Mama langsung memelukku begitu aku melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah, begitu pun papa mereka tampak mencemaskanku perihal kejadian hari ini.
"Sayang kamu gapapa ?" Tanya mama sambil terus memelukku.
Aku mengangguk dan menepuk-nepuk bahu mama, bermaksud untuk menenangkannya agar tidak cemas lagi.
"Aku gapapa mah"
"Papa sudah dengar dari teman papa, kamu berhasil mendapat rekaman dan itu menjadi bukti yang kuat untuk Dia mendapatkan hukuman yang setimpal" Kata papa.
"Syukurlah pah, dia memang harus dihukum seberat-beratnya" Kataku setuju dengan omongan papa.
"Pipi kamu kenapa nak ? Ini merah dan agak bengkak ?" tanya mama cemas sambil mengusap-usap pipiku.
"Oh ini" Kataku sambil memegang pipi yang memang agak sedikit nyeri, "Tadi arina sempet kena tampar mah, arina ga sempet menghindar" lanjutku sambil sedikit nyengir.
Mama tampak shock mendengarnya, "Astagaaaa, seumur-umur mama sama papa ga pernah mukul kamu nak. Berani sekali dia, mama sakit hati sekali mendengarnya. Mama bener-bener ga ridho anak mama dapat perlakuan seperti ini" ujar mama hampir menangis masih sambil memegang pipiku.
"Arina gapapa mah, masih bisa tahan kog" Jawabku santai.
"Mana lagi yang luka nak, kasih tau mama" kata mama sambil mengecek badanku. Terlihat ada sedikit memar biru-biru di kaki dan tanganku, hal itu membuat mama lebih shock lagi.
"Aku gapapa mah" Kataku lagi meyakinkan mama.
"Gapapa gimana sih arina, badan kamu pada biru-biru gini belum lagi pipi kamu merah sekali" Kata mama dengan nada sangat amat cemas. Maklum lah ya princes nya lecet-lecet, batinku dalam hati.
"Kamu bersih-bersih dulu, nanti sebelum tidur biar mama kamu kompres itu pipinya" Ujar papa.
Aku pun mengangguk lalu berlalu pergi ke kamar. Aku mandi sebentar dan mengganti pakaian, ketika hendak keluar kamar tiba-tiba ponselku berbunyi tanda pesan masuk. Pesan singkat dari alen.
Besok aku jemput, pesan alen.
Mengingat mobilku dibawa alen aku pun segera membalasnya.
Oke, balasku.
Selamat malam tidur yang nyenyak ya, pesan alen lagi.
Aku terdiam sejenak membaca pesan alen, terlihat jelas bahwa alen memiliki perasaan terhadapnya. Aku kembali mengingat kejadian dikamar rima, bagaimana tersentuhnya hatiku mendengar pengakuan cinta darinya. Aku masih tidak bisa percaya, Bagaimana bisa aku terbuai oleh kata-kata lembutnya dan terbawa perasaan ketika bibirnya menyentuh bibirku.
"Memalukan sekali" Gumam arina sambil mengacak-acak rambutnya, "Alen itu murid kamu arina" Kataku mengingatkan diri sendiri.
Tapi aku masih penasaran, kenapa bisa alen yang notabene murid aku, umurnya jauh dibawah aku, kita juga belom lama ketemu, tapi kok aku bisa-bisanya terlena dipeluk dia dicium dia, Kok bisa ya Tuhan. Aku malu banget, kata arina berbicara sendiri karena merasa heran pada perasaannya.
"Masa aku jatuh cinta sama alen ?" batinku, masa sih sama alen ? murid aku loh dia ! kaya ga ada orang lain aja. Terjadilah perang batin dihatiku, antara menerima dan tidak.
Aku terkaget sendiri ketika ponselku berdering, menghentikan perang batin dalam hatiku. Kulihat di layar, bagas menelepon.
"Bagas" Panggilku.
"Kamu gapapa ? Tadi aku kerumah, kamu ga ada. Mama udah cerita semuanya, kenapa kamu ga cerita sama aku ? Aku cemas tau ga !?" Kata bagas dari seberang telepon.
Bagas, iya harusnya hatiku memilih bagas. Secara kami sudah bersama sejak kecil, bagas pun selalu menjaga dan selalu ada untukku. Sikapnya selalu lembut dan perhatian padaku. Harusnya orang yang tepat itu bagas, tapi kenapa malah alen, kenapa ? Batinku dalam hati.
"Arina" Panggil bagas karena tidak langsung mendapat jawaban dariku.
"Iya aku gapapa, maaf aku ga kepikiran. Yang ada dipikirinku c*m rima, rima dan rima. Maaf ya bagas, kamu marah ?" Tanyaku merasa bersalah, terdengar bagas menghela nafasnya. Ia pasti kecewa, batinku.
"Aku ga marah, aku cuma khawatir. Mana kata mama jangan telepon kamu dulu, tunggu kabar aja katanya. Tapi kamu ga ada kasih kabar, sampai gila aku nungguin seharian ini" Kata bagas sedikit frustasi.
Tanpa terasa mataku berair, bagaimana bisa aku mengabaikan orang sebaik dia. "Maaf bagas, aku ga berpikir kalo kamu akan sekhawatir itu" Kataku terbata-bata menahan tangis.
"Kamu nangis ? Arina, dengerin aku ya.. aku ga marah Sama kamu. Aku cuma terlalu khawatir, Maaf ya kalo aku ngomongnya agak keras" Kata bagas, suaranya terdengar sekali dia cemas, mencemaskan aku.
Tapi aku malah terisak, aku sendiri ga ngerti kenapa aku malah nangis mendengar kata-katanya. Kenapa aku merasa bersalah, kenapa sih ? Aku sendiri bingung, ga ngerti.
Mama datang pada waktu yang tepat, aku memang sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku terlalu sedih. Mama duduk disampingku dan mengambil alih telepon ketika melihat nama bagas terpampang di layar hapeku.
"Nak bagas, besok dilanjutkan lagi ya. Arina butuh istirahat sekarang" kata mama.
Tak lama mama pun mematikan handphone ku. Mama datang sambil membawa alat untuk mengompres luka ku, karena aku tidak kunjung keluar akhirnya mama memutuskan untuk mendatangiku.
"Kamu kenapa nak ?" tanya mama sambil mengusap air mataku.
"Aku ngerasa bersalah sama bagas mah, aku ga ngabarin dia tentang hari ini" Kataku. Mama pun mulai mengompres lukaku sambil kami mengobrol.
"Kenapa bisa ? Biasanya apa-apa kamu cerita terus sama bagas. Tadi kan dia ke rumah, katanya nyari kamu di kampus ga ada. Yauda mama cerita sama dia, sebenar nya dia mau nyusul kamu ke lokasi tapi mama larang, mama juga larang dia telpon kamu dulu Khawatirnya mengganggu proses penggerebekan" Jelas mama panjang lebar.
"Aku lupa mah, soalnya kemarin aku kan ga ke kampus jadi ga ketemu dia"
"Dia terlihat sangat khawatir loh, mau langsung nyamperin kamu"
"Iya makanya itu mah, arina sedih nyesel banget kenapa ga cerita duluan sama bagas. Arina tau dia sedih karena arin ga ngomong apa-apa sama dia"
"Bagas marah ? Makanya kamu nangis ?!" tanya mama.
"Karena bagas ga marah, makanya arina makin merasa bersalah. Arina jadi sedih karena bikin bagas sedih dan khawatir" Kataku terisak.
"Kamu sepertinya sayang banget sama bagas" Ujar mama sambil memelukku dan menepuk-nepuk punggungku.
Aku mengangguk, "Iya, aku sayang sama bagas mah. Aku udah anggep bagas kaya abangku sendiri" kataku sedih.
Ternyata seperti itu, karena sejak kecil aku menganggap bagas seperti abangku makanya aku tidak pernah menaruh hati padanya. Aku menyanyanginya sebagai abangku. Sekarang aku sadar, aku mulai mengerti tentang perasaanku. Perasaanku terhadap bagas juga terhadap alen. Hanya saja, egoku masih belum bisa menerima kalau aku sudah jatuh hati dengan alen.
"Sekarang kamu tidur dan jangan memikirkan apapun" kata mama sambil mematikan lampu dan berjalan meninggalkan kamar.
Keesokan harinya, aku terbangun dengan kepala pusing dan badanku berasa sakit semua. Sepertinya aku ingin istirahat aja hari ini, ga mau kemana-mana. Lalu aku segera mengambil ponselku dan mengirim pesan ke alen.
Alen maaf, kayanya aku ga berangkat hari ini. Bangun tidur badanku sakit semua, kepala juga agak pusing. Mobil gapapa kamu bawa aja, hati-hati dijalan. Belajar yang rajin ya..
~Arina~
Tak lama kemudian mama datang dan agak kaget melihat aku masih duduk di tempat tidur dan enggan beranjak.
"Kamu belum siap-siap sekolah nak ? Ngajarkan ?" Tanya mama sambil membuka tirai kamarku.
"Mama" Panggilku pelan.
"Kamu ga enak badan ?" tanya mama langsung duduk disampingku dan memegang keningku.
Aku mengangguk, "Kepala arin pusing banget, badannya juga meriang mah"
"Yauda kamu ijin aja ya, ga usah ke kampus atau ke sekolah"
Aku mengangguk lagi.
"Tapi maaf ya mama ga bisa temenin kamu sayang, hari ini harus ke butik mama ada janji sama customer" kata mama sambil membelai rambutku.
"Iya gapapa mah"
Setelah mencium keningku mamapun pergi. Aku merebahkan diri lagi ke tempat tidur, menarik selimut. Namun tak berapa lama, mbok eni datang ke kamar ku.
"Kenapa mbok ?" tanyaku bermalas-malasan.
"Itu non, ada tamu"
Aku menghela napas, siapa si pagi-pagi namu kerumah, batinku sedikit jengkel. Masalahnya aku lagi ga enak badan, pengen rebahan. "Siapa mbok ? Pagi-pagi udah nyariin aku"
"Den alen non, ibu nyuruh mbok panggil non"
Aku sedikit terkejut, alen ? Dia ga baca pesan aku kali ya ? Aku pun mengecek pesan yang tadi aku kirimkan. Tapi laporannya sudah diterima, berarti dia sudah baca donk. Tapi kenapa tetap kesini sih, batinku.
"Yaudah mbok nanti aku kebawah, makasih ya mbok" Kataku. Aku pun bersih-bersih sebentar dan mengganti pakaianku setelah itu keluar menghampiri alen.
"Hai alen, kan aku sudah bilang bawa aja mobilnya. Ngapain kerumah ?" tanyaku.
Alen tidak langsung menjawab, ia hanya menatapku dan terlihat salah tingkah.
"Katanya sakit ? Aku sekalian mau jenguk aja kok" katanya sedikit terbata-bata.
Aku terheran-heran melihat tingkah alen, kenapa jadi salting gitu ya ? Apa dia masih inget kejadian kemarin ? Batinku.
Setelah ngobrol-ngobrol sedikit dengan alen, tiba-tiba terdengar suara yang menghentikan obrolan mereka. Bagas !! Dia datang menghampiri dan langsung memegang keningku.
"Kamu gapapa ? Kata mama, kamu lagi kurang sehat. Jadi aku langsung kesini" Katanya khawatir.
"Hmm" Aku mengangguk, "Tadi pagi bangun tidur kaya meriang gitu. Tapi gapapa sii, paling istirahat sebentar nanti juga fit lagi" lanjutku.
Tiba-tiba bagas mengusap pipiku dan melihat tangan dan kakiku yang memar karena kejadian kemarin.
"Lain kali jangan nekat seperti kemarin, ga mesti kamu sendiri yang turun tangan buat nangkep penjahat. Itu tugas polisi, boleh kamu membantu mereka tapi jangan sampe terluka" Kata bagas lembut.
Aku pun mengangguk, bagas mengatakan ini di depan alen. Aku sampai lupa ada alen gara-gara perhatian bagas. Aku pun melihat ke arahnya, ia tersenyum sedikit. Bagas juga menoleh ke arah alen dan aku langsung memperkenalkan mereka.
"Bagas, ini alen" kataku.
"Owh, murid kamu ya. Aku bagas" Kata bagas sambil mengulurkan tangannya ke alen.
"Alen" membalas uluran tangan bagas. "Miss, aku mau kembaliin kunci mobil. Sekalian pamit ya" katanya sambil memberikan kunci mobilku.
Aku mengangguk, "Makasih, alen kamu ke sekolah naik apa ?" tanyaku.
"Aku naik ojek aja"
"Yauda dia bareng aku aja, sekalian aku juga ada jam pagi" kata bagas tiba-tiba menawarkan diri.
"Owh oke, alen kamu bareng bagas aja. Kebetulan kan searah sama sekolah" Kataku. "Jangan nolak" lanjutku ketika melihat ekspresinya seperti mau menolak.
Alen mengangguk.
"Makasih ya bagas, titip murid aku" Kataku sambil tersenyum.
Tanpa diduga tiba-tiba bagas memelukku, membuat ku terkejut. Karena ga biasanya bagas seperti ini, apalagi di depan alen. Refleks aku menoleh ke arah alen yang ternyata sedang menatapku. Membuatku canggung saja.
"Maaf arina, aku udah bikin kamu nangis semalam. Aku ga marah, aku cuma cemas. Cemas yang terlalu berlebihan" Katanya masih sambil memelukku.
Aku menepuk-nepuk punggung bagas, "Iya, aku nya aja yang lagi melow. Abis diomelin mama gara-gara ga bisa jaga diri, pulang-pulang badan pada memar" Kataku berharap bisa menenangkan bagas.
"Yauda aku jalan dulu yaa" Ujar bagas.
Aku mengangguk, alen dan bagas pun beranjak pergi beriringan. Aku mengantar mereka sampai ke mobil, ku lihat ekspresi alen sangat datar dia hanya tersenyum tipis sambil melambaikan tangannya.
Setelah kepergian mereka, aku langsung ke dapur untuk sarapan. Kemudian kembali ke kamar untuk istirahat, aku ingin menghabiskan sehari ini untuk rebahan aja.