Alen membuka mata ketika arina membangunkannya. Ia tertidur selama perjalanan karena merasa lelah. Setibanya di rumah sakit, ia mengikuti arina ke lobby untuk melakukan pendaftaran.
Alen duduk dikursi tunggu sedangkan arina hendak ke meja resepsionis untuk mendaftarkan alen namun panggilan alen menghentikan langkah arina.
"Arina, boleh pinjam ponsel ? Aku harus nelpon bunda, pasti dia khawatir" Kata alen, awalnya arina tampak ragu ga mungkin alen ga punya hape. Namun setelah mendengar penjelasan alen bahwa tas dan motornya ketinggalan arina pun meminjamkan hapenya dan pergi kebagian pendaftaran.
Tak berapa lama arina kembali dan Alen langsung mengembalikan ponsel itu ke arina.
"Sudah ?" Kata arina, arina menjelaskan tentang pemeriksaan CT Scan sambil memegang kepala alen, membuat hati alen bergetar padahal arina hanya mengambil daun dari kepalanya.
Lagi-lagi arina membuat hati alen bergetar karena memeluk lengannya ketika menuju ruang CT Scan, padahal alen tau maksud arina adalah menolongnya agar alen bisa berdiri tegak dan tidak oleng namun tetap saja membuat jantungnya berdegub kencang.
Perhatian kecil arina semakin menambah kuat rasa yang ada dihatinya. Alen semakin tidak bisa melepasnya, dan ingin selalu berada disisinya.
"Apa ada yang sakit ?" Tanya arina.
Alen menggeleng kan kepalanya, "Ga.. Ada kamu disini ilang semua sakit aku" Kata alen sambil menatap arina.
Arina menyangka bahwa alen bercanda, ia menggelengkan kepalanya. Padahal alen mengatakan dengan kesungguhan hatinya walau sambil tersenyum. Seandainya arina dapat merasakannya, batin alen.
Arin selalu mengingatkan bahwa dia adalah guru alen, namun alen juga mengingatkan arina bahwa hal itu tidak berlaku jika mereka berada diluar sekolah. Sekali lagi arina hanya menggelengkan kepalanya, malas berdebat dengan alen yang ngeyel.
Ketika CT Scan selesai kami pun menuju ruang dokter untuk mendapatkan penjelasan mengenai hasil scan, Alhamdulillah hasilnya baik, alen tidak ada cedera apa pun. Hanya saja dia perlu menjaga kepalanya agar tidak terbentur lagi. Sementara ini alen hanya perlu istirahat dan meminum obatnya untuk mengurangi dan mengolesi lukanya dengan salep agar memarnya cepat hilang.
Setelah urusan di rumah sakit selesai, kami segera pulang menggunakan taksi. Arina meminta sopir taksi untuk mengantar mereka ke sekolah karena harus mengambil tas dan motor alen yang tertinggal di sekolah.
"Sekolah Noah ya pak" Kata arina.
Lalu arina mengambil salep untuk luka dan mengoleskannya ke wajah alen sambil tak henti-hentinya menasehati. Alen hanya mendengarkan dengan perasaan berdebar karena bisa melihat arina dari jarak sedekat ini.
Tiba-tiba arina mematung dan tangannya memegang liontin kalung milik alen dengan ragu. Alen hanya memperhatikan sambil berharap arina dapat mengingat liontin kalung miliknya.
Sebenarnya itu adalah cincin yang diberikan arina dihari perpisahan mereka waktu kecil. Tapi karena sudah tidak muat di jari alen, alen pun menjadikannya liontin kalung rantai miliknya.
Lama arina menatap liontin kalung itu namun dengan segera ia melepasnya, kemudian ia memberikan salep ke alen lalu menyandarkan kepalanya di kursi mobil.
Alen mengerti bahwa arina merasakan sesuatu terhadap kalungnya namun tak bisa mengingatnya. Alen tau betapa menderitanya perasaan seperti itu, tapi arina bisa menyembunyikannya dengan mudah membuat alen ingin memeluk arina namun ditahannya.
Alen menatap arina yang melemparkan pandangannnya ke luar jendela. Pasti banyak yng dipikirkan oleh arina, batin alen. Padahal arina ketiduran tapi alen belum sadar sampai suatu ketika kepala arina menggeser perlahan, alen segera menangkapnya sebelum kepala arina terbentur jendela lalu merebahkannya dibahunya.
Ia mengambil salep luka yang diberikan arina dan mengoleskan pelan di bagian pergelangan tangan arina yang luka akibat pegangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu. Setelah selesai dengan aktifitasnya, alen menyandarkan kepalanya dikepala arina, ikut memejamkan matanya sambil menggenggam kedua tangan arina.
Tak lama alen terbangun ketika pak sopir bilang bahwa mereka sudah sampai di sekolah Noah. Dilihatnya arina masih tertidur pulas. Ia pun tidak tega untuk membangunkannya dan meminta pak sopir untuk menuju perumahan D'Valey, rumah arina. Mobil taksipun langsung menuju ke sana.
Arina kaget ketika bangun sudah berada di depan rumahnya, perasaan tadi ia bilang ke pak sopir untuk pergi ke sekolah noah. Mengapa tiba-tiba sampai di depan rumahnya, pikir arina heran.
"Tolong kembali ke sekolah Noah pak" Kata arin, namun dengan cepat alen menolaknya.
"Ga usah pak" Jawabnya cepat, "Aku bisa ngambil sendiri kok, kamu istirahat aja dirumah" Kata alen sambil melihat arina.
Suasana hening sejenak, tiba-tiba perut alen berbunyi, dia pun tertawa keras sedangkan arina hanya menahan senyumnya. Kemudian arina membayarkan taksinya lalu menawarkan alen untuk mampir ke rumahnya, kebetulan pas dengan jam makan malam keluarga nya. Alen pun mengangguk mengiyakan tawaran arina, dan mengikuti langkah gadis itu menuju rumahnya.
Rumah arina tampak sangat luas, sebenernya ga jauh beda juga dengan rumahnya sendiri, sama-sama besar dan megah. Alen tampak canggung awalnya, bagaimanapun ia akan makan malam bersama orang tua arina, hatinya berdebar tidak karuan. Ia harus tampil baik di depan calon mertua, batinnya sambil senyum.
Arina menyapa kedua orang tuanya yang telah duduk terlebih dahulu di meja makan, kemudian duduk di depan ibunya. Arina mengisyaratkan alen untuk duduk disebelahnya, alen pun menurut. Kemudian arina memperkenalkan alen kepada keluarganya, sepertinya arina sudah memberi kabar sebelumnya karena mereka tidak tampak kaget. Malah menerima alen dengan ramah dan menyuruhnya untuk menganggapnya seperti keluarga sendiri, dengan senang hati alen akan menganggap keluarga arina seperti keluarga nya sendiri. Keramahan keluarga arina lah yangvmembuat rasa canggungnya hilang dan menikmati makan malam ini.
"Arina tentang murid kamu rima..." kata papa disela-sela makan malam.
Arina dengan cepat memotong pembicaraan papa, karena arina tidak mau alen mengetahui masalah rima. Namun alen yang sudah tau duluan langsung memegang tangan arina dari bawah meja bermaksud untuk mencegah arina menghentikan pembicaraan papanya. Alen mengangguk ketika arina menoleh ke arahnya, memastikan agar arina membiarkan papanya untuk meneruskan kalimatnya. Arina terdiam dan melanjutkan menikmati makanannya.
Jadi papa arina meminta tolong pada temen papanya yang seorang polisi untuk membantu rima muridnya arina keluar dari jeratannya ayahnya sendiri. Dan rencana untuk menangkap ayah rima harus dengan bukti yang kuat caranya harus memancing ayah rima mengakui perbuatannya sendiri.
Temen papa meminta arina untuk mengunjungi rumah rima, arina sudah dibekali alat perekam dan video rekam berupa kacamata agar tidak kelihatan. Nanti orang-orang teman papa akan memantau tak jauh dari rumah rima, begitu barang bukti sudah kuat mereka akan langsung menyergap. Namun disini keberanian arina pun dipertaruhkan, arina harus berhasil membuat ayahnya rima mengakui perbuatannya.
Arina yakin dan ia akan melakukan sesuai instruksi teman papa namun arina tidak mengetahui perasaan alen yang merasa gelisah dan ia sangat khawatir terhadap arina.
Setelah makan malam selesai arina pun mengantar alen pulang kerumahnya, sebenarnya alen ga mau cuma arina memaksa karna ia merasa bertanggung jawab sebagai gurunya untuk memberi tahu orang tua alen kejadian yang sebenarnya agar tidak khawatir.
"Aku ikut miss" Kata alen ditengah-tengah perjalanan.
Arina tampak heran dengan ucapan alen yang tiba-tiba memecah kesunyian, "Kemana ?" Tanya arina.
"Kerumah rima, aku ikut dalam rencana itu" Kata alen.
Arina menggeleng, menolak alen untuk ikut dalam rencana karena menurutnya ini berbahaya dan terlalu beresiko. Namun alen tetap bersikeras untuk ikut ke rumah rima, karena ia sungguh tidak mau gadisnya terluka. Alen merasa harus melindunginya.
"Aku akan mempertimbangkannya" Kata arina akhirnya, kalo soal adu ego memang arina lebih baik mengalah.
Kemudian alen meminjam ponsel arina, sebenernya ia memasang pelacak di ponsel arina disambungkan ke ponselnya agar ia bisa mengetahui keberadaan arina dimanapun. Ini ia lakukan karena tak yakin kalo arina akan menghubunginya perihal keikutsertaannya dalam rencana penyergapan ayah rima. Jadi ia bisa datang sendiri tanpa harus meminta persetujuan arina.
Arina tidak tahu mengenai pelacak yang dipasang di ponselnya, ia hanya tau kalau alen meminjam ponsel untuk chat ke nomornya agar bisa tau nomor arina. Dan arina pun tidak masalah, hanya tukeran nomor ponsel.
Setibanya di rumah alen kami disambut oleh wanita paruh baya yang ternyata adalah ibunya alen. Setelah turun dari mobil arina pun mencoba untuk bersalaman dengan ibunya namun ibunya mengabaikan tangan arina malah memeluknya sambil mengucapkan terima kasih, dan menggandeng tangan arina untuk duduk di ruang tamu.
Bunda alen memang lebih senang dipanggil bunda oleh teman-temannya alen, karena merasa lebih akrab dengan mereka. Walaupun agak canggung awalnya, arina tetap memanggil ibu alen dengan sebutan bunda.
Arina belum sempat menceritakan tentang kejadian yang menimpa alen namun bunda sepertinya sudah tau semuanya kalau alen berantem. Dan arina baru tau kalau alen suka melampiaskan kekesalannya dengan berantem. Arina menoleh ke alen yang terlihat cuek, ia terlihat seperti mengingat-ingat sesuatu.
Memang alen terlibat perkelahian itu karena berawal kabur dari sekolah karena merasa marah pada arina yang selalu menganggapnya sebagai anak-anak. Alen tidak suka arina menganggapnya seperti itu, bagaimana pun arina adalah gadis yang paling disukainya. Alen ingin dianggap seorang laki-laki dimata arina, bukan anak muridnya.
Alen merasa senang ketika bunda mengundang keluarga arina untuk makan malam, walaupun alasannya sebagai rasa terima kasih. Dia memang tak menampakkan perasaan senangnya, tapi hatinya berbunga-bunga ini merupakan awal pertemuan dua keluarga. Dia menatap arina, tanpa arina sadari.
Sepeninggal bunda alen, arina memandang sekeliling rumah alen. Alen mengerti apa yang ada dalam pikiran arina, dan hanya memandangnya. Alen sama seperti arian anak tunggal dari keluarga kaya raya. Rumah sebesar ini tampak sepi jika hanya diisi oleh tiga orang, walaupun banyak asisten rumah tangga.
"Hubungi aku miss, aku ikut rencana teman papa kamu" Kata alen mengingatkan arina, ia tidak akan membiarkan arina sendirian. Bagaimana pun alen bertekad untuk menjaganya dengan atau tanpa dihubungi arina.
Lagi-lagi arina hanya bilang akan mempertimbangkannya dan berlalu pulang, tak lama alen segera mengambil ponsel dalam tas nya. Jadi tadi alen sempat bilang sama bunda pas pinjem hape arina untuk ambilkan motor dan tas alen yang ditinggal di sekolah, pihak sewa game sudah mengantarkan tas alen ke security sekolah. Jadi orang bunda tinggal mengambilnya di security.
Alen langsung melihat pelacak arina yang sudah disambungkan ke ponsel alen, dari situ alen bisa melihat arina dalam perjalanan ke rumahnya. Besok dengan atau tanpa dikabari arina, alen bertekad untuk ikut dalam penyergapan ayah rima. Alen akan menjaga arina tanpa sepengetahuannya. Alen tidak akan membiarkan arina terluka.