Pagi-pagi alen sudah terlihat rapi, ia memakai celana jeans dan kaos oblong putih. Ia tidak berencana untuk pergi ke sekolah, melainkan menyusul arina untuk pergi ke rumah rima.
Alen sudah menduga bahwa arina tidak akan menghubungi nya, arina tidak sungguh-sungguh untuk mempertimbangkan alen ikut penyergapan ayah rima. Maka dari itu kemarin alen sengaja menghubungkan gps ponsel arina ke miliknya tanpa sepengetahuan arina, agar alen bisa melacak keberadaan arina dimanapun gadis itu berada.
Alen bersiap sambil terus mengamati keberadaan arina dari layar ponselnya sambil membereskan apa-apa yang perlu dibawanya.
Posisi arina saat ini masih berada disekolah, alen bisa melihatnya dari layar ponselnya. Ia pun segera bergegas menuju ruang makan untuk sarapan, sudah ada bunda disana.
"Pagi bun" Sapa alen sambil duduk di depan bunda.
Bunda mengamati penampilan alen dari atas sampai bawah, "Anak bunda sudah ganteng, ga pakai seragam sekolah mau kemana ?" Tanya bunda heran.
"Alen ada urusan sebentar bun, nanti alen ceritain" Katanya sambil mengunyah makanannya.
"Kamu kan disuruh miss arina istirahat, ga nurut ?!" Kata bunda lagi.
"Iya bunda sayang, ini penting alen harus pergi bentar" Kata alen.
"Jangan lama-lama dan cepat pulang ya"
Alen mengangguk sambil tersenyum, alen tidak menyadari bahwa di layar ponsel arina sudah bergerak keluar sekolah menuju rumah rima.
Alen bergegas mengambil tasnya, hari ini ia tidak berencana membawa motor. Alen pergi menuju rumah rima menggunakan ojek online, hal itu dilakukan nya agar arina tidak menyadari kehadirannya. Ia tidak mau membuat arina cemas karena kedatangannya yang tiba-tiba. Karena alen tau, arina mencemaskannya makanya gadis itu tidak mengikutsertakan alen ke rumah rima.
Tapi bukan alen namanya kalo menurut begitu saja, apalagi hal ini bisa membahayakan gadis yang dicintainya. Ia akan melindunginya, tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya.
Alen mengawasi dengan berpura-pura membeli somay yang kebetulan sedang berhenti tepat diseberang rumah rima. Sesekali alen mendengar jeritan suara rima yang memanggil nama arina, sebenar nya alen sudah terlampau cemas dan tidak sabar untuk menerobos masuk namun ia menahan hasratnya.
Alen sudah menunggu beberapa lama namun belum ada tanda-tanda arina akan keluar, ia menoleh ke arah rombongan ayah arina, mereka pun sama belum ada tanda-tanda untuk menyergap masuk. Tapi entah kenapa perasaan alen tidak enak, dadanya sesak hatinya sakit. Ia pun mencoba menghubungi arina via telepon.
Tak lama arina menjawab telepon nya, alen mendengar arina memanggil namanya lalu tiba-tiba terdengar bunyi bruk bruk beberapa kali setelah itu tak terdengar apapun lagi. Tanpa basa basi alen langsung berlari menuju rumah rima, ia mendorong pintu rumah yang tak terkunci dan mendapati tubuh arina yang oleng ke arahnya. Dengan segera alen menangkap nya dan jatuh terduduk bersamanya.
Arina menoleh sekilas ke arah alen, lalu sedetik kemudian arina memeluknya erat. Alen dapat merasakan ketakutan dimata arina, apalagi orang itu masih saja hendak menyerang arina padahal sudah ada alen yang sedang berusaha menghadangnya, untung saja para polisi itu segera datang dan langsung menangkap nya dan membawa ayah rima ke kantor polisi.
Tak lama setelah penangkapan ayah rima, arina langsung ke kamar rima untuk melihat kondisinya dan alen mengikuti nya dari belakang. Melihat kehadiran arina rima langsung berlari memeluk arina dan menangis dalam pelukannya. Arina pun ikut menangis dalam diamnya, alen hanya memperhatikan sambil menghela nafasnya.
Alen menatap arina, yang dengan bijaknya menenangkan rima seperti tidak terjadi apa-apa pada dirinya padahal barusan ia sendiri merasakan ketakutan dan kesakitan. Alen mengepalkan tangannya, ia merasa bersalah membiarkan orang lain menyakiti arina. Ingin rasanya ia memeluk arina menenangkan gadis itu seperti gadis itu menenangkan rima. Alen yakin, arina hanya menutupi perasaannya berpura-pura kuat di depan rima. Padahal sebenarnya ia pun rapuh dan butuh sandaran.
Mungkin karena kelelahan menangis rima pun akhirnya tertidur. Satu persatu dari polisi serta guru-guru pergi meninggalkan rumah rima, hanya menyisakan alen dan arina seorang. Arina memutuskan untuk menemani rima sampai ibu nya datang dari kampung sedangkan alen, ia ikut menetap untuk menemani arina.
Alen melihat arina yang sedang berdiri menghadap ke luar jendela, ia pun mengajak arina duduk disisi tempat tidur rima sambil membawa es batu dan waslap. Alen hendak mengompres pipi arina yang memar karena ditampar ayah rima.
Arina sedikit mengiris begitu waslap itu menyentuh memar di wajahnya, hati alen teriris melihatnya. Bagaimana mungkin wajah mungil ini harus mengalami luka seperti ini, batin alen. Ia merasa sangat bersalah tidak dapat melindungi wanitanya dengan baik, padahal ketika itu terjadi alen berada tak jauh darinya.
"Maaf aku terlambat" Kata alen lirih.
"Aku emang sengaja ga kasih kabar, tapi kenapa kamu bisa datang ? Padahal tadi aku cuma berharap dalam hati" Kata arina.
Alen sedikit terkejut mendengar perkataan arina, arina mengharapkan kedatangannya ? Apakah aku ga salah dengar ? Batin alen sambil menatap arina dalam.
"Berharap dalam hati ? Apa kamu tadi berharap aku datang ?" Tanya alen sambil menatap gadis di depan nya.
Arina mengangguk, membenarkan pertanyaan alen. Alen merasa tersentuh, hatinya bergetar karena gembira. Ia pun langsung memeluk arina, mendekapnya erat. Sesayang itu alen sama arina, walaupun saat ini arina belum dapat mengingatnya ia tak masalah selama bisa selalu dekat dengan arina itu sudah cukup baginya.
"Aku berharap kamu datang menolongku, karena aku sudah tidak kuat menghadapi ayah rima" Kata arina dengan suara bergetar. Alen sadar saat ini arina sedang berusaha menahan tangisnya namun gagal, alen hanya dapat mendengarkan perkataan arina tanpa bisa berbuat apa-apa. Pasti saat itu arina sangat ketakutan, membayangkannya saja membuat hati alen kembali tersayat. Ia pun mempererat pelukannya, berharap dapat sedikit memberi ketenangan pada arina seperti yang tadi arina lakukan pada rima.
Alen mengusap bahu arina sambil sesekali mencium keningnya, arina tampak protes. Bagaimana mungkin seorang murid melakukan itu pada gurunya ? Tapi mau bagaimana pun arina protes alen tidak akan mendengarnya untuk yang ini. Karena alen satu kalipun tidak pernah menganggap arina sebagai gurunya, walaupun arina sudah mendengarnya berkali-kali pun tetap saja ia tidak mengerti. Mengapa hanya arina yang tidak bisa menjadi guru alen ? Seperti bisa membaca pikiran arina yang sedang menatapnya, alen hanya tersenyum dan mengecup pelan ujung hidung arina. Dan sebelum arina protes alen sudah kembali memeluknya semakin dalam.
Alen mengutarakan perasaannya kepada arina tanpa melepaskan pelukannya. Alen sudah tidak sanggup menahannya, hatinya terlalu sesak karena meluapnya perasaan itu untuk arina sampai tidak bisa dibendung lagi. Alen tau arina diam namun tetap mendengar suaranya dengan jelas, ia tidak butuh jawaban. Ia hanya ingin arina mengerti atas sikapnya selama ini. Alasan kenapa alen selalu berada disisinya ? Alasan kenapa alen tidak bisa menganggap arina sebagai gurunya ? Kali ini alen ingin arina mengerti bahwa jawaban dari semua alasan itu adalah karena dimata alen arina adalah gadis pilihan hatinya, gadis yang paling dicintainya.
Tak lama berselang setelah ungkapan perasaan alen, alen merasa bahunya ditepuk-tepuk oleh arina. Padahal alen sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan buruk yang terjadi. Tapi ternyata terjadi hal diluar dugaan, arina malah menenangkan alen yang sempat terisak, arina tidak marah ? Alen pun melepaskan pelukannya dan menatap mata arina.
Arina memang melupakan alen, sebagai teman masa kecilnya. Tapi tidak dengan hatinya, Arina tidak benar-benar melupakan alen, hanya masalah waktu saja arina pasti bisa mengingat masa kecil mereka, alen yakin dengan hal itu. Alen hanya perlu menunggu, dan tetap disisinya sampai saat itu tiba.
Alen memegang pipi arina, mengusap sisa air matanya. Matanya tetap memandang kedalam mata arina, tatapannya masih sama seperti ketika dulu mereka bersama. Hal itu membuat alen merasa bahagia, ia pun semakin mendekatkan wajahnya, semakin dekat pada wajah arina sampai alen bisa merasakan deru nafas arina. Arina hanya terdiam tidak menolak juga tidak merespon. Alen hanya ingin menunjukkan semua perasaannya kepada arina, agar arina tau bahwa alen benar-benar mencintainya.
Arina hanya terdiam ketika bibir alen menyentuh bibirnya. Alen melakukannya dengan sangat lembut, menikmati setiap sentuhannya dengan arina saat ini. Apapun konsekuensinya setelah ini, alen akan menerimanya. Seandainya ini adalah mimpi alen enggan terbangun dari mimpi indahnya.
Alen melepaskan ciumannya dengan senyuman, lalu dikecupnya pipi dan kening arina seolah itu adalah barang paling berharga baginya. Alen kembali memeluk arina, lagi-lagi arina tidak menolak dan malah menyandarkan kepalanya dibahu alen. Alen merasa bahagia, perasaannya kini semakin dahsyat kepada arina.
Tak lama kemudian terdengar suara bel, arina dan alen pun menghentikan aktifitasnya dan segera membuka pintu. Terlihat ibu rima beserta adiknya datang dengan wajah yang sedih, ia langsung memeluk arina dan menangis. Arina langsung merangkulnya dan mengajak ibunya ke kamar untuk melihat kondisi rima, arina menceritakan semua tentang keadaan rima tanpa ada yang ditutup-tutupi membuat ibu rima menangis histeris.
Tangisan ibu rima membuat rima terbangun, dan mereka pun menangis bersama saling meminta maaf. Arina tanpa sadar menitikkan air mata, dengan cepat alen menggenggam tanganmu memberi kekuatan. Setelah mereka berdua tenang, arina dan alen meminta ijin untuk pulang.
Arina celingak celinguk mencari-cari motor alen, alen yang melihatnya hanya tersenyum. Setelah mengatakan kalau ia naik taksi, arina pun menawarkan tumpangan padanya dengan alasan bahwa dirinya lelah. Alen hanya tersenyum mendengarnya, alen tau jika arina masih malu atas kejadian di kamar rima.
Mereka pun pergi meninggalkan rumah rima. Alen mengantarkan arina sampai rumahnya, namun arina menawarkan padanya untuk membawa mobilnya pulang karena alen tidak bawa kendaraan. Alen pun mengangguk, ia jadi punya alasan besok untuk menjemput arina ke sekolah.