Sesampainya di rumah, aku langsung merebahkan diriku di tempat tidur. Aku sangat lelah, karena terlalu lama menangis. Tak lama mama datang membuka pintu kamarku lalu duduk di sisi ranjang ku.
"Kenapa nak ? Apa kamu kurang sehat ?" Tanya mama sambil memegang keningku.
Aku menggeleng dan langsung menghamburkan diri kepelukan mama, dan menangis lagi.
"Kenapa nak ? Apa ada masalah ?" Tanya mama khawatir.
Akupun menceritakan semua tentang rima kepada mama sambil sesegukan, Mama hanya mengelus-ngelus punggungku sambil mendengarkan ceritaku. Kulihat mamapun sesekali menyeka sudut matanya, ikut menangis. Siapapun yang mendengar cerita rima pasti tak akan kuasa menahan tangis.
"Bagaimana arin bisa membantu murid arin mah ? Arin pengen bantu dia" Kataku diakhir cerita.
"Nanti kita pikirkan caranya ya, mama bicarakan dulu sama papa. Siapa tau papa punya jalan keluar untuk menolong murid kamu" Kata mama.
Aku pun mengangguk, masih dengan memeluk mama. Perasaanku sedikit lega setelah dipeluk mama dan berbagi cerita dengannya. Mamaku memang partner terbaik ku, aku sayang banget sama mama, kataku dalam hati.
"Arin, kenapa temanmu tadi tidak diajak masuk ?" tanya mama yang membuatku heran.
"Teman ? Arin sendirian mah ga ajak teman" Kataku.
"Tadi mama lagi dibalkon tengah, lihat dia naik motor berhenti ga jauh dari rumah. Pas kamu masuk, dia pergi. Siapa dong itu kalo bukan temen kamu?"
Aku menggeleng mengerenyitkan keningku, "Aku ga tau mah, mungkin dia lagi berhenti aja kali nyari alamat" Kataku asal.
"Ga arina, dia sambil melihat kearah kamu dan rumah kita. Apa ada yang menguntit kamu nak ?" Kata mama yang seperti biasa khawatir berlebihan padaku.
Aku memutar bola mataku, gemas sama mama "Ga mah, aku coba cek dulu liat di cctv" Kataku.
"Besok mama suruh papa kirim pengawal aja ya nak buat jagain kamu, mama khawatir banget" Kata mama.
"Ish mama, ga usah ah emang arin presiden apa dikawal-kawal. Udah ah mau liat cctv dulu" Kataku sambil beranjak pergi diikuti mama dari belakang.
"Itu tuh kelihatan dari sini" Kata mama menunjuk salah satu gambar disela-sela melihat monitor cctv.
"Coba pak tolong dicari sisi yang jelas" Kataku pada pak abu, security penjaga rumahku.
"Baik non" kata pak abu.
"Itu rada jelas pak, coba di zoom bagian orangnya" Kataku, gambar itu semakin di zoom semakin jelas terlihat dan arina pun menganga terkejut mendapati ternyata orang tersebut adalah alen.
"Gimana arina ? Apa kamu kenal sama orang itu ? Tapi kaya pake baju seragam sih masih muda juga, apa masih sekolah ya ? Tapi ngapain liat-liat sini terus ?" Ujar mama panjang lebar.
"Dia murid arin mah" Kataku sambil tak lepas menatap layar monitor. Ngapain dia ngikutin aku sampe rumah, tanya nya dalam hati.
"Murid kamu ? Kenapa ngikutin kamu ke rumah ?" Tanya mama.
"Arin ga tau, tapi tadi pas arin nangis ditinggal rima dia dateng ke tempat arin. Liat arin nangis, trus nawarin nganterin pulang. Tapi arin masih ga mau soalnya arin bisa pulang sendiri kok, tapi kenapa dia bisa ikut sampai sini ?" Jelas arin.
"Kayanya dia khawatir sama non, makanya ngikutin non dari belakang sampe rumah" Kata pak abu, security rumahku.
"Baik sekali anak itu, mama perlu berterima kasih sama dia. Diem-diem jagain anak mama" Kata mama.
"Ish, apaan sih mama. Pak tolong copy bagian itu ya, kirim ke arin" Kataku sambil menunjuk bagian alen.
"Baik non" Pak abu segera mengcopy bagian yang aku inginkan, lalu menyerahkan flashdisk padaku.
Dikamar aku membuka laptopku untuk memindahkan video itu ke hape, lalu kulihat sekali lagi "Kenapa dia harus sampe ngikutin ke rumah ?" Tanya arin dalam hati, besok dia akan menanyakannya langsung pada alen.
Aku datang lebih pagi kesekolah, karena harus mendampingi guru piket untuk mendisiplinkan anak-anak yang terlambat sekolah. Kebetulan karena aku tidak ada kuliah pagi maka bisa datang lebih awal.
Di kerumunan murid, aku melihat rima yang tersenyum tipis padaku. Seperti biasa, rima berjalan seorang diri padahal banyak murid disampingnya ga mungkin rima ga mengenal salah satu dari mereka, akupun membalas senyumannya.
Tak jauh dari rima, aku melihat alen. Ia tersenyum dan menghampiri ku.
"Miss.." Sapanya girang.
"Alen, kita perlu bicara" Kataku.
Alen tersenyum, "Iya miss, boleh. Ada apa ?" Tanyanya.
"Nanti jam istirahat, silahkan datang keruangan saya" Kataku.
"Baik miss, saya pasti datang" Katanya dengan muka yang riang.
Aneh banget, biasanya anak lain udah pada khawatir kalo mendengar panggilan ku. Tapi kenapa dia keliatan senang, pikirku dalam hati.
Tepat jam istirahat alen sudah datang keruangan, tepat duduk didepanku.
"Jelaskan ?" Kataku sambil menyodorkan hapeku ke alen, memperlihatkan cctv yang kemarin.
Alen tampak memperhatikan video itu, lalu tersenyum saat mengembalikan hape milikku.
"Itu saya miss" Katanya seperti tidak ada dosa.
"Iya saya tau, kamu kenapa ada didekat rumah saya ? Dan lagi, kenapa celingak-celinguk ngeliatin rumah orang. Mencurigakan saja" Kataku.
"Miss curiga kenapa ?" Tanyanya balik.
"Mama saya menyangka kamu penguntit, gara-gara kamu saya hampir saja kemana-mana harus dikawal bawahan papa" Kataku.
Alen tertawa, "Segitunya miss, saya memang ngikutin dari belakang. Karna saya khawatir, melihat kondisi miss kemarin saya ga yakin miss bisa nyetir dengan baik" Katanya serius sambil menatapku.
"Kamu ga usah khawatir, saya sudah besar loh bukan anak-anak sepertimu yang masih labil. Saya bisa jaga diri" Kataku menegaskannya.
Alen memandangku, "Saya bukan anak-anak loh miss, usia ga menjamin kedewasaan seseorang. Bisa saja usia seperti saya yang kata miss masih labil tapi bisa berpikir dewasa" Kata alen, seperti tak suka aku menganggapnya anak-anak. "Dan lagi, beda usia saya sama miss itu cuma 3 tahun. Saya punya temen yang usianya jauh diatas miss, tapi dia ga menganggap saya anak-anak" Lanjutnya, aku merasa alen sedikit emosi.
"Apa omongan saya salah ? Kenapa kamu terlihat emosi ? Status kita disini jelas guru dan murid, saya ibu guru dan kamu anak murid" Kataku membela diri.
Alen tampak menghela nafas kasar, lalu berdiri hendak meninggalkanku. Dengan segera aku menutup kembali pintu yang hampir terbuka. Aku berdiri di depannya, menghadang alen agar tidak pergi.
Aku memiliki prinsip, semua yang keluar dari ruangan ini harus pergi dengan perasaan tenang. Aku bisa melihat kilatan emosi dimata alen, maka dari itu aku menahannya pergi.
"Apa omongan saya salah ? Bukanya hubungan kita disekolah ini guru dan murid ? Jadi hal wajar kalo saya menganggap kamu anak murid" Kataku pelan sambil menatapnya.
Alen menatapku, tatapannya mulai melunak tidak emosi seperti tadi. Aku pun memegang tangannya untuk kembali duduk, alen pun menurut.
"Maaf kalo kata-kata saya menyinggung perasaanmu, terima kasih sudah mengkhawatirkan saya" Kataku.
"Disekolah hubungan kita disini guru dan murid. Saya akan mengingat nya, Berarti jika bukan disekolah hubungan sebagai guru danbmurid tidak berlaku" Katanya.
Aku menghela nafas, "Hmm.. Terserah kamu" Kataku sambil membereskan alat-alat tulisku.
"Mau kemana miss ? Jam pulang masih lama" Katanya heran melihatku beres-beres.
"Kuliah, jam kerja saya disini fleksibel. Kalo ada kuliah pagi berarti saya datang kesini siang, sebaliknya kalo ada kuliah siang saya kesini pagi" Jelasku sambil terus beberes.
Alen pun mengangguk, lalu meminta izin untuk membantu membawakan laptopku dan mengantarku keluar.
"Miss ga keparkiran ?" Tanya alen ketika jalanku mengarah ke taman dekat parkiran.
"Saya ga bawa mobil, hari ini dijemput teman" Kataku.
Tak berapa lama, bagas datang dan memarkir mobilnya lalu keluar menghampiri ku sambil tersenyum.
"Dari tadi ?" Tanya nya.
"Ga, baru aja kok" Kataku sambil menoleh ke alen untuk mengambil laptopku yang dipegangnya. Namun yang aku lihat, alen memandang bagas seperti perasaan tak suka.
"Alen, terima kasih sudah membantu" Kataku tapi alen seperti enggan melepas tasnya, aku melihat ke bagas dia pun sama sedang menatap alen. Mereka seperti perang mata, ga berkedip. Aku pun menghela nafas, menarik tasku dari tangan alen hingga dia menoleh ke arahku.
"Kalau sudah selesai kuliah nya, biar saya yang jemput miss. Miss kan ga bawa kendaraan" Katanya sambil melihat bagas.
"Ga usah, hari ini saya ada mata kuliah sampai jam terakhir jadi ga balik lagi ke sini" Kataku, lalu bagas mendorong bahuku pelan, naik mobil setelah itu kami pun berlalu pergi.
"Siapa dia ?" Tanya bagas disela-sela perjalanan.
"Murid aku" Jawabku pendek.
"Kenapa aku merasa ga asing ya, liat mukanya bikin emosi padahal ga kenal" Kata bagas.
"Perasaan kamu doank" kataku.
Bagas mengangkat bahunya, dia masih penasaran karena anak itu seperti tidak asing baginya. Kenapa melihat mukanya membuatnya emosi padahal ia ga kenal, ujar bagas dalam hati.
Selesai kuliah aku menemani bagas ke toko buku, katanya ada buku yang mau dicari. Aku senang aja kalo diajak ke toko buku secara aku sama bagas sama-sama kutu buku. Lagi asik-asiknya baca buku bagas ditelpon papinya untuk pulang jadi kami ga lama jalan-jalan.
"Aku harus pulang, cari bukunya lanjut besok-besok aja ya. Kamu ada yang mau dibeli ga ?"
Aku menggeleng, lalu kami pun pulang. Diperjalanan ketika melewati sebuah gang buntu ada beberapa pelajar yang berkelahi, 3 lawan 1.
"Anak-anak jaman sekarang masih aja demen keroyokan" Kata bagas berhenti sejenak, aku menoleh kearah yang dimaksud.
"Itu kasi....." Belum sempet aku menyelesaikan kalimatku, aku ternganga melihat orang yang tengah dikeroyok mereka, orang itu adalah alen. "Bagas, dia murid aku " Kataku tiba-tiba lalu segera keluar begitu saja menghampiri anak yang sudah babak belur itu tapi masih saja berdiri menentang mereka.
"Cukup !!" Kataku berdiri di depan alen, menghadang mereka.
"Wah wah siapa nih ? Super hero nya alen seorang cewe woi" Kata salah satu dari mereka sambil tertawa, diikuti yang lainnya.
"Cantik banget, anak mercu ya ?" Kata satunya lagi sambil mendekat.
"Mending kalian pergi, kalo ga aku bakal lapor polisi" Ancamku sambil memegang hape pura-pura hendak menelepon.
Tiba-tiba dia memegang erat tanganku, dan menggenggamnya kuat-kuat sampai aku merintih kesakitan. Alen langsung bergerak memegang kerah orang itu.
"Lepas ga ?" Katanya.
"Wah wah, ceritanya mau ngebela cewenya nih" Kata orang itu lebih erat menggenggamku.
Bagas juga bergerak cepat, ia memegang lengan orang itu dan menariknya kuat sehingga jatuh dan pegangannya terlepas. Untung alen menarik ku sehingga aku tidak ikut terjatuh.
"Lebih baik kalian pergi, jangan balik lagi" Ujar bagas tegas, anak-anak itu pun segera berlari pergi.
Aku menoleh ke alen tepat pada saat alen oleng sehingga jatuh terduduk, dengan segera aku menangkap nya.
"Alen" panggilku cemas, alen tampak lemas ia merebahkan kepalanya di bahuku.
"Ayo bawa dia kerumah sakit" Kata bagas.
Baru mengatakan itu ponsel bagas berdering lagi, papinya menelepon. Namun bagas hanya mengabaikannya saja dan langsung memasukkan ponsel itu ke dalam tas.
"Gas, pulang aja kayanya penting. Biar aku aja yang bawa alen" Kataku, "Aku bisa naik taksi kok. Nanti aku kabarin" Kataku menenangkan ketika melihat keraguan dimata bagas.
Bagas pun mengangguk lalu membantu mencarikan taksi untuk kami, setelah membantu alen naik mobil bagas pergi berlalu. Aku melihat wajah berdarah alen yang bersandar di kursi mobil, lalu mengalihkan pandanganku ke luar jendela. Tiba-tiba alen menyandarkan kepalanya di bahuku, aku menoleh kearahnya dan membiarkannya. Kemudian dia memegang tanganku dan menggenggamnya erat, aku langsung menoleh untuk protes namun mengurungkan niatku ketika kulihat bahunya bergetar, seperti menangis dan aku pun membiarkannya lagi.
Mungkin ia butuh sandaran buat cari ketenangan, pikirku. Taksi pun melaju cepat menuju rumah sakit terdekat.