10. Investigasi

2701 Kata
    Nico sudah kembali ke rumah dinasnya. Shift jaganya berakhir dan sekarang ia digantikan oleh dokter lain. Ia diizinkan kembali setelah semalaman berjaga untuk memantau kondisi korban ledakan kapal yang masih selamat.     Nico meletakkan seluruh peralatan yang dibawanya ke atas ranjangnya. Ia merebahkan dirinya ke atas ranjangnya yang sederhana sejenak. Ia melirik ke arah ponselnya yang tergeletak di sisi bantalnya. Mungkin ini saatnya untuk menghubungi keluarga Angelica. Tapi anehnya tidak ada satupun data tentang Gregory Roberts di internet. Apakah memang pria itu ingin merahasiakan data pribadinya? Pria yang misterius.     “Lalu bagaimana aku menghubungi Mr Roberts?” mata Nico tertuju pada sebuah nama yang muncul di browser. Cybertech. Nico bisa menghubungi Greg melalui Cybertech!     Ia menekan deretan angka di atas ponselnya dan panggilan itu tersambung ke layanan panggilan Cybertech. Tak berapa lama panggilan itu pun dijawab oleh salah satu customer service dan sudah bisa dipastikan yang menjawab adalah robot yang diprogram khusus untuk merespon seluruh pertanyaaan atau keluhan yang disampaikan pelanggan melalui telepon.     “Selamat pagi. Salam dari Cybertech. Saya, Cybil siap melayani Anda. Apa keluhan Anda?”     Nico tersentak saat menyadari bahwa panggilan itu dilayani oleh seorang robot. Tapi apa salahnya mencoba?     “Saya ingin berbicara dengan Mr Gregory Roberts.”     “Mohon maaf, pesan Anda tidak dapat kami proses. Silakan sebutkan masalah yang Anda hadapi sekali lagi.”     Nico menggeram kesal. Ia yakin robot itu tidak diprogram untuk bisa menghubungkannya dengan seseorang yang ada di dalam perusahaan. Atau daftar pertanyaan yang Nico tanyakan tidak termasuk dalam programnya.     “Mohon maaf, saya membatalkan panggilan ini.”     “Baik. Terima kasih sudah menghubungi Cybertech.”     Nico menutup panggilan itu. Ia membaringkan tubuhnya kembali ke kasurnya.     “Bagaimana caranya aku menghubungi keluarganya?” Tak lama kemudian mata Nico pun terpejam. ***         -Markas Interpol-     Seorang pria berbadan tegap, bermata hijau, rambut cepak dengan garis wajah yang tegas serta misai tipis masuk ke dalam sebuah ruangan. Di dalam darahnya mengalir darah Rusia-Amerika. Tubuhnya tegap dan sorot matanya tajam. Agen senior Interpol yang sudah terbiasa ditugaskan dalam berbagai penyelidikan baik diam-diam atau penyelidikan terbuka.     Ratusan kasus dipecahkannya dalam waktu relatif singkat dibandingkan dengan agen lain. Pria yang tidak pernah tanggung-tanggung dalam menyelesaikan tugasnya. Dialah Finn Hudson.     Finn berjalan dengan langkah mantap ke dalam ruangan tempat timnya berada. Tak disangka, di dalam sana sudah ada atasannya yang bersiap untuk memberikan pengarahan pada timnya. Kasus baru rupanya.     Pria di hadapannya sudah berdiri tegap dengan balutan jas Armani hitamnya. Kepalanya nyaris botak tapi jangan remehkan analisa dan kemampuannya dalam memimpin tim.  Pria itu adalah atasan langsung Finn. Dialah Carlson Ford. Carlson membawahi beberapa regu penyelidik sekaligus atau dengan kata lain ia yang bertanggung jawab bagi penyelidikan beberapa kasus sekaligus.     Carlson berdiri di hadapan seluruh anggota tim Finn yang terdiri dari lima orang itu. Dua agen lapangan junior Bill dan Ernest. Serta tiga agen yang bergerak di belakang layar dan persenjataan, Lilith, Andrew dan Mark.     Carlson menepuk tangannya beberapa kali dan seketika hiruk pikuk di dalam ruangan itu terhenti.     “Perhatian! Kita mendapatkan kasus baru. Ledakan kapal Sea Master yang baru saja terjadi di perairan Inggris. Kapal Sea Master mengangkut persenjataan dengan teknologi terbaru milik Cybertech, perusahaan pemasok senjata berteknologi tinggi ke Inggris. Tapi di tengah perjalanan kapal itu dibom. Seluruh korban berada di Inggris dan mereka adalah warga negara Amerika. Radar kita mendeteksi adanya pergerakan aneh yang datang dari Amerika saat ledakan kapal itu terjadi,” ucap Carlson pada anak buahnya.     “Dugaan sementara, kasus ledakan kapal yang terjadi adalah bagian dari aksi terorisme sebagai aksi balas dendam. Pemerintah Amerika baru saja mengirimkan serangan bom di sarang teroris dan kapal milik Amerika itu dibom sebagai bentuk balas dendam mereka. Kami juga menduga pelakunya menyusup ke Amerika untuk mengkambinghitamkan negara itu. Itu yang menyebabkan arah datangnya bom adalah dari Amerika.     Tapi semua ini baru dugaan. Misi kalian adalah mengumpulkan bukti dan saksi hingga kasus ini terkuak seluruhnya,” sambungnya.     Finn yang semula menggosok dagunya untuk mendengarkan dengan seksama sekarang berada dalam posisi siap mengkomando timnya.     “Kita akan mulai dengan mengumpulkan saksi mata dari kasus ledakan itu. Kita akan berangkat ke Inggris esok hari. Ernest dan Bill, kalian akan menemaniku. Mark siapkan penerbangan untuk kami malam ini. Andrew dan Lilith dapatkan informasi sebanyak yang kalian bisa dapatkan tentang kecelakaan kapal itu.” Finn memberi arahan pada timnya. Setelah itu ia mengangguk pada Finn agar pria itu mengambil alih semuanya.     "Yes, Sir!” seluruh anggota tim Finn bergerak. *** -St Ives, Inggris-     Keesokan paginya di Inggris, Finn dan kedua anak buahnya sudah tiba di rumah sakit tempat para korban kecelakaan kapal itu dirawat. Ia berpencar dengan anak buahnya karena ia mendapatkan informasi bahwa ada tiga rumah sakit yang ditugaskan untuk menangani korban kecelakaan kapal itu. Ia pergi ke salah satunya, rumah sakit Eternity.     TOK… TOK… TOK…     Finn masuk ke dalam salah satu ruangan pasien di rumah sakit Eternity. Perawat dan dokter yang memeriksa pasien itu meninggalkan mereka di sana. Seisi rumah sakit sudah tahu bahwa hari ini petugas INTERPOL datang untuk melakukan wawancara pada korban kecelakaan kapal yang masih selamat.     Pria itu menarik sebuah kursi di sisi ranjang lalu dengan hati-hati ia menempatkan pantatnya di sana.     “Perkenalkan saya Hudson. Finn Hudson. Interpol,” ucap pria itu sambil menunjukkan kartu identitas Interpol pada pasien dengan kaki yang sudah diamputasi dan beberapa luka bakar di tangannya. Setelah pasien itu mengangguk barulah Finn memulai penyelidikannya.     “Kami sedang menyelidiki kasus kecelakaan kapal yang terjadi dua hari lalu. Dan kami ingin mendapatkan informasi sebanyak mungkin tentang penyebab kecelakaan itu.” Pasien itu terlihat ketakutan. Hudson tahu bahwa ia harus membuat suasanya penyidikan lebih cair agar saksi tidak tertekan, mengingat kondisinya yang terluka cukup parah.     Finn tersenyum sejenak lalu membuka buku catatan dan menyiapkan penanya.     “Tenanglah, kami hanya akan meminta keterangan Anda saja,” ucap Finn sambil melirik ke arah pasien. Pasien itu tersenyum hambar dan berusaha membetulkan tubuhnya yang melorot.     “Baiklah, silakan ceritakan apa saja yang Anda lihat saat kecelakaan itu terjadi.”     Pasien pria yang diketahui bernama Sandy McNaughty itu terlihat mengambil nafas dalam-dalam sebelum ia menceritakan apa yang terjadi.     “Malam itu usai berpesta kami kembali ke dek masing-masing untuk beristirahat dan aku yang mendapatkan tugas untuk membersihkan sisa-sisa pesta. Di saat aku membersihkan kotoran-kotoran sialan itu tiba-tiba saja ada beberapa buah benda mirip piring terbang seukuran ini,” kata Sandy sambil membentangkan tangannya kira-kira setengah meter ke depan dadanya.     “Benda-benda itu berwarna transparan atau bahkan mungkin hitam. Benda-benda tidak begitu terlihat karena saat itu malam hari. Tapi yang aku tahu benda-benda itu tiba-tiba meluncurkan sebuah benda berukuran kecil berwarna hitam ke beberapa sudut lalu menghilang ke langit. Aku bersumpah aku tidak akan melupakan kejadian itu.     Mungkin itu makhluk asing atau apapun. Yang pasti setelah aku melihat mereka menghilang tiba-tiba saja benda kecil itu… BOOOMM!!! Ia meledakkan seisi kapal dalam sekejap. Tidak secara bersamaan tapi dalam waktu yang berdekatan. Aku sungguh panik dan aku berteriak untuk membangunkan seluruh awak kapal yang lain. Aku…” pria itu terus menceritakan apa yang dialaminya dengan penuh emosional dan Hudson mendengarkan dengan teliti apa yang sebenarnya terjadi.     Setelah dirasa mendapatkan informasi yang ia butuhkan, ia meminta izin untuk undur diri.     Di kamar hotel tempat mereka menginap ketiga agent itu berkumpul untuk membahas hasil temuan mereka.     “Kecelakaan kapal ini terjadi secara masif dan ledakannya cukup besar bahkan hampir seluruh awak kapalnya menderita luka parah dan banyak di antara mereka yang meninggal. Aku sulit mendapatkan informasi dari korban karena hampir seluruh mereka masih dalam kondisi tidak sadarkan diri,” lapor Ernest yang pergi ke rumah sakit Health Priority.     “Betul, di rumah sakitku pun mendapatkan informasi yang sama. Bahkan korban yang berhasil selamat hanya ada dua orang. Itupun salah satunya masih trauma dan tim medis melarangku untuk melakukan wawancara padanya karena kondisi psikologisnya masih terganggu. Dan, dia satu-satunya korban wanita di sana.” Kali ini Bill yang melaporkan temuannya dari rumah sakit Peaceful Health dan pasien wanita yang dimaksud adalah Esther Douglas.     Finn menghela nafas panjang lalu mengalihkan pandangannya pada anggota timnya yang lain yang sedang menatapnya menunggu informasi yang didapatkan pria itu.     “Aku mendapatkan informasi penting. Kecelakaan kapal ini betul disebabkan karena sebuah bom. Laporan dari saksi mata menyebutkan ia melihat sebuah benda mirip seperti ranjau yang diluncurkan oleh drone.”     “Drone?” tanya Bill dan Ernest bersamaan. Mereka terkejut dengan teknologi itu. Setahu mereka senjata canggih itu hanya digunakan sebagai senjata militer untuk perang tapi bagaimana bisa drone digunakan untuk meledakkan kapal warga sipil. Apakah ini sabotase?     “Hubungi kantor pusat.”     Mereka melakukan conference call ke kantor mereka. Mereka melaporkan semua data temuan mereka. Salah satu anak buahnya menampilkan data-data temuan mereka dalam sebuah skema yang dapat dilihat bersama. Beberapa di antaranya juga terdapat gambar puing-puing kapal yang diambil oleh tim penyelamat waktu itu.     Finn mengamati semua data yang terpampang di layar monitornya. Ia tahu bahwa ini tindakan pembunuhan massal yang terencana. Tapi apa yang menjadi targetnya?     Tiba-tiba telepon kantor mereka berdering, salah satu anak buah Finn mengangkat telepon itu lalu mencatat isi pesannya. Matanya terbelalak dan ia menutup gagang telepon itu lalu melaporkan apa yang ia dengar pada Finn yang masih tersambung dalam rapat online itu.     “Pak, tim penyelamat menemukan sebuah benda aneh di salah satu puing kapal. Benda itu sepertinya mirip seperti sebuah bom. Mereka akan mengirimkan datanya pada kita.”     Tak berapa lama, anggota tim Finn yang lain mendapatkan gambar yang dimaksud.     “Pak, gambarnya sudah kami terima.”     “Tampilkan di layar!” perintah Finn cepat.     Layar LCD mereka berubah menjadi sebuah gambar potongan kayu dari badan kapal yang di atasnya menempel sebuah benda berbentuk bulat, pipih berwarna hitam dengan diameter sekitar sepuluh sentimeter.     “Perbesar gambar itu!” anak buah Finn melakukan sesuai perintah.     Sekarang gambar itu memperlihatkan bagian dalam dari benda bulat itu. Terlihat ada beberapa buah kabel yang terpasang di sana, ada sebuah bola lampu berukuran sangat kecil yang terlihat sudah pecah, serta ada sebuah benda berbentuk kotak mirip seperti sebuah baterai.     “Betul, ini adalah bom jarak jauh yang diluncurkan melalui kendali sistem komputer tertentu. Jangan-jangan bom inilah yang dikendalikan oleh teroris itu.  Dengan kata lain, mereka berada di tempat bom ini dikendalikan atau dengan kata lain tempat di mana hanya ada sistem untuk mengendalikan bom ini,” gumam Finn sambil terus memandangi gambar itu. Matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah garis putih di atas benda itu.     “Mark, perbesar lagi.” Mark, anak buah Finn lainnya memperbesar gambar lagi.     “Arahkan ke garis putih itu.” Gambar itu menunjukkan sisi lain dari gambar. Garis putih itu makin lama makin nampak seperti sebuah tulisan. Finn memicingkan matanya dan ia terbelalak membaca tulisan yang ada di sana.     “Cybertech!” ***     -Kantor pusat Cybertech, New York-     Tiga orang pria dengan pakaian rapi dan serba hitam berjalan dengan gagah masuk ke dalam Cybertech. Mereka baru saja menempuh perjalanan yang sangat panjang dari Inggris langsung menuju ke New York. Mereka harus menyelesaikan kasus ini secepat mungkin. Setelah mendapatkan data bahwa bom otomatis itu adalah produk Cybertech, mereka langsung menjadwalkan interview dengan pihak Cybertech yang mungkin terlibat dalam kasus ini.     Mereka mendatangi meja resepsionis. Dan ternyata mereka berhadapan dengan sebuah robot bertubuh seorang wanita yang membawa sebuah tablet.     “Selamat datang di Cybertech. Ada yang bisa saya bantu?” tanya robot wanita itu sambil menatap ketiga pria itu bergantian, seolah ia berbicara dengan mereka. Tiga orang pria yang ditatap robot itu terkejut dengan teknologi yang ada di hadapan mereka. Baru kali ini mereka berbicara dengan robot.     Hudson berdeham sebelum memulai perkataannya.     “Kami ingin bertemu dengan Gregory Roberts.”     “Apakah Anda sudah memiliki janji sebelumnya?” sahut sang robot yang terkesan seperti perkataan otomatis yang pasti akan ditanyakan pada semua pengunjung Cybertech.     “Kami agent Interpol dan kami ingin menanyakan beberapa hal terkait dengan kapal cargo Sea Master beberapa waktu yang lalu.”     “Baik kalau begitu. Kami sudah menyimpan data Anda. Silakan tunggu sebentar.” Tablet di tangan robot itu menunjukkan setiap langkah kerja yang dijalankan sekarang. Hanya membutuhkan waktu kurang dari satu menit hingga robot itu mendapatkan konfirmasi.     “Silakan masuk. Ruangan CEO kami ada di lantai 10. Rekan kami akan mengantarkan Anda.”     Tiba-tiba seorang wanita dengan pakaian yang mirip seperti robot itu sudah berdiri di hadapan ketiga pria itu sambil membawakan name tag tamu untuk mereka bertiga.     “Silakan gunakan ini dan ikuti saya,” kata wanita itu dan langsung dituruti oleh ketiga pria INTERPOL.     “Kupikir dia juga robot,” bisik Bill, salah satu anak buah Hudson.     “Aku juga berpikir begitu, tapi tidak mungkin robot memiliki b****g seseksi itu,” jawab Finn dan langsung disambut cekikan oleh dua orang anak buahnya.     “Silakan masuk.” Wanita itu mempersilakan ketiga pria itu masuk ke dalam lift dan mengantarnya di ruangan Greg.     Mereka melihat gedung Cybertech begitu terlihat megah dan mewah. Hampir seluruh bagian gedung dilengkapi dengan teknologi canggih. Terlihat beberapa robot berlalu lalang di sekitar gedung. Belum lagi alat transportasi tanpa roda yang mirip seperti mobil lewat di lantai dasar. Bahkan untuk dekorasi gedung pun dibuat dengan teknologi. Ada sebuah air terjun di tengah gedung yang seluruhnya dioperasikan dengan teknologi.     Lift itu akhirnya sampai di lantai yang dituju. Wanita itu mengantar mereka hingga ke depan ruangan Greg. Sesampainya di dalam ruangan, Greg memutar kursinya.     “Well… well… well… selamat datang. Mari silakan duduk,” ucapnya sambil bangkit berdiri dan menyalami ketiga pria itu bergantian kemudian mempersilakan tamunya duduk di sofa ruangannya.     “Mau kopi? Francine buatkan tiga kopi!” belum juga ketiga pria itu menjawab pertanyaan Greg, pria itu langsung memutuskan.     “Ada yang bisa kubantu?” tanya Greg sambil tersenyum ramah pada para tamunya.     “Begini, kami menemukan ini pada puing-puing kapal Sea Master yang kecelakaan beberapa waktu lalu,” ucap Ernest, anak buah Greg yang lain sambil menunjukkan gambar benda hitam yang sudah diperbesar itu pada Greg.     Greg mengambil gambar itu dan melihatnya dalam-dalam. Lalu ia menghela nafas dan berusaha tampil setenang mungkin.    “Hmm… Apakah kalian mencurigai perusahaan kami yang melakukannya? Jika memang kami yang melakukannya, Anda perlu tahu bahwa putri saya juga menjadi korban!” jawab Greg dengan nada meninggi.     “Maafkan kami, Mr Roberts.” Sejenak Finn merasa ada yang aneh dengan ucapan Greg. Mengapa saat ia menyebutkan tentang Angelica, ekspresi Greg masih terlihat santai bahkan tidak merasa kehilangan putrinya? Apakah Greg menutupi sesuatu?     Greg mengubah posisi duduknya menjadi sedikit menunduk. Ia mengatupkan kedua telapak tangannya dan menggosoknya lalu menatap dengan penuh aura menakutkan pada ketiga tamunya itu.     “Interpol menduga di dalam kantor ini terdapat mata-mata teroris dan kami bermaksud melakukan penyelidikan. Kami harap kami bisa mendapatkan akses untuk melakukan penyelidikan di Cybertech,” lanjut Finn. Ia tidak gentar sedikit pun walau ditatap begitu mengerikan oleh Greg.     “Mata-mata? Teroris?”     “Benar.”     Greg kali ini tersenyum penuh arti. Ia mengangkat tubuhnya lalu menyandarkan punggungnya kembali ke kursi lalu kembali menatap serius pada ketiga agen di hadapannya.     “Urusan di dalam Cybertech adalah milik Cybertech. Aku tidak bisa memberikan izin untuk itu. Tapi… aku bisa membantu menangkap cecunguk itu. Cecunguk yang membuat aku kehilangan putriku dan kerugian besar pada perusahaanku!” ucap Greg dengan penuh amarah. Sepertinya setelah ini Greg akan mendapatkan anugerah Oscar karena aktingnya yang meyakinkan seluruh agen Interpol, termasuk Finn.     Tapi Finn mengendus keanehan. Mengapa Greg tidak memberikan akses untuk Interpol ke dalam Cybertech? Apakah ada hal yang ditutupi pria itu?     “Pada saat kapal itu meledak kami menemukan bukti kejanggalan yang dilakukan oleh salah satu tim kami. Kami menemukan bukti ia melakukan sabotase dan melepaskan teknologi drone-drone terbaru kami. Aku tidak tahu apa motifnya dan aku rasa itu bagian dari tugas kalian bukan?”     “Di mana dia?”     “Kami sudah mengamankannya. Anak buahku akan mengantarkan langsung pada kalian. Begitu juga dengan bukti dan data lain terkait tindakan sabotasenya.”     Para agen INTERPOL muda itu sejenak merasa Greg sangat membantu mereka hingga mereka tidak perlu bersusah payah untuk menangkap pelakunya. Tapi tidak dengan Finn. Finn terus merasakan ada yang janggal dari kata-kata Greg tersebut. Seolah Greg ingin menutup akses penyelidikan lanjutan dari kasus ini. Mungkinkah pria itu menyembunyikan sesuatu di balik pengeboman kapal? Atau jangan-jangan pelaku sebenarnya adalah Greg? Tapi apa motifnya? Bagian dari teroris? Entahlah. Semua harus diselidiki hingga tuntas. *** A/N: Bikin deg-deg’an dan penuh tanda tanya. Berhasil nggak kali ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN