Bagian 7 : Gedung

1130 Kata
“Gimana acara kemarin, lancar?” Mama bertanya padaku ketika kami sekeluarga sedang sarapan di meja makan. Aku memang sengaja menyempatkan sarapan bersama ketika akhir pekan, karena di hari biasa aku tidak akan sempat menyentuh makanan di pagi hari karena selalu terburu-buru pergi ke kantor. Kebiasaanku sejak dulu ini memang tidak pernah berubah. Aku suka sekali berangkat pada waktu-waktu mepet, membuatku sering kena omel Mama. “Lancar, kok,” jawabku sambil mengunyah roti selai buatan Mama. “Gimana respon keluarga Farhan ke kamu?” “Baik, Naya disambut hangat sama mereka.” Entah untuk alasan apa Mama menghela napas lega. “Syukurlah.” “Kamu nyaman berada di dekat mereka?” Kini giliran Papa yang bertanya. “Nyaman-nyaman aja sih, soalnya mereka baik banget sama Naya, malah jadi Naya yang ngga enak sama mereka.” “Itu berarti mereka sudah cocok sama kamu, tinggal sah-nya aja.” Aku melotot. “Mama apaan sih.” “Loh bener kan, memangnya kamu ngga mau nikah sama Farhan? Mau pacarana terus seumur hidup?” “I-iya ngga gitu juga, tapi kan kami berdua baru saling kenal, masa udah langsung mikirin nikah aja.” “Justru itu, lebih cepat lebih baik. Ingat, Nay, kamu itu sudah dewasa, sudah matang. Mau nunggu apa lagi coba.” “Tau ah, Mama bahasannya nikah mulu, males.” Aku beranjak dari kursi, meninggalkan ruang makan dengan perasaan kesal. “Mau kemana kamu, Nay. Habiskan dulu sarapan kamu.” Mama berteriak dari belakang, yang masih terdengar sampai ke depan rumah. “Males, Naya mau cari bubur aja di perempatan depan.” Aku memutuskan pergi ke perempatan depan untuk membeli sarapan. Hanya menggunakan baju tidur dengan rambut yang dikucir asal-asalan, aku santai saja melewati depan rumah tetangga yang tampak memperhatikanku. Kalau mereka tidak kenal aku, pasti mereka akan mengira aku orang gila dengan penampilanku saat ini. Aku menemukan seorang penjual bubur di pinggir jalan dan memutuskan untuk sarapan di sana. “Mang, buburnya satu. Jangan pake kecap, kuahnya dibanyakin, jangan pake kedelai, sama satu lagi, sambalnya tiga sendok.” “Siap Neng.” Sambil menunggu pesanan buburku siap, aku memutuskan untuk duduk di salah satu bangku yang disediakan sambil memainkan ponsel. Ketika sedang asyik berselancar di sosial media yang jarang kubuka, tiba-tiba seseorang duduk di sebelahku dan menepuk bahuku pelan. Aku menoleh, terkejut mendapati Pak Farhan sudah ada di sampingku. Oh, God! Apa yang dilakukannya di sini? “B-bapak ngapain di sini?” tanyaku tak bisa menyembunyikan rasa penasaran. “Loh, memangnya harus ada alasan kenapa saya ada di sini?” “Nggak, bukan itu maksud saya. Tapi ini kan jauh dari rumah Bapak, rasanya aneh saja melihat Bapak tiba-tiba ada di sini.” Pak Farhan berdeham pelan, “Ada rumah saudara saya di sekitar sini, saya menginap semalam.” Aku menyipit curiga, “Oh ya? Rumah saudara Bapak di daerah mana?” “Kenapa kamu jadi kepo seperti ini. Jangan kepedean, ini bukan hal yang di sengaja. Kebetulan saja tadi saya lihat tukang bubur dan ada kamu di situ.” “Padahal saya juga ngga berpikir sampai ke sana kok, lagian mana mungkin Bapak sengaja ke sini cuma buat nemuin saya.” “Ya, itu kamu sadar.” Aku mendengus, memutuskan untuk mengabaikan Pak Farhan dan fokus pada buburku yang sudah siap. “Bapak ngga makan?” tanyaku setelah beberapa menit Pak Farhan hanya diam memandangiku makan, membuatku jadi salah tingkah. “Engga, saya ngga lap ….” KRUYUK Seperti habis tertangkap basah, Pak Farhan memalingkan mukanya, menutupi rasa malu. Sedangkan aku, karena tak bisa menahan tawa aku menyemburkan tawaku keras, membuat beberapa orang menoleh padaku. “Udah Pak, ngga usah gengsi. Saya tahu Bapak lapar kok, pesan saja, biar saya yang traktir. Mang, buburnya satu lagi ya, yang biasa aja.” “Siap Neng.” Setelah sekian menit memalingkan wajah, Pak Farhan akhirnya mau menatapku. “Lupakan soal tadi.” Aku menahan tawa, “Iya Pak, tenang aja. Saya ngga bakal bilang ke siapa pun kok.” “Kamu juga jangan nertawain saya.” Duh, kok gemes ya. “Iya Pak, nih saya udah berhenti ketawa kok, sekarang makan ya.” Aku menyodorkan mangkuk berisi bubur yang baru kupesankan untuknya. Pak Farhan ragu-ragu mengambilnya, mencicipi rasa kuahnya terlebih dahulu lalu mengangguk-angguk merasakan kuah bubur yang pas dengan lidahnya. Kemudian dia mulai menyuapkan sesendok demi sesendok bubur itu ke mulutnya. “Enak kan, Pak?” tanyaku yang melihat Pak Farhan lahap memakan semangkuk buburnya. Pak Farhan berdeham, “Lumayan.” Aku tersenyum geli mendengar jawabannya. Orang yang melihatnya makan sekarang pastilah tahu kata lumayan yang keluar dari mulut Pak Farhan adalah sebuah kebohongan. Jelas sekali dia lahap memakan bubur itu sampai tak bersisa. Bahkan mangkuk buburku saja masih utuh. “Kamu memangnya ngga jijik apa sama bubur yang diaduk gitu.” Pak Farhan mengomentari cara makanku yang membuatku kesal. “Kenapa memangnya, ini enak kok,” jawabku. “Liat saja tampilannya, membuat makan jadi ngga berselera.” Pak Farhan menunjuk mangkukku. “Asal Bapak tahu ya, kita ngga boleh nilai sesuatu dari tampilan luarnya saja. Bapak belum tahu saja nikmatnya bubur yang diaduk. Semua rasa itu seperti tercampur jadi satu.” “Saya tahu, tapi kalau melihatnya saja membuat kita jadi membayangkan yang tidak-tidak malah jadi ngga berselera makan kan?” “Membayangkan apa, saya biasa saja kok. Itu tergantung pikiran Bapak, kalau Bapak memikirkan rasanya saja pasti ngga akan berpikir yang tidak-tidak.” “Justru itu, karena memikirkan rasanya seperti apa kita jadi terlalu mendalami dan berujung melihat sesuatu itu menjadi apa yang terlintas di benak kita.” Aku mengibaskan tangan, kesal karena harus diajak berdebat bahkan saat sarapan begini, “Sudahlah terserah Bapak, selera saya dan Bapak berbeda jadi percuma kalau kita menyatukan selera, itu tergantung masing-masing orang.” Kali ini Pak Farhan diam saja, tak mendebat. Dia fokus menghabiskan teh hangatnya sampai habis. “Setelah ini kamu mau kemana?” tanyanya Aku mengangkat bahu, “Nggak tahu, pulang mungkin.” “Bagaimana kalau ikut saya saja, kita olahraga di sekitaran taman.” Aku tersenyum, membalas ajakannya, “Kayaknya engga deh Pak, nanti orang-orang yang ada di taman malah lari ngeliat saya ada di sana,” tolakku. “Kenapa memangnya?” Apa Pak Farhan tidak bisa melihat penampilanku sekarang? Dengan pakaian seperti ini tentu saja aku tidak pede pergi jauh-jauh. “Bapak ngga liat penampilan saya? Orang-orang bakal mengira saya orang gila kalau sampai saya ke sana.” “Kenapa dengan penampilan kamu, biasa-biasa aja kok, ada yang aneh memang?” Wah, wah, sepertinya Pak Farhan butuh obat tetes mata untuk menjernihkan penglihatannya. “Sudah, tidak usah banyak alasan, kamu ikut saya sekarang.” Aku terkejut saat Pak Farhan memaksa menarikku untuk berdiri. Setelah memabyar bubur kami, dia menyeretku ikut dengannya. Oh, Gosh! Kenapa sih, aku harus bertemu dengan Bos macam Pak Farhan yang selalu memaksaku begini. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN