Bagian 9 : Akumulasi Penyusutan

1249 Kata
Aku tak menyangka orang yang berada di hadapanku sekarang adalah Pasa. Teman seperjuanganku dengan Salma waktu kuliah dulu. Kami bertiga sudah seperti sepaket waktu kuliah dulu. Walaupun Pasa itu laki-laki, tapi dia lebih senang bergabung denganku dan Salma. Karena memang jumlah mahasiswa laki-laki di prodi Akuntansi bisa dihitung dengan jari. “Pasa?! Ya ampun, sejak kapan lo balik ke Indo? Kok nggak ngabarin gue sama Salma?” “Udah lama sih, sekitar 3 bulan yang lalu. Gue mau kabarin lo sama Salma, tapi waktu di Amerika ponsel gue hilang, jadi gue lost contact sama kalian berdua.” Aku ber-oh ria mendengar jawabannya. “Btw, lo ngapain di kantor gue?” Ini pertanyaan yang sejak tadi mengganjal di pikiranku dan aku gatal ingin segera menanyakan pada Pasa. “Oh, lo kerja di sini? Kebetulan gue ada proyek bareng sama perusahaan lo, ini baru aja habis kelar meeting.” “Emangnya lo udah ngga tinggal di Amerika lagi?” Pasa memang tinggal di Amerika sejak lulus kuliah. Yang aku tau dulu dia ingin melanjutkan S2-nya di Amerika dan lanjut bekerja di sana. Pasa menggeleng. “Gue mau nerusin usaha bokap di Indo.” Aku mengangguk mengerti. “Baguslah, akhirnya lo mau juga ngurus perusahaan Bokap. Berarti lo bakal lama dong, tinggal di Indo?” Pasa mengangkat bahunya, “Maybe, untuk sekarang sih, gue lumayan nyaman sama pekerjaan ini dan belum ada niat balik ke Amerika, tapi ngga tahu juga kedepannya.” Aku mengibaskan tangan, “Ngapain lah, balik ke Amerika lagi. Indonesia ngga kalah keren kok, dibanding Amerika.” “Oh, ya? Gue tiga bulan di Jakarta cuma ngerasain hawa panas tiap hari.” Aku tertawa menanggapi, “Not for Jakarta, Bro. Indonesia ngga cuma Jakarta aja kali, banyak tempat yang belum lo kunjungin di Indonesia, kan? Pasti lo bakal ketagihan kalau udah menjelajah tempat-tempat itu.” “Hobi travelling lo masih jalan?” Dulu sewaktu kuliah aku memang suka jalan-jalan keliling Indonesia. Bahkan aku bergabung di komunitas pecinta alam supaya bisa keliling Indo. Walaupun tempat tujuan komunitas itu gunung dan alam, aku tetap menyukainya. Yang terpenting aku bisa jalan-jalan dan keluar dari kota Jakarta yang super bising dan panas. “Udah cukup jarang, sih. Semenjak kerja di sini hobi travelling gue terpaksa harus ditunda dulu. Sibuk Bro, weekend aja kadang masih harus mikir kerjaan.” Pasa tertawa, “Pindah aja lah ke perusahaan Bokap gue. Gue siap nampung lo kapan aja kok.” “Thanks loh, buat tawarannya, gue bakal mempertimbangkan lagi nanti. Eh, btw gue harus balik kantor, nih. Biasa lah, mendekati akhir bulan kerjaan numpuk. Kapan-kapan kita meet up. Nanti gue ajak Salma sekalian.” “Gue minta nomor lo dong Nay, malam ini gue free sih, mau makan malem bareng ngga?” Aku menimbang ajakannya. “Boleh deh, kalau ngga lembur tapi, ya.” Pasa tertawa, “Jangan terlalu cinta sama kerjaan, Nay. Kalau lo meninggal, kantor lo juga bakal cari pengganti lain.” Aku meninju bahunya. “Sialan lo, nyumpahin gue mati!” Kami berdua tertawa, setelahnya aku pamit ke Pasa untuk kembali ke ruanganku. “Ya udah, gue balik dulu, nanti gue kabarin lagi.” Aku berbalik dan berjalan meninggalkan kantin kantor. Ketika memasuki lift, aku tak sengaja berpapasan dengan Pak Farhan yang sepertinya baru saja keluar dan hendak kembali ke lantai atas. Sialnya, aku harus terjebak berdua saja dengan Pak Farhan di dalam lift, karena ini sudah mendekati akhir waktu istirahat, biasanya para karyawan sudah lebih dulu kembali ke lantainya masing-masing. Aku sengaja merapatkan diri ke dinding lift sebelah kiri, sengaja menghindari berdekatan dengan Pak Farhan. “Itu tadi siapa?” tanpa diduga, setelah beberapa menit lift yang membawa kami ke lantai atas sunyi, tiba-tiba Pak Farhan buka suara dan bertanya padaku. “Yang mana ya, Pak?” Aku bertanya memastikan orang yang dimaksud Pak Farhan. Pak Farhan berdehem pelan. “Itu, yang tadi bicara sama kamu di kantin kantor.” Aku mengernyit, kemudian paham siapa yang dimaksud Pak Farhan. “Oh, itu temen saya waktu kuliah Pak,” jawabku. Pak Farhan mengangguk-angguk. “Oh, temen.” Aku meliriknya, tak paham kenapa dia jadi bermuka masam sekarang. Sampai di lantai 4, Pak Farhan berjalan melewatiku tanpa berkata sepatah kata pun. Aku jadi makin tidak paham dengan tingkahnya yang seperti ABG labil. Aku mengangkat bahu, memutuskan untuk tidak memikirkan perubahan mood Bosku yang semakin hari makin parah. “Buset, lama amat balik ke atas. Gue tungguin dari tadi juga,” Feni yang sudah berada di depan layar komputernya protes melihat aku yang baru saja kembali. “Sori deh, tadi di kantin ngga sengaja ketemu sama temen waktu kuliah, jadi kita ngobrol dulu tadi.” “Cowo atau cewe nih?” Aris bertanya kepo. “Cowo,” jawabku apa adanya. Mbak Nindi, Feni, dan Aris kompak menatapku setelah aku memberikan jawaban. “Tanda-tanda apa lagi ini?” Aris berteriak heboh, sementara aku memutar bola mata malas melihat tingkahnya. “Lebay deh, Pasa itu temen akrab gue waktu kuliah. Gue, Salma, Pasa. Kita bertiga itu udah sahabatan dari lama.” “Oh, jadi namanya Pasa, ganteng nggak, Nay? Kalo lo ngga mau, oper buat gue sabi lah.” Feni menaikturunkan alisnya, membuat gue menjulurkan tangan untuk meraup mukanya. “Yang ada Pasa yang ngga mau sama lo.” “Eh, sialan banget lo, Nay. Siapa laki-laki yang berani nolak cewe secantik gue hah?!” Aku menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan tingkat kepercayaan diri Feni yang makin lama makin parah. “Ada. Gue contohnya,” Aris menimpali. “Idih, kalo sama lo sih, gue juga ogah kali.” “Awas aja kalo nanti lo sampe jatuh cinta sama gue. Baru tau rasa.” Feni bergidik ngeri. “Sekalipun cowo di bumi ini tinggal lo satu-satunya, gue nggak akan pernah jatuh cinta sama lo.” Aku dan Mbak Nindi hanya tertawa melihat perdebatan antara Feni dan Aris. Mereka berdua memang sering beradu argumen seperti sekarang, seolah mereka bermusuhan, tapi sebenarnya hubungan mereka itu saling membutuhkan. Aris selalu menggunakan Feni sebagai alasan untuk putus dari pacarnya ketika bosan. Lalu, Feni juga akan menggunakan Aris sebagai teman gandengannya ketika di undang ke acara reuni atau pernikahan temannya. Mereka itu bagaikan simbiosis mutualisme, saling menguntungkan “Kalau gue liat lama-lama, kayaknya lo berdua cocok deh, ya nggak Mbak?” Mbak Nindi menyetujui ucapanku, “Bener tuh, Nay. Ngga sekalian aja lo berdua pacaran biar makin klop.” Aris dan Feni berteriak kompak. “Idih amit-amit!” “Idih amit-amit!” Aku dan Mbak Nindi tertawa, “Tuh, kan, jawab aja bisa barengan gitu, emang lo berdua itu udah ditakdirkan buat bersama.” “Mbak, lo kalo ngomong jangan ngadi-ngadi lah, masa gue pacaran sama nenek lampir yang galaknya bisa ngelebihin Pak Farhan kalau lagi closing.” Feni membalas perkataan Aris. “Eh, gue juga nggak mau kali pacaran sama playboy yang suka ganti-ganti cewek kayak lo!” Aku masih tertawa, tapi berusaha untuk melerai Aris dan Feni yang masih beradu argumen. Mereka kalau tidak dihentikan bisa sampai satu tahun terus berdebat seperti itu.  Getaran pada tasku membuatku mengalihkan perhatian dari Feni dan Aris, aku mengambil ponsel di dalam tas dan melihat sebuah notifikasi yang masuk. Ada sebuah w******p dari nomor yang tidak dikenal. Aku mengernyit, membuka pesan tersebut dan berikutnya tersenyum melihat isi pesannya. Sepertinya aku tahu siapa pengirimnya. 08xxxxx: Can’t wait for dinner with you. Aku mengetikkan pesan balasan. Ginaya P: Gue, gak janji malam ini, ya, Sa:v 08xxxxx: It’s okay. I’m still waiting you. Aku tersenyum membaca pesannya yang terakhir. Menunggu katanya? Ada-ada saja! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN