"Sebentar ya pak" Kataku kepada pak sopir taksi sesampainya kami di rumah sakit. Aku mencoba membangunkan alen yang masih terlelap dibahuku sambil menggenggam tanganku.
"Alen, kita sudah sampe dirumah sakit" Kataku mengguncang pelan lengannya.
Pelan-pelan alen membuka matanya, ia pun melepaskan tanganku. Dengan segera aku membayar taksi yang sudah mengantar kami ke rumah sakit.
Setelah mengucapkan terima kasih, kami berjalan ke dalam lobby rumah sakit dan segera mendaftar kan alen ke bagian pendaftaran.
"Boleh pinjam ponsel ? Aku harus nelpon bunda, pasti dia khawatir" Katanya sambil duduk menunggu antrian pasien.
"Tasku ketinggalan ditempat PS" Lanjutnya seperti bisa membaca pertanyaan dalam pikiranku. Dan aku pun memberikan ponsel ku, tepat ketika nama alen dipanggil. Aku pun segera mendatangi bagian pendaftaran, meninggalkan alen yang sedang menghubungi orang tuanya.
"Sudah ?" Kataku berdiri didepannya sambil menerima ponsel yg alen berikan, "Kita perlu ke bagian CT Scan, melihat kondisi kepalamu yang dipukul kayu" Kataku sambil mengambil daun dari rambutnya.
Alen pun berdiri dan aku meraih lengan alen, takut dia oleng lagi. Kami berjalan sepanjang koridor rumah sakit, menuju ruang CT Scan lalu duduk menunggu antrian.
"Apa ada yang sakit ?" Tanyaku.
Alen menggeleng, "Ga.. Kamu disini ilang semua sakit aku" Katanya sambil memandangku sambil senyum.
"Iss, aku guru kamu loh" Kataku sambil duduk di sebelahnya.
"Sekarang bukan disekolah, ga berlaku !!" Kata alen merasa menang, "Orang tuamu ga nanyain ?" Tanyanya.
"Sudah dikabarin, kalo aku pulang telat" Kataku sambil melirik jam, pukul 17.00.
Tak berapa lama perawat memanggil alen, aku menunggunya diluar. Selang beberapa menit alen keluar, membawa hasil CT Scan. Kami pun langsung pergi Keruang dokter.
"Bagaimana dok ?" Tanyaku diruang perawatan.
"Tidak ada masalah, tidak geger otak juga. Masih aman. Hindari benturan apapun dikepala ya alen, istirahat dirumah untuk beberapa hari. Saya akan berikan surat dokter, nanti ada salep bisa langsung dipakai ya untuk memarnya " Kata dokter.
Aku pun mengangguk, setelah menerima resep obatnya kami harus antri lagi untuk mengambil obat.
Ugh lelahnya, aku menguap sambil bersandar dikursi tunggu.
"Terima Kasih" Kata alen.
Aku mengangguk, "Kenapa bisa sampai berkelahi ?" tanyaku sambil menoleh kearahnya.
"Mereka tiba-tiba nyerang aku duluan" Kata alen.
Setelah menerima obatnya kami pun pulang naik taksi lagi menuju sekolah untuk mengambil tas dan motor alen.
"Luka memarnya perlu dioles salep ya" Kataku sambil duduk menghadap alen, mengobati lukanya. "Lain kali kalo mereka menyerang kamu lari aja" Kataku lagi disela-sela mengobatinya.
"Kalo ga main keroyokan aku pasti ga kalah" Katanya ngeyel.
Tiba-tiba mataku tertuju pada liontin kalung rantai yang dipakai alen, entah mengapa aku seperti familiar terhadap liontin itu, tanpa sadar tanganku menyentuhnya.
Aku segera menjauhkan tanganku begitu sadar atas apa yang aku lakukan, kemudin kuberikan obat itu ke alen lalu bersandar pada kursi mobil, tak lama pun aku tertidur.
Aku kaget karena begitu bangun sudah berada di depan rumahku, padahal tadi aku dan alen hendak menuju sekolah untuk mengambil motor dan tasnya.
"Loh kok udah depan rumah ? Kita kan mau ke sekolah" Kataku begitu terbangun, "Pak tolong kembali ke sekolah Noah ya" Kataku kemudian.
"Ga usah pak" Kata alen, "Aku bisa ngambil sendiri kok, kamu istirahat aja dirumah" Kata alen sambil melihatku.
Kruyukkk.. Terdengar bunyi perut alen, ia pun tertawa begitu melihat aku menahan senyum.
"Aku belum makan dari siang, jadi laper. Haha" Katanya sambil tertawa.
Aku segera membayar taksi, "Yauda mau mampir kerumahku ? Kebetulan jam makan malam, pasti orang rumah sudah masak" Kataku menawarkan diri.
"Bolehkah ?" Tanya alen ragu.
Aku pun mengangguk lalu turun dari mobil diikuti alen. Dan benar saja, ketika masuk menuju ruang makan hidangan sudah siap dimeja makan, ada papa sama mama juga sedang menikmati makan malam.
"Pah, Mah" Sapaku sambil mencium pipi keduanya. Lalu duduk diseberang mama, aku mengisyaratkan alen untuk duduk disampingku. Papa mama nampak melihat kearah alen, tanpa menunggu mereka bertanya akupun mengenalkan alen pada mereka.
"Ini alen pah mah, murid aku. Yang tadi aku ceritakan mah" Kataku. Tadi aku sempet kabarin mama, alasan pulang telat jadi mama pun sudah paham siapa alen.
"Oh, gimana kondisinya nak alen ?" Tanya mama.
"Sudah lebih baik tante, maaf gara-gara saya miss arin jadi pulang terlambat" Kata alen.
"Gapapa, yang penting kalian baik-baik saja, lain kali hindari hal-hal seperti itu nak. Pasti ibu kamu khawatir" Ujar mama, seperti biasa pasti sukanya memberi nasehat.
"Iya tante" Kata alen.
"Silahkan dinikmati nak alen, anggap keluarga sendiri" Kata papa membuat alen menoleh sejenak.
Aku melirik alen sekilas, ia pun tampak terbiasa dan mengambil beberapa menu lalu menikmati makan malam bersama kami.
"Arina, tentang murid kamu rima...." Kata ayah disela-sela makan malam.
"Papa.." Kataku memotong pembicaraan papa, sambil melirik alen sekilas. Namun alen malah menyenggol tanganku dari bawah meja, aku melihat kearahnya dan ia tampak mengangguk. Aku terdiam dan kembali menikmati makananku membiarkan papa melanjutkan bicaranya.
"Papa sudah bicara dengan teman papa yang polisi mengenai rima. Jadi begini nak, kita harus menangkap ayahnya dengan buktinya sekalian. Jadi ini rencana teman papa..."
Aku mendengarkan penjelasan papa. Dan mengangguk mengerti, berarti besok aku akan minta ijin sekolah untuk kerumah rima dan menjelaskan tentang kondisi rima. Perasaan aku agak bahagia mengingat sebentar lagi, rima akan terbebas dari penderitaannya.
"Pah mah, aku mau anter alen pulang dulu ya" Kataku, disertai anggukan papa dan mama.
"Ga usah miss, aku bisa sendiri" Kata alen.
"Aku harus jelaskan kronologinya sebagai guru kamu, biar orang tuamu ga khawatir" Kataku sambil pergi berlalu.
"Om tante alen pamit, Terima kasih makan malamnya" Kata alen sambil mencium tangan kedua orang tuaku, dan menyusul di belakangku.
Aku kerumah alen dianter supir, mama ga mengijinkan aku bawa mobil sendiri karena sudah malam. Khawatir aku kelelahan, aku pun menurut.
"Aku ikut miss" Kata alen ditengah-tengah perjalanan.
"Kemana ?" Kataku heran.
"Ke rumah rima, aku ikut dalam rencana itu" Kata alen, ternyata dia menyimak semua penjelasan papa.
Aku menggeleng, "Besok kamu harus sekolah, lagian terlalu berbahaya. Apapun bisa terjadi" Kataku.
"Karena itu aku harus ikut, apapun bisa terjadi sama kamu" Kata alen sambil menatapku tajam.
"Aku bisa jaga diri, aku hanya perlu memancing ayahnya rima bicara" Kataku menolak halus.
"Arina, aku ga mau ada apa-apa sama kamu. Tolong ajak aku dalam rencana itu" Kata alen sedikit memohon.
"Aku ga mau kamu terlibat, berbahaya, aku ga mau kamu terluka" Kataku, dia murid aku ga mungkin aku melibatkannya dalam rencana berbahaya ini.
"Aku mohon arina, aku ga mau mati karena cemas" Kata alen sambil menggenggam tanganku.
Aku menatap matanya, matanya memohon dan menahan tangis. Aku melihat air mata di ujung matanya, aku pun menghela nafas.
"Aku akan mempertimbangkannya" Kataku akhirnya.
Alen terlihat lega, kemudian ia meminjam hapeku sebentar. Lalu tak lama mengembalikannya padaku. Aku lihat ternyata ia mengirim wa ke nomor yang tidak aku kenal. "Tes" Kata dalam chat itu.
"Ini nomor siapa ?" Tanyaku.
"Nomor aku, nanti kabarin aku miss. Aku tunggu !!"
Aku mengangguk dan menyimpan nomornya dihapeku. Tanpa terasa kami sudah sampai di rumah alen. Di depan pintu tampak wanita separuh baya menyambut kedatangan kami, aku pun langsung menghampiri nya hendak salim yang ternyata wanita paruh baya itu adalah bundanya alen tapi diluar dugaan bunda alen malah memelukku.
"Arina, terima kasih. Silahkan masuk" Kata bunda alen sambil menggandeng tanganku masuk dan duduk di ruang tamu.
"Tante.."
"Jangan tante, bunda saja panggilnya" Kata bunda memotong pembicaraanku.
"Bunda.." Kataku sambil senyum tersipu malu. Agak grogi juga manggil ibu orang lain dengan sebutan bunda.
"Iya miss arin, bunda sudah tau kalo alen berantem ya ? Maafin alen ya merepotkan miss arina" Kata bunda.
Aku mengangguk, "Iya tante gapapa. Saya cuma mau konfirmasi aja, biar tante eh bunda ga khawatir sama alen" Kataku.
"Makasih sudah khawatir sama anak bunda, alen memang begitu miss. Biasanya dia itu berantem kalo lagi marah atau kesel, padahal kan belum tentu menang, babak belur iya ya miss" Jelas bunda sambil tertawa.
Aku menoleh ke arah alen yang nampak cuek, sambil mengingat-ingat kejadian saat aku bersama alen. Ketika aku menganggapnya seperti anak kecil, alen memang tampak marah. Apa gara-gara itu dia marah dan melampiaskannya dengan berantem ? Pikirku, tapi masa gara-gara aku.
"Nak arin, sebagai rasa terima kasih karena sudah menjaga alen, bunda mau mengundang keluarga miss arin makan malam boleh ?" Tanya bunda membuyarkan lamunanku.
"Orang tua miss arin sibuk bun" Kata alen.
Bunda melirik alen tidak suka dengan jawabannya, "Ditanya dulu ya miss, kalau memang bisa bunda senang sekali" Kata bunda.
Arin mengangguk, "Iya bunda nanti coba arin tanya dulu ya" Kataku, lalu bunda pamit ke belakang untuk melanjutkan pekerjaannya meninggalkan aku berdua dengan alen.
"Mau ditanya beneran ? Bunda emang gitu suka sok akrab" Kata alen.
"Gapapa, aku suka kok. Nanti aku tanya orang tuaku tentang undangan makan malam bunda" Kataku.
Aku melihat sekeliling rumah alen. Alen bukan orang sembarangan, rumahnya besar sama sepertiku. Alen pun sepertinya anak tunggal seperti aku juga, rumahnya besar tapi tampak sepi hanya dihuni bunda ayahnya juga alen dan beberapa asisten rumah tangga. Benar-benar banyak kesamaan antara aku sama alen.
"Hubungi aku miss, aku ikut rencana teman papa kamu" Kata alen membuyarkan lamunanku.
"Iya, aku bilang akan mempertimbangkannya. Ya sudah aku pulang dulu ya" Kataku meninggalkan rumah alen.