pria itulah yang membuat ia harus kehilangan putranya. Sampai kapanpun ia tidak akan pernah memaafkan Greg.     “Tunggu saja waktu kehancuranmu, Greg!” ***     Ruangan konferensi pers Cybertech telah dipadati oleh para wartawan dari berbagai media massa. Mulai dari media massa dalam negeri hingga luar negeri mereka sudah bersiap di tempat. Menunggu waktu konferensi pers dimulai.     Bukan tanggung-tanggung, berita yang mereka liput ini adalah berita besar yang melibatkan perusahaan sebesar Cybertech di perairan internasional. Terlihat para kameramen dan fotografer saling berebut tempat terbaik untuk mendapatkan dokumentasi konferensi pers.     Beberapa saat kemudian, Greg beserta para ajudan serta bodyguard’nya masuk ke dalam ruangan konferensi pers. Bernard dan Lewis mengikuti di belakang rombongan Greg. Kemudian semuanya sudah berada di tempat mereka masing-masing. Greg duduk di tengah, tempat semua microphone berkumpul, sementara Bernard duduk di samping Greg.     Kilatan lampu flash mulai memenuhi ruangan secara bertubi-tubi. Setiap wartawan sudah menunggu dibukanya sesi tanya jawab karena ada begitu banyak hal yang menjadi pertanyaan mereka saat ini.     “Terima kasih pada seluruh awak media yang bersedia menghadiri konferensi pers kali ini. Sebelum memulai konferensi pers ini, saya ingin mengucapkan Cybertech turut berduka cita pada seluruh keluarga awak kapal kargo yang Cybertech sewa, Sea Master, yang meledak beberapa hari yang lalu. Cybertech mengalami kerugian yang tidak terkira jumlahnya. Belum lagi ada begitu banyak karyawan kami yang tewas dan menjadi korban dalam kapal itu. Kami sungguh sangat berduka atas kejadian ini.” Greg tiba-tiba terdiam sejenak. Ia menundukkan kepalanya dan dari balik sakunya ia meneteskan air mata buatan ke atas matanya. Sehingga ketika ia kembali menatap ke depan terlihat matanya sudah basah karena air mata.     “Bukan hanya Anda saja yang kehilangan, saya pun juga kehilangan Angelica, putri saya sendiri di atas kapal tersebut.” Greg menunjukkan raut wajah sedihnya bahkan terlihat dirinya sebagai ayah yang sangat terpukul atas kematian putrinya. Sandiwara yang sangat bagus untuk mengelabui semua orang.     Lewis yang berada di belakangnya tidak ketinggalan membuat drama ini menjadi lebih riil. Ia menepuk-nepuk pundak Greg seolah ikut berbela sungkawa juga. Padahal, ia jelas-jelas tahu bahwa Greg-lah yang menjadi dalang bagi semuanya.     Para wartawan terlihat termakan oleh ucapan Greg yang memilukan itu. Hingga pria itu kembali menegakkan kepalanya dan memandang para wartawan di hadapannya.     “Maafkan saya. Saya terlalu emosional untuk menyampaikan ini. Putri saya memaksa untuk ikut di dalam kapal itu karena ia ingin melakukan sidak standardisasi pengiriman barang kami hingga ke tujuan. Tapi saya tak menyangka jika ia menjadi korban pengeboman kapal itu. SAYA TIDAK AKAN MEMAAFKAN APA YANG SUDAH PELAKU ITU LAKUKAN PADA PUTRIKU!” Greg mulai terlihat emosi seolah mengecam pelaku pengeboman. Walau padahal pelaku aslinya adalah dirinya sendiri.     Kini para wartawan sudah siap dengan pertanyaan mereka. Seorang wartawan wanita dipersilakan untuk memberikan pertanyaan.     “Kami mendapat informasi bahwa ditemukan sebuah alat di antara puing-puing kapal yang diduga adalah bom buatan Cybertech. Apa benar itu merupakan teknologi Cybertech? Dan apakah Cybertech memang sengaja menciptakan kecelakaan ini?”     Pertanyaan itu terlihat seperti sebuah tuduhan bagi Greg. Tapi ia sudah menyiapkan jawabannya.     “Betul. Kapal itu dibom dengan drone terbaru buatan Cybertech. Tapi kami pastikan bukan kami yang melakukannya!”     Kini wartawan pria yang lanjut bertanya.     “Apakah ini artinya ada oknum tertentu yang sengaja melakukannya atas nama Cybertech?”     “Memang benar. Ada oknum yang sengaja ingin membalas dendam pada Cybertech dan mereka menyabotase teknologi kami untuk menghancurkan kapal itu dan membuat kerugian yang besar bagi Cybertech.”     Seketika ruangan riuh ketika Greg mengungkapkan hal itu.     “Lalu, siapa pelakunya?”     “Apakah Staff dari Cybertech sendiri?”     “Apakah Cybertech sudah melaporkannya ke pihak kepolisian?”     Semua wartawan terlihat sibuk dengan pertanyaannya masing-masing. Mereka memberondong Greg begitu saja. Tapi Greg tetap berusaha tampil tenang.     “Kami sudah menemukan pelakunya. Dengan teknologi kami, kami berhasil melacak keberadaannya dan semua data itu sudah kami berikan pada pihak yang berwajib beserta dengan pelakunya.”     Semua wartawan terlihat masih ingin bertanya lebih jauh lagi tapi sayangnya pihak Cybertech telah mengakhiri sesi konferensi pers tersebut. Setelah mengucapkan terima kasih dan pernyataan bela sungkawa, Greg dan seluruh jajarannya meninggalkan ruangan.     Sementara di ujung sana, sepasang mata menatap tajam ke layar televisi itu. Ia bisa melihat bahwa Greg sungguh-sungguh ingin terlihat sebagai orang yang baik. Dan, ia semakin yakin bahwa data staff Cybertech yang diberikan padanya beberapa saat yang lalu itu hanyalah kamuflase agar perhatian Interpol teralihkan pada staff itu dan bukan mencurigainya sebagai pelaku. Staff itu dijadikan kambing hitam atas semua hal yang Greg lakukan.     Semua rencana itu terlihat sangat mulus untuk menutupi kejahatan seseorang. Belum lagi konferensi pers ini. Terlihat semakin menguatkan dugaan Finn bahwa Greg sedang menutupi sesuatu. Tapi semua kejanggalan itu sudah tercatat dan terekam dalam pikiran Finn. Ia makin yakin harus menyelidiki kasus ini lebih dalam dan kasus ini bukan hanya tentang kecelakaan kapal. Pasti ada kasus yang lebih besar tersembunyi di baliknya. *** -St Ives-     Nico berpikir keras bagaimana caranya untuk memberitahu keluarga Angelica jika wanita itu masih hidup. Jika panggilan telepon tidak bisa dilakukan, ia akan mencari cara lain. Mungkin ada baiknya jika ia mengirim surat atau email untuk keluarganya. Ia hanya berharap keluarganya masih menerima kembali kehadiran Angelica.     Ia mengarahkan pandangannya pada layar monitor di hadapannya. Ia mencari alamat email dari Gregory Roberts. Ia mencari di semua situs yang bisa ia temukan tapi lagi-lagi tak ada satupun yang mencantumkan alamat email Greg. Mengapa pria itu misterius? Hingga data pribadinya tidak diungkap di media bahkan internet sekalipun.     Saat Nico hampir frustasi, mata Nico menatap layar televisi di hadapannya yang sedang menayangkan konferensi pers itu. Semua orang di dalam rumah sakit kini memandang layar kaca itu dengan terpaku. Berita kecelakaan kapal itu menjadi heboh setelah dinyatakan sebagai bagian dari aksi sabotase karena dendam pribadi karyawan pada Cybertech.     “Bukan hanya Anda saja yang kehilangan, saya pun juga kehilangan Angelica, putri saya sendiri di atas kapal tersebut.     Maafkan saya. Saya terlalu emosional untuk menyampaikan ini. Putri saya memaksa untuk ikut di dalam kapal itu karena ia ingin melakukan sidak standardisasi pengiriman barang kami hingga ke tujuan. Tapi saya tak menyangka jika ia menjadi korban ledakan kapal itu.”     Nico terkejut dengan pernyataan Greg. Apakah terlambat untuk mengembalikan Angelica pada keluarganya sekarang? *** A/N: Hmm… gimana nasib Angelica? Akankah Angelica kembali?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN