Bagian 10 : Hutang Usaha

2054 Kata
Aku sudah percaya diri tidak akan lembur malam ini, karena semua pekerjaanku sudah kuselesaikan pukul 4 tadi. Aku bahkan sampai mengabari Pasa mengenai rencana dinner malam nanti yang dibalasnya dengan emoticon senyum. Namun, semua rencanaku harus gagal ketika Bosku menyuruh untuk mengerjakan laporan yang harus diselesaikan hari ini juga. Aku hampir putus asa ketika jam menunjukkan pukul 7 dan aku belum menyelesaikan pekerjaanku, bahkan setengahnya. “Gila, ini gila! Kalo kayak gini, rencana dinner gue sama Pasa bakal gagal.” Aku memijit kepalaku yang mulai terasa pening. Kenapa sih, Bosku suka sekali memberikan kejutan dadakan seperti ini. Aku tidak habis pikir dengannya, kenapa suka sekali membuatku tersiksa begini. Padahal di departemen Accounting bukan cuma ada aku, tapi selalu saja aku yang disuruh untuk lembur. “Nay, gue pulang dulu, ya. Lo jangan lupa pulang.” Aris sudah mematikan komputernya, membereskan meja kerjanya lalu bersiap pulang. “Fix, sih, kalau bulan depan lo ngga dipromosiin naik jabatan, lo harus protes sama Pak Farhan.” Aris menatap prihatin pada tumpukkan laporan yang masih harus ku-review. “Fix juga, bulan depan gue bakal resign kalo terus-terusan lembur kayak gini.” “Siapa yang mau resign?’ Tiba-tiba Pak Farhan sudah berada di belakangku, membuat aku dan Aris terkejut bukan main. Kami berdua diam, tak tahu harus menjawab apa. Tak kunjung menjawab, Pak Farhan kembali melontarkan pertanyaan, “Saya tanya, siapa yang mau resign?” Aku menatap Aris, mengkodenya untuk membantuku mengarang cerita. Namun, dia malah mengangkat bahu, tak mau tahu. “Gini Pak, Papa saya kan sudah tua, jadi beliau berpikir untuk resign. Seperti itu.” Aku mencoba mengendalikan diri agar tidak terlalu kentara berbohong.  “Iya, Pak, tadi Naya cerita kalau Papanya berniat resign, tapi masih dipertimbangkan oleh beliau.” Untungnya Aris ikut membantu meyakinkan cerita karanganku, jadi Pak Farhan tak perlu curiga lagi. “Kalau gitu saya permisi pulang dulu, Pak.” Aris berpamitan pada Pak Farhan yang diangguki oleh Bosku. Aku mengumpati Aris dalam hati. Sialan tuh, bocah ninggalin gue sendiri sama Bapak macan di sini. Sepeninggalan Aris, Pak Farhan mendekat ke kubikelku lalu bertumpu pada meja komputer yang otomatis badannya menempel pada punggungku. “Gimana progress laporannya?” Suaranya tedengar serak di telingaku. Aku bergidik ngeri karena napas Pak Farhan sampai terasa menerpa bahuku. “Pak, sebelumnya maaf, tapi bisa ngga Bapak mundur dulu. Posisi kita sekarang membuat saya tidak nyaman.” “Hm.” Aku benar-benar benci dengan situasi sekarang. Dan kenapa juga Pak Farhan harus berada sedekat ini denganku? Dia tak perlu melakukan ini kalau cuma menanyakan progress laporanku. Dan apa jawabannya tadi? Bahkan aku tidak bisa mengartikan apa maksud dari “hm” itu. “Pak.” Aku kembali mengingatkan, mungkin saja Bosku mempunyai pendengaran masalah yang serius sampai suaraku tak terdengar olehnya tadi. Namun, selanjutnya hal tak terduga terjadi. Pak Farhan menaruh kepalanya di bahuku, membuatku berjengit kaget. Aku hendak berdiri dan mengatainya lancang, tapi suhu tubuhnya yang terasa panas menyentuh kulitku membuatku merasa aneh dan memutuskan untuk mengecek dahinya. “Ya ampun, dahi Bapak panas banget, Bapak sakit?” Aku berteriak panik, menyadari keadaannya yang tak baik-baik saja ketika aku menaruh telapak tanganku pada dahinya dan mendapati suhu tubuhnya yang tak normal. “Hm.” Gumamannya yang awalnya kubenci tadi, malah sekarang membuatku takut. “Pak, Bapak bertahan ya, kita ke rumah sakit sekarang. Bapak masih kuat jalan kan?” Aku bergerak memapah tubuhnya ke kursi kerja Feni yang berada persis di sampingku. “Bapak tunggu di sini dulu, saya mau keluar cari bantuan.” Pak Farhan mencegah aku pergi dengan menarik tangaku agar tidak meninggalkannya. Aku bisa melihat wajahnya yang pucat dengan bulir keringat yang membanjiri dahi dan pelipisnya. “Jangan pergi, jangan tinggalin saya.” Aku melepas tangannya yang mencengkeram erat pergelangan tanganku, “Sebentar saja Pak, saya mau cari bantuan dulu supaya kita bisa ke rumah sakit.” Aku terpaksa meninggalkan Pak Farhan yang sedang memejamkan mata seperti sedang menahan sesuatu. Aku cepat-cepat memasuki lift dan berlari ke lantai bawah untuk menemui satpam yang berjaga di perusahaan. “Pak, tolong Pak, ada yang pingsan di atas.” Aku panik memberitahu satpam yang segera berlari mengikutiku naik ke lantai atas. Beliau membantuku memapah Pak Farhan sampai di lantai bawah. “Pak, tolong bertahan Pak, sebentar lagi kita bakal ke rumah sakit.” Aku panik melihat kondisi Pak Farhan yang makin pucat. Di dalam taksi aku terus merapal doa agar semuanya baik-baik saja. Kondisi Pak Farhan yang makin melemah membuatku takut. Aku tak mau sesuatu terjadi pada dirinya. Walaupun dia terlihat menyebalkan sebagai Bos, tapi untuk keadaan seperti sekarang, aku melupakan segala hal jahat yang pernah dilakukannya padaku. Pak Farhan terus memegang erat tanganku sepanjang perjalanan. Dia bahkan enggan melepaskan tanganku ketika tubuhnya sudah dibaringkan di atas brankar dan siap untuk memasuki ruang IGD. “Mbak, tolong tangan suaminya dilepas dulu, kami harus memeriksa keadaan pasien sesegera mungkin.” Aku sudah tidak memikirkan protes soal suster yang mengira kami sepasang suami istri. Aku melepaskan genggaman tangan Pak Farhan pada tangaku dan membiarkan tubuhnya dibawa masuk untuk penanganan lebih lanjut. Di luar ruangan, aku harap-harap cemas menunggu dokter selesai memeriksa. Aku berjalan mondar-mandir di depan pintu sambil menggigiti kuku sampai jari-jariku memerah. Setengah jam kemudian, dokter yang memeriksa Pak Farhan keluar. Aku langsung menghampirinya dan bertanya tentang keadaan Pak Farhan. “Pasien baik-baik saja. Anda istrinya?” Aku menggeleng, “Bukan Dok, saya karyawannya di kantor.” Dokter itu mengangguk paham. “Asam lambungnya kumat, cukup parah karena sudah menjalar sampai ke ulu hati dan dibiarkan oleh pasien. Sebaiknya pasien menjaga pola makannya agar kejadian ini tak terjadi lagi. Jangan sampai telat makan dan menjadi parah. Untuk saat ini, pasien harus dirawat beberapa hari untuk memulihkan keadaannya.”      Aku mengangguk mengerti. Kini aku tahu alasan Pak Farhan bisa sampai seperti ini. Pria itu terlalu fokus pada pekerjaannya sampai melupakan makan. “Dok, apa saya boleh masuk ke dalam untuk melihat keadaan Bos saya?” “Boleh, silakan.” Aku mengucapkan terima kasih pada dokter, setelah itu aku masuk ke dalam dan mendapati Pak Farhan yang tengah terbaring lemah di atas brankar rumah sakit sambil memejamkan mata. Menyadari kehadiranku, pria itu membuka mata dan tersenyum kecil kepadaku. “Naya,” panggilnya lemah. “Bapak itu, hampir saja membuat jantung saya copot. Saya mengerti kalau Bapak itu gila kerja, tapi jangan sampai pekerjaan membuat Bapak melupakan makan. Makan itu penting, Pak, itu kebetuhan pokok kita sebagai makhluk hidup.” Aku tak tahan untuk tidak mengomel pada Pak Farhan sekarang. Pak Farhan malah tersenyum kecil melihat aku yang mengomel panjang. “Bapak kenapa tertawa, saya serius, Pak. Bapak itu harus menjaga pola makan supaya tidak jatuh sakit. Kalau Bapak sakit, memangnya siapa yang repot? Saya juga yang repot. Bapak pikir badan Bapak tidak berat.” “Maaf,” ucapnya lemah. Aku mengibaskan tangan, “Sudahlah, lupakan saja. Saya harus pulang sekarang, apa saya perlu menghubungi Tante Wanda supaya dateng ke sini untuk menjaga Bapak?” Dia menggeleng. “Tidak perlu, seluruh keluarga saya sedang berada di luar negeri, untuk sebuah acara, jadi tidak ada yang bisa menjaga saya di sini.” Sial, sekarang hati nuraniku sebagai manusia sedikit tersenggol. Sebenarnya aku bisa saja mengabaikan perkataan Pak Farhan dan langsung pulang sekarang, tapi masalahnya hatiku meninggalkan sesuatu di sini. Hal yang membuatku tidak tega meninggalkan pria ini sendirian.   “Kamu mau pulang sekarang?” tanya Pak Farhan. Aku menggeleng, “Saya bakal tetap di sini jagain Bapak.” “Kalau kamu mau pul ….” “Sudah deh Pak, ngga usah protes. Mood saya lagi baik, makanya saya mau jagain Bapak di sini.” Aku bisa melihat senyum di balik wajahnya yang lemah. “Makasih, ya, Nay.” “Tapi ini ngga gratis loh, Pak.” Aku malah seperti orang yang sedang memanfaatkan keadaan sekarang. “Saya minta untuk seminggu ke depan Bapak ngga bakal nyuruh saya lembur-lembur lagi. Bapak tahu gak sih, gara-gara Bapak saya kesulitan menemukan jodoh saya. Hidup saya rasanya hanya soal pekerjaan saja. Saya juga butuh bersosialisasi Pak, me-refresh otak saya. Bahkan gara-gara Bapak yang menyuruh saya lembur hari ini, saya jadi harus membatalkan janji dinner dengan temen saya. Oh, astaga, sial gue lupa!” Aku baru ingat kalau aku belum mengabari Pasa soal aku yang tidak bisa dinner dengannya malam ini. Sialnya, sekarang ponselku tertinggal di kantor karena aku terburu-buru membawa Pak Farhan ke rumah sakit sampai lupa membawa ponsel dan tasku. “Kamu kenapa?” tanya Pak Farhan yang melihatku mondar-mandir panik. “Saya lupa mengabari teman saya kalau saya tidak bisa makan malam dengan dia, Pak. Masalahnya ponsel saya ketinggalan di kantor dan saya tidak bisa menghubunginya sekarang.” Pak Farhan mengambil sesuatu di atas meja dan menyerahkan benda itu kepadaku. “Pakai ponsel saya saja.” Aku tersenyum sumringah, langsung mengambil ponsel Pak Farhan. Sedetik kemudian aku sadar kalau aku tidak hapal nomor Pasa. Bahuku melorot lesu, kemudian mengembalikan lagi ponsel Pak Farhan. “Kenapa tidak jadi menghubungi teman kamu itu?” “Saya ngga hapal nomornya, Pak,” jawabku lesu. “Ya sudah, hubungi saja orang rumah, Mereka bakal khawatir kalau kamu belum pulang sampai sekarang.” Pak Farhan kembali menyodorkan ponselnya kepadaku. Aku menerima ponselnya dan bergerak menghubungi nomor Mama. “Halo, Ma.” Pada panggilan pertama Mama langsung mengangkatnya. “Halo? Ini siapa, ya?” “Ini Naya, Ma.” “Oh, Naya. Nomor kamu ganti lagi?” Aku menggeleng, walaupun tahu Mama tidak bisa melihat di seberang sana. “Enggak, Ma, ini Naya pakai HP-nya Farhan buat hubungin Mama. Oh, iya, Naya izin jagain Farhan di rumah sakit, ya, soalnya tadi Farhan tiba-tiba pingsan di kantor, jadi dia sekarang lagi dirawat di rumah sakit. Keluarganya lagi ke luar negeri semua, jadi ngga ada yang bisa jagain.” Mama berteriak heboh di seberang sana, “Tapi, Nak Farhan ngga kenapa-napa kan, Nay? Dia baik-baik aja?” “Iya, Ma, Farhan baik-baik aja kok, ini dia udah mulai siuman.” Aku melirik Pak Farhan yang tengah menatapku berbincang dengan Mama di telepon. “Syukurlah kalau begitu. Ya sudah kamu di situ saja jagain Farhan, besok subuh Mama nyusul ke sana, gantiin kamu jagain dia.” Pak Farhan yang mendengar niat Mama yang akan mendatanginya besok subuh menyahut, “Ngga perlu repot-repot Tante, saya baik-baik aja kok. Tante ngga perlu ke sini besok.” “Duh, ngga pa-pa, Tante ngga repot kok, pokoknya besok Tante bakal ke sana, ya.” “Ya udah, Ma. Naya tutup dulu telponnya, ya.” “Iya, baik-baik di sana, ya, Nay.” “Iya, Ma.” Panggilan diakhiri. Aku menyerahkan kembali ponsel Pak Farhan pada pemiliknya. “Padahal Mama kamu ngga perlu repot-repot sampai datang ke sini besok.  Saya jadi ngga enak.” “Mama, saya memang suka begitu, Pak, kalau khawatir suka berlebihan. Sudahlah, Bapak terima saja, toh supaya besok ada yang jagain Bapak di sini.” Pak Farhan akhirnya pasrah menerima. “Hm, iya. Sekali lagi saya berterima kasih ke kamu, ya, Nay.” Aku memutar bola mata bosan, “Sudah Pak, ngga usah banyak ngucapin terima kasih, kuping saya sampai bosen dengernya.” Setelah itu, kami hanya diam. Karena keadaan Pak Farhan yang sudah mulai membaik, pihak rumah sakit memindahkannya dari IGD ke ruang rawat inap. Aku memutuskan untuk menjaganya di luar, duduk di ruang tunggu. Tidak enak rasanya hanya berduaan saja di dalam ruangan dengan Pak Farhan. Ketika mataku hampir terlelap di ruang tunggu rumah sakit, tiba-tiba aku melihat seseorang berlari menuju ke arahku dengan langkah terburu-buru. “Karenina?” Wajah wanita itu terlihat khawatir sekarang. Aku menduga kalau Pak Farhan yang memberitahukan keadaannya sekarang pada Karenina. “Naya, Farhan ada di dalam?” tanyanya khawatir Aku mengangguk, dan tanpa menunggu balasanku lagi, wanita itu langsung menerobos masuk dan memeluk Pak Farhan yang masih terbaring di ranjang rumah sakit. Aku mengintip mereka berdua dari pintu kaca rumah sakit. Aku bisa melihat interaksi mereka yang lebih dari sekedar teman. Cara Karenina memperhatikan Pak Farhan bukan sekedar perhatian biasa. Seperti ada benang tak kasat mata yang terjalin di antara mereka dan aku seharusnya tak perlu peduli tentang hal itu. Aku memutuskan berbalik. Berpikir bahwa aku sudah tak dibutuhkan lagi di sini, karena sudah ada Karenina yang akan menjaga Pak Farhan. Aku memutuskan untuk pulang tanpa berpamitan pada mereka. Entah kenapa, aku merasa ada yang mengganjal ketika akan berpamitan pada mereka. Aku merasa aneh dan mencoba mengenyahkan pikiran tersebut lalu berbalik pulang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN