Keesokan harinya, seperti yang sudah direncanakan hari ini aku akan meminta izin sekolah untuk membuka kedok ayah rima. Awalnya mereka kaget dan tidak percaya ketika aku menceritakan kejadian yang menimpa rima, tapi akhirnya aku berhasil meyakinkan kepala sekolah dan guru lain. Bu dian selaku wali kelas rima nampak shok, ia merasa bersalah karena tidak tau apa-apa tentang rima. Aku hanya bisa membujuknya, dan meminta bu dian mendoakan agar upaya membantu rima berhasil, Setelah itu aku pun menuju rumah rima bersama beberapa guru lain.
"Papa, arina menuju rumah rima" Kataku melalui pesan singkat.
Rencana teman papa, aku hanya perlu mewawancarai ayah rima sampai dia mengakui perbuatan nya. Papa memberikan aku alat perekam seperti bros dan kamera pada kacamata yang aku pakai. Kalau bukti sudah cukup didapatkan, mereka akan langsung datang menyergap ayah rima.
Sebenarnya aku agak deg-degan, tapi aku mencoba untuk mengatakan pada diriku sendiri kalau ini akan berhasil. Demi rima, aku ingin dia bebas dari cengkeraman ayahnya. Apalagi aku baru tau kalau rima sudah 3 hari ini tidak masuk sekolah. Tidak ada alasan bagiku untuk takut.
Aku mengendarai mobil sendirian ke rumah rima, sedangkan yang lain memantau tak jauh dari rumah rima sambil menunggu instruksi selanjutnya. Aku memarkir mobil di luar pintu gerbang rumahnya lalu menekan bel, tak lama pintu terbuka dan aku melihat ayah rima berdiri didepanku.
"Maaf pak, saya guru rima. Sudah 3 hari rima tidak masuk dan tidak ada kabar. Saya bermaksud menjenguk rima" Kataku ramah.
"Rima sakit makanya tidak bisa sekolah" Kata ayah rima tanpa menyuruhku masuk.
"Boleh saya ketemu rima ?" Kataku lagi, aku harus masuk untuk memastikan keadaan rima, ujarku dalam hati.
Ayah rima tampak berpikir sejenak lalu kemudian membiarkan ku masuk menunggu diruang tamu. Baru hendak duduk aku mendengar teriakan rima memanggil namaku, sepertinya rima tau kedatangan ku.
"Itu rima kenapa pak ?" Tanyaku.
"Dia biasa begitu, makanya anda tidak bisa ketemu rima. Dia sedang sakit" Kata ayah rima tegas.
"Tapi saya harus menengoknya pak, kita bisa membawa dia ke rumah sakit" Kataku lagi.
"Tidak perlu, dia sudah berobat. Lebih baik anda pergi" Katanya mengusirku.
Namun aku memaksa masuk untuk melihat rima, dan disitulah aku melihat wajah ayah rima yang mulai merah padam karena marah. Aku sempat gentar sedikit, tapi ku tepis perasaan itu. Demi rima, lagian banyak yang memantau aku dari luar.
"Lebih baik anda pergi, sebelum saya habis kesabaran" Katanya sambil mengatupkan kedua rahangnya.
"Saya tau alasan rima tidak sekolah makanya saya kesini. Lepas kan rima pak, dia anak anda. Apa anda tidak punya hati sampai tega berbuat seperti itu pada anak anda" Kataku dengan keberanian yang entah dari mana datangnya.
"Apa yang telah saya perbuat ? jangan sok tau anda. Masih kecil mau ceramahin orang tua" Katanya dengan nada marah.
"Rima sudah menceritakan segalanya pada saya, saya tau bagaimana anda memperlakukan dia selama tidak ada ibunya dirumah ini. Saya tidak habis pikir kenapa dia harus punya orang tua seperti anda. Anda tidak usah mengelak lagi pak, atau saya akan membawa kasus ini ke polisi" Kataku tegas.
Misssss.... Terdengar lagi teriakan rima. Kali ini lebih keras, aku bisa merasakan rima sedang kesakitan. Tapi ayahnya belum mau mengakui kejahatannya, aku harus memutar otak lagi, apapun harus aku lakukan agar dia mau mengakui nya. Supaya orang-orang teman ayah bisa segera datang kesini dan rima cepat mendapat bantuan.
Aku mendorong ayah rima agar bisa masuk ke kamar rima. Namun baru beberapa langkah ayah rima yang nampak marah langsung menangkapku dan mendorongku sampai ketembok lalu menekan kedua pipiku dengan satu tangan besarnya.
"Jangan buat saya marah adik kecil, atau apa yang menimpa rima akan menimpa kamu juga" Katanya sambil menekan kedua pipiku dengan tangannya.
"Jadi benar, anda melakukan itu pada rima ? Anda telah menahannya dirumah ini dan memintanya untuk melayaninya selayaknya suami istri ? Apa anda tidak malu ?" Kataku disela-sela menahan sakit dipipiku.
"Buat apa aku malu ? Hanya ada aku disini, dan kamu tidak akan bisa keluar dari rumah ini. Kamu sendiri yang datang ke kandang macan, dan aku akan menerima akibatnya, aku ga akan segan-segan memperlakukan kamu sama seperti rima" Katanya sambil menatap mataku dengan garang.
"Seperti rima ? Perlakuan apa yang anda maksud ?" tanyaku, aku mencoba untuk memperjelas pengakuannya supaya buktinya kuat.
"Menggagahi tubuhmu" Katanya sambil menyusuri wajahku dengan tangannya.
Tiba-tiba ponselku bergetar, kulihat nama alen dilayar. Padahal aku sengaja tidak memberinya kabar, aku tidak mau dia terlibat dalam hal ini. Namun kenapa sekarang aku malah ingin dia ada disini, aku pun segera menerima panggilannya.
"Alen.." Baru sempat memanggil namanya ayah rima langsung mengambil ponsel ku dan membuangnya ke lantai. Lalu dia menamparku dan mendorong tubuhku ke dinding dengan keras. Aku melenguh kesakitan, kuinjak kaki ayah rima dengan sekuat tenaga lalu aku berlari ke arah pintu.
Lagi-lagi gerakan ayah rima terlalu cepat sampai ia bisa menangkap ku lagi, kali ini aku berharap orang-orang itu segera datang menolongku. Badanku sudah mati rasa, kataku dalam hati. Ayah rima mendorongku lagi ke arah pintu namun belum sampai pintu tiba-tiba pintu itu terbuka, seseorang mendobrak pintunya dan menangkapku hingga aku jatuh terduduk bersama dengannya. Aku menoleh ke arahnya dan hatiku lega karena ternyata orang itu adalah alen. Ku peluk alen kuat-kuat, aku tidak mau jatuh ke tangan ayah rima lagi. Aku sudah terlalu lelah, sudah terlalu lemah untuk melawan.
Tak berapa lama orang-orang yang memantau tak jauh dari rumah rima segera datang, sebagian dari mereka adalah polisi-polisi teman papa. Ayah rima pun ditangkap tanpa perlawanan. Bukti yang aku dapatkan sudah cukup kuat untuk membuat ayah rima mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Aku segera melihat keadaan rima, dia menangis dalam pelukanku. Dia berteriak karena takut terjadi sesuatu padaku. Setelah puas menangis, rima pun tertidur karena kelelahan. Polisi dan guru lain sudah pulang sedangkan aku memilih menemani rima disini sampai ibunya datang, dan alen pun memilih untuk menemaniku.
Alen menghampiriku sambil membawa waslap dan es batu lalu mengajakku duduk di sisi tempat tidur rima. Dia menempelkan waslap yang sudah dingin itu dipipiku, aku meringis menahan nyeri.
"Maaf aku telat datangnya" Kata alen disela-sela mengobatiku.
"Aku emang sengaja ga kasih kabar, tapi kenapa kamu bisa datang ? Padahal tadi aku cuma berharap dalam hati" Kataku.
"Berharap dalam hati ? Apa kamu tadi berharap aku datang ?" Tanya alen sambil menatapku.
Aku mengangguk, karena memang itu yang terjadi. Aku mengharapkan kedatangan alen untuk menolongku, batinku. Mendengar hal itu alen langsung memelukku, erat.
"Aku berharap kamu datang menolongku, karena aku sudah tidak kuat menghadapi ayah rima" Kataku dengan sedikit terisak. Aku benar-benar tidak bisa menahan sakitnya sekarang, apalagi pelukan alen selalu bisa membuat aku mengeluarkan semua emosiku. Dia selalu bisa menenangkanku.
"Aku sudah disini, aku ga akan meninggalkanmu" Katanya sambil mengelus bahuku dan mengecup keningku.
"Aku gurumu, bagaimana bisa kamu mengecup keningku ?" Kataku pelan tanpa melepaskan pelukannya.
"Kita sedang tidak ada disekolah jadi hubungan guru dan murid tidak berlaku" kata alen sambil terus memelukku.
"Kenapa ? Apa memang seperti itu sikapmu ke gurumu ?" Tanya arina penasaran.
"Hanya ke kamu aja, aku ga pernah menganggap kamu guru aku. Disekolah atau dimanapun !!" Kata alen masih sambil memelukku.
Aku menengadahkan kepalaku melihatnya, "Kenapa hanya aku ? Meskipun aku ga ngajar, aku tetap guru kamu" Kataku tak lepas menatapnya heran.
Alen tersenyum dan mencium ujung hidungku pelan, belum sempat aku protes alen sudah merapatkan pelukannya semakin dalam.
"Aku ga bisa arina, karena aku terlalu menyukaimu. Aku selalu melihatmu sebagai wanita, aku ga pernah bisa memalingkan wajahku darimu dari dulu hingga sekarang. Meskipun berkali-kali aku yakinkan hatiku kalau kamu guru aku, tapi lagi-lagi aku ga mampu" Kata alen dengan suara bergetar. Aku sampai tidak bisa berkata apa-apa mendengar pengakuan alen, akupun tidak bisa melihat matanya karena dia memelukku erat.
"Aku terlalu takut kamu terluka, aku terlalu takut kehilangan kamu lagi. Meskipun kamu tidak memberi kabar, aku sudah bertekad akan datang. Hati aku sampai sesak karena terlalu mencintaimu arina" Katanya lagi, kali ini aku mendengar isak tangis alen walaupun pelan.
Aku merasa jahat padanya, karena sudah mengabaikannya. Tapi perasaanku belum berubah, aku masih menganggap dia muridku walaupun aku sudah mendengar pengakuannya.
Aku membalas pelukannya, ku tepuk-tepuk bahunya. Aku bermaksud untuk menenangkannya, Sebagai orang yang mengerti tentang kejiwaan seseorang, disaat alen seperti ini aku tidak boleh mengabaikan nya.
Alen melepaskan pelukannya, lalu dia menatapku. Tatapannya begitu teduh, begitu hangat apa seperti itu kah tatapan cinta ? Membuat hatiku sedikit bergetar namun menenangkan.
Alen memegang pipiku dengan lembut dan pelan-pelan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Entah kenapa aku sedikitpun tidak bisa menolak, padahal aku tau pasti apa yang akan terjadi jika wajahnya semakin mendekat ke wajahku. Aku bisa merasakan deru nafasnya diwajahku, harusnya aku menghentikannya tapi entah kenapa hatiku berkata lain. Aku benar-benar tidak bisa menolak nya ketika bibir alen menyentuh bibirku dengan sangat lembut.
Aku bisa merasakan cinta itu, cinta alen yang sangat dalam padaku. Tapi kenapa harus alen ? Kenapa alen yang selalu bisa membuatku mengeluarkan emosiku, mengeluarkan semua yang ada di hatiku. Aku memiliki bagas yang sudah aku kenal sejak kecil tapi ketika bersamanya, aku tidak merasakan hal yang aku rasakan pada alen. Siapa alen ?
Alen melepaskan ciumannya, lalu mengecup kening dan pipiku sambil tersenyum lalu memelukku lagi. Aku terlalu lemah untuk protes padahal dalam hati merasa bahagia atas perlakuan alen. Apa aku sudah gila ? Pikir arina.
"Terima kasih arina" Kata alen bahagia.
Aku tidak menjawabnya, hanya merebahkan kepalaku dibahunya. Aku malu untuk menatapnya, bagaimana mungkin aku terlena oleh ciumannya.
Tiba-tiba bel rumah rima berbunyi, aku pun dengan segera membuka pintu itu. Ternyata ibu rima dan adiknya sudah sampai dari kampung. Belum apa-apa ibu rima memelukku sambil menangis lalu aku ajak dia ke kamar rima yang masih tertidur sambil menceritakan semua yang telah terjadi pada anak gadisnya.
Ibunya sesekali histeris dan meraung-raung, berkali-kali meminta maaf kepada rima. Karena suara ibu rima yang histeris, akhirnya rima pun terbangun dari tidurnya. Mereka berdua menangis bersama, saling meminta maaf. Ibu rima meminta maaf karna meninggalkannya sedangkan rima minta maaf karena hamil anak dari suaminya. Ketika keduanya tenang, aku dan alen meminta ijin untuk pulang.
"Terima kasih miss arin dan nak alen" Kata ibu rima.
Setelah itupun kami berlalu keluar rumah, aku celingak-celinguk mencari motor alen.
"Dimana motor kamu ?" Tanyaku.
"Aku naik taksi" Katanya.
Hmmm.. Aku pun menghela nafas, "Bisa bawa mobil ? Aku terlalu lelah hari ini ?" Kataku bermaksud untuk memberinya tumpangan, tapi mengingat kejadian dikamar rima tadi arina terlalu malu untuk menawarkannya secara langsung.
Alen pun mengangguk dan menerima kunci mobilku. Aku yang terlalu lelah akhirnya hanya tidur sepanjang perjalanan pulang. Dan meminta alen untuk membawa mobilku pulang kerumahnya karena alen tidak bawa kendaraan, alen pun menurut.