Alen pulang ke rumah dengan hati gembira, itu terlihat diwajahnya. Dia menyapa semua asisten rumah tangga di rumahnya yang amat jarang ia lakukan, membuat para asisten bingung dengan tingkahnya termasuk bunda.
"Kamu kenapa girang sekali alen, menang lotre ?" Tanya bunda yang melihat alen sangat sumringah.
Alen duduk dekat bunda, dan ikut makan camilan. Bunda yang melihatnya langsung menyuruhnya ganti baju dulu.
"Ganti baju dulu sana, nanti langsung makan" Kata bunda. "Kenapa sih kok kayanya hepi banget" Tanya bunda lagi.
"Bunda inget temen aku yang waktu dikampung ga ? Temen kecil aku waktu dirumah nenek ? Yang nenek ceritain waktu itu aku nangis gara-gara ditinggal dia ke kota. Inget ga ?" Tanya alen.
Bunda terlihat berpikir sejenak mengingat kejadian itu. Dimana alen menangis beberapa hari karena ditinggal temannya, sampai-sampai bunda harus ke kampung karena khawatir alen ga kunjung berhenti nangis, membuat nenek bingung.
"Alen kenapa nek ?" tanya bunda ketika itu.
"Temennya sudah kembali ke kota, alen nangis ga mau berhenti karna sedih ditinggal dia" Kata nenek.
"Lohh, kan masih banyak temen kamu disini. Emang siapa sih nek temen yang ditangisi alen ? Laki-laki apa perempuan ?" Tanya bunda.
"Perempuan cucunya eyang putri, sudah lulus SD jadi mau lanjut sekolah di kota. Temen sekolah dan temen alen dirumah, emang sama dia terus mainnya" Kata nenek menjelaskan.
"Oh yang cantik itu ya, kayanya bunda pernah lihat" Kata bunda, waktu itu bunda pernah ketemu pas datang dan lihat alen sedang main bersamanya.
Alen mengangguk, "Aku sedih bun, ga bisa main lagi sama dia" Kata alen sambil menangis.
"Alen boleh sedih, tapi ga boleh sampai berlarut-larut. Tidak baik !!" Kata bunda membujuk alen.
"Tapi alen ga suka teman lain, alen sukanya sama arinaaa" Kata alen masih sambil menangis.
Bunda tersenyum, "Iya kalo memang takdirnya, nanti pasti alen bisa ketemu arina lagi. Sekarang alen fokus belajar dulu, nanti SMP sekolah di kota sama bunda lagi. Siapa tau bisa ketemu arin" Kata bunda berhasil membujuk alen.
"Bun kok ditanyain malah melamun" Panggil alen membuyarkan lamunan bunda.
Bunda tersenyum, "Iya bunda inget, Kenapa sama dia ?" tanya bunda.
"Bun alen udah nemuin arina" Katanya senang.
"Arina, temen kecil kamu dikampung ?" Tanya bunda, alen mengangguk senang, "Kog bisa ? Kamu yakin ga salah orang ?"
Alen menggeleng, " Alen yakin bun, dia arina yang sama, arina yang selama ini alen cari" Katanya yakin.
"Yakin ? Gimana ceritanya kamu bisa tau itu arina yang sama ? " Tanya mama ragu.
"Awalnya cuma feeling bun, perasaan alen yang bilang. Tapi feeling aku terbukti, dia arina yang aku cari karna punya gantungan kunci merpati yang aku kasih waktu dulu dia mau berangkat ke kota" jelas alen, dan dia pun menceritakan percakapannya dengan arina mengenai gantungan itu, bunda hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kamu sesenang itu ketemu sama arina ? Emang dia mengenali kamu ?" Tanya bunda.
"Aku bukan hanya senang bun, aku sampe ga bisa bernafas saking bahagianya. Walaupun dia belum mengenali alen, ga masalah yang penting dia ada disisi aku bun. Aku ga mau kehilangan arina lagi" Kata alen.
Bunda menatap alen, mungkin waktu kecil bisa dibilang itu hanya cinta monyet tapi sekarang sampai alen besar pun perasaan itu tidak berubah untuk arina. Bunda takjub dengan kesetiaan alen, perasaannya untuk arina sudah sangat dalam. Bunda hanya berharap semoga arina bisa merasakan perasaan alen, bunda ga sanggup kalo alen harus terluka.
"Kalau begitu jaga dia" Kata bunda sambil memegang bahu alen.
Alen mengangguk dan memeluk bunda, " Pasti bun, Terima kasih sudah mendukung alen" Katanya.
"Sekarang dimana arina ?"
"Dia jadi guru BK bun di sekolah alen, sambil kuliah di mercu jurusan psikologi"
Bunda mengangguk paham, setelah itu alen balik ke kamar dan istirahat.
Keesokan harinya alen berangkat sekolah dengan sumringah, ditambah lagi ketika ia melihat arina digerbang sekolah.
"Miss" Katanya girang sambil menghampiri arina.
"Alen kita perlu bicara ?!" Kata arina.
Alen tersenyum mendengarnya, "Iya miss boleh, ada apa ?" tanya alen, biasanya anak lain kalo arina sudah bicara begitu langsung ketar ketir takut buat kesalahan. Tapi alen lain, dia malah cengar-cengir girang membuat arina heran.
"Nanti jam istirahat, silahkan datang keruangan saya" Kata arina tegas.
Alen mengangguk dan segera berlalu. Jam istirahat hari ini terasa begitu lama bagi alen, ia membolak balik buku dengan gelisah membuat doni geleng-geleng kepala. Kali ini doni ga mau komen, takut pulang sekolah dapat hukuman bersih-bersih ruang guru lagi.
Begitu bel istirahat berbunyi alen tanpa membuang waktu langsung menuju ruang BK menemui arina. Begitu duduk dihadapannya, arina meminta penjelasan sambil memperlihatkan video cctv padanya. Alen pun memperhatikan video itu, lalu tersenyum saat mengembalikan hape itu pada arina.
"Itu aku miss" Kata alen polos, ia pun menjelaskan kronologi kenapa ia bisa sampe di depan rumah arina. Ia merasa khawatir kalau arina nyetir mobil sendiri dalam kondisi seperti itu. Arina malah mengelak kalau ia bukan anak-anak labil seperti alen jadi alen tidak perlu khawatir. Mendengar itu alen merasa tidak senang, ia memang amat tidak suka kalau arina menganggapnya masih anak-anak.
Mau alen mengatakan apapun, membela diri seperti apapun dimata arina dia hanyalah anak-anak. Alen sudah merasa emosi mendengarnya, ia pun beranjak pergi meninggalkan arina namun arina mencegahnya dengan berdiri didepan pintu menghadang alen agar tidak keluar ruangan.
Melihat tindakan arina membuat hati alen luluh. Ia sama sekali tidak menyangka kalau arina akan menghentikan nya seperti ini, emosinya pun mereda. Ditatapnya arina dalam, kini jarak dirinya dengan arina sangat dekat. Sampai alen bisa mencium parfum yang dipakai arina, arina salah tingkah seperti merasa bersalah atas perkataan nya. Ia pun memegang lengan alen dan menyuruhnya untuk duduk kembali, alen pun menurut.
"Maaf kalo kata-kata saya menyinggung perasaanmu, terima kasih sudah mengkhawtirkan saya" Katanya.
"Disekolah hubungan kita guru dan murid, saya akan mengingatnya. Berarti jika bukan disekolah hubungan guru dan murid tidak berlaku" Kata alen.
Arina terlihat menghela nafasnya, ia membereskan barang-barangnya dan mengatakan kalau ia akan kuliah. Alen pun membawakan tas laptop arina, dan mengikuti langkah arina menuju taman, bukan parkiran membuat alen heran.
"Miss ga ke parkiran ?" Tanya alen.
"Saya hari ini ga bawa mobil, dijemput teman" Katanya.
Tak berapa lama teman yang arina maksud datang lalu menghampiri arina. Alen melihat teman arina, entah kenapa tiba-tiba perasaannya seperti tertusuk. Alen mengingat dengan jelas siapa orang itu, walaupun mungkin dulu mereka bertemu ketika masih kecil tapi garis wajahnya tidak berubah. Dia adalah orang yang pernah menemui arina ketika masih di kampung.
Ketika itu, dia datang bersama ibunya ke eyang arina. Dia menghampiri kami yang sedang bermain, dan dia tidak memberi kesempatan aku untuk bersama arina. Dia merasa seolah-olah arina hanya boleh bersamanya, setiap alen kerumah eyang untuk mengajak arina bermain, dia selalu keluar dan mengatakan alasan-alasan yang membuat arina tidak bisa bermain.
Aku tau dan masih ingat, namanya bagas. Arina pernah mengatakan kalau bagas adalah sahabatnya dari kecil, tapi alen tidak menyangka arina dan bagas masih memegang erat persahabatan mereka. Alen merasakan sakit dihatinya. Aku tidak akan kehilangan arina, tukasnya dalam hati sambil menatap bagas begitupun bagas, ia menatap tajam ke alen.
"Kalau sudah selesai kuliahnya, biar saya jemput miss. Miss kan ga bawa mobil" Kata alen pandangannya masih tak lepas dari bagas.
Arina menolak karena ia tidak akan kembali ke sekolah, karena kuliah sampai siang. Lalu bagas memegang bahu arina mengajaknya untuk segera menaiki mobil. Entah kenapa nafas alen memburu, ada perasaan sesak dihatinya.
Sepeninggal arina ia hanya diam dikelas, mengacuhkan doni yang merasa cemas. Setiap doni bertanya ia tidak menjawab. Apa aku cemburu ? Pikir alen, aku merasakan sakit dihati melihat kebersamaan mereka.
"Don gue cabut yakk" Kata alen sambil membereskan alat tulisnya.
"Mau kemane lu ?" Tanya doni heran.
"Gue sesak napas, mau cari angin bentar" Kata alen.
"Kemana dulu ?" tanya doni menahan alen pergi.
"Nge game tempat biasa" Kata alen.
Alen pun beranjak pergi, ia sengaja meninggalkan motornya di sekolah karena kalau pakai motor pasti ketauan satpam dan dilarang untuk pergi.
Alen menuju sebuah kios yang tak jauh dari sekolahnya dekat gang buntu. Alen bermain game mulai dari tinju, tembak-tembakan, pertempuran dan lain sebagainya.
Ditengah permainan, tiba-tiba ada 3 orang yang datang salah satunya menghampiri alen sedangkan 2 lainnya duduk di layar sebelah-sebelah alen.
"Minggir lo, ni tempat gue!!!" Katanya ke alen.
Alen menengok-nengok sekelilingnya, "Itu ada tempat kosong, dari tadi gue disini" Kata alen.
"Banyak omong lo, gue biasa maen disini tau ga" Katanya mulai emosi.
"Lah sama gue juga, kalo lo ga mau tempat lo ditempatin orang kasih nama atau ga lo maen aja dirumah. Ribet banget jadi orang !!" Jawab alen sambil terus bermain.
Orang itu langsung menarik alen, membawanya ke gang buntu diikuti 2 yang lain. Lalu ia mendorong alen ke dinding, sambil membunyikan jari jemarinya.
"Wah lo mau main keroyokan" Kata alen, dia pun bersemangat. Memang alen butuh tempat buat pelampiasan dia pun bersiap dengan segala kemungkinan yang terjadi.
Orang itu menyerang alen namun alen bisa menyerangnya balik. Alen melayang kan bogem mentah ke pipinya membuat orang itu terjatuh, lalu orang kedua dan ketiga menyerang bersamaan. Sialnya, mereka bisa bela diri dan lebih jago dari alen. Alen pun tersungkur ketika salah seorang mereka menyerang bagian perutnya dan disaat itu lah mereka menyerang alen bersamaan sampai alen tidak berdaya.
Lalu tiba-tiba alen mendengar suara yang tidak asing baginya, arina. Ya arina datang dan berdiri di depan alen, menghadang mereka.
"Cantik banget, anak mercu ya" Kata salah satu dari mereka mendekati arina.
Alen melihat arina, memang ada yang berbeda dari arina. Baru kali ini alen melihatnya tanpa seragam guru membuatnya tampil modis seperti anak kuliahan pada umumnya. Memang cantik, ujar alen dalam hati.
Kemudian orang itu memegang tangan arina kuat-kuat membuat arina merintih kesakitan. Alen yang melihat itu langsung menarik kerah baju orang itu, ia tidak rela melihat arina tersakiti.
Bagas pun memegang lengan orang itu dan menariknya hingga orang itu terjatuh. Arina hampir ikut terjatuh karena orang itu masih memegang tangannya, untunglah dengan cepat alen memegang pinggang arina hingga dia tidak ikut terjatuh. Setelah itu, merasa pusing dikepalanya alen pun oleng, arina menangkapnya membuat ia bersandar pada bahu arina.
"Alen" Kata arina, alen tau ada nada kekhawatiran disana. Tapi ia masih merasakan sakit dikepalanya hingga tak mampu mengangkat wajahnya.
Ponsel bagas terus berdering, dan bagas hanya mengabaikannya saja. Namun akhirnya arina menyuruh bagas pulang. Setelah mendapatkan taksi untuk alen dan arina kerumah sakit, bagas pun pergi.
Alen menyenderkan kepalanya di kursi mobil, kepalanya sakit karena dihantam dengan kayu. Alen sadar, arina sedang memandangnya. Pasti dia khawatir melihat wajah alen yang penuh luka, namun ketika alen membuka matanya ia melihat arina segera beralih memandang ke arah luar jendela.
Alen menyenderkan kepalanya dibahu arina. Arina sempat menoleh ke arahnya lalu beralih lagi memandang ke luar jendela. Alen bahagia, arina membiarkannya sedekat ini dengannya. Lalu ia melihat pergelangan tangan arina, tampak memar merah akibat orang-orang itu. Alen merasa sedih hatinya sakit melihat arina terluka karena dirinya.
Alen memegang tangan arina, mengusap bagian tangan arina yang terluka. Bahunya bergetar, alen tak kuasa menahan kesedihannya, ia diam-diam menangis. "Maaf membuatmu terluka, lain kali tidak akan ada yang bisa melukaimu" Ujar alen dalam hati.
Arina menoleh, alen tau arina hendak bicara sesuatu namun diurungkannya, dan lagi-lagi arina membiarkannya dan melihat ke arah luar jendela lagi. Alen menggenggam tangan arina dengan kedua tangannya, "Aku sangat menyukaimu sampai sesak rasanya" Ucap alen dalam hati. Dan taksi pun melaju cepat menuju rumah sakit terdekat.