"Arina.. Bangun nak, makan siang dulu sudah disiapkan si mbok" Ujar mama membangunkanku.
Aku pun terbangun dan melirik jam disamping tempat tidurku, pukul 1 siang. Lama juga ya aku tidur dari pagi setelah bagas dan alen pergi sampe sekarang, batinku.
"Kamu sudah enakan ?" Tanya mama.
"Sudah mah, besok aku mulai aktifitas lagi ya. Bosen banget dirumah ga ngapa-ngapain" Kataku sambil mengikuti langkah mama menuju ruang makan.
"Ya boleh, tapi kamu yakin udah enakan buat aktifitas ?" Tanya mama yang masih khawatir terhadapku.
Akupun mengangguk. Setelah selesai makan aku segera kembali ke kamarku, mengecek kembali tugas-tugas kuliah dan sekolah. Selama tiga hari libur aku sama sekali ga menyentuh buku, kerjaanku cuma tidur makan tidur makan. Mama sama sekali tidak mengijinkan aku untuk melakukan aktifitas lain, hanya menyuruh istirahat sampai kondisiku kembali pulih.
Padahal kalo dibilang bosen, aku sangat sangat bosen. Tapi biar mama tenang, ga cemas lagi terpaksa aku mengikuti saran mama untuk istirahat beberapa hari.
Tok.. Tok.. Tok.. Aku segera membuka pintu kamarku, dan kulihat bagas sudah berdiri disana. Padahal baru tadi pagi bagas datang ke rumah, masa siang gini sudah kemari lagi.
"Bagas" Sapaku setelah melihatnya.
Tiba-tiba bagas langsung masuk dan memelukku. Ada apa sama bagas ? Apa dia mendapat masalah hari ini ? Apakah dia sedang sedih ? Aku mencoba untuk menepuk-nepuk bahunya mencoba untuk menenangkan bagas namun dia malah memelukku semakin erat.
Aku mencoba menanyakan langsung padanya, apakah sedang ada masalah ? Namun bagas hanya menggeleng. Sikapnya pun sangat lembut, apa dia khawatir padaku ? Batinku sambil menyandarkan kepalaku di dadanya. Karena memang aku setinggi d**a bagas, bukan aku yang pendek tapi bagas yang ketinggian.
Aku masih berusaha untuk menanyakan penyebab sikapnya yang begitu manis terhadapku namun dia hanya menjawab ga ada, gapapa. Ya sudah lah, aku ga akan menanyakan apa-apa lagi.
Tapi disaat aku bertanya apa ada yang memberi hadiah ke bagas, dia langsung menjawabnya dan menyodorkan sekotak coklat padaku. Biasanya dia akan menolak semua hadiah pemberian cewek-cewek itu, tapi tumben dia menerima yang satu ini. Siapa ya yang ngasih ? Batinku.
Bagas tau banget aku pencinta coklat, mungkin karena dia tau itu makanya bagas menerima hadiah dari cewek itu. Syukurlah, bagas sudah mulai berubah.
Kami ngobrol sambil makan coklat, kadang sesekali bagas langsung memasukkan coklat ke dalam mulutku. Aku sangat menikmati coklat ini, rasanya begitu enak hanya saja rambut ini sungguh mengganggu tiba-tiba bagas berdiri dan mendekat ke arahku dan mencoba mengikat rambutku. Baik banget sih abangku yang satu ini, batinku sambil tersenyum.
Karena aku anak tunggal aku sudah menganggap bagas seperti kakaku sendiri. Bagas selalu menjaga aku dimanapun kami berada. Dan sangat perhatian pada hal kecil sekalipun.
Aku menatap bagas yang tidak beranjak setelah berhasil menguncir rambutku. Kami pun saling bertatapan, tiba-tiba dengan cepat bagas mengecup bibirku. Saking cepatnya gerakan bagas aku sampai tidak bisa menghindar, hanya menatapnya dengan penuh keheranan.
"Bagas" Panggilku bingung, kenapa bibir apa yang bagas pikirkan.
"Maaf, tolong jangan sakit lagi aku terlalu khawatir" Jawabnya sambil menatapku.
Aku menghela nafas mendengarnya, ternyata dia amat sangat mengkhawatirkan aku. Tapi kenapa harus cium bibir sih jadi mengingatkan kejadian ketika aku sama alen.
Alen ? Benar.. Aku sudah tiga hari tidak bertemu dengannya, dia juga tidak mengirimi aku pesan selama itu. Entah kenapa aku merasa kecewa, deg.. segera aku sadar diri "Alen murid aku" Batinku meyakinkan diri sendiri. Aku langsung menyibukkan diri mempersiapkan untuk sekolah dan kuliah besok, dari pada memikirkan hal yang tidak seharusnya.
"Kamu beneran sudah bisa aktifitas kembali ?" Tanya mama disela-sela kami sarapan pagi harinya.
"Udah mah, aku kan ga sakit cuma lelah aja"
"Tapi tetep aja kamu sampe demam gitu loh kemarin, sekarang udah ga kan ?" Ujar mama sambil memegang keningku.
"Ga mah, arin udah sehat banget sekarang. Mama jangan khawatir ya, arin berangkat dulu" Kataku setelah menghabiskan sarapanku dan mencium mama sambil berlalu pergi.
Sesampainya di disekolah aku segera memarkir mobilku, biasanya alen sudah menungguku di kursi bawah pohon tak jauh tempat aku parkir mobil. Tapi hari ini alen tidak ada, mungkin karena dia tidak tau aku akan masuk hari ini.
Sambil menghela nafas aku segera keluar dari mobil dan menguncinya, namun ketika berbalik tiba-tiba alen sudah berdiri dihadapanku. Membuatku sedikit terkejut.
"Alen, bikin kaget aja tiba-tiba berdiri disini" Kataku.
"Kamu.. Hmmm miss udah sehat ?" Tanyanya.
Aku mengangguk sambil melangkahkan kaki menuju ruanganku dan alen pun mengikuti di sampingku.
"Kenapa tanya-tanya ? Kamu khawatir ?" Kataku bercanda sambil tertawa.
"Iya, Aku sangat khawatir sampai tidak bisa tidur beberapa hari ini" Jawabnya serius.
Aku meliriknya sekilas, "Kalo khawatir kenapa ga wa atau telpon ? Atau jenguk kek bawa makanan" Kataku masih sambil bercanda.
"Aku terlalu takut..." Jawabnya terputus.
Aku menghentikan langkahku tepat didepan ruanganku, "Takut kenapa ?" Tanyaku sambil masuk ruangan, alen pun ikut masuk ke dalam ruangan ku.
"Aku takut kamu masih sakit" Katanya sambil menutup matanya dengan lengannya.
Aku jadi iba melihatnya, apa dia masih merasa bersalah karena terlambat masuk kedalam rumah rima waktu itu, batinku. Aku pun mendekatinya, dan memegang lengan yang menutupi matanya.
"Kemarin iya aku masih kurang sehat, tapi sekarang udah baikan kok" Kataku sambil menatap matanya.
"Kamu tau apa yang lebih aku takutkan ?" tanyanya membuatku sedikit bingung.
"Apa ?"
"Aku takut ketika aku chat dan kamu bilang masih sakit, aku ga bisa menahan diriku untuk tidak langsung datang menemuimu. Dan aku juga takut, kalo ketika aku menjengukmu dan kamu masih sakit aku ga bisa menahan diriku untuk tidak memeluk mu. Seperti sekarang, aku sangat berusaha keras menahan diriku untuk tidak memelukmu"
Aku sedikit terperengah mendengar jawabannya yang terlalu jujur, "Kenapa kamu ingin memeluk aku ?" Tanyaku heran.
"Karena aku merindukan mu, saking sangat rindunya sampai ingin memelukmu" Jawabnya sambil menatapku dalam.
Jawaban alen membuatku bingung harus bagaimana menjawabnya, "Kamu ga perlu berusaha sekeras itu, aku..." belum sempat aku melanjutkan perkataanku alen sudah menarikku ke dalam pelukannya.
Aku berusaha melepaskan pelukannya, namun alen memelukku dengan begitu erat seolah enggan melepaskan. Aku seperti bisa merasakan perasaan alen, dia sedang melepaskan kerinduannya padaku. Apa iya sebegitunya alen merindukanku ? Kenapa perasaannya sebesar ini padaku ? Apa yang harus aku lakukan padanya ? Batinku tanpa sadar menyandarkan keningku dibahunya.
"Aku akan kembali nanti" Katanya sambil melepas pelukan nya. Aku hanya mengangguk dan alen pun berlalu pergi dari ruangan ku.
Tadi itu aku mau bilang ga usah berusaha terlalu keras karena aku udah baikan, udah sehat. Apa alen mengira aku mengijinkan dia memeluk aku, wah bahaya ini kalo dekat alen aku selalu terbawa perasaan. Kenapa aku ga bisa menolak ketika di peluk dia, di cium dia ? Kenapa sih ? Aku bener-bener ga ngerti, sumpah.
Sedang memaki sendirian, tiba-tiba pintu ruanganku diketuk dan nampak rima sedang berdiri di depan pintu. Aku pun segera menyuruh nya masuk dan duduk bersama di sofa.
"Gimana kabar kamu ?" Tanyaku.
"Miss yang gimana kabarnya ? Aku dengar sejak kejadian itu miss ga masuk sampai tiga hari" Ujar rima.
"Saya gapapa, hanya merasa lelah dan ingin istirahat aja kok" Jawabku.
"Gara-gara aku miss jadi sakit" Ujar rima sambil menunduk menahan tangis.
"Ga rima, jangan menyalahkan dirimu. Saya bener-bener gapapa, cuma kaget aja ngalamin kejadian waktu itu. Jadi pengen istirahat" Ujarku meyakinkannya.
"Syukurlah miss, terima kasih sudah membantu saya" Ujar rima sambil tersenyum.
Aku mengangguk, "Gimana kabar kamu ? Ibu kamu ? Dan juga bayi kamu ?" Tanyaku pelan, khawatir menyinggung perasaannya.
"Saya baik miss, mama juga baik. Dan bayi ini juga sehat miss" Ujar rima sambil mengusap perutnya. "Saya mau pamit miss, saya akan keluar dari sekolah dan pulang kampung bersama ibu. Saya akan melanjutkan hidup saya di kampung bersama ibu" Ujarnya lagi.
Tanpa terasa air mataku menetes, "Apakah itu jalan terbaik ? Apa kamu sudah yakin mau meninggalkan sekolah ini dan teman-teman ?" tanyaku.
Rima mengangguk pasti, "Saya sudah menyiapkan diri untuk itu miss, karena saya tidak mau teman-teman mengetahui cerita saya. Dan fakta bahwa saya hamil anak dari ayahnya sendiri, saya terlalu takut menghadapi mereka jika mereka sampai tau cerita saya" Ujarnya menahan tangis.
Aku memeluk rima, "Lupakan semua yang ada disini dan mulailah untuk membuka lembaran baru. Berbahagialah rima" Ujarku. Pelukanku membuat tangis rima pecah, ia tak lagi menahan tangisnya. Membuatku ikutan sedih.
"Yang paling membuatku sedih, aku harus meninggalkan orang yang paling aku sukai miss. Aku menyukainya sejak kecil, dari dulu aku hanya bisa memandangnya tanpa bisa mengungkapkan perasaan ku padanya. Setidaknya aku ingin sekali saja dia tau perasaanku padanya, tapi ini tidak mungkin" Ujarnya disela isak tangisnya.
"Katakanlah, ungkapkan perasaan mu padanya" Kataku.
"Sudah tidak mungkin miss, aku kotor. Aku sudah tidak memiliki keberanian untuk menyukainya, aku tidak pantas" kata rima.
"Setidaknya jujurlah pada hatimu sebelum pergi, ungkapkanlah perasaanmu supaya hati kamu lega dan ga ada beban" Saranku pada rima.
"Bolehkah ?" Tanya rima.
Aku mengangguk sambil tersenyum, setelah itu kami berbincang cukup lama sampai terdengar bel istirahat telah berdering.
"Maaf ya miss saya kelamaan curhatnya" Ujar rima sambil tersenyum.
"Iya gapapa, gara-gara saya kamu jadi ga masuk jam pelajaran"
"Gapapa miss, lagi males belajar" Ujarnya lagi, "Makasih ya miss, saya pergi dulu" Ujar rima sambil berlalu pergi dari ruangan ku.
Dari rima, aku jadi belajar banyak hal kalo sebenernya hamil diluar nikah itu sesuatu yang sangat buruk. Amat Sangat buruk karena hanya Perempuan yang harus menanggung begitu banyak kerugiannya. Untuk itulah wanita harus bisa menjaga diri dan menjaga kesuciannya untuk dipersembahkan kepada suaminya tercinta.
Tapi rima menjadi seperti itu sebenarnya karena keadaan, keadaan yang membuatnya seperti itu. Mungkin selama ini ia menjaga dirinya sendiri namun karena suatu hal yang menyebabkan itu terjadi. Kasihan rima, aku tidak bisa membayangkan jika aku yang ada diposisi itu.
Aku menghela napas panjang, jam sudah menunjukkan pukul 10. Aku harus bergegas karena jam 11 ada jam pelajaran di kampus.
Ketika keluar dan mengunci ruangan aku mendengar sayup-sayup suara alen. Tapi aku merasa alen tidak sendirian, ia sedang berbicara dengan seseorang. Entah kenapa aku tidak bisa melangkahkan kakiku dan malah terdiam mendengar obrolan mereka berdua dilorong tepat disamping ruangan ku.
Apalagi ketika aku mengenal suara lawan bicara alen, dia adalah rima. Aku semakin tidak bisa melangkahkan kakiku, aku tidak ingin memotong pembicaraan rima yang sedang mengungkapkan perasaannya pada orang yang disukainya. Karena untuk ke arah parkiran hanya bisa melewati lorong itu.
Orang yang disukainya, deg... seketika aku langsung melihat ke arah alen yang ternyata juga sedang melihat ke arahku. Kami sama-sama terdiam, sampai akhirnya terdengar suara rima bahwa dia ingin memeluk alen untuk yang pertama dan terakhir kalinya. lalu aku melihat rima yang datang dan memeluk alen, tanpa sadar aku mundur dan merapatkan tubuhku ke tembok. Aku tidak ingin rima mengetahui bahwa aku menyaksikan dia menyatakan perasaannya.
Tapi entah kenapa, hatiku terasa sakit. Kenapa aku sedih melihat alen berpelukan dengan rima. Bukankah tadi aku yang menyarankan rima untuk menyatakan perasaannya. Tapi kenapa aku merasa menyesal memberi saran seperti itu ketika tau bahwa laki-laki itu adalah alen.
Ini ga wajar arin, inget dia murid kamu. ALEN MURID KAMU !!!!! Batinku meyakinkan diri sendiri. Ketika aku mengangkat wajahku alen sudah berdiri di depanku.