Sahabat

1814 Kata
Aku menyandarkan kepalaku di jok mobil, badanku terasa remuk setelah berhadapan langsung dengan ayah rima. Ada untungnya juga alen tidak bawa kendaraan hari ini, aku jadi bisa istirahat sejenak, batinku. Tiba-tiba alen mengarahkan badannya ke arahku, membuat aku sedikit salah tingkah namun berusaha ku sembunyikan. Ternyata ia membantu untuk membuat kursi mobilku agak mundur ke belakang agar aku bisa merebahkan badanku. "Istirahat lah sebentar, kamu pasti lelah" Kata alen. "Hmm" Jawabku pendek, aku masih merasakan debaran di hatiku karena sikapnya yang tiba-tiba. Ku arahkan pandanganku keluar kaca mobil, berharap agar alen tidak dapat membaca perubahan hatiku. "Pacar kamu ga jemput ? Apa dia ga tau misi kamu ini ?" Tanya alen di sela-sela perjalanan kami. Aku menoleh bingung ke arahnya, "Pacar ?" Perasaan aku ga punya pacar, batinku. "Iya, Yang waktu itu pernah jemput ke sekolah !!" Kata alen mengingatkan ku kepada satu-satunya orang yang pernah menjemputku, bagas. "Bagas ? Dia sahabat aku, bukan pacar" Jawabku pendek sambil memandang keluar jendela lagi. "Sahabat ? Aku kira pacar, soalnya perhatian banget sama kamu" Kata alen. "Aku ga punya pacar, dia cuma sahabat" Kataku tanpa menoleh ke arahnya. "Tapi.. ?" "Kami berteman dari kecil, wajar kalo dia care sama aku" Kataku memotong pembicaraan alen sambil menatapnya. "Tapi aku ga merasa begitu, dia menganggap kamu lebih dari itu" Kata alen sok tau, membuatku menghela napas panjang. "Kamu sendiri, ga mungkin masih jomblo kan ?" Kataku sebisa mungkin mengalihkan pembicaraan tentang bagas. Aku tidak mau pembicaraan tentang bagas semakin panjang. Bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin hatiku goyah. Selama ini aku menjaga dan meyakinkan diriku bahwa bagas hanya sahabatku, karena memang aku tidak memiliki perasaan lebih padanya. Bagaimana mungkin aku tidak tahu tentang perasaan bagas kalau dia terlalu menunjukkannya, hanya saja aku menutup hatiku untuknya aku tidak ingin memberi harapan disaat aku tidak memiliki perasaan itu padanya. Aku sendiri kadang heran bagaimana mungkin aku bisa tidak menyukainya, disaat yang lain berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Dimana pun dia berada, dia selalu mencuri perhatian wanita disekitarnya. Aku jadi teringat ketika kami sedang minum kopi di cafe dekat kampus. Waktu itu aku sama bagas masih jadi mahasiswa baru, aku pergi ke toilet sebentar lalu ada beberapa perempuan menghadang langkahku. "Ngapain sih lo ngikutin bagas terus kemana-mana ? Dimana ada bagas pasti ada lo. Ngerusak pemandangan aja" Kata salah satu dari perempuan itu. "Aku ga ngikutin bagas. Kami tuh temenan, wajar kali kalo ngopi sama-sama" Jawabku. "Tapi gue ga suka liatnya. Kenapa sama lo dia bisa bersikap hangat, sama wanita lainnya dinginnya kaya es" Kata perempuan itu lagi. Aku tersenyum mendengarnya, "Itu karena kalian belum saling kenal, aku sama bagas udah temenan lama jadi bukannya wajar kalo sikap dia baik sama aku ?" "Banyak omong lo. Bisa ga lo jaga jarak sama dia ? Jangan deket-deket terus sama bagas, kalo lo kaya gitu lo ga ngasih celah buat cewek lain deket sama dia. Atau jangan-jangan lo naksir ya sama bagas ? Pertemanan kalian, lo jadiin tameng doank biar lo bisa milikin bagas seutuhnya" Kata perempuan itu panjang lebar dengan sedikit emosi. Aku sampai ternganga mendengar perkataannya, masa dia bisa berpikiran kesana. Jelas-jelas persahabatan kami murni, batinku sedikit geram. "Kalo emang lo temenan lama, harusnya lo tau kalo bagas itu ga gampang akrab sama orang lain apalagi sama cewek, kalo lo juga ga ada rasa harusnya lo kasih kesempatan buat cewek lain deket sama dia. Caranya gimana ? Caranya ya elo jangan nempel mulu donk sama bagas" Lanjut perempuan itu tanpa memberi kesempatan aku untuk bicara. Padahal yang nyamperin ke kelas dan selalu ngajak bareng terus itu si bagas, aku ga pernah menghalangi dia buat temenan sama yang lain. Aku juga selalu membantu mereka ngasih hadiah mereka buat bagas. Aku ga menyangka masih ada perempuan yang punya pikiran seperti ini sama aku. Pikirku dalam hati. Baru hendak membalas perkataannya, tiba-tiba bagas sudah berdiri didepan ku. Yang paling membuatku heran, ini didalam toilet perempuan loh, bagaimana bisa dia masuk kedalam toilet. "Yang ga mau ada celah antara hubungan gue sama dia itu gue, yang nempel-nempel terus itu juga gue bukan dia. Kalo lo ga tau jangan sok tau !!" Kata bagas dingin, setelah itu bagas membawaku pergi dari cafe itu. Di dalam mobil aku hanya terdiam, aku masih shock dengan perkataan perempuan itu. Aku jadi memikirkan semua perkataannya, apa benar aku jadi penghalang bagas untuk dia berteman dengan perempuan lain ? Seperti bisa membaca pikiranku, tiba-tiba bagas menepikan mobilnya. Aku melihat keluar jendela, ternyata bagas berhenti di taman tak jauh dari rumahku. Bagas membuka seat beltnya, dia menghadapkan badannya ke arahku. Aku menoleh ke arahnya dan melihat bagas sedang menatapku. "Jangan dimasukin ke dalam hati ya" Kata bagas lembut. Aku menatapnya, memang benar bagas hanya bersikap lembut padaku. Aku tidak pernah melihat bagas bersikap seperti ini pada perempuan lain, pada teman-teman perempuan di kelompok sosialita mama saja dia tidak pernah seperti ini. Dia seperti menjaga jarak dan bersikap dingin. Aku menundukkan kepala menyadari hal ini. "Kenapa kamu ga punya temen perempuan selain aku ?" tanyaku. Aku jadi penasaran, ujarku dalam hati. "Kata siapa aku ga punya ? Aku punya banyak temen perempuan" Kata bagas. "Tapi kenapa katanya aku jadi penghalang kamu buat deket sama perempuan lain ? Padahal sebisa mungkin aku membantu mereka buat deket sama kamu. Tapi kan emang kamu nya aja yang begitu, aku ga pernah ngelarang kamu berteman sama mereka" Ujarku sedih. Ga adil rasanya kalau mereka sampai punya pikiran seperti itu, aku seperti ga terima. Padahal aku selalu menyampaikan pesan mereka ke bagas walaupun kadang kami jadi bertengkar karena itu. Aku tetap menyampaikan pesan mereka. Bagas memegang tanganku, aku pun menoleh ke arahnya. "Aku bukannya ga mau berteman sama mereka. Tapi aku kan emang orangnya begitu, cuek. Aku ga bisa pura-pura deket atau ramah gitu sama orang, masa mau dipaksain" "Tapi mereka jadi mikir aneh ke aku, masa dikiranya aku mau monopoli kamu. Gara-gara aku, cewek lain jadi ga ada celah buat deket sama kamu. Aku ngerasa itu ga adil, padahal aku ga begitu" Kataku tanpa bisa menahan tangis. Bagas malah tersenyum mendengar perkataan aku, padahal gara-gara dia aku jadi pernah ngerasain dibully beberapa kali. Waktu SMP, SMA bahkan sampai kami kuliah. Semua menyuruh aku buat jaga jarak sama bagas. "Yauda terus aku harus gimana ?" Katanya sambil mengusap air mataku. "Kenapa kamu ga coba berteman sama mereka, deket sama mereka. Mereka cuma pengen deket sama kamu" Kataku. "Aku udah berteman sama mereka, nyapa mereka kaya Biasa kok. Apanya yang salah ?" Kata bagas. "Tapi mereka ngerasa sikap kamu dingin kalo sama mereka, ga kaya sikap kamu ke aku" Kataku. "Emang sikap aku ke kamu gimana ?" Tanya bagas. "Kalo ke aku katanya kamu lebih hangat, lebih lembut dan bersahabat. Ga bisakah kamu bersikap seperti itu juga ke mereka ?" Tanyaku. Bagas menghela napasnya, "Aku ga yakin bisa, aku merasa sikapku sudah cukup baik ke mereka" Katanya pelan sambil melepas genggamannya. "Kenapa ga bisa ?" Tanyaku sambil memegang lengan bagas. "Aku ga bisa kasih alasan, karena emang aku ga punya alasan untuk itu. Aku cuma merasa ga nyaman terlalu dekat sama mereka, aku mau nyapa aja bukannya itu sudah lebih baik" Katanya masih dengan lembut. "Tapi sikap kamu ke temen group sosialita orang tua kita juga sama, dingin dan cuek. Bukannya mereka udah lama juga temenan sama kamu, mereka kan temen kecil kita. Rossa, anya, chika, anneth kenapa kamu ga bisa deket sama mereka ?" "Kenapa kamu tiba-tiba bahas itu ?" tanya bagas heran. Aku menunduk sedih, "Mereka juga pernah nanya hal yang sama, kenapa kamu bisa deket banget sama bagas ? Padahal bagas kan orangnya dingin ga gampang deket sama orang. Tapi kok kamu bisa ?" Kataku sambi meniru perkataan anneth waktu itu. Bagas tersenyum, "Arin, liat aku" Katanya dan aku pun menatapnya. "Aku bisa berteman dengan mereka tapi aku ga bisa maksain diri aku buat lebih dekat sama mereka disaat aku merasa ga nyaman untuk itu" "Tapi kenapa ?" "Aku ga tau tapi itu yang aku rasakan, aku bisa berteman sama mereka tapi kalo untuk dekat seperti kita, aku ga bisa memaksakan diri" Aku menangis lagi. Aku merasa sudah berbuat jahat pada bagas, memaksa bagas untuk melakukan sesuatu yang tidak ia sukai. Seandainya ia yang harus melakukan itu pastinya ia juga tidak akan bisa. Berteman memang tidak bisa dipaksakan, aku pun begitu. Aku berteman dengan mereka yang membuatku nyaman. Bagaimana mungkin aku tidak memahami bagas, dan hanya memikirkan diriku sendiri sebagai korban karena di bully beberapa kali oleh orang-orang yang menyukai bagas. "Bagas, maaf aku udah minta hal-hal yang ga buat kamu nyaman. Sebagai teman harusnya aku bisa lebih ngerti kamu, bukannya kemakan omongan mereka" Kataku merasa bersalah, air mataku tak bisa berhenti dan terus mengalir. Bagas tersenyum dan menarikku kedalam pelukan nya, "Iya gapapa, aku bersyukur sekarang kamu bisa ngerti. Maaf ya gara-gara aku kamu jadi suka dibully" Aku menggeleng, "Ga, sekarang aku jadi punya alasan menjawab mereka yang nyuruh-nyuruh aku buat jauhin kamu. Kali ini aku ga akan kalah" Kataku. Bagas tertawa mendengarnya, "Yauda sekarang kita makan es krim dulu aja deh sampe mata kamu ga bengkak lagi. Ntar mama nyangka aku yang macem-macem. Nangis mulu sih dari tadi, cengeng" Katanya meledek aku. Bagas memang layak untuk mendapat semua perhatian itu, dia hampir sempurna. Bagas itu sudah Pintar, baik, tampan, tinggi, kaya, dan perhatian. Dia hampir tak ada cela, walaupun dia bersikap dingin pada perempuan lain namun mereka masih saja mengejar bagas. "Aku masih jomblo. Ga pernah pacaran" Kata alen membuyarkan lamunanku. "Bohong, aku ga percaya" Kataku acuh. "Aku ga bohong, aku juga kaya kamu punya nya sahabat dari kecil. Tapi bedanya aku menyukainya sampai sekarang. Hal itu lah yang bikin aku ga bisa dekat dengan perempuan lain, makanya aku ga pernah punya pacar" Ujar alen. Aku mengangguk, kalo dia suka cewek lain trus tadi kenapa dia cium aku, batinku dalam hati. "Kalian satu sekolah ?" "Ga, kami berpisah setelah dia lulus SD dan lanjut sekolah ke luar kota. Setelah itu kami ga pernah bertemu lagi" kata alen sambil menatap lurus ke depan. "Ohh" Hanya itu yang keluar dari mulutku, aku bingung harus menjawab apa. "Tapi sekarang aku sudah bertemu dia lagi, dia ga banyak berubah tetap cantik. Aku pikir perasaan aku sudah hilang karena lama ga ketemu, tapi ternyata setelah bertemu dengannya aku sadar perasaan itu masih ada. Dia sudah mengunci hatiku dari awal pertemuan kami sampai sekarang" Jelas alen, aku hanya diam mendengarkan. "Sayangnya, ketika bertemu dia sama sekali ga ingat aku. Berarti selama ini hanya aku yang mengingatnya, dan tidak pernah melupakannya sedetikpun" lanjut alen, ada perasaan sedih disana. Aku bisa merasakannya. "Kenapa ga kamu coba mengingatkan dia ?" "Aku sedang berusaha, dan tidak akan menyerah" ujar alen. Aku menunduk merasa malu, merasa bodoh sudah sempat terlena oleh perlakuan alen ketika dikamar rima. "Kalo kamu sesetia itu pada sahabat kecil kamu, kenapa tadi kamu melakukan itu dikamar rima ?" Tanyaku pelan. Alen menepikan mobil nya dan menatapku, namun tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulutnya. Ia hanya menghela nafasnya dan kembali melanjutkan perjalanan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN