Bagian 12 : Hutang Gaji

1555 Kata
Mataku berkeliling, mencari keberadaan Pasa yang katanya sudah berada di salah restoran masakan jepang di salah satu mall. Dari kejauhan aku bisa melihat Pasa melambai ke arahku yang kubalas dengan lambaian tangan juga. Aku berjalan menghampirinya yang ternyata sudah memesan tiga gelas lemon tea untuk aku, Salma, dan juga dirinya sendiri. “Hai, Sa. Udah lama?” Aku menyapanya sebelum duduk di kursi yang berada di sebelahnya. “Lumayan. Gimana perjalanan lo tadi? Kena macet ngga?” “Nggak terlalu sih, soalnya tadi gue pesen ojek online ke sini. Eh, Salma belum dateng?” Kami bertiga memang berjanji lunch bersama hari ini, setelah kemarin lusa aku membatalkan janji dinner karena Bosku menyuruh untuk lembur. “Udah kok, orangnya lagi ke toilet.” Sambil menunggu Salma kembali, aku dan Pasa mengobrol cukup banyak. Kami bercerita tentang kehidupan masing-masing selama kami tidak bertemu. Aku baru tau kalau Pasa sudah bertunangan dan tunangannya berada di New York. “Hei, sorry ya lama, soalnya toiletnya ngantri.” Salma kembali dari toilet sepuluh menit kemudian, setelahnya kami memesan ramen katsu-makanan favorit kami bertiga ketika jaman kuliah dulu. “Lo gimana, Nay? Nyokap masih gencar jodohin lo sama kenalannya?” Aku memang menceritakan pada Salma tentang Mama yang gencar menjodohkanku, tapi aku belum menceritakan soal Pak Farhan pada dia. FYI aku sering curhat keluh kesahku soal kelakuan Bosku padanya. Dia tahu betul bagaimana selama ini aku cukup sebal dengan tingkah laku Pak Farhan. “Hah, yakin lo dijodohin, Nay? Emangnya nyari cowok di Jakarta sesusah itu, sampe harus pake jalan perjodohan?”   Aku cemberut mendengar komentar Pasa. Ini bukan soal susah atau gampang, masalahnya aku tidak punya pengalaman soal cinta selama 26 tahun hidup dan satu lagi, aku tidak punya waktu untuk mencari pacar kalau setiap hari waktuku dihabiskan untuk bekerja. “Lo kayak ngga tau Naya aja deh, Sa. Dia kan jomlo akut dari jaman kita kuliah.” Salma melirikku dengan tatapan mengejek. “Demi apa sampe sekarang lo ngga pernah pacaran Nay? Gue kira dulu lo ngga pacaran karena fokus sama kuliah, tapi sekarang lo udah dewasa, udah bisa cari duit sendiri, dan lo ngga pernah mikir buat cari cowok gitu?” Pasa berkomentar seolah-olah jomlo itu sesuatu yang salah. Aku berdecak, “Makanya cariin gue pacar. Kenalin kek sama temen lo atau anak buah lo yang mau sama gue.” Tawa Pasa menggelegar, dia menggeleng-gelengkan kepalanya, tapi masih tetap menanggapi. “Mau yang kayak gimana, nanti gue cariin deh.” Aku mengucapkan terima kasih pada pelayan restoran yang mengantar ramen pesanan kami. “Yang menurut lo cocok aja sama gue. Percuma aja kalau kita nyari yang ganteng dan kaya tapi ngga bikin kita nyaman.” Salma tertawa menanggapi, “Dangdut banget sih omongan lo. Eh, btw tumben banget lo bisa lunch di luar, biasanya kalau lo lunch di luar Bos lo pasti udah rusuh nelponin lo berkali-kali.” “Kantor lagi gak terlalu banyak kerjaan. Dan FYI udah seminggu Bos gue di rawat di rumah sakit. Asam lambungnya kumat gara-gara terlalu fokus kerja dan lupa makan. Itu yang kemarin buat gue engga bisa dinner bareng kalian. Dia hampir pingsan di kantor, mau ngga mau gue yang harus bawa dia ke rumah sakit karena di kantor cuma ada gue sama dia doang berdua.” “Kayaknya lo merdeka banget nih, Bos lo ngga ngantor.” Aku tertawa mendengar perkataan Salma yang sebenarnya agak jahat sih kalau aku mengiyakannya. “Lo kayak gak tau aja Bos gue. Kayaknya dia tuh ibarat sumber kesengsaraan gue di dunia ini deh.” “Emang separah itu sifat Bos lo?” Pasa bertanya kepo. Dia memang sedang belajar jadi Bos yang baik. Aku tau sifatnya terlalu lembut dan tak cocok jika bertransformasi jadi Bos yang galak. “Biasalah, sifat-sifat Bos yang menuntut bawahannya selalu tampil dengan hasil kerja yang sempurna. Padahal kita kan juga manusia, pasti punya salah dan engga selalu bener kan. Dia aja yang terlalu perfeksionis dan gila kesempurnaan.” Oke, ghibah tentang Bos dengan orang lain memang selalu menyenangkan. Apalagi kalau bisa menceritakan seluruh sifat buruknya. Itu seperti kita melampiaskan kekesalan yang terpendama selama ini. “Duh, gue jadi ngeri deh. Jangan-jangan bawahan gue ngelakuin yang sama kayak lo berdua. Ghibahin gue ke temen-temennya sampe mereka tau betul sifat-sifat gue.” Pasa bergidik ngeri membayangkan. Aku dan Salma tertawa. “Tugas Bos kan emang gitu. Dia dibayar buat dari hasil menghamburkan ludah dan marahin kita sampe mulutnya berbusa. Bersyukurlah kantor gue engga se-hectic kantor lo, jadi gue masih bisa enjoy dan leha-leha.” “Gue juga berniat buat resign sih, tapi masih mikir-mikir dulu.” Salma mengernyit heran. “Kenapa resign? bukannya lo nyaman kerja di situ walaupun selalu sibuk?” “Ya gitu, gue pengin kerja yang selaw biar bisa fokus sama kehidupan percintaan gue. Dipikir-pikir capek juga sendirian mulu, jadi pengin nyoba taken dan punya pasangan gitu.” Salma dan Pasa menertawaiku. “Akhirnya lo sadar juga. Hidup lo itu terlalu monoton, Say. Sekali-kali lah cobain sensasi jatuh cinta.” “Kalau gue belum tunangan sama pasangan gue yang ada di New York, udah gue pacarin lo sekarang, Nay.” “Wah, mau bongkar rahasia nih, Sa?” Salma menaikturunkan alisnya menggoda Pasa. Aku mengernyit dengan tatapan bingung. “Rahasia apa?” Salma beradu pandang dengan Pasa. “Mau gue yang ngomong atau lo yang ngomong nih?” Aku jadi makin penasaran dengan rahasia Pasa. Kenapa hanya aku yang tidak tahu? Dipikir-pikir kami bertiga selalu bersama dulu. Aku tidak mungkin melupakan cerita soal rahasia Pasa kalau aku tahu. “Jadi ceritanya dulu gue suka sama lo, Nay.” Pasa memulai ceritanya sambil meminum lemon tea-nya hingga tandas. Aku sedikit terkejut mendengar pengakuannya. Kenapa aku tidak pernah sadar Pasa pernah suka denganku? “Tapi itu dulu, karena lo susah dideketin jadi gue nyerah sampai gue terbang ke Amerika.” “Kok lo ngga pernah bilang sih pernah suka sama gue dulu?” Kalau aku tau dia suka padaku dulu, kan urusan hati jadi tidak serumit ini. “Lo-nya aja yang ngga peka kali, Nay. Udah jelas banget kalau Pasa sering ngasih perhatian ke elo, tapi lo-nya tetep cuek,” ucap Salma membela Pasa. “Masa, sih? Kok dulu gue nggak nyadar ya lo suka sama gue?” “Karena lo itu ngga peka. Orang yang liat Pasa juga tau kalau dia suka sama lo. Gue aja sadar.” Kali ini aku tersenyum masam mendengar sindiran Salma. Ya, memang aku nggak sepeka itu dulu, tapi aku sadar kok kalau dulu Pasa selalu memberikan perhatian lebih kepadaku dan aku mengira kalau Pasa memang melakukan itu pada semua temannya jadi aku tidak mau berharap lebih dan bersikap biasa-biasa saja. “Gue juga punya rahasia loh, Sa.” Aku berkata dengan nada misterius, membuat dua orang ini jadi menatap kepo. “Fyi, gue dulu juga sempet baper ke elo, tapi karena gue ngira lo baik ke semua orang jadi gue ngga terlalu mikirin soal itu.” Pasa mendesah kecewa, “Berarti cinta gue ngga bertepuk sebelah tangan dong, Nay.” Aku mengangkat bahu, “Nggak tahu juga sih, soalnya dulu gue masih labil banget, tapi gue sadar kok gue pernah sempet suka sama lo walaupun cuma sebentar.” Salma mengumpat, “s**t, ini kenapa gue jadi nontonin lo berdua saling nyatain perasaan ya, kurang ngenes apa hidup gue.” Aku dan Pasa tertawa, lalu saling pandang dan tersenyum jumawa. Walaupun kini kami tahu perasaan masing-masing, tapi kami berdua tahu kalau kami tidak mungkin bersama. Pasa dan aku punya jalan masing-masing dengan jodoh kami. Pernyataan cinta tadi hanya bumbu bagi persahabatan kami agar kami tahu begitu naifnya kami dulu. “Btw, gue harus balik, nih. Udah mepet jam masuk kantor soalnya.” Aku melirik arloji yang terpasang di pergelangan tangan kiriku. “Ya udah sekalian aja, gue juga mau balik. Lo gimana, Sa? Masih mau di sini atau ikut balik juga?” Salma ikut membereskan tasnya dan beranjak dari duduknya. “Kalian duluan aja. Kebetulan gue ada janji meeting sama klien di sini setengah jam lagi. Biar nanti bill-nya gue aja yang bayar.” Aku dan Salma pamit pulang pada Pasa lalu pergi meninggalkan cowok itu. “Gimana setelah ini? Masih kepincut sama bujang Amerika?” Salma kembali membahas pernyataan cintaku pada Pasa tadi. Aku memukul lengannya. “Ya kali, dia udah punya tunangan, coy.” “Kenapa emang? Tikungan orang Indonesia tajem, Say. Sekali nikung langsung gas pol.” Aku bergidik ngeri mendengar kalimat Salma. “Stress lo, ya.” “Loh bener kan? Kalau lo mau juga lo pasti bisa dapetin Pasa kok, terlepas dari dia yang udah tunangan. Dia bisa aja batalin pertunangan mereka dan balik sama lo.” Aku kali ini benar-benar tidak tahan untuk tidak memukul belakang kepalanya sampai Salma mengaduh keras. Aku heran dengannya, otaknya dipake buat apa sih kalau bicara. “Sorry to say, ya. Gue lebih baik jomlo seumur hidup daripada harus jadi pelakor dan ngerebut kebahagiaan wanita lain. Sakit Say, kalau harus bayangin kita ada di posisi itu. Apalagi kalau sampai jadi kenyataan, udah dimutilasi kali gue sama nyokap.” Salma malah tertawa. Aku jadi curiga dia punya kelainan mental kalau tidak hapal tabiat sahabatku. “Nggak asik lo. Pilih jalan hidup itu jangan lurus-lurus amat, agak belok dikit lah, biar ada tantangannya.” “Lo gila!!” Aku berteriak kencang di depan Salma dan meninggalkannya yang kini tertawa terbahak-bahak di belakangku. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN