Bagas menepikan mobilnya setelah alen turun dari mobil. Ia memukul stir mobilnya berkali-kali, ada perasaan marah dihatinya. Mengingat kata-kata terakhir alen sebelum ia turun dari mobil, "Aku tidak akan menyerah?" ucap bagas meniru alen.
Aku lebih tidak boleh menyerah, aku sudah mengenal arina jauh sebelum laki-laki itu bertemu dengannya. Aku tidak akan melepaskan arina, aku tidak akan kalah begitu saja. Arina hanya milikku, selamanya !!! Batin bagas.
Setelah meyakinkan hatinya, bagaspun kembali mengemudikan kendaraannya menuju kampus.
"Bagas" Panggil seseorang, ketika bagas sedang duduk sendirian di bangku dekat koridor kampus.
Bagas menatap dia yang sedang berdiri sambil menyodorkan kotak merah muda berpita padanya, bagas nampak berpikir sejenak.
"Lo suka sama gue ?" Tanya bagas tiba-tiba membuat gadis itu salah tingkah dan akhirnya mengangguk.
Bagas menerima kotak merah muda itu dan membuka tutup nya, sederet coklat cantik yang di hias dengan begitu manisnya terlihat di dalamnya.
"Aku membuat itu sendiri, khusus buat kamu"
Bagas menghela napasnya, "Duduk" kata bagas sambil menepuk sisi kursi disebelahnya.
Gadis itu tampak tercengang, tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Seorang bagas memintanya duduk disebelahnya dan menerima coklat itu tanpa sikap cuek dan jutek seperti biasanya. Gadis itu sangat bahagia sampai tidak bisa menahan senyumnya.
"Padahal cuma di suruh duduk doank, kenapa kayanya seneng banget ?" Tanya bagas melihat raut muka bahagia di wajah gadis itu.
"Karena yang nyuruh duduk itu kamu, kalo yang lain mungkin akan biasa aja"
"Kenapa begitu ?"
"Karna kamu biasanya bersikap dingin dan cuek sama gadis-gadis yang memberikan hadiah untukmu. Ini pertama kalinya kamu menerima hadiahku dan mengajakku bicara"
"Apa lo sering ngirimin gue hadiah ?" Tanya bagas.
Gadis itu mengangguk, "Hmm.. Setiap ada kesempatan aku pasti membuat sesuatu untukmu" lalu gadis itu menunduk, "Tapi baru kali ini aku memberanikan diri memberikannya langsung padamu, biasanya aku menitipkannya lewat arina. Itupun karena aku sudah mencarinya namun ga lihat arina dimana-mana" Lanjutnya.
"Arina ga kuliah, dia sakit" Jawab bagas.
"Oh, dia sakit. Pantas saja aku lihat kamu duduk sendirian, biasanya arina selalu menempel padamu. Dimana ada kamu pasti disana ada arina"
"Bukan dia yang menempel terus, tapi gue yang ga ngebiarin dia jauh-jauh dari gue" Ujar bagas.
Suasana hening sejenak, keduanya terdiam dengan pikiran nya masing-masing.
"Siapa nama lo ?" Tanya bagas memecah kesunyian diantara mereka.
"Lucyana, biasanya teman-teman panggil aku lucy"
Bagas mengangguk, "Kenapa lo suka gue ? Apa yang lo suka dari gue ?" Tanya bagas sambil melihat lucy.
Lucy tampak salah tingkah, "Apa menyukai itu harus pake alasan ? Aku suka kamu ya karna suka aja"
Bagas tampak menyeringai mendengar perkataan lucy, "Ga mungkin seklise itu, katakan yang sebenarnya atau percakapan ini jadi membosankan" Ujar bagas dengan mimik kecewa yang dibuat-buat.
Lucy tampak gugup ia tidak ingin percakapan dengan bagas berakhir, ini pertama kalinya bagas mengajaknya bicara.
"I..i..itu ka..karena kamu pintar"
"Itu saja ?!" Tanya bagas sambil mengerenyitkan keningnya.
"Kamu ganteng, tinggi, baik dan juga perhatian" Tambah lucy.
Bagas mengangguk-angguk membuat lucy kembali salah tingkah, "Gue baik dan perhatian ? Apa selama ini gue pernah bersikap baik atau perhatian sama lo ?"
Lucy menggeleng.
"Trus kenapa lo bisa menilai kalo gue itu baik dan perhatian ?"
"Kamu selalu baik dan perhatian sama arina. Aku berpikir itu mungkin sifat asli kamu ke orang yang sudah kamu kenal. Jadi sikap dingin dan jutek kamu itu disebabkan karena kamu ga mengenal mereka" Ujar lucy.
Bagas nampak terdiam, "Udah berapa lama lo suka gue ?"
"Sangat lamaa, dari semenjak kita SMP" Jawabnya malu-malu.
"Sampai sekarang ?" Tanya bagas heran.
Lucy mengangguk, "Aku selalu berusaha belajar yang rajin agar bisa masuk sekolah yang sama denganmu"
"Apa yang membuat lo bertahan ? Padahal sekali pun gue ga pernah ngasih harapan !?" Tanya bagas.
"Aku meyakinkan diriku.. Mungkin suatu saat akan ada hari dimana kamu akan melihatku. Makanya aku terus bertahan, terus berusaha dan ternyata kesabaranku membuahkan hasil" Kata lucy sambil tersenyum dan menatap bagas, "Hari ini setelah sekian lama akhirnya kamu melihatku bahkan mengajak ku berbicara" Lanjut lucy.
Bagas ikut tersenyum, "Terima kasih, tapi sekarang sudah cukup lucy. Lo berhak bahagia sama laki-laki yang mencintai lo. Jangan berharap sama gue karna gue ga bisa nganggap lo lebih dari sekedar..."
"Pengagum kamu ?!" Tanya lucy memotong pembicaraan bagas.
"Bukan, kita bisa berteman sekarang" Ujar bagas sambil mengulurkan tangannya.
Lucy ragu-ragu meraih tangan bagas, hatinya sedih karena bagas menolaknya meskipun secara tidak langsung tapi lucy paham maksud dari perkataan bagas.
"Aku ditolak ?!" Tanya lucy sedih, tanpa sadar air matanya menetes.
"Maaf" Ujar bagas masih tetap menggenggam tangan lucy.
"Apakah ada orang lain yang kamu sukai ?" tanya lucy, sebenarnya ia agak takut dengan jawaban bagas tapi ia harus mendengarnya langsung agar ia bisa menata kembali hatinya.
Bagas nampak berpikir sejenak dan akhirnya mengangguk, ia harus tegas tidak boleh memberi harapan sedikitpun disaat hatinya sudah terisi oleh orang lain. Dia ga ingin lucy terus berharap darinya, dia berhak bahagia dengan laki-laki yang mencintainya.
"Apakah dia..." Lamaaa sekali lucy menggantung kalimatnya, karena ia khawatir hatinya belum siap untuk mendengar jawabannya.
Bagas menghela nafasnya, "Ya, orang yang selama ini selalu berada disisi gue" Ujar bagas seperti tau maksud dari perkataan lucy. "Sekarang buka hati lo buat cowo lain. Jangan berharap sama gue !! Kita bisa berteman tapi ga bisa lebih dari itu !! Lo cantik, pinter, baik pasti lo bakalan nemuin laki-laki yang mencintai lo"
Lucy nampak terisak, "Ternyata benar Cinta itu Tak Mesti Harus Memiliki, tapi tetap saja ya sakit. Hehehe.. Terima kasih bagas, aku tau kamu mengatakan itu agar aku bisa membuka hatiku untuk laki-laki lain. Tapi mungkin itu perlu waktu, entah sampai kapan" Ujar Lucy sambil tersenyum.
Bagas ikut tersenyum.
"Aku harap gadis beruntung itu tidak menyia-nyiakan kamu, aku mengalah karena menghormati pilihanmu bagas. Aku ga akan tinggal diam kalau ternyata gadis itu melukaimu sementara aku menahan perasaanku demi dirinya agar kamu bahagia. Aku pergi dulu ya" Ujar lucy sambil berlalu pergi.
Bagas termenung sejenak, Kini ia memiliki tekad baru, selama ia tidak menyerah kesempatan arina menjadi miliknya akan selalu ada.
Ia tidak setuju dengan kalimat mencintai tak harus memiliki, bagi dia mencintai seseorang harus diperjuangkan agar dapat memiliki sepenuhnya.
Ia mencintai arina, ia tidak akan merelakan arina begitu saja. Ia tidak akan menyerah, ia akan memperjuangkan cintanya dengan cara apapun. Arina harus menjadi miliknya !!!
Bagaspun berlalu pergi dengan senyuman menghiasi wajahnya menuju rumah arina. Semenjak ia menyadari perasaannya, ia selalu merindukan arina dan ingin berada didekatnya.
Selang beberapa menit ia sudah tiba dirumah arina, satpam langsung membukakan pintu karena bagas bagaikan keluarga dirumah itu.
"Terima kasih pak" Tegur bagas sambil tersenyum.
Pak satpam hanya mengangguk sambil menutup kembali pintu gerbang sementara bagas langsung menuju ke dalam rumah dan bertemu dengan mama arina.
"Hai bagas, sudah kesini lagi aja. Baru tadi pagi kamu kesini" Sapa mama sambil memeluk bagas.
"Iya mama, gimana arina ? Sudah baikan ?" Tanya bagas.
"Dia hanya perlu istirahat biar segera fit lagi badannya. Kayanya bagas khawatir banget ya ?" Ujar mama menggoda bagas.
Bagas tersenyum, "Sahabat bagas sakit ya harus khawatir donk mah"
"Yasudah langsung aja ke kamarnya, baru banget dia naik habis makan"
Bagas mengangguk dan langsung menghampiri kamar arina dan mengetuk pintunya. Tidak lama pintu itu pun terbuka dan nampak arina masih dengan pakaian santainya.
"Bagas" Ujar arina.
Bagas langsung memeluk arina membuat gadis itu heran, namun arina tidak menolak atau mendorong bagas. Ia malah menepuk-nepuk punggung bagas mencoba menenangkannya, membuat bagas makin mempererat pelukannya.
"Kenapa ? Ada masalah ?" Tanya arina lembut tanpa melepas pelukan bagas.
Bagas menggeleng, "Ga ada"
"Terus kenapa ? Aku baik-baik aja kog, besok juga mulai kuliah" Ujar arina sambil menyenderkan kepalanya di d**a bagas, karena sepertinya bagas masih belum mau melepas pelukannya.
"Syukurlah" Kata bagas sambil mencium kepala arina.
"Ada yang nakal dikampus ? Bagas diganggu cewe-cewe lagi ?!" Tanya arina sambil mengangkat wajahnya menatap bagas.
"Hmm sedikit" Kata bagas sambil mengubah posisi kepala arina agar kembali bersandar pada dadanya.
"Bagas gapapa ? Mereka ngasih bagas hadiah lagi ?" Tanya arina.
"Hmm" Bagas mengangguk tanpa melepas pelukannya, "Tapi kali ini aku menerimanya, aku bawa pulang buat kamu"
"Benarkah ? Dia ngasih apa ke bagas ?!" Tanya arina.
Bagas melepas pelukannya dan mengambil hadiah dari dalam tasnya.
"Wawww coklat" Ujar arina senang.
"Kamu kan pencinta coklat, makanya aku bawa pulang. Yuukk kita makan bareng-bareng"
Arina mengangguk, mereka pun duduk di sofa yang ada dikamar arina. Beberapa kali bagas memberikan coklatnya untuk langsung dimakan arina, arina yang tidak mengetahui perasaan bagas merasa senang dengan hal itu.
"Ini juga enak loh kacang almond nya" Kata arina sambil memberikan coklat itu untuk langsung dimakan bagas. Bagas membuka mulutnya dengan senang hati.
Bagas menatap arina yang nampak sibuk dengan rambutnya ketika sedang memilih coklat mana lagi yang akan dia makan. Bagas berdiri dan mengambil ikat rambut arina lalu mengikat rambutnya. Ia duduk ditempatnya semula hanya memajukan badannya agar dapat meraih rambut arina. Meskipun Arina nampak sedikit terkejut karena jarak wajah arina dengan wajahnya sangat dekat namun arina tidak merespon apa-apa. Ia tetap melanjutkan memakan coklatnya.
Bagas menatap arina tanpa mengubah posisi duduknya, lama sekali ia menatap arina hingga arina menoleh ke arahnya membuat jarak wajah mereka begitu dekat.
Bagas menatap mata arina lalu beralih ke bibirnya lalu mengecup pelan bibir arina membuat gadis itu sangat terkejut.
Entah kenapa bagas tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengecup bibir arina disaat wajah mereka begitu dekat.
"Maaf" Ujar bagas sambil kembali duduk seperti semula.
"Bagas, kenapa ?" Tanya arina heran, ia sungguh tidak mengerti kenapa bagas mencium dirinya.
"Tolong jangan sakit lagi, aku terlalu khawatir" Ujar bagas menatap arina dalam.