“Nay, kok Farhan nggak pernah main ke sini lagi, ya. Kamu lagi berantem sama dia?” Mama bertanya padaku ketika kami sedang bersantai di ruang keluarga. Sebenarnya waktu kemarin lusa Farhan mengantarku ke rumah, aku meminta padanya untuk menurunkanku di perempatan jalan utama agar dia tidak perlu bertemu dengan orang tuaku. “Aku udah putus sama dia, Ma.” Aku sudah bisa membayangkan bagaimana reaksi Mama saat tahu aku putus dari Farhan. Dia pasti bakal bereaksi berlebihan, karena harapannya untuk mendapat calon mantu idaman sudah pupus. Namun, alih-alih berteriak heboh dan mencecarku dengan pertanyaan yang menyudutkan, Mama malah bertanya dengan nada kalem. “Kenapa?” Diberi pertanyaan seperti itu, sebenarnya aku sudah menyiapkan sederet jawabannya yang memojokkan Farhan. Menceritakan pada

