Sakit

1592 Kata
Alen menatap arina yang sedang merebahkan kepalanya di jok mobil. Hatinya lagi-lagi merasa sakit melihat kondisi arina, beberapa kali alen mendapati arina meringis seperti menahan sakit walaupun arina berusaha menutupinya tapi tetap jelas terlihat oleh alen. Alen membantu arina untuk memundurkan kursi mobilnya agar arina bisa merebahkan tubuh nya. Dia juga membantu arina memasang seat beltnya membuat jarak mereka begitu dekat. Alen dapat melihat jelas mata indah arina, jantungnya berdegub kencang. Ia tidak yakin tapi ia merasa arina juga merasakan hal yang sama karena alen melihat arina sedikit salah tingkah walau gadis itu berusaha menutupinya lagi. Entah kenapa tiba-tiba alen teringat dengan seseorang yang pernah menjemput arina ke sekolah. Kenapa ia tidak datang ? Padahal arina ada di dalam situasi yang berbahaya ? Apa mereka pacaran ? Alen bertanya-tanya dalam hati. "Pacar kamu ga jemput ? Apa dia ga tau misi kamu ini ?" Tanya alen penasaran, sengaja ia menekan kata pacar, ia ingin mendengar jawaban arina. Padahal hatinya berdebar, sedikit khawatir dengan jawabannya. "Pacar ?" Arina balik bertanya karena bingung, membuat alen merasa sedikit lebih lega. "Iya, yang waktu itu pernah jemput ke sekolah !!" kata alen. "Bagas ? Dia sahabat aku, bukan pacar" Jawab arina pendek membuat alen dapat bernapas lega. Alen tidak pernah lupa dengan laki-laki satu itu, bagas teman kecil arina. Alen pernah bertemu dengan bagas, walaupun hanya sebentar tapi alen bisa merasakan bahwa bagas tidak menyukainya. Alen bisa tau itu karena bagas jelas memperlihatkannya, ketika ia datang ke desa untuk mengunjungi arina hampir tidak pernah ia beranjak dari sisi arina. Sampai-sampai selama ada bagas didesa, alen tidak ada kesempatan untuk bermain dengan arina. Alen merasa bagas tidak menyukai jika arina memiliki teman laki-laki lain yang akrab dengannya selain dirinya, termasuk alen. Arina memang menganggapnya hanya sebatas sahabat tapi alen yakin, tidak demikian dengan bagas. Bagas pasti memiliki perasaan lain untuk arina, dari cara dia menatap arina, memperlakukan arina itu jelas dan nyata. Sebagai sesama laki-laki alen paham bahwa hal itu pasti benar. Seketika bayangan ketika dikamar rima melintas lagi dikepalanya. Ia dapat merengkuh arina kedalam pelukannya, mendekap erat bahkan dapat mencium bibir tipis arina dengan penuh rasa sayang. Tanpa sadar ia memegang bibirnya dan tersenyum. Arina memang melupakan dirinya tapi hatinya tidak. Buktinya arina tidak menolak atau menamparnya setelah kejadian itu, Ia yakin hanya perlu sedikit lebih sabar menunggu sampai arina mengingat kembali. Kali ini alen tidak akan membiarkan arina jauh dari dirinya, apapun yang menghalanginya aku pasti akan menghadapi nya, batin alen. "Kamu sendiri ga mungkin masih jomblo kan ?" tanya arina memecah lamunan alen. "Aku masih jomblo, ga pernah pacaran" jawab alen pendek, bagaimana bisa aku tertarik dengan perempuan lain disaat kamu terus memenuhi kepalaku, batin alen. Arina terlihat tidak percaya, alen tau itu. Tapi memang seperti itu kenyataan nya, setelah arina mengisi hari-harinya saat masih di kampung dulu saat itu pula hati alen sudah terkunci oleh arina sampai sekarang. Alen tidak pernah tertarik untuk menjalin hubungan lebih dari teman oleh perempuan manapun. Sudah beberapa perempuan dari sekolahnya yang menunjukkan ketertarikannya pada alen, tapi ia tidak menanggapinya padahal mereka semua cantik-cantik. Bahkan ada yang mengungkapkan perasaannya lebih dulu tapi tetap saja, alen tidak tertarik. Semua karena arina, gadis itu sudah benar-benar menjadi pemilik hatinya. "Bohong, aku ga percaya" Kata arina. "Aku ga bohong" Kata alen. Ia pun menceritakan sedikit kisahnya tentang sahabat yang dicintainya. Bagaimana ia harus berpisah dan dipertemukan kembali oleh sahabat yang dicintainya itu. Ketika bertemu sahabat yang paling dirindukannya itu tapi dia malah melupakan dirinya. Arina hanya mendengarkan dan sedikit berkomentar, padahal yang alen ceritakan itu dirinya. "Kalo kamu sesetia itu pada sahabat kecil kamu, kenapa tadi kamu melakukan itu dikamar rima ?" Gumam arina namun bisa terdengar jelas oleh alen. Alen menepikan mobilnya, ia hanya menatap arina dalam. Seandainya kamu tau, kamu lah sahabat yang aku cintai dari dulu sampai sekarang. Aku pikir, dulu itu cuma cinta monyet karna kita masih kecil tapi ternyata tidak. Aku merasakan cinta itu sampai sekarang, tidak pernah berpaling sedikitpun dari cinta ini. Aku kira cinta ini akan pudar seiring berjalannya waktu setelah kamu pergi tapi tenryata setelah kita bertemu kembali perasaan untuk memilikimu malah semakin besar, rasa ku terlalu dalam padamu arina. Alen meneriakan semua kata-kata itu dari dalam hatinya. Lama sekali alen menatap arina, namun tidak ada satu kata pun yang keluar dari dalam mulutnya. Ia hanya menghela nafasnya dan kembali mengemudikan mobilnya menuju rumah arina. Sesampainya dirumah, arina langsung pergi tanpa mengatakan apapun hanya meminta alen untuk membawa mobilnya karena alen tidak bawa kendaraan. Alen pun mengangguk dan segera meninggalkan rumah arina, namun dalam hatinya ia berencana untuk menjemput arina besok. "Darimana kamu nak ? Itu mobil siapa ?" Tanya bunda sesampainya alen dirumah. "Mobil temen bun, tadi kan alen naik ojek" Jawab alen sambil mencium pipi bunda. "Kog naik ojek ? Emang kamu kemana ? Abis ngapain ?" Tanya bunda penasaran. Alen pun menceritakan sedikit tentang kejadian hari ini dan bunda yang mendengarnya tampak syok. "Trus kamu gapapa ? Arina gimana ?" tanya bunda khawatir. "Aku gapapa, arina juga baik-baik aja bun. Untungnya temen polisi papanya arina cepet sampe jadi pelakunya langsung ditangkap" jelas alen. "Kasian sekali itu teman kamu, ada ya ayah yang seperti itu" Kata bunda. Alen mengangguk, "Yauda aku istirahat duluan ya bun, cape banget" kata alen sambil beranjak pergi ke kamarnya. Alen langsung merebahkan dirinya di tempat tidur setelah membersihkan diri. Masih teringat dengan jelas ekspresi arina saat mengungkapkan kalimat terakhirnya. Pasti arina kecewa dan ingin mengetahui alasan kenapa alen menciumnya disaat ia mengatakan kalau ia mencintai sahabatnya sampai sekarang. Alen menghela nafasnya "Seandainya kamu tau, kalau orang itu adalah kamu arina" Gumam alen pelan. Kemudian ia mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Besok aku jemput, tulis alen. Oke, balas arina. Alen tak menyangka arina membalas pesannya secepat itu, ia merasa sangat bahagia. Aku sayang banget sama kamu, tulis alen lagi namun ia segera menghapusnya. Selamat malam tidur yang nyenyak ya, tulis alen akhirnya. Ya kamu juga, balas arina. Alen tersenyum membaca pesan terakhir arina, hingga akhirnya ia pun tertidur. Keesokan harinya, alen sudah siap lebih pagi dari biasanya. Alen menghampiri bunda yang sedang menyiapkan sarapan di ruang makan. Pagi ini senyum tampak selalu menghiasi wajah alen, Bunda yang melihat perilaku anaknya tampak terheran-heran. "Dari tadi bunda liatin kamu senyum-senyum terus, apa yang bikin kamu hepi sekali ?" Tanya bunda heran. "Emang Keliatan ya bun kalo aku lagi hepi ?" Ujar alen sambil memegang kedua pipinya. Bunda mengangguk, "Iya, ada apa sih ?" "Aku mau jemput arin bun, berangkat bareng" Kata alen sambil senyum-senyum. "Oalah, kirain kenapa.. Yowis cepet sarapannya keburu siang" Kata bunda, alen mengangguk sambil tersenyum. Setelah sarapan alen pamit ke bunda untuk berangkat, selang berapa menit ponsel alen berbunyi tanda ada pesan masuk. Dan langkahnya pun terhenti stelah membacanya, pesan singkat dari arina. Alen maaf, kayanya aku ga berangkat hari ini. Bangun tidur badanku sakit semua, kepala juga agak pusing. Mobil gapapa kamu bawa aja. Hati-hati dijalan, belajar yang rajin ya.. ~Arina~ Alen menghela nafasnya, ada sedikit kekhawatiran disana. Kalau mendengar arina sakit atau terluka, hatinya pun ikut terluka. Bunda yang melihat perubahan ekspresi alen langsung ikut cemas terhadapnya. "Kenapa nak ?" Tanya bunda cemas. "Arina ga berangkat bun, dia sakit" Kata alen pelan. "Oh mungkin karena kejadian kemarin, wajar kalo arina shock. Biarkan dia istirahat. Trus gimana itu mobilnya ?" tanya bunda lagi. "Alen tetep mau anterin mobil aja bun ke rumah arina, sekalian jenguk" "Nanti dari rumah arina kamu ke sekolah naik apa ?" Tanya bunda. "Naik ojek aja" "Yauda terserah kamu, nanti pulangnya jemput supir ya. Kamu jangan terlalu cemas, dia cuma perlu istirahat aja sepertinya" Kata bunda menghibur alen. "Iya bun, makasih ya. Alen jalan dulu" "Hati-hati ya sayang" Ujar bunda. Alen pun segera pergi menyetir mobil ke arah rumah arina. Sesampainya di depan rumah arina, satpam langsung membukakan pintu gerbangnya karena paham mobil yang dibawa alen adalah milik arina. "Terima kasih pak" Sapa alen sambil masuk ke halaman rumah arina. Didepan pintu utama alen berpapasan dengan wanita cantik paruh baya, mama arina. Alen langsung menghampiri dan menyapanya. "Pagi tante" Sapa alen. "Pagi nak alen" Jawab mama arina ramah. "Arina ada tante ?" "Ada, tapi lagi kurang sehat arina nya. Mungkin karena kejadian kemarin itu ya, dia kecapean" jelas mama arina. "Oh iya tante, mungkin miss arin shock karna kejadian kemarin" "Iya sepertinya, terima kasih ya kamu sudah nolongin arina. Arina sudah cerita semuanya sama tante" Ujar mama arina. Alen mengangguk, "Iya tante sama-sama. Saya cuma mau kembaliin kunci mobil tan, sekalian jenguk miss arin" "Oh iya silahkan, nanti di panggilin sama si mbok ya. Maaf tante ga bisa nemenin karna mau ke butik dulu" Jelas mama arina ke alen, "Mbok panggil arina ya, ada muridnya ke rumah" Kata mama arina ke si mbok, pembantu rumah tangga arina. Setelah mama arina pergi selang beberapa menit tampak arina datang menghampiri alen. Arina mengenakan celana pants denim sepaha dan kaos putih casual, melihat penampilan arina yang santai seperti itu membuat jantung alen berdebar tidak karuan. Pasalnya arina tampak sangat cantik dengan penampilan santai seperti ini. "Hai alen, kan aku udah bilang bawa aja mobilnya. Ngapain ke rumah ?" Kata arina begitu berdiri dihadapan alen. "Katanya sakit ? Aku sekalian mau jenguk aja kok" Kata alen agak kikuk, masih terpesona dengan penampilan arina. "Iya aku rada kurang sehat, pengen istirahat dulu" Kata arina. "Apa yang dirasain ? Mau aku anter berobat ?" Tanya alen cemas. "Ga, aku gapapa. Cuma perlu istirahat aja" kata arina. Alen mengangguk, tak berapa lama terdengar suara seseorang datang menghampiri mereka. Suara itu langsung membuat alen menoleh ke asal suara dan terkejut dengan tindakannya yang langsung memegang dahi arina. Bagas !!!!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN