Mama terlihat terkejut ketika mendapati aku berada di depan pintu rumah ketika beliau membukakan pintu untukku.
“Loh Nay, bukannya kamu harusnya di rumah sakit jagain Farhan? Kenapa kamu malah ada di sini?”
“Udah ada yang jagain Farhan di rumah sakit, jadi Naya pulang.” Aku melepas heels yang kupakai seharian ini dan menaruhnya di rak sepatu.
Mama mengikuti aku yang berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum. “Memangnya siapa yang jagain Farhan di rumah sakit? Kamu bilang semua keluarganya pergi ke luar negeri?”
Aku meminum segelas air putih dalam sekali tenggak. Rasanya tenggorokanku terasa segar setelah meminum dua gelas air putih sekaligus.
“Ada Karenina di rumah sakit yang jagain Farhan. Dia itu sahabat masa kecilnya Farhan, mereka udah terbiasa begitu kok.” Aku menjawab santai pertanyaan Mama. Kini Mama mengikuti aku yang pindah ke ruang keluarga dan menyetel televisi. Sepertinya hari ini Papaku harus lembur, biasanya ruangan ini akan didominasi oleh beliau untuk menonton acara bola.
“Terbiasa begitu bagaimana maksud kamu? Masa kamu biarin Farhan berduaan sama perempuan lain di rumah sakit, sih? Sebagai pacarnya harusnya kamu ada di sana jagain Farhan, bukan malah perempuan lain.”
Aku memencet remote TV berkali-kali, mengganti channel ke saluran televisi yang menampilkan acara kuis. “Ma, Karenina itu bukan orang lain di keluarga Farhan. Dia itu udah dianggep kayak keluarga sendiri sama keluarganya Farhan. Bahkan Naya udah dikenalin sama Karenina waktu di acara keluarganya Farhan kemarin.”
“Siapapun Karenina itu, kamu harusnya ngga ninggalin Farhan sendirian di sana. Gimanapun sebagai pacarnya, kamu harus bertanggung jawab jagain Farhan.”
Jujur saja, tubuhku sedang dalam kondisi luar biasa lelah sekarang, dan aku sedang dalam kondisi tidak mood untuk diajak berdebat. Rasanya menanggapi Mama sekarang bukan waktu yang tepat.
“Ma, udah ya, Naya capek, mau istirahat.” Aku berpamitan pada Mama dan beranjak meninggalkan Mama sendirian di sofa ruang keluarga. Tentu saja kepergianku di-backsong-i omelan panjang Mama yang kesal karena lagi-lagi aku mengabaikan ceramah panjangnya soal Farhan.
Aku berbaring di atas kasur, menatap langit-langit kamarku yang berwarna putih. Baru saja akan memejamkan mata, ponselku yang berada di dalam tas berdering, menandakan ada pesan masuk. Aku bangkit dari kasur dengan rasa malas, mengambil tasku yang kuletakkan di atas meja rias dan melihat notifikasi pesan yang masuk ke ponselku.
Bos Galak : Kamu kemana? Saya tidak melihat kamu di ruang tunggu rumah sakit.
Aku menelan ludah susah payah membaca pesan yang dikirimkan Pak Farhan.
Ginaya P : Saya ada di rumah Pak
Bos Galak : Kamu sudah pulang? Kenapa tidak bilang?
Aku menggigit bibir, mencari alasan yang masuk akal untuk menjawab pertanyaan Pak Farhan.
Ginaya P : Saya tiba-tiba ngga enak badan, Pak, jadi langsung pulang. Maaf.
Bos Galak : Kamu sakit? Apa gara-gara saya?
Ginaya P : Bukan. Ini bukan gara-gara Bapak. Mungkin karena terlalu lama berada di luar menggunakan pakaian terbuka membuat saya masuk angin, Pak.
Setelan bajuku saat pergi ke kantor memang sedikit terbuka. Dengan blouse lengan pendek dan rok span yang hanya setinggi lutut membuatku harus menggunakan jaket ketika pulang malam agar udara yang masuk ke tubuhku bisa dicegah.
Bos Galak : Tapi kamu baik-baik saja kan?
Ginaya P : Iya, Pak, saya baik-baik aja. Lebih baik sekarang Bapak istirahat, supaya Bapak cepat pulih.
Bos Galak : Baik. Kamu juga istirahat. Night.
Aku memutuskan untuk tidak membalas pesan Pak Farhan dan meletakkan ponselku ke atas nakas. Ya, Tuhan, kenapa sekarang aku gelisah memikirkan kenyataan Pak Farhan dan Karenina hanya berdua saja di rumah sakit. Aku tau itu bukan urusanku dan tidak seharusnya aku memikirkannya.
Aku menampar pipiku untuk mengembalikan kewarasanku yang mulai kuragukan. “Sadar Nay, sadar.”
***
“Nay, gue denger Pak Farhan dirawat di rumah sakit?” Aris langsung menodongku dengan pertanyaan begitu melihatku masuk ke ruangan dan duduk di kursi kerjaku.
“Iya, asam lambungnya Bos kumat karena terlalu fokus sama kerjaan sampai dia lupa makan.”
“Kayaknya si Bos harus mulai cari pacar deh supaya ada yang ngingetin dia makan.” Feni ikut menimpali.
“Heh, lo kira fungsi pacar cuma buat ngingetin kita makan? Tanpa punya pacar juga harusnya Pak Bos inget makan. Makan kan salah satu kebutuhan, kalau ngga makan kita bisa mati.”
“Kejem banget lo, nyumpahin Pak Farhan mati.”
Aris melempar bulatan kertas ke arah Feni, “ Ngga gitu konsepnya Maemunah, itu tadi cuma perumpamaan doang.”
“Terus sekarang keadaan Pak Farhan gimana, Nay?” Mbak Nindi bertanya, memutus pertengkaran Feni dan Aris.
Aku mengangkat bahu, “Gue juga ngga tahu, Mbak. Gue cuma nganterin dia sampai rumah sakit doang terus habis itu pulang.”
“Gimana kalau kita jengukin dia pas pulang kerja nanti?” usul Feni yang langsung disetujui Mbak Nindi dan juga Aris. Hanya aku yang diam saja tak menjawab, membuat mereka bertiga jadi menatap heran ke arahku.
“Lo ikut ngga, Nay?” tanya Aris memastikan.
Aku berpikir sebentar. Sebenarnya aku ingin sekali ikut menjenguk Pak Farhan di rumah sakit, tapi mengingat aku akan bertemu Karenina di sana, membuatku jadi berpikir ulang. Ah, kenapa aku jadi begini, sih? Seharusnya ada atau tidaknya keberadaan Karenina di sana tidak membuatku pusing. Toh, itu bukan urusanku dan aku tidak seharusnya memikirkan hal itu.
“Nay?” Feni mengguncang tubuhku pelan dan membuatku tersadar.
“Lo kenapa sih? Dari tadi gue perhatiin, lo keliatan ngga fokus hari ini. Atau ada sesuatu yang terjadi antara lo sama Bos kemarin?” Aris bertanya padaku dengan nada curiga, membuatku jadi gelagapan.
“L-lo ngomong apa sih, gue baik-baik aja kok. Nanti gue ikut kalian jengukin Pak Farhan.”
Aris terlihat ingin bertanya lebih jauh kepadaku, tapi segera aku potong sebelum dia bertanya macam-macam, “Sekarang fokus kerja, biar kita bisa pulang cepet dan bisa jengukin Pak Farhan.”
Setelahnya mereka bertiga fokus pada layar komputer masing-masing, membuatku bernapas lega. Aku memang harus berhati-hati dengan Aris, insting cowok itu begitu tajam, sampai bisa membaca pikiran orang-orang.
***
“Selamat sore, Pak.” Kami berempat berbondong-bondong memasuki ruang rawat Pak Farhan di rumah sakit. Pak Farhan terlihat terkejut melihat kedatangan kami, tapi setelahnya dia tersenyum ramah menyambut kami.
“Kami bawa buah buat Bapak, jangan lupa dimakan ya, Pak, biar cepet sembuh.” Mbak Nindi meletakkan parsel buah yang kami beli di tengah perjalanan tadi ke atas nakas.
“Terima kasih, kalian udah mau repot-repot datang ke sini.”
Mbak Nindi, Aris, dan Feni terlihat terkejut mendengar pernyataan terima kasih yang keluar dari mulut seorang Farhan Abasstiawan. Bos yang biasanya hanya bisa mengeluarkan kata-kata sinis dan pedas ternyata bisa mengucapkan kata terima kasih juga.
“Iya, Pak, sama-sama. Gimana keadaan Bapak?”
Pak Farhan menjawab lemah, “Sudah lebih baik, gimana kerjaan kalian di kantor? Engga ada masalah kan?”
“Ya ampun Farhan, kamu itu, ya. Anak buah kamu ke sini itu buat jengukin kamu, malah kamu tanyain kerjaan. Keterlaluan banget, sih.” Tiba-tiba seorang wanita masuk, menegur ucapan Pak Farhan yang memang terdengar agak keterlaluan. Orang mana yang ketika dijenguk malah bertanya soal pekerjaan? Sepertinya hanya Bosku satu-satunya di dunia.
Wanita itu tersenyum ramah ke arah kami, lalu memperkenalkan dirinya. “Hai, kenalin aku Karenina, sahabatnya Farhan. Kalian staff di kantornya Farhan, ya?”
Aris balas menjawab pertanyaan Karenina dengan senyum sumringah. “Iya, Mbak. Kami datang buat jengukin Pak Bos.”
Aku bisa melihat tatapan kagum yang terpancar di mata ketiga rekan kantorku ketika melihat Karenina. Dilihat dari sisi manapun Karenina memang terlihat sempurna. Dia pandai membawa diri di depan semua orang sehingga orang-orang suka padanya.
“Hai, Nay. Aku baru sadar ternyata ada kamu juga. Maaf ya, kemarin aku langsung nerobos masuk ke dalam dan ngga sempet nyapa kamu. Soalnya aku khawatir banget sama keadaan Farhan. Terakhir dia sakit begini itu waktu SMA. Waktu itu keadaannya parah banget, sampai dia harus diinfus beberapa hari di rumah sakit. Makanya waktu denger dia masuk rumah sakit karena asam lambungnya naik aku langsung buru-buru ke sini.”
Aku tersenyum canggung, diam-diam menghindari tatapan ketiga rekan kerjaku yang menatap dengan wajah ingin tahu. Mereka pasti penasaran bagaimana Karenina bisa kenal dengan aku.
“Iya, nggak pa-pa kok, aku ngerti kalau kamu pasti khawatir banget sama Pak Farhan.”
“Oh, iya, Nay, kemarin malam kamu kemana? Aku kok ngga ngeliat kamu di depan ruang rawat?”
Aku makin yakin kalau setelah ini akan ada sesi interogasi yang dilakukan oleh ketiga rekanku.
“Ah, itu, tadi malem tiba-tiba aku ngerasa engga enak badan, jadi aku langsung pulang. Maaf ya, sebelumnya aku ngga pamitan dulu sama kamu.”
Karenina mengibaskan tangannya, “Ngga pa-pa kok, bukan masalah besar, tapi kamu udah baikan kan sekarang?”
Aku mengangguk, “Udah kok.”
“Syukurlah kalau begitu, Farhan pasti bakal khawatir kalau kamu sampai sakit, ya nggak Han?”
Pak Farhan mengangguk kaku, terlihat sekali di wajahnya kalau dia tidak nyaman dengan obrolan Karenina. Tentu saja Pak Farhan merasa begitu. Dia kan memperkenalkan aku sebagai pacarnya di depan Karenina. Bisa gawat kalau Karenina bilang macam-macam di depan tiga karyawannya dan membuat rahasia kami terbongkar.
“Oh, iya, saya boleh nanya sesuatu nggak? Saya sepertinya tidak asing dengan wajah kamu, apa sebelumnya kita pernah bertemu?” Untungnya Feni mengalihkan pembicaraan ke topik lain, membuat aku bisa bernapas lega.
“Ah, mungkin kamu pernah melihat wajahku di majalah fashion ‘Wanita Stylish’. Kebetulan aku sering dapet tawaran buat jadi modelnya.”
Aku bahkan baru tau kalau profesi Karenina adalah model, pantas saja fisiknya terlihat sempurna.
“Iya betul, saya memang berlangganan dengan majalah itu, pantas saja wajah kamu terlihat tidak asing, ternyata kamu seorang model, ya.”
Obrolan kami berlanjut sampai jam delapan malam. Sebenarnya hanya Feni, Mbak Nindi, Karenina, dan Aris yang mendominasi obrolan. Sementara aku hanya diam memainkan ponsel, sesekali menimpali kalau dimintai pendapat. Pak Farhan sendiri sudah memejamkan mata karena obat yang dikonsumsinya.
Kami memutuskan untuk pulang dan mengakhiri obrolan. Karenina mengantar kami sampai lobi depan rumah sakit. Dia melambaikan tangan ke arah kami ketika mobil kami meluncur meninggalkan halaman rumah sakit.
“Menurut kalian Pak Farhan sama Karenina cocok nggak sih, mereka serasi banget.” Feni mengutarakan pendapatnya yang disetujui oleh Aris dan Mbak Nindi.
“Kayaknya mereka juga bukan cuma sekedar temen deh, masa iya cewek secantik dia dianggurin gitu sama si Bos.”
“Pokoknya gue dukung banget kalo Pak Farhan nikah sama Mbak Karen,” ucap Feni antusias.
“Kenapa jadi lo yang antusias sama hubungan mereka berdua, sih?” tanyaku heran.
“Mbak Karen itu idola majalah yang sering aku ikutin gaya pakaiannya. Lagian mereka berdua cocok kok, yang satu tampan, yang satu lagi cantiknya kebangetan, pasti mereka bakal jadi pasangan sempurna deh.”
Aku memutar bola mata mendengar pernyataan Feni yang menurutku terlalu berlebihan.
“Nay, kayanya ada yang perlu lo ceritain ke kita-kita, deh.” Aris mengganti topik obrolan, membuatku yang tengah bersandar sambil memandangi jalanan jadi menegakkan tubuh.
“Ceritain apa?” Aku pura-pura tidak tahu.
“Nggak usah pura-pura lupa deh, itu tadi gimana ceritanya lo bisa kenal sama Mbak Karenina?” Feni menodongku dengan pertanyaan yang membuatku sedikit gelagapan.
“Ah, itu. Gue pernah sekali ketemu dia di acara pesta perusahaan. Lo tahu kan, kejadian gue yang numpahin orange juice ke baju seseorang? Orang itu Karenina.”
Untungnya mereka bertiga tidak bertanya lebih lanjut dan langsung percaya. Namun, notifikasi pesan dari ponselku muncul setelahnya, membuatku berjengit kaget.
Aris : Kayaknya dugaan gue bener kalau ada sesuatu antara lo sama Bos.
Mati aku!
***