Bagian 8 : Vehicle

1701 Kata
Aku menarik napas panjang, tersengal-sengal mengikuti langkah Pak Farhan yang begitu cepat. Aku memutuskan untuk berhenti, duduk jongkok di jalan taman sambil mengatur napas. Aku sudah lama tak berolahraga, apalagi lari. Terbiasa dengan duduk di layar komputer seharian membuat daya tahan tubuhku saat berlari menurun. “Pak, berhenti, saya capek.” Aku berteriak pada Pak Farhan yang sudah berlari jauh meninggalkanku. Merasa aku tidak lagi berada di belakangnya, Pak Farhan menoleh dan menggelengkan kepala melihatku yang tengah duduk jongkok jauh di belakangnya. Dia menghampiriku yang masih sibuk mengatur napas, “Kamu ngapain jongkok di situ, bukannya ikutan saya lari.” “Sudah Pak larinya, saya capek, mau pulang aja,” jawabku. “Payah, masa segitu aja udah capek. Ayo berdiri, kita jalan biasa aja.” Pak Farhan mengulurkan tangannya ke arahku, mengajakku untuk berjalan bersamanya. Aku meraih tangannya kemudian dia menarikku hingga aku kembali pada posisi berdiri. “Pak, kita mau kemana lagi, sih?” keluhku. “Kamu itu butuh olahraga biar tubuh kamu sehat. Selama ini kan kamu cuma duduk seharian di depan komputer, tubuh kamu juga butuh olahraga.” Pak Farhan mengajakku duduk di kursi taman, menyuruhku untuk menunggu sementara dirinya entah pergi kemana. Sekitar sepuluh menit, pria itu kembali membawa dua botol air mineral. Dia menyerahkan salah satunya padaku. “Ayo minum, tubuh kamu juga butuh cairan.” “Pak, kayaknya Bapak cocok deh jadi dokter, daritadi ngomongin soal kesehatan mulu.” Aku mendengus sinis. Pak Farhan tertawa, menanggapi perkataanku, “Kalau jadi dokter cintanya kamu, saya baru mau.” Mataku melotot, menoleh cepat ke arahnya yang santai meminum air mineral. “Maksud Bapak?” Aku memastikan pendengaranku sekali lagi. “Kenapa? Bukannya kamu butuh itu saat ini? Saya kasian karena kamu belum punya pacar sampai saat ini. Setidaknya sebagai dokter kamu, saya bisa memberikan konsultasi soal percintaan pada kaum jomlo seperti kamu ini.” Aku mendengus sinis, melirik sebal pada Pak Farhan. Dia itu ngga sadar diri atau bagaimana sih? Disini yang jomlo bukan cuma aku, dia juga, tapi Pak Farhan berbicara seolah-olah dirinya taken dan merasa berpengalaman. “Kalau Bapak ngga lupa, Bapak sendiri juga jomlo loh, Pak,” sindirku. Pak Farhan tertawa keras, “Ngga perlu diingatkan saya juga sudah ingat kok.” Baguslah kalau dia sadar diri. “Makasih, ya.” Aku mengernyit, “Makasih untuk apa, Pak?” “Soal semalem. Saya ngga pernah liat Mama saya sebahagia kemarin.” Aku mengibaskan tangan,“Nggak perlu berterima kasih Pak, itu kan memang tugas saya karena Bapak udah bantuin saya sebelumnya.” Pak Farhan berdehem, “Saya boleh tanya sesuatu?” izinnya. Aku mengangguk, “Boleh, tanya apa, Pak?” “Kenapa sih, kamu terus-terusan menolak dijodohkan? Bukannya keluarga kamu mencarikan laki-laki terbaik buat kamu, kenapa kamu ngga mencoba untuk kenal mereka lebih dulu?” Aku menelan ludah, tak menyangka Pak Farhan akan menanyakan hal seperti itu padaku. “Sebenernya saya udah mencoba, tapi keluarga saya selalu memilihkan laki-laki dari keluarga sosial kelas atas. Itu yang membuat saya tidak nyaman. Karena setiap bertemu dengan laki-laki yang dijodohkan dengan saya, mereka hanya sibuk membanggakan diri dan menceritakan seberapa hebat mereka dan saya ngga suka itu. Mereka seolah-olah berada di atas dan tidak ada yang bisa menandinginya. Kalau saya sampai menikah dengan orang seperti itu, hidup saya pasti akan disetir, diatur harus melakukan ini itu sesuai keinginan mereka. Tujuan saya menikah bukan untuk menjadi apa yang seorang laki-laki inginkan. Saya menikah untuk mencari teman hidup yang bisa sama-sama berjalan menemani hari tua saya,” jawabku. “Kalau seandainya ada laki-laki dari keluarga kaya yang serius dengan kamu sekarang, tentunya bukan dengan sifat yang tadi kamu sebutkan. Apa kamu mau menerima orang itu?” Aku menimbang sebentar, “Tergantung sih, Pak. Seberapa besar rasa sayang dia ke saya, kalau cuma sekedar rasa suka dan tertarik, saya belum berani memutuskan. Saya selalu inget kata-kata Papa saya, ‘carilah laki-laki yang selalu mendampingi dan membela kamu di depan keluarganya. Sekali pun kamu yang salah, jangan biarkan dia mempermalukan kamu di depan keluarganya’, karena orang yang serius sama saya dan mau ngajak saya menikah harus benar-benar menyayangi saya. Bukan berarti saya ingin calon suami saya lebih sayang saya daripada keluarganya, tapi saya ingin suami saya nanti benar-benar mendukung saya.” “Oke, saya tau sekarang.” Aku kini bertanya-tanya apa maksud kalimat ambigu yang baru saja Pak Farhan ucapkan. Dia tidak memberiku kesempatan bertanya dan langsung mengajakku pulang. “Saya anterin,” ucapnya tanpa menunggu persetujuanku. Aku mengikuti langkahnya sambil menatap punggung tegapnya yang menjulang di depanku. Aku jadi membayangkan seberapa keras punggungnya kalau aku sengaja menubrukkan diri. “Kamu kenapa jalan di belakang saya?” Pak Farhan berbalik ke arahku. “Hah?” Aku yang masih belum sadar dari alam bawah sadarku terkejut mendapati pertanyaanya. Pak Farhan tiba-tiba menarik tanganku, menyuruh aku berjalan di sampingnya. “Saya tidak suka wanita berjalan di belakang saya. Seperti kata kamu tadi, wanita diciptakan bukan untuk memenuhi keinginan dan perintah laki-laki. Jadi, berjalanlah di samping saya.” Entah kenapa aku jadi gugup mendengar pernyataan Pak Farhan. Jantungku berdebar hanya demi mendengar kalimatnya yang terasa hangat menelusup dadaku. Pak Farhan mengantarku sampai depan rumah, sebelum itu berpamitan pada Mama yang heboh menyambut kami. Mama bahkan menawari Farhan untuk mampir dan tinggal sebentar, tapi dia menolak karena ada urusan yang harus diselesaikan. “Saya pulang dulu,” pamitnya. Aku mengangguk, “Bapak jalan kaki? Apartemen sepupu Bapak jauh dari sini nggak? Kalau jauh saya bisa mau anter pake mobil Papa.” Dia menolak, “Ngga usah, apartemennya deket kok dari sini. Lebih baik sekarang kamu mandi. Benar kata kamu tadi, penampilan kamu berantakan banget, saya baru sadar.” Mataku melotot, hendak protes pada Pak Farhan tapi segera dicegahnya. “Nggak usah melotot begitu, daripada menakutkan, wajah kamu lebih mengarah ke aneh.” Setelah selesai menggodaku dengan kalimat jailnya Pak Farhan pulang meninggalkan rumahku. Aku masuk ke dalam setelah mengantarnya sampai depan rumah tadi. Ketika melewati kamar, aku mengingat sesuatu dan mencoba memastikan. Aku masuk ke dalam kamar, berjalan menuju cermin yang berada di depan meja riasku. Seketika aku terkejut melihat penampilanku sekarang. Penampilanku saat ini seperti bukan wujud seorang manusia, bisa-bisanya aku pede saja keluar rumah dengan penampilan seperti ini. Ya, Tuhan! Pasti orang-orang yang berpapasan denganku benar-benar menganggapku seperti orang gila tadi. *** “NAYA, KAMU INI BAGAIMANA! Pekerjaan seperti ini saja masih salah! Apa saya harus mengajari kamu lagi bagaimana cara membuat laporan keuangan yang baik dan benar?! Cepat revisi sekarang juga!” Pak Farhan membanting print out laporan keuangan yang seharusnya sudah diserahkan kepada manajemen hari ini. Seperti tidak terjadi apa-apa, Pak Farhan melupakan segala hal yang kami lakukan kemarin dan berubah jadi Bos yang galak lagi di kantor. Sebenarnya aku sudah menduga hal ini, maka dari itu aku mewanti pada diri sendiri untuk tidak terlena pada sikap baiknya Pak Bos. Percayalah, itu hanya bersifat sementara dan tidak bertahan lama. Aku menunduk, mengambil print out laporan keuangan yang dibantingnya ke atas meja, lalu pamit meninggalkan ruangan. Aku sebenarnya tidak ingin menangis, tapi ketika sampai di kubikelku dan melihat tatapan prihatin dari teman sekantorku air mataku turun tanpa aku bisa menahannya. Feni beranjak mendekatiku, memelukku dan mencoba menenangkan. “Udah Nay, ngga usah dimasukin ke hati omongannya Pak Bos, dia kan emang suka gitu kalau udah mendekati hari-hari closing. Bawaanya marah-marah mulu, nggak pandang bulu marah ke siapa. Kebetulan aja hari ini lo lagi apes nemuin Bos pas lagi dia butuh pelampiasan rasa kesalnya. Udah, jangan nangis lagi, ya.” “Iya, Nay, Pak Farhan pasti lagi dapet banyak tekanan dari pihak manajemen, makanya dia agak sensitif hari ini.” Mbak Nindi ikut menenangkanku. Aku mengusap air mataku dengan tangan. Ari yang melihatnya peka dan bergerak menyodorkan tisu kepadaku. “Makasih,” ucapku masih dengan sesenggukan. “Lagian ini sepenuhnya bukan salah gue kok. Gue kan cuma nerima laporan dari bagian tax, kenapa jadi gue yang di salahin sih,” ucapku masih tidak terima. Feni mengusap bahuku, "Udah, ngga usah dipikirin ya, nanti lo malah stress sendiri." Aku mengangguk, mengucapkan terima kasih pada Feni, Ari, dan Mbak Nindi yang mau menghiburku. Kami kembali ke kubikel masing-masing, fokus menyelesaikan pekerjaan menumpuk yang harus diselesaikan hari ini juga. "Kayaknya gue mau resign aja deh." Aku berkata pada Feni ketika kami makan di kantin kantor. "Lo masih kepikiran sama omongan Bos tadi?" Aku menggeleng, "Bukan itu. Gue ngerasa aja kalau selama ini hidup gue cuma berpusat sama pekerjaan. Gue perlu space buat refresh otak gue." "Ya elah, refreh otak nggak perlu sampe resign segala kali Nay, tinggal ambil cutih tahunan lo terus liburan kemana kek, selesai urusan." "Maksud gue bukan gitu, Fen. Gue tuh pengin kerja yang santai, yang jam kerjanya normal, nggak lembur setiap hari. Lo tau sendiri kan, nyokap gue gencar banget jodohin gue. Kadang gue mikir kapan gue punya waktu ngurusin jodoh, kalau gue sibuk terus di kantor." "Nih, Nay, gue kasih tau. Jodoh itu jangan dikejar. Semakin lo kejar dia, semakin jauh juga dia dari lo. Cukup tunggu waktu yang tepat, pasti jodoh lo bakal datang sendiri ke elo kok." "Kalau cuma nunggu doang ngga ada usaha juga percuma kali Fen, yang ada gue jadi perawan tua seumur hidup." "Lagian lo sih, aneh-aneh aja, pake acara niat resign segala, udahlah, nikmati aja kerjaan lo sekarang. Masalah jodoh udah ada yang ngatur, tenang aja." Aku mendengus, tak setuju dengan pendapat Feni. Ngomong-ngomong soal resign, aku memang sempat memikirkan jauh sebelum perjanjianku dengan Mama, tapi segera kulupakan karena aku masih butuh pekerjaan ini dan kalau resign, CV ku tidak akan bagus dengan masa kerja yang hanya beberapa tahun. Tak lama ide soal resign itu muncul lagi di pikiranku, membuatku menimbang apa yang seharusnya aku lakukan. "Balik yuk, gue udah selesai nih." Feni beranjak dari duduknya dan siap kembali ke lantai atas. "Lo duluan aja, nanti gue nyusul." "Oke, gue duluan ya." Kini aku sendiri duduk di kantin kantor, menghabiskan sisa soto yang masih tersisa di mangkukku. Setelah selesai membayar makananku tadi, aku berbalik hendak kembali ke lantai atas. Namun, aku dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang tak kuduga sebelumnya. Seseorang itu melambai ke arahku dan kini berjalan menghampiriku. "Naya kan?" Aku mengangguk patah-patah, tak menyangka akan bertemu lagi dengannya. "Pasa?" Orang itu tersenyum, lalu mengangguk, "Iya ini aku." Ya, Tuhan kejutan apa lagi ini! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN