Yang Tersayang

1605 Kata
Alen duduk berhadapan dengan arina. Arina masih menatapnya tajam, meminta penjelasan tentang hal yang barusan terjadi. Alen yang bingung harus menjawab apa hanya memainkan gantungan tas milik arina. "Saya sedang bicara" Kata arina sambil mengambil gantungan yang dipegang alen. Alen hanya menoleh sekilas lalu beralih lagi memainkan gantungan tas arina. "Alen" Panggilan tegas arina membuat alen menatapnya sebentar, panggilan itu cara arina memanggilnya membuat alen mengingat kejadian masa kecilnya. Ketika alen hendak berantem dengan temannya, ketika arina jengkel sama alen, atau ketika arina mengkhawatirkan alen, nada panggilannya tidak berubah masih sama seperti dulu, tegas dan tidak mau dibantah. "Jangan membuang waktumu, kamu masih ada pelajaran kan ?" tanya arina. Alen hanya menjawabnya asal seolah-olah ia menerima hukuman dari arina makanya ia tertahan diruangan itu. Arina tampak memutar bola matanya, gemas menghadapi alen, apalagi alen tidak henti-hentinya memainkan gantungan milik arin. "Miss boleh saya bertanya ?" Kata alen tiba-tiba. "Boleh, dengan syarat setelah ini kamu kembali ke kelas" Alen mengangguk, "Ini lucu miss, beli dimana ?" Alen hendak mengorek semua keterangan tentang gantungan itu dari mulut arin. Alen sadar arin tampak sedikit kesal, namun ia harus mendapat jawaban dari pertanyaan nya ini. Alen ga mau mati penasaran. "Ini aku temukan di tas lamaku, dipakai karena masih bagus" Jawab arina. Alen tampak tak puas hati mendengar jawaban arina, bagaimana bisa arina melupakannya. Apa selama ini hanya dia seorang yang merasakan rindu ? Ujarnya dalam hati, "Hanya itu ?" Namun hanya kalimat itu yang mampu keluar dari mulut alen. Arina mengangguk, membuat hati alen tiba-tiba menjadi mendung. "Apa benda ini ga ada artinya buat miss ? kalo emang begitu boleh ini buat saya ? Saya menyukainya" Kata alen dengan wajah datar. Namun yang didapat alen malah penolakan, dan jawaban arina membuat alen merasa penasaran. "Maaf alen, saya ga tau kenapa tapi sepertinya benda ini penting buat saya hanya saja saya belum mengingatnya" Ujar arina. Alen menatap arina, wajahnya berubah yang tadinya sendu menjadi bahagia, "Kenapa miss merasa seperti itu ?" Tanya alen makin penasaran. "Saya juga ga tau, setiap menyentuh nya hati saya merasa tenang tapi juga sedih seperti mengingatkan sesuatu, sesuatu yang penting namun terlupakan" Alen merasakan trenyuh dihatinya mendengar jawaban arina. Alen pun mengangguk, dalam hati ia bertekad akan membuat arina mengingat kembali kenangan masa kecil mereka. Setelah mendengar jawaban arina, alen pun segera berlalu meninggalkan ruangan arina menuju kelasnya. Hatinya sangat bahagia, mungkin arina lupa tapi hatinya tidak. Alen hanya perlu berusaha membantunya agar arina dapat mengingatnya kembali. Alen tidak akan membiarkan kenangan mereka dilupakan begitu saja, alen tidak rela. "Woi, lu kemana aja dah? Pelajaran udah mau kelar" tanya doni. "Ke Ruang BK" Jawab alen. "Ngapain ? Perasaan semenjak ada miss arina, lu demen banget ngilang-ngilang. Kaya orang lagi kasmaran tau ga" Kata doni. "Emang keliatan banget ya ?" Kata alen balik bertanya membuat doni ternganga. "Eh Buset jangan bilang lu beneran lagi kasmaran sama miss arin ?" Tanya doni kaget sambil agak berbisik, karena pelajaran masih berlangsung. Yang ditanya malah senyum-senyum sendiri sambil liat-liat buku. Ga perduli dengan doni yang mati penasaran. "Dih ditanya malah senyum-senyum sendiri, woi sadar.. woi" Ujar doni namun sayang kali ini bu ida mendengar bisikan doni. "Doni kamu ngapain bisik-bisik gitu ? Ngobrol aja. Pulang sekolah kamu sama alen ke ruangan saya" Tegur bu ida, guru sejarah. "Yahhh, iya bu" Kata doni terpaksa. "Saya ga ikut ngobrol bu" Kata alen membela diri. "Kamu terlambat!!" Ujar bu ida pendek, doni yang mendengar nya cekikikan mengejek doni. Selepas bel berbunyi anak-anak yang lain berhamburan keluar kelas, kecuali doni dan alen. Mereka langsung menuju ruang guru untuk memenuhi panggilan bu ida. Mereka mendapatkan hukuman membersihkan ruang guru, menyapu dan mengepel lantai. Doni kebagian menyapu dan mengepel sedangkan alen hanya membersihkan meja dan pajangan dengan kemoceng lalu membuang sampah ke tempat sampah. "Sering-sering ngobrol ya doni, alen biar ruangan guru selalu bersih" Ujar pak bowo tertawa menyindir doni dan alen, guru-guru yang lain pun ikut tertawa sambil meninggalkan ruangan untuk pulang. Doni dan alen selesai bersih-bersih ketika sekolah sudah mulai sepi, mereka pun kembali ke kelas untuk mengambil tas. "Elu si ah diajak ngobrol diem bae" Ujar doni protes sambil jalan keluar kelas. "Lagian ngapain ngobrol, lagi belajar juga" Jawab alen. "Dih belagu banget dah lu. Eh gue serius nanya, elu beneran kasmaran sama miss arin ? Parah lu, naksir si sama guru. Kaya di sekolah kita ga ada cewe-cewe kece aja si lu" Kata doni panjang lebar. Baru akan menjawab, alen melihat kearah parkiran dan melihat mobil arina masih terparkir disana. Alen pun berhenti sejenak. "Lo duluan aja don, gue ada urusan" Katanya sambil berlari meninggalkan doni di halaman sekolah. Doni hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya, lalu pergi meninggalkan sekolah. Sementara itu alen berlari menuju ruang BK. Sesampainya di depan pintu ruangan arina, alen mengurungkan niatnya untuk membuka pintu ketika mendengar suara isakan dari dalam. Alen bersandar sambil mendengarkan cerita pilu dari balik pintu. Ketika terdengar suara pintu akan terbuka, alen menjauh dari pintu dan bersembunyi dibalik tiang. Terlihat rima keluar dari ruangan arina sambil mengusap air matanya. Alen memandang rima dari belakang, bahunya sesekali masih bergetar. Walaupun hanya mendengar cerita di akhir-akhir tapi alen mengerti apa yang sedang terjadi. Alen menghela nafas nya, ia tau rima, hanya sekedar tau tidak dekat. Karna dulu ketika kelas 2 rima pernah menyatakan cinta padanya, namun karena hati alen sudah terkunci oleh anak perempuan teman masa kecilnya rima pun ditolak. Itu lah yang membuat alen masih jomblo, karena ia selalu menjaga jarak dengan perempuan manapun padahal banyak wanita yang mengejarnya. Ketika alen membuka pintu, ia terkejut mendapati arina duduk dilantai sambil menangis. Ia pun menghampiri arina dan memeluknya erat, meletakkan kepala arina didadanya untuk menenangkan arina. Alen tidak mengatakan apapun, hanya memeluk arina. Karena alen paham, arina sedih karena rima. Manusia manapun pasti akan sedih mendengar kisah pilu rima, termasuk arina. Arina menangis sesenggukan dalam pelukannya, sepertinya dari tadi arina menahannya dan baru melepasnya setelah rima meninggalkannya. Alen sangat sedih melihat kondisi arina saat ini padahal itu masalah orang lain, tapi dampaknya membuat arina terpuruk. Aku tak akan membuat arina sedih, aku tidak bisa melihat arina menangis seperti ini, hatiku hancur melihatnya, ujar alen dalam hati, ia pun merekatkan pelukannya dan sesekali mengecup rambut arina pelan. Alen teringat, dulu dia pernah menangis seperti ini dihadapan arina. Ketika itu arina sudah lulus kelas 6 dan dijemput orang tuanya untuk kembali sekolah di kota, sehari sebelum pergi alen dan arina bermain ayunan ditaman bermain dekat rumah eyangnya. "Aku akan kembali sekolah di jakarta" Kata arina membuat alen sedih. "Kapan berangkat ?" Tanya alen, masih bisa menyembunyikan kesedihan nya. "Besok" Kata arina pelan. Alen sangat sedih mendengarnya, ia pun tak kuasa menahan tangisnya. Alen turun dari ayunan dan duduk di jalan sambil menangis sesegukkan, ketika itu alen masih kelas 3 SD jadi masih menangis layaknya anak-anak pada umumnya, sedikit meraung-raung. Arina langsung ikut terduduk di depan alen, memeluk alen dan ikut menangis. Kepalanya bersandar dikepala alen, ikut menangis sampai sesegukan. "Jangan sedih, kapan-kapan kita pasti bersama lagi" Ujar arina menghibur alen. Alen menghapus air matanya, "Kamu tunggu sini sebentar ya, jangan kemana-mana" Kata alen sesegukan sambil berlari kerumahnya. Ketika kembali alen membawa sesuatu untuk diberikannya kepada arina, "Ini buat kenang-kenangan ? Kalo sudah besar nanti mungkin kita lupa wajah ini, karena bertambahnya usia tapi ini akan mengingatkan kita" Katanya sambil memberikan gantungan kunci yang ada dua merpati seolah-olah terbang bersama. Arina menerima sambil tersenyum, memperlihatkan kedua lesung pipit di pipinya. Aku akan mengingat senyum itu, tanda di pipimu ketika tersenyum, ujar alen dalam hati. Sementara itu arina sibuk melepaskan cincin silver dijarinya lalu memberikan itu pada alen. "Aku tidak menyiapkan apapun, cuma ada ini. Ini satu-satunya didunia karena aku memesannya dari pengrajinnya langsung dan didesign sesuai keinginan aku, ada inisial namaku didalamnya" Jelasnya sambil menyematkan cincin itu di jari alen. "Tapi ini terlalu berharga ? Emang gapapa dikasih ke aku ?" tanya alen. Arina mengangguk, "Karena kamu juga temanku yang berharga" katanya sambil tersenyum. Esoknya ketika alen pulang sekolah, ia tidak mendapati arina dirumah eyangnya. Arina sudah berangkat ke jakarta sejak pagi ketika alen berangkat sekolah. Alen menghela nafasnya, ia mengusap cincin pemberian arina. "Aku akan menemukanmu, kita pasti bertemu lagi" Janjinya dalam hati. Setelah puas menangis, arina pun mulai merasa tenang. Alen melepaskan pelukannya, menatap arina dan menghapus air mata yang masih mengalir dipipinya. "Aku anter pulang" Kata alen. Namun arina menolak, "Ga usah, aku bawa mobil" "Ga baik berkendara dalam kondisi seperti ini" Kata alen lagi sambil membantu arina berdiri dan membawakan tasnya. Alen dan arina berjalan kearah parkiran, selama berjalan dikoridor arina hanya terdiam membuat alen merasa cemas. Dipandanginya arina yang berjalan disisinya, sesayang itu alen kepada arina. Ia tidak sanggup melihat air matanya, ingin rasanya memeluk arina lagi sampai gadis itu benar-benar tenang. "Terima kasih, tapi saya bisa sendiri" Kata arina begitu sampai depan mobilnya. "Yakin ?" Tanya alen memastikan. Arina mengangguk, lalu mengambil tas yang dipegang alen. Kemudian pergi meninggalkannya. Setelah kepergian arina, ia segera menaiki motornya dan mengikuti arina dari belakang. Alen sangat khawatir membiarkan arina menyetir dalam kondisi tidak stabil. Makanya ia menjaga arina dari belakang, memastikan arina baik-baik saja sampai di rumah. Alen menghentikan motornya dari kejauhan, ketika arina berhenti didepan sebuah rumah. Tak lama ada satpam penjaga rumahnya membukakan pintu gerbang untuknya lalu arina pun masuk kedalamnya. Alen menatap rumah arina, rumah itu tampak besar dan megah. Alen sudah tau sejak awal kalau arina berasal dari keluarga kaya, sama seperti dirinya. Alen tersenyum, ia merasa senang akhirnya bisa tahu rumah arina. Padahal awalnya ia tidak ada niat sengaja ingin tau rumah arina, ia mengikuti arina karena benar-benar merasa khawatir. Tapi ternyata Allah menginginkan ia untuk mengetahui nya, pikirnya dalam hati. Alen pun pulang kerumahnya dengan perasaan bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN