Alen dan arina melihat bagas mendatangi mereka. Alen tidak pernah menduga akan bertemu bagas dalam situasi seperti ini.
"Arina, kata mama kamu sakit ?" Kata bagas yang langsung memegang dahi arina. Alen yang melihat itu sedikit agak cemburu namun ia meyakinkan hatinya bahwa mereka hanya berteman.
Arina mengangguk, dan mengatakan pada bagas bahwa dirinya baik-baik saja. Namun bagas yang cemas tidak langsung percaya, apalagi sebelum ia datang bagas sempet menelepon mama arina dijalan menanyakan tentang gadis itu karena telepon arina tidak diangkat-angkat.
Dari situlah bagas tau kondisi arina, mama menceritakan keadaan arina yang memar-memar lewat telepon sepanjang perjalanan. Dan ternyata setelah melihat langsung memang benar wajah arina tampak bengkak, bagas merasakan kepedihan dalam hatinya. Diusapnya pipi yang memar itu, lalu bagas memegang tangan arina mencari luka yang lainnya.
Arina tampak kikuk dengan sikap bagas yang tiba-tiba itu, apalagi di depannya ada alen yang dari tadi memperhatikan mereka tanpa mengatakan apa-apa.
Padahal alen sangat memaklumi sikap bagas, sebagai teman pasti merasa khawatir jika tau kondisi sahabat nya seperti ini, tapi kenapa hati alen tetap merasa sakit.
Melihat sikap bagas yang begitu manis pada gadis yang disukai nya, membuat hatinya bergejolak. Ingin rasanya ia menghentikan tangan yang sedang membelai gadis yang disayanginya, namun alen hanya menahannya. Sekali lagi ia meyakinkan dirinya, bahwa mereka hanya berteman.
"Bagas, ini alen" Kata arina akhirnya mengenalkan alen dengan bagas.
Arina hanya tidak menyadari, bahwa dua laki-laki dihadapannya ini sudah mengenal satu sama lain. Mereka tidak pernah saling melupakan walaupun pertemuan mereka bisa dibilang singkat, sangat singkat.
Namun waktu yang singkat itu mampu membuat mereka menyadari satu hal, bahwa mereka menyukai gadis yang sama, yaitu arina.
Bagas mengulurkan tangannya pada alen, dan alen pun menyambut uluran tangan bagas. Setelah itu alen memberikan kunci mobil arina sekalian pamit berangkat sekolah. Arina sempat khawatir karna alen tidak membawa kendaraan, bagaimana ia akan berangkat sekolah ? Namun tanpa di duga, bagas menawarkan diri untuk memberi tumpangan alen ke sekolah.
Alen sempat ingin menolak, tapi arina menahannya. Akhirnya mereka pun berangkat bersama. Sebelum pergi bagas memeluk arina, lagi-lagi didepan alen. Apa ia sengaja melakukan nya ? Batin alen. Alen menatap arina yang sempat meliriknya. Arina pasti merasa canggung hal itu terjadi didepan alen, secara arina sangat tau perasaan alen terhadapnya.
"Terima kasih" Ujar bagas memecah kesunyian dalam perjalanan mereka.
Alen menoleh kearah bagas, "Untuk apa ?" tanya alen, perasaan alen ga melakukan apa-apa untuk laki-laki satu ini.
"Karena menjaga arina ketika insiden penggerebekan kemarin" Kata bagas tanpa menoleh.
Alen memutar bola matanya sedikit kesal, ia melakukan itu karena memang ia merasa berkewajiban menjaga gadisnya bukan karena demi siapa pun.
"Arina, gadis itu tipe orang yang rela terluka demi orang lain. Lo juga pasti tau, lo kan udah kenal lama sama dia" Kata bagas lagi.
Alen menoleh ke bagas, "Maksud lo ?" tanya alen antara mengerti dan tidak dengan arah pembicaraan bagas.
"Ya walaupun ga selama gw mengenal arina, tapi setidaknya pasti lo udah tau dia itu tipe orang yang gimana karena udah pernah temenan lama sama dia" Kata bagas, ia menoleh sekilas ke alen. "Benerkan ?" tanyanya sambil menyunggingkan senyumnya.
"Padahal pertemuan kita itu bisa dibilang singkat banget ya, tapi bisa-bisanya lo masih inget sama gw. Sedang..." Belum sempat alen melanjutkan perkataannya, bagas memotong pembicaraan.
"Sedangkan arina lupa sama lo !?" Sambung bagas.
Alen mengangguk, kalo bagas bisa begitu mengingatnya tapi kenapa arina ga ingat sama sekali tentang dirinya.
"Sabar, jangan terlalu memaksa arina buat inget sama lo. Pelan-pelan aja" Ujar bagas.
"Gw cuma heran, lo aja masih inget sama gw tapi kenapa arina bisa sama sekali lupa tentang gw !?" Ujar alen.
"Kita itu bukan orang yang bisa melupakan satu sama lain, karena tujuan kita sama" kata bagas misterius, tapi alen bisa memahami kemana arah omongan bagas.
"Maksud lo ?" Tanya alen hanya sekedar memastikan kalo dugaannya itu tidak salah.
Bagas hanya tersenyum tipis, ia tidak menyangka sama sekali bahwa saingannya dalam mendapatkan arina adalah bocah ingusan yang masih duduk dibangku sekolah menengah.
Meskipun begitu bagas tidak boleh lengah, ia teringat bagaimana dulu arina selalu menangis ketika baru pindah lagi ke kota karena merindukan teman dikampungnya. Padahal waktu itu ketika arina baru tiba dirumahnya, bagas langsung datang mengunjunginya ke rumah bersama mami.
"Bagas langsung ngajakin ke rumah arina begitu tau arina sudah ada lagi di kota" Ujar mami berbincang dengan mama arina.
"Bagas sudah kangen ya sama arina" Canda mama, bagas hanya tersipu malu karena memang seperti itu kenyataannya. Bagas merindukan arina.
"Iya sepertinya, mereka kan soulmate" Kata mami, "Ngomong-ngomong arina nanti sekolah dimana ?"
"Kemarin papanya sudah mendaftarkan arina di SMP Noah"
"Oh Noah, kenapa ga disekolahnya bagas ?" tanya mami, bagas hanya menyimak saja.
"Saya juga tau beres aja, papa arina yang mengurus semuanya"
"Bagas juga mau sekolah sama kaya arina mam" kata bagas di sela-sela obrolan mama arina dan mami.
Mami tampak mengerenyitkan keningnya, "Mau pindah ? Kamu juga baru masuk di sekolah kamu yang sekarang" Kata mami.
"Mumpung belom lama belajar, bagas mau satu sekolah sama arina. Boleh ya mam ? Please" Ujar bagas memohon.
Mama arina hanya tertawa kecil, "Bagas ga mau jauh-jauh dari cewenya. Bolehin donk mam" Canda mama.
Mami pun ikut tertawa, "Oke, oke nanti mami urus. Untung kamu pinter jadi ga masalah mami ikutin kemauan kamu asal bener ya belajarnya !?"
Bagas mengangguk, "Mama, arina kemana ? Kok ga kelihatan ?!" Tanya bagas.
Mama nampak menghela nafasnya, " Itu dia, mama ga tau arina jadi agak sedih semenjak pindah lagi ke kota. Mama juga ga tau kenapa"
"Bagas boleh ketemu arina mah ?"
Mama mengangguk, "Arina ada dikamarnya" Kata mama.
Bagas berlalu ke kamar arina, kemudian ia membuka pintu dan nampak arina sedang duduk di meja belajarnya tampak sedang menulis-nulis sesuatu. Bagas pun menghampiri arina dan berdiri disebelahnya. Arina menoleh ke bagas dan tersenyum.
"Lagi apa ?" Tanya bagas lembut.
"Lagi nulis-nulis aja, kapan bagas datang ?" tanya arina.
"Aku udah datang dari tadi, tapi kamunya ga keluar-keluar"
"Maaf, arin ga tau bagas mau datang" Kata arina yang kembali terdiam.
Bagas membungkukkan badannya membuat kepalanya sejajar dengan wajah arina, bagas menatap mata arina yang terlihat sembab. "Abis nangis ? Kenapa ?" Tanya bagas sambil mengusap pipi arina.
Arina tidak bisa menahan tangis di depan sahabatnya, "Bagas, hiks hiks" hanya itu yang dapat diungkapkan arina.
Bagas mengusap air mata arina, lalu berdiri dan memeluk kepala arina hingga kepala arina berada di dadanya. Bagas membelai rambut arina, membiarkan arina larut dalam tangisnya. Setelah beberapa saat, ketika arina sudah tenang bagas melepas pelukannya. Bagas Mendorong kursi belajar arina ke sisi tempat tidur, lalu ia pun duduk di tepi tempat tidur berhadapan dengan arina yang duduk di kursi.
"Udah enakan abis nangis ?" Tanya bagas sambil memegang tangan arina.
Arina mengangguk, "Terima kasih"
"Sekarang bisa cerita, kamu kenapa nangis ?" Tanya bagas sambil sesekali mengusap air mata yang masih mengalir di pipi arina.
"Arin kangen temen arin dikampung"
"Kan sekarang udah ada aku, aku kan juga temen arin. Kamu ga senang balik ke kota ? Ga mau sama aku lagi ?" Kata bagas.
"Bukan begitu, aku seneng bisa sama bagas. Tapi aku juga kangen temen dikampung"
"Siapa yang arin kangenin ? Sampe bikin arin sedih, adanya aku disini apa ga bisa hilangin kesedihan arin ?" Kata bagas.
"Arin kangen main sama alen"
"Alen ? Anak laki-laki yang waktu itu pas aku disana nyamperin kamu terus ?!" Tanya bagas.
Arin mengangguk, "Alen teman satu-satunya arin dikampung, arin jadi kangen pengen main lagi" kata arina hampir menangis lagi.
Bagas menghela nafasnya, "Sekarang kan udah ada bagas disini, sekarang temen arin bagas. Bagas disini nemenin arin. Apa bagas ga berarti apa-apa sampe kehilangan alen membuat kamu seperti ga punya temen lain"
"Bagas, bukan seperti itu. Bagas penting buat arin, tapi alen juga sama pentingnya seperti bagas" kata arina sambil menunduk.
Bagas menatap arina dengan penuh sayang, ditariknya arina hingga kepalanya bersandar pada bahu bagas.
"Karena bagas sudah disini, arin hanya perlu melihat bagas. Tidak usah yang lain, bagas akan selalu ada buat arin selamanya" Ujar bagas yang ditanggapi dengan anggukan oleh arina.
Tanpa terasa mereka sudah sampai ditujuan. Bagas menghentikan mobil nya di depan sekolah alen. Sebelum alen keluar mobil, bagas mengatakan sesuatu kepada alen.
"Arina" Kata bagas tiba-tiba, "Kita bukan orang yang bisa saling melupakan karena tujuan kita adalah arina. Gw ga akan menyerahkan arina pada siapa pun" Kata bagas tegas. Walaupun lo penting buat dia, batin bagas.
"Gw ga akan mengalah" Jawab alen sebelum menutup pintu mobil.
Bagas pun melajukan mobilnya meninggalkan alen, alen menghela nafasnya dan pergi ke dalam kelas.
"Ngapa lu pagi-pagi udah kusut banget mukanya ?" Tanya doni ketika alen datang dan duduk disampingnya.
"Laper gw belom makan" Jawab alen asal.
"Kemaren kemana ga masuk ? Bolos kaga ngajak-ngajak" Ujar doni.
"Ada urusan gw"
Percakapan mereka terhenti karena guru sudah datang. Ketika bel istirahat berbunyi mereka pun langsung menuju ke kantin.
"Makan apa aja, gw traktir" Ujar alen kepada sahabatnya, doni.
"Eh buset, pasti ada mau nya ni orang" Ujar doni curiga.
"Kagak, gw ikhlas sekarang" Jawab alen sambil tertawa.
Setelah menghabiskan makanannya, dari kejauhan alen melihat rima tampak mondar mandir di depan ruang BP. Itu adalah ruangan arina, karena lokasi nya yang dekat kantin makanya alen dapat melihatnya.
"Liat apaan si lo ?" tanya doni sambil melihat arah alen memandang. "Loh itukan si rima kelas sebelah, ngapain lo liatin dia ? Jangan bilang kalo lo ada rasa sama dia" ujar doni.
"Dih kagak kali, ngaco banget lo" Kata alen..
"Mau ketemu miss arin kali, tapi kok ragu-ragu gitu kagak masuk-masuk" Ujar doni.
"Miss arin ga masuk hari ini, gw kesana dulu" Kata alen sambil berlalu pergi.
Alen pergi menghampiri rima yang tampak ragu-ragu masuk ruangan miss arin. Sedangkan doni langsung pergi ke kelas bersama teman yang lain berhubung sebentar lagi jam istirahat akan usai.
"Alen" Sapa rima begitu melihat alen di depannya.
"Miss arin hari ini ga masuk"
"Oh iya pantesan di panggil-panggil ga keluar"
"Semuanya udah baik-baik aja kan ?" Tanya alen.
Rima mengangguk, "Iya, aku udah kumpul lagi sama mama. Kemungkinan aku mau pindah sekolah len"
"Owh ya kemana ?" Tanya alen sambil memberi isyarat ke rima untuk ngobrol sambil berjalan ke kelas.
"Ke kampung" Kata rima sambil mengelus perutnya, "Aku harus membesarkan bayi ini" Katanya pelan.
Alen memandang rima yang sedang mengelus perutnya, "Lo udah periksa ke bidan ?"
Rima mengangguk, "Dia anak yang kuat, aku stres seperti apapun dia tetap sehat"
"Syukurlah kalo begitu, bayi itu mau dipikirkan seperti apapun dia ga bersalah jadi gw harap pelan tapi pasti lo bisa menerima kehadirannya" Ujar alen.
Rima menghentikan langkahnya dan memandang alen dari belakang "Kasihan dia jika tau siapa ayahnya, aku harap ada laki-laki yang mau menerima aku dan bayi ini apa adanya" Kata rima pelan namun jelas terdengar oleh alen.
Alen membalikkan badannya dan menatap rima yang sedang mengusap perutnya, "Gw berharap lo bisa menemukan seseorang yang baik, seperti yang lo harapkan"
Rima mengangguk, tak lama bel pun berbunyi tanda jam istirahat telah usai. Mereka pun kembali ke kelas masing-masing.
Tanpa alen sadari, rima menatap kepergian alen dengan mata berkaca-kaca. "Seandainya kamu tau, laki-laki yang aku harapkan itu adalah kamu. Maukah kamu menerima aku ?" Batin rima.